
Lisa dan orang tuanya terkejut.
"Jadi, soal membalas dendam itu,,,,"
"Ya, itu adalah alasan ku agar kamu menerima lamaran ku." Amar menjelaskan.
"Apalagi setelah nenek tahu kalau mantan pacarnya itu ternyata hanya menginginkan hartanya saja, nenek pun menyuruh Amar untuk pulang, tentu dengan mu juga." Nenek menimpali.
Akhirnya Lisa dan orang tuanya mengerti.
"Kami bahagia Lisa dicintai orang sebaik Amar. Meski dia selalu dihina dan disepelekan oleh orang-orang sekitar, tapi dia masih saja bersikap baik." Hamid menanggapi.
"Sebaiknya kamu mengadakan resepsi pernikahan kalian, Mar. Publik harus tahu bahwa Amar Adijaya telah menikah." Nenek menyarankan.
"Baik, Nek, kami akan segera melangsungkan resepsi pernikahan kami." Amar tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Hingga satu bulan kemudian, sebuah pesta pernikahan mewah pun digelar dan disiarkan langsung di televisi, hingga dimuat di surat kabar.
Wajah Amar dan Lisa terlihat jelas dalam balutan pakaian pengantin mewah.
Seluruh warga yang melihat melalui televisi terkejut dengan hal itu. Mereka tidak menyangka, bahwa Amar memang berkata jujur tentang siapa dirinya. Memang, sebagian dari mereka ada yang percaya termasuk Pak Lurah dan istrinya. Namun, bagi orang-orang yang selalu memandang sebelah mata, mereka masih berpikir Amar hanya menggertak mereka.
"Lihat itu, Pak, Buk! Lisa jadi orang kaya! Mela nggak terima!" Mela memukul-mukul sofa sebagai tanda kekesalannya.
"Pasti si Lisa pakai pelet makanya Amar mau sama dia," ucap Hasan yang diikuti anggukan Ayu.
"Kamu sih, Mel, makanya jangan mau kalah. Suruh si Rafli bekerja lebih giat lagi biar bisa menyaingi Amar!" ujar Ayu.
"Iya, Buk, pokoknya kita harus berada di atas mereka!" Menyorot televisi lebih tajam lagi.
"Rafli kemana? Mel? Inikan udah malam. Dan ini udah telat dua hari dari tanggal dia biasa kasih ibu uang. Pihak bank udah teleponin ibu terus nih, katanya mereka mau dateng kalau sampai lusa nggak bayar juga. Duh, jangan sampai mereka datang, nanti warga bakalan tau dong kalau kita ngutang di Bank," ucap Ayu khawatir.
__ADS_1
"Ibu tenang aja, katanya hari ini dia juga mau bawa uang hasil investasinya yang jumlah ratusan juta." Mela menganggapi.
"Hah? Beneran, Mel, wah, syukur deh kalau begitu. Ibu juga udah lama nggak shopping. Untung tanah dan rumah Hamid kita jual, jadi uangnya bisa dibuat investasi, ya meskipun sebagian warga pada nggak suka karena kita ketahuan nipu si Hamid," jelas Ayu.
"Terus, kok Bu Nina dan yang lain masih baik sama ibu?" tanya Mela penasaran.
"Karena mereka semua udah ibu traktir beli baju sama makan di restoran. Terpaksa uang tabungan ibu habis gara-gara beli baju dan traktir makan di restoran mahal." Ayu menggerutu.
"Hah? Habis, Bu? Kan cuma itu uang tabungan kita karena Ibu sama Mela sibuk nyalon terus. Masa beli baju sama makan habis dua puluh juta? Hasan protes.
"Iya, iya, ibu juga pake buat nyalon san beli skincare. Halah, lagian kan nanti Rafli bakalan dateng sambil bawa duit banyak, ngapain khawatir dipikirin."
"Oh iya, ya. Ya udah kita tunggu Rafli aja," imbuh Hasan.
Mela yang melihat jam yang sudah semakin larut menjadi semakin khawatir. Apalagi sekarang ponsel Rafli tidak aktif, membuat Mela semakin cemas saja.
__ADS_1
Di sisi lain, Rafli sedang menunggu pesawat lepas landas. Ia tersenyum penuh kemenangan setelah mendapatkan banyak uang dari keluarga Mela. Ia memang merencanakan ini sudah lama. Ia akan pergi ke luar kota dan menetap di sana dengan uang yang jumlahnya sangat banyak. Yaitu dari hasil mengadaikan rumah dan sawah, sampai menjual mobilnya, rumah dan tanah milik Hamid. Harta keluarga Mela telah habis tak bersisa meski satu meter tanah pun tak mereka miliki sekarang.