Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Ekstra Part I


__ADS_3

"Ayah, Zain, Zein, ayo, Sayang kita pergi," panggil Lisa pada kedua anaknya.


"Iya, Bunda," sahut kedua anak itu berbarengan. Sedangkan Amar ada di belakang mereka.


"Kalian kenapa sih kok lama banget, Bunda capek lho nungguin dari tadi," omel Lisa.


"Tadi Kak Zein sedang membungkus kado, Bunda," sahut Zayn sambil menunjuk paper bag yang dibawa Zein.


"Zein, untuk siapa kado itu, Sayang?" tanya Lisa sambil mengusap pipi anak pertamanya itu.


"Buat Pakde Bagas, Bunda." Zein pun menyerahkan kado itu langsung ke Bagas yang sedang menunggu mereka di depan mobil yang sudah dinyalakan.


"Lho, Pak Bagas ulang tahun, ya?"


"Iya, Bu, heheh," kekeh Bagas.


"Ya ampun saya sendiri sampai nggak tau. Selamat ulang tahun, ya, Pak Bagas." Lisa menjabat tangan Bagas, begitu juga dengan Amar.

__ADS_1


"Makasih Bu Lisa, Pak Amar." Bagas tersenyum senang mendapat ucapan selamat dari majikannya itu.


"Nanti hadiahnya nyusul, ya."


"Nggak usah repot-repot, Bu."


"Nggak apa-apa, Bapak adalah orang yang berjasa pada keluarga kami."


Bagas hanya mengangguk saja. Sejak dulu, dia memang tidak bisa menolak pemberian mereka.


"Ya udah, yuk, Pak, kita berangkat, itu Bapak sama Ibu udah datang," ajak Lisa saat melihat kedua orang tuanya datang.


Di belakang mereka ada mobil pick up yang mengangkut banyak beras dan sembako yang akan mereka bagikan. Kebetulan, mereka sudah mengkonfirmasi hal ini pada lurah yang sekarang. Pria separuh baya bernama Henry yang merupakan saudara lurah yang lama.


"Bunda, Kakek Hasan itu orangnya seperti apa?" tanya Zayn sambil menatap ke luar jendela.


"Dia orang yang baik. Beliau itu abangnya Kakek." Amar menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, terus kami panggil Kakek juga, Bun?" tanya Zein.


"Iya, Sayang, dia juga kakek kalian."


"Oh ya, Bunda. Waktu itu kan Kak Zein pernah ngeliat foto Bude Mela. Kok kata Kak Zein Bude Mela mirip sama dia, sih," ujar Zayn.


Mendengar hal itu, sontak para orang tua di dalam mobil itu saling pandang-pandangan. Mereka tidak tahu jika Zein itu sangat jeli.


"Oh, namanya juga saudara, wajar dong kalau mirip." Amar mengusap kepala Zayn dengan lembut.


"Oh, gitu. Terus kok di foto itu ada nama Rafli. Rafli itu siapa, Bun?" tanya Zayn lagi. Sementara Zein hanya sebagai pendengar yang juga menunggu jawaban.


Lisa dan Amar terkejut. Tadinya mereka mengira yang Zain lihat adalah foto Mela yang ada di figura besar. Namun, sepertinya Zein menemukan foto Mela yang bertulisan Rafli di belakangnya.


Ternyata, Rafli pernah lebih dulu meninggalkan jejak sebelum menculik kedua anak Lisa. Dia menuliskan namanya dibalik foto kecil Mela. Sepertinya dia sengaja agar Lisa dan Amar merasa seperti diteror.


"Oh, itu nama temennya Bude Mela. Udah, nggak penting juga, kok." Lisa mencoba mengakhiri pertanyaan kedua bocah polos ini.

__ADS_1


Hingga akhirnya, mereka pun sampai di kampung itu. Namun ada yang sedikit mengejutkan mata ketika mereka memasuki daerah tersebut. Di depan mereka, ada sebuah rumah yang dipasangi bendera kuning. Terlihat banyak sekali orang-orang di dalam rumah itu. Mereka mengenakan pakaian muslim dan membacakan surat Yasin. Terdengar suara isakan tangis dari dalam sana memanggil nama seseorang yang mereka kenal.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," ucap mereka berbarengan.


__ADS_2