
Lisa sedang menyapu halaman rumahnya saat tiba-tiba orang tuanya datang dengan sepeda motor dan tas besar dengan wajah sedih.
"Astaghfirullahalazim, Bapak, Ibuk. Kenapa?" tanya Lisa sambil menghampiri mereka yang masih diam.
Amar yang kebetulan baru pulang bekerja pun langsung menghampiri mereka.
"Bapak sama ibu kenapa?" tanya Amar dengan nada khawatir.
"Nggak tau nih, Mas, sejak datang tadi mereka hanya diam aja," ucap Lisa.
"Ya udah, Bapak, Ibu, ayo masuk," ajak Amar.
Mereka semua pun masuk. Di sofa ruang tamu, Lisa langsung mencecar berbagai pertanyaan pada kedua orang tuanya.
"Bapak, kenapa? Ada apa ini?" Lisa menatap dengan serius.
"Mar, Bapak sama Ibu boleh nggak untuk sementara menumpang di sini?" tanya Marni dengan tatapan penuh permohonan.
"Tentu aja boleh, dong, Pak, Bu, kalian juga orang tua aku sekarang," sahut Amar.
"Rumah Bapak sama Ibu kenapa? Emang lagi rusak, ya? Kalau gitu nanti biar Lisa,,,,,"
"Nggak, Nduk, bukan karena rusak." Marni menyela ucapan Lisa.
"Terus kenapa, Buk?" Lisa terlihat semakin khawatir.
Hamid dan Marni pun mulai bercerita.
Flashback On
"Mas Hasan? Mbak Ayu, silakan masuk," ucap Marni pada dua iparnya itu.
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah itu.
"Begini, Mid. Mas minta maaf karena selama ini telah berlaku nggak adil sama kamu. Tujuan kami ke sini adalah untuk menyerahkan harta warisan almarhum orang tua kita. Mas nggak mau durhaka sama orang tua, apalagi bersikap nggak adil sama kamu." Hasan menatap Hamid dengan mata berkaca-kaca.
Hamid dan Marni terkejut karena tiba-tiba saja, dua orang tamak ini datang dan meminta maaf serta ingin mengembalikan warisan pada mereka.
"Mas beneran?" tanya Hamid ingin meyakinkan.
"Beneran. Ini surat-suratnya udah Mas bawa. Sekarang kalian tanda tangan aja di sini dan setelah itu, warisan tanah dan separuh sawah akan menjadi milik kalian," ucap Hasan sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang harus Hamid tanda tangani.
__ADS_1
"Bu ambilkan kacamata Bapak, ya, biar Bapak baca dulu," ucap Hamid pada Marni.
"Halah nanti lama, Mid, Mas juga mau pergi lagi, buru-buru nih, langsung tanda tangan aja," desak Hasan.
Karena menghargai Hasan dan Ayu, Hamid pun langsung menandatangani tanpa membacanya terlebih dahulu.
Setelah itu Hasan dan Ayu pun pergi dengan senyuman yang aneh.
Hingga beberapa hari kemudian, mereka datang lagi bersama dua antek-antek yang telah dibayar Rafli.
"Sekarang rumah serta tanah kamu sudah jadi milikku, kalian nggak punya hak lagi. Sekarang pergi!" usir Hasan.
"Apa? Sejak kapan rumah dan tanah kami jadi milik Mas Hasan, kami tidak pernah memberikannya!" bantah Hamid.
Hasan pun melemparkan salinan surat-surat yang sebelumnya telah ditandatangani Hamid. Setelah dibaca, ternyata isinya adalah surat yang menyatakan bahwa Hamid menghibahkan rumah dan tanah untuk Hasan. Ternyata, pengembalian warisan adalah strategi Hasan untuk mendapatkan hak milik semua harta Hamid.
"Mas, apa-apaan ini. Kenapa kamu tega sama aku? Aku adikmu, Mas!" Hamid tak dapat lagi membendung air matanya.
"Suruh siapa kamu bersenang senang. Dengar, ya, sejak dulu kamu selalu disayang sama orang tua kita. Kamu selalu jadi kebanggaan mereka dan selalu jadi teladan di sekolah maupun lingkungan rumah. Sedangkan aku dicap sebagai anak nakal dan menyusahkan. Dan inilah balasan yang cocok untuk kamu! Sekarang kamu pergi atau aku akan menyuruh mereka yang usir kalian." Menunjuk dua orang berbadan kekar di sampingnya.
Dengan berat hati, Hamid dan Marni pun segera mengemasi barang-barang mereka. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka pun pergi ke rumah Lisa guna meminta pertolongan.
"Ya Allah, kenapa Pakde tega banget, Bu. Mereka jelas udah menipu Bapak dan Ibu." Lisa menatap tak percaya.
"Ini salah Bapak karena langsung percaya saja sama Pakdemu. Harusnya Bapak baca dulu." Hamid tak kuasa menahan tangisnya.
"Sudahlah, Pak, nggak selamanya orang yang jahat hidup bahagia. Akan ada karma yang datang pada mereka nanti," ucap Amar yang mencoba menenangkan mertuanya.
"Iya, Pak, Bapak dan Ibu sabar, ya." Lisa mencoba menguatkan.
"Sekarang Bapak dan Ibu istirahat di kamar dulu. Pasti sangat lelah. Lis, kamu masakin yang enak-enak ya," ujar Amar.
Lisa mengangguk, lalu segera pergi ke dapur.
"Mar, makasih, ya, Bapak sama Ibu nggak tau harus minta tolong siapa lagi." Hamid menatap Amar dengan mata berkaca-kaca.
"Bapak jangan bicara seperti itu. Kami ini anak Bapak dan Ibu, sudah seharusnya kami menolong." Amar tersenyum lembut.
"Kami beruntung mempunyai menantu seperti Nak Amar, apalagi, Lisa sepertinya terlihat sangat bahagia." Marni tersenyum sambil menoleh ke dapur, tempat Lisa yang sedang mengolah bahan mentah untuk makan malam.
"Bapak dan Ibu tenang saja, aku akan berusaha merebut kembali rumah dan tanah yang mereka rampas."
__ADS_1
"Sebaiknya nggak usah, Nak. Kamu nggak tau gimana Pakde Hasan kalau sudah mengamuk. Kamu nggak akan bisa mengambilnya kembali."
Amar hanya mengangguk mengerti. Tapi dalam hatinya, ia akan merebut kembali hak mertuanya dengan cara yang serapi mungkin.
"Ibu bantu Lisa, ya, kasihan dia," ujar Marni yang akan beranjak dari duduknya.
"Jangan, Bu, biar Amar saja. Ibu dan Bapak istirahat di kamar aja," ujar Amar.
"Ya sudah, kalau begitu kami mau istirahat dulu." Kedua orang tua itu pun langsung pergi ke kamar sebelah yang tidak ditempati, namun selalu dibersihkan setiap hari oleh Lisa.
Amar pun menghampiri Lisa yang sedang berkutat di dapur.
"Masak apa, Sayang?" tanya Amar.
"Aku mau masak ayam rica-rica kesukaan Bapak, juga tumis cumi kesukaan Ibu," ujar Lisa yang sedang memilah bumbu-bumbu yang akan dihaluskan.
"Aku bantuin ya," tawar Amar.
"Nggak usah, Mas, kamu istirahat aja dulu, kamu kan baru pulang kerja."
"Ya nggak apa-apa, dong. Aku kan mau bantuin istri ku." Amar ikut duduk di samping Lisa. Ia pun ditugaskan Lisa untuk mengiris bumbu untuk tumis cumi yang sudah ia siapkan.
"Mas, kamu nggak keberatan kan kalau orang tua aku tinggal di sini?" tanya Lisa.
"Siapa bilang mereka orang tuamu aja? Mereka juga orang tua aku sekarang. Jadi, mana mungkin aku keberatan kalau orang tua kita tinggal sama kita. Malah aku seneng, kamu jadi ada temen main. Sekarang tugas kamu hibur mereka, ya. Aku akan cari cara untuk merebut kembali rumah dan tanah yang sudah dirampas."
"Memangnya bisa, Mas? Pakde Hasan itu bahaya, lho. Dulu aja Bapak hampir mau dibunuh karena meminta hak waris untuk kuliah aku," ucap Lisa lirih.
"Kuliah?" Amar mengernyitkan dahinya.
"Iya, dulu aku udah daftar di universitas yang bagus, Alhamdulillah aku diterima, tapi karena Bapak dan Ibu nggak ada uang, aku nggak jadi lanjut kuliah."
"Emang kamu mau kuliah jurusan apa?"
"Jurusan manajemen, Mas. Aku ingin sekali kerja kantoran. Biar bisa naikin ekonomi keluarga."
"Kamu yang sabar, ya. Insyaallah, aku akan berusaha agar kamu bisa kuliah." Amar mengusap kepala Lisa.
"Jangan, Mas. Aku nggak mau membebani kamu. Nggak apa-apa aku nggak kuliah, yang penting nggak nyusahin orang." Lisa tersenyum lembut.
'Kamu tenang aja, Sayang, begitu misi aku selesai, aku akan langsung membawa kamu serta Bapak dan Ibu tinggal denganku. Kamu akan kuliah seperti yang kamu impikan sejak dulu,' batin Amar sambil terus menatap Lisa dengan penuh kekaguman.
__ADS_1