Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Provokasi


__ADS_3

Di rumah Hamid dan Marni, suasana terlihat ramai karena para tetangga yang masih penasaran kenapa Hamid dan Marni sampai diusir.


"Eh, nggak nyangka, ya, ternyata yang mereka punya itu hasil hutang," bisik Bu Nina pada beberapa ibu yang dekat dengannya.


"Iya, Bu, nggak nyangka. Masa beli tanah dan motor hasil hutang, sih?"


"Bener kan apa yang saya bilang waktu itu, mereka pasti akan hidup sengsara," tambah Bu Nina.


"Iya, ih malu-maluin aja. Masa beli motor dan tanah gadaikan sertifikat rumah, sih."


"Makanya itu, bu ibu, jangan sampai seperti dia ya. Udah menantunya miskin, sekarang malah diusir gara-gara hutang."


"Ada apa, ini?" tanya Pak Lurah yang baru saja sampai di rumah itu.


"Oh, ini, Pak, Hamid nggak bisa bayar hutang sama saya, makanya rumahnya menjadi hak saya karena itu jaminananya. Lihat, dia sudah menghibahkan rumah dan tanahnya kepada saya." Hasan menyerahkan surat hibah itu.


Pak Lurah membaca dengan seksama. "Hutang apa yang dimiliki Hamid?" tanyanya.

__ADS_1


"Tanah dan sepeda motor yang dia beli itu dari hasil ngutang," sahut Hasan.


"Hah? Bukankah itu dari hasil pesta pernikahan Lisa? Saya dan istri saya juga bantu ngitungin uanganya, lho." Pak Lurah menatap Hasan dengan curiga.


"Ya mana saya tau, Pak, memang begitu keadaannya. Kalau nggak, mana mungkin Hamid menghibahkan rumah dan tanahnya untuk saya."


"Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu. Saya akan bertanya pada Hamid langsung, karena dia tidak akan bohong pada saya."


Pak Lurah pun segera pergi ke tempat Lisa yang ia ketahui dari laporan istrinya. Mereka bertemu di rumah Lisa sebagai tamu.


Di dalam rumah itu, Hamid pun menceritakan kejadian sebenarnya.


"Mereka licik, kita nggak punya bukti untuk melaporkan mereka," ucap Pak Lurah dengan kesal.


"Dasar orang serakah, kamu yang sabar, ya, Marni." Bu Vita memeluk Marni yang kini menangis haru.


"Udahlah, Pak Randa, jangan berurusan sama mereka. Kami sudah mengikhlaskannya. Jika harta itu memang hak kami, pasti suatu saat akan kembali pada kami," ucap Hamid.

__ADS_1


"Kamu ini dari dulu nggak berubah, Mid, selalu saja sabar, saya salut sama kamu dan juga Marni," puji Pak Lurah yang diketahui bernama Randa.


"Kalian mau nggak tinggal di salah satu kontrakan saya?" tanya Pak Lurah.


"Hah? Tinggal di sana? Tapi,,,"


"Semua isinya lengkap, hanya tinggal menempati saja," jelas Bu Vita.


"Aduh, maaf, saya nggak mau merepotkan." Hamid menolak dengan halus.


"Nggak merepotkan kok, kami senang jika bisa membantu warga," sambung Bu Vita.


"Sebaiknya untuk saat ini jangan dulu, Pak. Takutnya para tetangga berpikir Bapak pilih kasih, saya takut mereka akan protes karena banyak warga di sini yang hidup saling menumpang pada orang tua atau sanak saudara." Amar menjelaskan.


"Itu gampang, Mar, saya tinggal bilang kalau mereka bayar."


"Mustahil mereka percaya, Pak. Sudahlah, soal itu, nanti akan saya pikirkan. Mertua saya sudah menjadi tanggung jawab saya. Jika saya boleh meminta, saya malah ingin mereka tinggal bersama kami." Amar menjelaskan.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Saya senang karena Hamid mempunyai menantu yang sangat bertanggung jawab seperti Amar." Pak Lurah tersenyum bangga pada Amar.


Dan pembicaraan pun selesai karena aroma masakan Lisa membuat mereka teralihkan. Setelah memaksa beberapa kali, akhirnya Pak Lurah dan istrinya pun mau makan malam bersama mereka.


__ADS_2