
Rafli sudah tiba di komplek perumahan Mela dan keluarganya. Ia pun menyamar sebagai salesman panci dengan menggunakan kacamata dan kumis tebal.
Saat tiba di rumah Mela, ia melihat tanda dari pihak Bank yang bertuliskan rumah disita.
"Oh iya aku sampai lupa kalau rumah ini digadaikan," gumam Rafli. Ia pun berjalan lagi mencari rumah yang terdapat ibu-ibu sedang negrumpi agar bisa mencari informasi. Dan pilihan jatuh pada rumah Bu Nina.
Terlihat di teras rumahnya, sekitra lima orang ibu-ibu sedang negrumpi dengan serius dan seru-serunya.
"Selamat siang, Bu, saya ingin menawarkan panci. Sepertinya ibu-ibu ini orang-orang kaya, makanya saya yakin pasti saya cocok dateng ke sini. Murah aja kok, Bu, lagi promo cuci gudang," ujar Rafli.
"Ya udah, sini dulu, Mas, biar saya lihat," ujar Bu Nina. "Kalau bagus saya beli, soalnya saya nggak mau beli barang-barang kualitas rendah."
'Aku masih hafal tabiat mereka, mudah sekali merayu mamisoka ini,' batin Rafli.
Mamisoka : Malu miskin sok kaya.
Rafli pun mengeluarkan panci-panci dari tas besarnya.
"Oh ya, Bu, tadi saya lewat dari rumah besar di sana itu, tadinya sih mau nawarin panci, tapi ternyata ada tulisan di sita Bank, itu kenapa, ya Bu?" tanya Rafli memancing pembicaraan.
"Oh, biasalah orang sok kaya. Masa rumah sama sawahnya digadaikan, harta yang lain dijual. Katanya sih buat menantunya usaha, bego banget, kan." Bu Nina bercerita dengan wajah serius. Seperti pembicaraan tentang keluarga Mela sangat seru untuk diulas lagi.
"Oh, gitu, jadi sekarang mereka tinggal di mana, Bu?"
"Nggak tau. Setelah ibunya meninggal, ayah sama anaknya yang lagi hamil pergi entah kemana karena kami nggak mau terima mereka. Terakhir sih ada yang lihat mereka ngemis di lampu merah di kota. Tapi semingguan ini nggak ada yang lihat mereka lagi."
"Oh, tragis juga, ya, Bu. Sampai nggak ada yang mau bantu. Pasti mereka hatinya busuk makanya kayak gitu."
__ADS_1
"Iya, sebenarnya mereka ada keluarga lain, tapi udah pindah ke kota karena ternyata orang yang selama ini kami kira miskin orang kaya berat. Kamu cari aja di internet, Amar Adijaya, pasti langsung ketemu."
"Oh, gitu. Ya, mungkin aja mereka ditolong keluarga mereka, ya, Bu."
"Iya, mungkin aja, soalnya keluarga mereka baik, jadi nggak mungkin dibiarin ngemis."
Tak berselang lama, lewatlah seorang gadis berwajah masam.
"Eh, Ira, mau kemana?" tanya Bu Nina.
"Bukan urusan Ibu!" sahut Ira ketus.
"Astaga, kok Ira jadi begini, ya, Bu," ucap Bu Lastri.
"Kayaknya dia depresi berat sejak tau Amar orang kaya dan ditinggal pergi."
"Ya begitulah kalau cinta berlebihan, saat ditolak, jadi setengah gila." Menatap Ira dengan prihatin.
"Ya udah, Bu, jadi mau yang mana. Karena diskon besar-besaran, saya kasih harga seratus ribu untuk lima panci ini." Rafli membuyarkan keprihatinan mereka.
"Hah? Beneran! Ya udah saya beli!" Bu Nina langsung mengambil uang di dalam rumahnya. Ia pun memborong semua panci yang di dapat Rafli dari mencuri di toko.
Setelah itu, Rafli pun pergi. Ia membuka internet dan melihat bahwa Amar adalah orang kaya. Ia dan Lisa juga baru saja mengumumkan bahwa telah melahirkan anak kembar non identik.
Namun Rafli bukanlah orang bodoh. Ia melihat foto kedua anak itu. Yang satunya sangat mirip dengannya. Ia yakin pasti anak itu adalah anaknya.
Ia pun segera pergi ke alamat rumah Amar untuk mencari keberadaan Mela yang ia yakini pasti ada di sana. Tapi, mengapa juga Amar mengumumkan bahwa anak mereka kembar? Apa Mela tidak mau mengurusnya?" Begitulah isi pikiran Rafli saat ini.
__ADS_1
Namun sebelum itu, ia menemui seseorang yang mungkin dapat membantunya nanti.
*****
Zein bobo, oh Zein bobo
Kalau tidak bobo digigit nyamuk.
"Wah, udah tidur." Lisa tersenyum saat melihat Zein sudsh tidur. "Anak baik, selalu nurut sama Bunda. Nggak pernah bikin Bunda capek."
Ia pun meletakkan Zein di dalam box bayi tepat di sebelah box bayi milik Zayn, putra kandungnya.
"Sayang, udah tidur?" tanya Amar sembari menatap kedua putranya.
"Udah, Mas," sahut Lisa.
"Nggak terasa usia Zayn udah dua bulan aja, ya. Zein udah tiga bulan." Memandangi wajah kedua putranya dengan gemas.
"Iya, nggak terasa waktu cepat berlalu. Sekarang anak-anak kita sudah semakin besar."
"Oh ya, kan udah dua bulan sejak kamu melahirkan, berarti,,,,,,aku,,,,," Amar menenggelamkan kepalanya ke leher Lisa.
Lisa merasa kegelian dengan tindakan Amar. "Mas, ini masih siang, lho." Mengingatkan.
"Ya nggak apa-apa, malem kita kan jagain si kembar. Jadi, siangnya kita seneng-seneng. Lagian udah dua bulan aku bersabar. Masa nifas kamu sudah berakhir, berarti aku boleh kan?"
Dan setelahnya, peraduan panas di siang hari pun dimulai. Kerinduan yang tertahan selama dua bulan akhirnya terbayar sudah meski dilakukan di siang bolong. Meski ruangan ber-AC, tapi tetap saja, keringat bercucuran dari keduanya.
__ADS_1