Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Di usir


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu. Amar, Lisa, dan juga orang tua Lisa sedang asyik membersihkan halaman pekarangan rumah kontrakan Amar.


Tiba-tiba, datangnya Bu Jihan, sang pemilik kontrakan.


"Bu Jihan? Tumben pagi-pagi ke sini? Kayaknya ini belum tanggal sepuluh, Bu," sapa Amar.


"Bisa kita bicara di dalam?" tanya Bu Jihan.


"Bisa, Bu, silakan masuk," ujar Amar. Ia pun serta merta mengajak Lisa dan mertuanya ikut masuk.


Setelah duduk di ruang tamu, Bu Jihan pun mulai mengatakan alasan ia datang ke sini.


"Begini, Mar, saya nggak mau basa basi lagi. Hari ini juga, kamu harus mengosongkan tempat ini!" ucap Bu Jihan dengan nada tegas dan tatapan serius.


Tentunya Amar dan lainnya sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Bu Jihan.


"Apa? Tapi kenapa, Bu? Bukankah kami selalu bayar tepat waktu? Bahkan sebelum tanggalnya kami udah bayar," jawab Amar.


"Ya tapi rumah ini akan ditempati penghuni baru dengan harga yang lebih mahal. Makanya kamu harus pindah."


"Gimana kalau saya bayar dengan harga yang mereka bayar. Emang berapa, Bu?" tanya Amar lagi.


"Mereka bayar lima juta."

__ADS_1


"Ya udah, saya bayar lima juta."


"Nggak bisa gitu, dong. Saya udah terlanjur ngasih mereka tinggal di sini, jadi kalian yang harus pergi!"


Amar merasa ada yang aneh. Ia pun mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Tapi kami kan penghuni lama, Bu, masa Ibu main usir gitu aja." Lisa menambahkan.


"Ya terserah saya, dong, ini kan kontrakan saya." Bu Jihan masih bersikeras.


"Ya udah, nggak papa, kami akan pergi, tapi kasih kami beberapa hari dulu, Bu. Kami harus cari kontrakan dan mengemas barang-barang kami." Amar akhirnya mengalah.


"Nggak bisa, mereka akan datang satu jam lagi. Jadi saya mau kalian segera kemasi barang-barang kalian!" Bu Jihan berdiri, ia pun terlihat memanggil beberapa orang anak buahnya yang entah sejak kapan sudah ada di luar rumah Amar.


Tanpa aba-aba, mereka pun langsung mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam rumah itu.


"Eh, Mas, tenang, dulu, biar kami aja yang kemas barang-barang kami!" Lisa mencoba bicara pada salah satu pria berbadan besar itu.


"Diem, Lo! Biar cepet!" Si pria langsung mengambil sofa-sofa kecil yang ada di ruang tamu, lalu mencampakkan begitu saja ke luar hingga ada satu sofa yang rusak karena menghantam batu.


Begitu juga dengan televisi, mesin cuci, kulkas, mereka mengangkut dan meletakkan bertumpuk di teras rumah Lisa.


Pakaian yang belum masuk ke dalam dus, juga tak luput dari mereka. Pakaian itu diambil dari lemari, lalu dicampakkan ke luar, tepatnya di atas barang-barang mereka.

__ADS_1


Para tetangga berkumpul dan melihat yang terjadi. Bu Yati tentu sangat riang gembira, begitu juga dengan Ira yang melihat Lisa menderita. Ia berpikir akan merebut Amar darinya setelah ini.


"Astaghfirullahalazim, ada apa ini!" Bu Ana datang dengan ekspresi terkejutnya.


Lisa sedang menangis dipelukan ibunya. Sedangkan Amar mencoba menenangkan Hamid yang terlihat syok dan terus memegangi dadanya.


"Bu Jihan! Ada apa, ini? Kenapa Ibu mengusir mereka?" tanya Bu Ana dengan tatapan tajam.


"Ini kontrakan saya, ya suka-suka saya lah!" sahut Bu Jihan dengan sinis.


"Itu namanya egois, Bu. Padahal setiap bulan Amar bayar tepat waktu. Rumah ini juga dibersihkan dan dirawat dengan baik."


"Eh, Bu Ana, jangan sok mau ceramahi saya. Pikirin aja Bu Ana yang suaminya merantau tapi nggak pernah pulang. Jangan-jangan punya selingkuhan di sana!"


"Bu, jangan bawa-bawa rumah tangga saya. Saya cuma meminta Ibu bersikap adil!"


"Udahlah, Bu, toh mereka ini kan miskin, memang pantas mendapatkan perlakuan kayak gini."


"Bu, jangan suka memandang orang dengan harta! Ibu harusnya menberikan mereka waktu, bukan malah mengusir kayak mereka nggak bayar tunggakan berbulan-bulan. Itu Bu Asri yang suaminya katanya kerja kantoran, selalu nunggak, tapi nggak pernah Ibu usir. Apa karena suaminya itu mantan pacar Bu Jihan, ya? Masih berharap? Makanya nikah! Jangan jadi perawan tua!" Bu Ana akhirnya meledakkan emosinya.


"Kamu ngejek saya!" Bu Jihan menajamkan tatapannya.


"Enggak, tapi itu kenyataan. Ibu kira saya nggak tau Ibu sering diem-diem ketemu sama suami Bu Asri di gudang bekas pabrik?"

__ADS_1


__ADS_2