Jodoh Yang Tertukar

Jodoh Yang Tertukar
Zein


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Zein sudah berada di rumah Lisa dan Amar. Semua orang bahagia menyambut kedatangannya.


"Dia lucu sekali, ya," ucap Lisa sambil menggendong Zein yang terlihat masih tidur. Wajahnya sangat mirip dengan Mela. Terlebih pada hidung dan bibirnya.


"Zein Adijaya, itulah namanya sekarang," ucap Amar sambil tersenyum menatap wajah Zein yang amat menggemaskan.


"Lalu, apakah Lisa akan sanggup menjaganya? Dia juga sebentar lagi akan melahirkan," ucap nenek dengan penuh kebimbangan.


"Iya juga, ya, Bu. Dalam kondisi seperti itu, mana mungkin Lisa bisa menjaga mereka sekaligus," ucap Marni yang juga mengkhawatirkan tentang Lisa.


"Ya udah, gini aja, bagaimana kalau Zein diasuh oleh pengasuh bayi saya," ujar nenek.


"Jangan, Nek, kasihan dia. Yang Mela inginkan adalah kasih sayang untuk Zein," sahut Lisa langsung menolak usul sang nenek.


"Ya sudah, begini saja. Setiap malam Zein bersama mu, tapi di siang hari, izinkan pengasuh menjaganya agar kamu bisa cukup istirahat, Nenek akan membantu mu menjaganya." Nenek pun memberikan pilihan yang sepertinya bisa diterima Lisa.

__ADS_1


"Ya, aku rasa itu ide yang bagus," ucap Amar menambahkan.


"Baiklah, dia akan bersama pengasuh hanya ketika aku istirahat saja." Lisa menyetujuinya.


Dan sejak hari itu, Lisa pun resmi menjadi ibu dari Zein. Memberinya kasih sayang layaknya seorang ibu.


Hingga sampai saat ia melahirkan, anaknya juga berjenis kelamin laki-laki. Karena berjarak satu bulan, maka Amar dan Lisa mengumumkan bahwa mereka memiliki anak kembar non identik. Apalagi karena tubuh Zein yang hampir sama dengan anak mereka yang berbeda satu bulan saja, maka semua orang mempercayainya. Biarlah rahasia ini menjadi rahasia keluarga mereka saja, tidak boleh ada yang tahu karena itu bisa menimbulkan masalah jika Rafli datang dan mengambil anaknya.


Anak Lisa diberi nama Zayn Adijaya. Berwajah sangat tampan persis seperti ayahnya.


Sementara itu, Rafli sedang bersama dengan seorang wanita di sebuah hotel.


"Sabar, Sayang. Aku akan segera menikahi mu," ucap Rafli meyakinkan.


Setelahnya, mereka pun segera pergi dari hotel itu. Setelah mengantarkan kekasihnya, Rafli pun bergegas kembali ke rumahnya. Ia membeli rumah yang besar dari uang hasil menipu.

__ADS_1


Tiba-tiba telepon berdering.


"Halo."


"Mana barangnya? Masih banyak klien yang butuh bayi."


"Sabar dong, gue lagi usahain, nih. Penjagaan di daerah ini diperketat karena kasus penculikan bayi terungkap."


"Gue nggak peduli. Kalo Lo mau duit, dapetin bayi sesegera mungkin!"


Telepon pun mati. Rafli meremas rambutnya. Ia sedang pusing memikirkan bayi mana yang harus ia culik. Apalagi saat ini ia sedang membutuhkan uang karena sisa uang hasil menipu sudah habis karena ia mainkan untuk judi.


Tiba-tiba, ia teringat Mela. "Kalau dihitung, artinya Mela udah melahirkan. Berarti gue bisa ambil anaknya buat gue jual sama si bos," gumamnya.


Terlihat sebuah senyuman devil menghiasi wajahnya saat ini. Untuk apa ia susah-susah mencari bayi jika anaknya sendiri bisa ia dapatkan tanpa bersusah payah menculik.

__ADS_1


Ia pun segera memesan pesawat untuk penerbangan besok menuju daerah tempat Mela tinggal.


Ia hanya tidak tahu bahwa orang-orang yang telah ia sakiti telah meninggal dalam penderitaan yang menyakitkan dan itu disebabkan oleh ulahnya.


__ADS_2