JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 10


__ADS_3

Bel pulang sekolah sudah berdering 10 menit yang lalu, kini saatnya aku menuju lab komputer sekolah, melanjutkan projek majalah sekolahku. Apalagi, sepulang dari study tour, banyak sekali tugas dan laporan berita yang akan ditulis pada majalah.


Di dalam lab komputer, sudah ada 8 anggota kru majalah yang tengah berkutat dengan tugas masing-masing. Baru saja aku duduk di depan komputer, tiba-tiba ada yang memanggilku


"Mbak Khanza!"


Aku menoleh, dan ternyata Wanda tengah berdiri di tengah pintu dan tersenyum padaku.


"Hei, ada apa?" Tanyaku sambil menghampirinya


"Aku mau ngerjakan Laporan Olimpiade, Mbak. Pak Fauzan terus menerus menerorku, biar aku cepat selesaikan laporannya. Maka dari itu, aku datang kesini mau minta bantuan," kata Wanda.


"Kamu sendiri? Anita nggak ikut? Bukannya Kamu asistennya Anita?" Tanyaku sambil mengernyitkan dahi.


Wanda menghela nafas panjang, nampak segurat kelelahan pada wajahnya.


"Udah, Mbak. Aku udah minta bantuan Mbak Anita, tapi dia tetap nggak mau. Entahlah, aku bingung dengan jalan pikirannya," keluh Wanda seraya menyadarkan punggungnya pada pintu.


"Sebelum kesini, aku ketemu sama Mas Risky, loh, Mbak!"


Aku menoleh,


"Dimana?" Tanyaku


"Di depan gerbang sekolah, dia menyapaku. Kulihat dia berjalan menuju ruang osis," ucap Wanda sambil menatapku.


Aku memalingkan wajah, enggan rasanya berbicara segala hal tentang Risky.


"Ya, udah. Masuk aja sini, kita kerjakan bareng-bareng," ajakku sambil menarik tangan Wanda memasuki lab.


Akhirnya, semua projekku aku tunda, aku harus membantu Wanda kali ini, aku harus segera keluar dari masalah ini.


"Win, minta tolong dong, laporan utama kamu pegang, ya. Pak Fahmi minta laporan utama harus selesai hari ini, biar majalah kita lekas di acc," ucapku pada Wina.


"Oke, nanti kamu tukar megang desain back cover, ya"


"Siap"


Akhirnya, aku berkutat dengan laporan-laporan kegiatan dan keuangan.


Ting!


Tiba-tiba masuk notifikasi pada akun sosmed biruku. Ku lihat, ada sebuah pesan masuk.


@Riskyy


Halo, Assalamualaikum, Za


Aku mengernyitkan dahi, Akun dengan nama @Riskyy itu mengirimiku pesan. Ku buka profilnya. Aku terkejut! Ini akunnya Risky? Ngapain dia chat aku?


Aku bimbang, haruskah aku membalasnya? untuk apa dia chat aku? cukup lama aku membuka chat itu, tanpa ada niat membalasnya.  Namun, aku harus mengalahkan egoku.


@ZaKhanza


Waalaikumussalam, Ky


Tak lama aku menunggu, tiba-tiba masuk lagi notifikasi. Ting!


@Riskyy


Kamu, apa kabar?


@ZaKhanza


Baik, Alhamdulillah


@Riskyy


Aku mau ngomong sesuatu sama kamu


@ZaKhanza


Ngomong aja


@Riskyy


Ini tentang laporan olimpiade


@ZaKhanza


Oh, itu. Ini udah dikerjakan, kok


@Riskyy


Maka dari itu, aku mau ngomong langsung aja sama Kamu


Aku menghela nafas, aku enggan bertemu Risky. Saat bertemu dengannya, jantungku berpacu sangat cepat. Antara menahan gejolak cinta dengan menahan perihnya luka.


@ZaKhaza


Kenapa harus langsung? lewat chat saja


@Riskyy


Nggak, aku tau kamu masih ada di lab


@ZaKhanza


Baik, sebentar saja


Tanpa menunggu balasan Risky, buru-buru kututup aplikasi biruku. Aku sibuk mengendalikan hatiku, jantungku kini telah berpacu. Tapi lagi-lagi aku harus mengalahkan egoku.


Tak lama, seorang lelaki muncul di depan pintu dengan senyum khasnya. Memandangku, seolah olah tak pernah ada luka yang ia torehkan. Aku menghampirinya, berdiri berjarak satu meter dengannya.


"Kita ngobrol disini aja," ucapku


"Oke, Umm, gimana? Apa sudah selesai?" Tanyanya sambil sedikit melihat ke dalam lab.


"On proses, Wanda yang ngerjakan," jawabku


"Loh, Anita?"


"Nggak"


"Kenapa?"


Aku diam saja.


"Oh, pasti gara-gara masalah itu, ya?"


Aku memalingkan wajah sambil mengangguk pelan


"Maafkan aku, ya?" Katanya sambil memalingkan wajah pula.

__ADS_1


"Semua ini bukan tentang siapa yang salah, tapi bagaimana cara kita menyelesaikan masalah," ucapku kemudian.


"Aku sudah melupakan semuanya, Ky. Sekarang aku harus mengalahkan egoku. Memendam semua rasa kesalku pada kalian," Imbuhku akhirnya.


Dia hanya menunduk, kemudian mengangguk.


"Aku sadar, Za. Aku salah, bahkan sangat salah. Aku sudah mencampurkan masalah pribadi pada organisasi. Kalau boleh jujur, Alfi lah salah satu alasanku terjun sejauh ini, tapi apa? Sepertinya semua berbalik padaku. Akhir dari semua ini jadi berantakan, dan lagi-lagi, aku merepotkanmu untuk membereskannya," kata Risky, kemudian dia memandangku.


Aku diam. Ya, aku hanya mampu diam. Tak sanggupku mengatakan apapun, apalagi Risky mengatakan secara langsung bahwa Alfi lah alasannya.


Hatiku pilu, air mataku seakan ingin segera menyembul, tapi semua kutahan. Aku tak ingin Risky tau bahwa aku memendam rasaku. Cukup sudah luka ini ia torehkan. Cukup sampai disini ia kukagumi.


Semua terlihat percuma, meski terkadang aku mengatakan bahwa aku membencinya, kesal padanya, tapi dalam diamku, ku bawa dia dalam doa. Kebimbangan hati ini menyiksaku. Kubawa namanya dalam sujudku, niat hati ingin melepasnya, namun nyatanya aku makin terjerat olehnya.


Aku masih diam dan memalingkan wajah. Enggan membalas tatapannya yang seolah mengintimidasiku untuk peduli dengan ucapannya. Kamu salah Risky, lukamu cukup menganga pada hatiku.


Dia menghela nafas panjang, kulirik sekilas, nampak segurat kekecewan pada sorot matanya. Tapi siapa peduli? Mungkin, inilah salah satu jawaban, dari tindakanmu yang mempermainkan hatiku. Terimalah, Ky.


"Aku pulang dulu ya, Za. Kalau ada apa-apa, kamu bisa tanyakan aku," ucapnya sambil beranjak pergi.


Aku hanya mengangguk, tak ada sedikit pun niat dalam hatiku untuk berurusan denganya lagi.


_______________________________


Matahari bersinar sangat cerah pagi ini, pancaran sinarnya membuatku harus menyipitkan mata saat berjalan. Kacamata yang ku gunakan, belum cukup untuk menahan pancarannya.


Udara cukup sejuk, mungkin karena hujan tadi malam. Embun masih banyak yang menggantung pada ujung dedaunan. Pijakan kakiku pada rumput, turut menyipratkan sedikit embun hingga membuat sepatuku agak basah.


Hari ini, adalah hari ke lima belas sejak pertemuan terakhirku dengan Risky saat ia mengutarakan kesedihannya padaku di depan lab komputer. Entahlah, antara perasaan lega dan bimbang, umm ...  mungkin juga rindu.


Jujur, meski aku membencinya karena tenyata dia menyukai perempuan lain, tak dapat kupungkiri bahwa aku juga masih bisa merasakan rindu padanya. Inilah yang terjadi, logikamu akan diuji, ketika kau menyukai hal yang kau benci.


Terlebih lagi, aku mengingat percakapan kita lima hari setelah pertemuan kita yang terakhir melalui aplikasi chatting biru


@Riskyy


Za, makasih banyak, ya. Kamu sudah membantuku menyelesaikan laporan itu


@ZaKhanza


Jangan berterima kasih padaku, katakan itu pada Wanda. Seharusnya, dialah yang Kau apresiasi, dia sudah mengalah, menghadapi ego Anita yang tak masuk akal


@Riskyy


Ah, sudahlah. Tak perlu Kamu membahas soal masalah itu, Aku sudah melepas Alfi


Aku mengernyitkan dahi, apa maksudnya? Jangan-jangan?


@ZaKhanza


Apa maksudmu?


@Riskyy


Iya, Aku sudah melepasnya. Dia lebih bahagia dengan pilihannya


@ZaKhanza


Oh, begitu. Aku turut prihatin, ya. Semoga Kamu mendapatkan yang terbaik


@Riskyy


Makasih, Za. Ucapanmu cukup menenangkanku


@ZaKhanza


Aku cukup tau bagaimana maksudnya. Aku tak mau masuk perangkapnya lagi. Ucapannya hampir membuatku terbang, tapi aku harus segera sadar siapa dia.


Di sisi lain, ada segurat rasa senang dalam hatiku, kalau dia sudah melepaskan Alfi, apakah selanjutnya dia akan benar-benar menuju padaku?


Namun, lagi-lagi luka ini mengingatkanku akan peristiwa itu. Tidak! tidak akan! Aku sudah berniat untuk melupakannya. Aku sudah berniat untuk benar-benar melepasnya.


__________________________________


Hari ini, adalah deadline kami menyelesaikan projek majalah. Jadi, kami harus bekerja ekstra agar majalah ini segera di acc oleh pembina.


Aku sudah ada di lab komputer sejak satu jam yang lalu, berkutat dengan desain dan lay out, membuatku lupa segalanya, bahkan lupa belum makan siang.


"Za, Kamu serius nggak mau makan dulu?" Tanya Wina mengejutkanku.


"Aduhh, ya ampun, Win. Bentar aja dulu, kepalang tanggung, nih!"


Wina menggeleng-gelengkan kepala dan meninggalkanku, tapi kemudian berbalik lagi


"Mau nitip?"


Aku menoleh, mataku berbinar


"Maauuuu!" Ucapku sambil menyerahkan uang 5000 rupiah.


"Seperti biasa, ya, Win,"ucapku sambil cengar-cengir


"Iya, iya" Jawab Wina kemudian menyambar uangku.


Kini, aku berkutat lagi dengan pekerjaanku. Tiba-tiba, setelah 10 menit berlalu, muncul notifikasi pada aplikasi chatting biruku, Ting!


Kulihat, Risky?


@Riskyy


Assalamualaikum, Za


@ZaKhanza


Waalaikumussalam, Ky


@Riskyy


Apa kabar? Lama, ya, kita nggak ketemu


@ZaKhanza


Baik, umm, iya lama ya


@Riskyy


Kamu nggak kangen sama aku?


Aku mengernyitkan dahi, Hah? Nggak salah dia ngomong kayak gitu? Berkali-kali aku mengedip-kedipkan mataku, karena takut salah baca, tapi ternyata benar, dia benar-benar mengatakan itu.


@ZaKhanza


Hahaha, apaan, sih, Kamu itu!

__ADS_1


Aku bingung, benar-benar bingung saat ini. Aku harus merespon bagaimana? Suka atau malah ilfiel? Buru-buru kutahan gejolak hatiku yang mulai tak karuan.


@Riskyy


Loh, aku serius ini, Za


@ZaKhanza


Aku nggak percaya kalau ini benar-benar kamu


Kemudian dia mengirim sebuah foto selfie. Foto penampakan dirinya tengah mengenakan baju berwarna biru dihiasi senyum yang sumringah. Aku menelan ludah. Ini sungguhan Risky?


@ZaKhanza


Kamu nggak sekolah? Kamu kok pakai baju bebas?


@Riskyy


Iya, Aku kemarin pulang dari pesantren, ada kepentingan


@ZaKhanza


Oh, gitu


Kupandangi foto itu, nampak seorang lelaki yang terlihat bahagia tengah menampakkan senyumnya. Sorot matanya yang tajam benar-benar menghipnotisku. Ya Tuhan? Apa ini maksudnya?


@Riskyy


Za, Aku mau tanya sesuatu


Aku mengernyitkan dahi, jantungku berdebar sangat kuat


@ZaKhanza


Tanya apa, Ky?


@Riskyy


Kamu, suka sama siapa?


Hah? kali ini jantungku benar-benar tak karuan. Keringat dingin sudah membasahi pelipisku, Ya Tuhan? haruskah ku katakan bahwa aku menyukainya?


@ZaKhanza


Apa an, sih, Risky, wkwk


@Riskyy


Loh, Za, kamu kok malah ketawa, sih?


@ZaKhanza


Habis, pertanyaanmu aneh


@Riskyy


Aneh dari mana?


@ZaKhanza


Ya, aneh


@Riskyy


Baik, kutanya sekali lagi, ya, kamu suka sama siapa?


Ya Tuhan, dia terus memaksaku menjawab pertanyaannya. Kalau kujawab tidak maka aku akan kehilangan kesempatan, tapi kalau ku jawab Iya, maka arrrghhhhh! Aku bingung!


"Kamu kenapa, Za?"


Aku terperanjat, bahkan aku tak menyadari bahwa Wina sudah datang membawa makan siangku.


"E-eh, Wina. Nggak papa,kok, hehe," cicitku sambil sedikit memutar komputer, agar Wina tak dapat melihat isi komputerku.


"Hayoo, kamu lagi ngapain?"


"Enggak kok, udah sana Wina! Hush hush!" Kataku sambil mendorong-dorong Wina agar menjauh


"Yaelah, ya udah, cepat makan sana! Keburu nggak enak tuh pecel," ucap Wina sambil membuka bungkusan nasi pecelnya.


"Iya, Iya bawel!" Tukasku


Lanjut, aku masih memandang chat dari Risky. Haruskah aku jujur?


@ZaKhanza


Kenapa kamu tanya gitu?


@Riskyy


Kamu mau tau?


@ZaKhanza


Hu'um


@Riskyy


Katakan, sebenarnya kamu menyukaiku atau tidak?


@ZaKhanza


Apa maksudmu?


@Riskyy


Sudahlah, katakan saja. Aku tau dari, teman-teman kalau Kamu menyukaiku


Sial! Ada apa sih dengan manusia ini? Kenapa berani sekali dia menanyakan hal itu padaku? Ya Tuhan, aku harus menjawab apa? Aku benar-benar bingung, aku tak mau masuk kedalam perangkapnya. Tapi tak dapat dipungkiri, aku memang pernah menyukainya.


Haruskah aku jujur? Ataukah aku harus?...


@ZaKhanza


Umm, Sebenarnya ...


______________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya ya


Dukung Author dengan bintang-bintang kalian

__ADS_1


Salam,


Khanza di dunia nyata


__ADS_2