
Sorak sorai semakin menjadi-jadi di kelas saat ini, Pak Fahmi pun nampaknya enggan menghentikannya. Sontak wajahku memanas dan malu luar biasa. Banyak pasang mata yang melihat ke arahku.
"Emang kamu mau, Za, sama Mas Aldo?" tanya Oliv sambil menyenggol lenganku
"Bodo amat! Aku nggak suka keadaan kayak gini!" umpatku sambil terus menunduk
Oliv pun paham dan dia hanya diam saja tak ikut bersorak-sorai. Di kelas putri saja segini ramainya, apalagi di kelas putra? Aku tak tau bagaimana ekspresi Mas Aldo, yang jelas aku tidak pernah suka jika harus dijodoh-jodohkan seperti ini.
Sebenarnya aku sudah mengenal Mas Aldo, tahun lalu aku sekompetisi dengannya. Jarak usia kami hanya setahun, jadi dia adalah kakak kelasku saat ini. Dia cowok berperawakan tinggi, kulit sawo matang dan juga berkacamata. Dia memang pendiam menurutku, lantas apakah yang seperti itu dianggap cocok?
Di kelas putra pasti banyak teman-teman Risky, aku tak tau apa yang akan terjadi jika Risky mengetahui hal ini. Meski perjanjian kami jangan sampai banyak teman yang tahu, tapi setidaknya 2-3 orang teman kami pasti tahu.
Apalagi setelah olimpiade 2 bulan yang lalu, banyak isu beredar tentang kami. Hanya kami saja yang memilih diam tak menanggapi. Huft, bagaimana ini? semoga tidak akan terjadi apa-apa dan kejadian ini tidak berangsur-angsur.
____________________________
"Gila! kelas kita hari ini temanya perjodohan," celetuk Oliv saat kami tengah berjalan pulang
Aku diam saja
"Benar, loh! Aku heran, deh, kenapa harus Mbak Khanza juga yang jadi sasaran?" timpal Nina sambil memandangku
"Kayaknya sengaja, deh, beliau. Apalagi Mbak Khanza dan Mas Aldo kebetulan lagi sekelas, ya nggak, Mbak?" Naina menyenggol lenganku
Aku menghela nafas panjang
"Entahlah, Gais. Aku nggak suka keadaan kek gini," jawabku
"Hati-hati, ya, Za," ucap Oliv tiba-tiba
"Kenapa?" tanyaku heran
"Kayaknya Pak Fahmi emang beneran sengaja. Kalian ingat, nggak, kejadian antara Anita dan Mas Aziz?" Oliv berkata sambil merapatkan tubuhnya diantara kami.
"Dulu sebelum Anita tunangan, Anita pernah dijodohin sama Mas Aziz. Nah, karena Anita nggak suka, jadi Anita nggak menanggapi dan malah memilih tunangannya saat ini. Setelah kejadian itu, hubungan Anita dan Ustad Fahmi jadi renggang, loh!"
Aku mengernyitkan dahi dan mencoba mengingat-ngingat kejadian itu
"Oh iya ... " gumamku sambil mengusap dagu
"Kalau Mbak Khanza emang nggak mau, kemungkinan besar kejadiannya akan sama," kata Nina
"Za, Kamu mau apa nggak, sih?" tanya Oliv sambil menatapku serius
"Apa an, sih! ya nggak mau, lah! udah biarin aja. Aku nggak akan menyinggung masalah itu kalau lagi sama Ustad Fahmi," cecarku bersungut-sungut
"Pasti gara-gara Mas Risky, ya?" goda Naina sambil tersenyum nakal padaku
"Ini lagi! apa an, sih!" sungutku sambil berjalan mendahului mereka.
Ah, lagi-lagi Aku dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Jangan anggap ini berlebihan, karena ini urusannya dengan perjodohan, Aku harus menemukan alasan yang tepat jika sewaktu-waktu Ustad Fahmi menanyakan hal ini.
____________________________
Hari ini ada agenda rapat gabungan yang akan anggota osis laksanakan di gedung SMK. Agenda ini sudah dipersiapkan dengan matang, mengingat rapat kali ini adalah mengenai MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).
Aku yang menjabat sebagai Pembantu Umum (PU) hanya bertugas menerima laporan dari ketua panitia. Selebihnya hanya memberi saran dan mengamati proses berjalannya acara. Kebetulan tahun ini yang menjadi ketua panitia kegiatan inti adalah Fania dan ketua panitia umum adalah Maya.
Aku tengah bersiap-siap di dalam kamar, ketika sebuah panggilan dari mikrophone mengejutkanku
"Ditujukan kepada Mbak Zakia Khanza Al Malik, bahwa sudah ditunggu rekannya di depan kantor" begitu katanya
Karena memang aku menetap di asrama yang dihuni banyak orang, sudah lumrah hampir tiap jam terdengar panggilan demikian. Buru-buru kuraih buku rapat dan bulpoinku, dan melenggang pergi menuju depan kantor.
Di depan kantor, nampak Fania sedang berdiri dan tersenyum dengan manis
"Za, hehe. Aku kepagian, ya, jemput Kamu?" tanyanya
Aku melihat jam yang melingkar di tanganku, "Ah, nggak kok, Fan. Baru jam 08.45, rapat dimulai pukul 9 tepat"
"Oh iya, ya. Yuk lah, kita berangkat," ajaknya
__ADS_1
Lalu kami pun berjalan beriringan menuju gedung SMK
"Hari ini yang ikut rapat siapa saja?" tanyaku
"Hanya panitia inti kok, Za. Soalnya hari ini agendanya membahas acara gabungan saja, nanti kalau acara gabungan udah oke, tinggal nyelipin di acara per lembaga,"
Aku hanya manggut-manggut mengerti
"Um ... Za, aku mau tanya sesuatu, nih"
"Tanya aja kali," jawabku sambil bersikap agak santai agar Fania tidak merasa kikuk
"Kamu ada hubungan spesial, ya, sama Risky?"
Mataku membulat dan tiba-tiba langkahku tertahan. Kenapa Fania menanyakan itu?
"Nggak, kok, Fan. Emang kenapa?" tanyaku dengan sikap sesantai mungkin agar dia tak curiga
"Aku dengar aja dari teman-teman, sejak kalian bertemu di acara olimpiade itu, kalian jadi makin dekat kayaknya ... "
Dia diam sejenak, seperti berusaha merangkai kata
"Kalian juga kayaknya rukun banget gitu, emang sampai sekarang tetap komunikasi?" tanyanya dengan menatap wajahku
Aku membenarkan letak kacamata yang sebenarnya tidak miring atau apa, "Ya komunikasi sekedar sambung silaturahmi aja, sih"
"Oh gitu, Aku liburan kemarin juga chattingan sama Risky, loh! Aku nemu nomor WhatsAppnya di grup MTs, dulu kan Aku sama dia satu MTs disini ... "
Aku diam, berusaha tetap tenang dan menyembunyikan rasa cemburuku
"Aku dan dia chattingan hampir tiap hari, dia itu ternyata orangnya asyik, ya. Waktu olimpiade juga dia sering becandain aku, hahaha, kalau ada cowok respect gitu jadi seneng," imbuhnya lagi
Aku menelan ludah, dan ternyata menahan rasa cemburu itu sangat sulit. Jadi seperti itu kelakuannya selama ini? Aku hanya diberi kesempatan chattingan dengannya saat malam hari.
Benar saja Risky mengatakan bahwa tidak bisa menjadikanku prioritasnya, ya karena ini. Karena dia juga sibuk meladeni perempuan lain. Ah ... Begini rasanya menjalani Hubungan Tanpa Status, aku mau protes, tapi apa hakku?
Aku hanya tersenyum menanggapi cerita Fania, sebab bingung mau menjawab apa. Hati ini sakit tak terkira sebenarnya, tapi Aku hanya bisa diam dan menahannya
"Nggak ada, kok, Fan. Cuma berteman biasa," jawabku akhirnya.
Entah, apa jadinya hubunganku dengan Risky. Apakah Aku akan bertahan ataukah akan diambang tanpa kejelasan. Aku tak mampu berharap banyak, meski Risky sudah mempercayakan sebagian rahasianya padaku, tapi tetap saja aku masih ragu.
___________________________
Rapat hari ini berjalan dengan lancar, meski hanya di hadiri oleh 10 orang, tapi target pembahasan kita sudah tercapai. Aku merasakan sedikit kelegaan dengan lepasnya satu tugas untuk acara ini.
Jam menunjukkan pukul 11.00, masih ada waktu jika aku meneruskan langkahku ke arah sekolah untuk merevisi brosur pendaftaran.
Karena Maya juga mengikuti rapat tadi, maka aku dan Maya langsung menuju sekolah.
"May, Kamu tau nggak cerita kalau beberapa hari lalu ada kejadian di kelas pengajian kitab pagiku?" tanyaku pada Maya tatkala kita memasuki gedung sekolah
"He'eh, Aku dengar dari Egha, emang itu beneran?" tanyanya sambil merapatkan badannya ke badanku
"Apanya?"
"Kamu emang beneran mau dijodohin?"
"Nggak tau! tapi kalau dari aku sendiri ya emang nggak mau!" jawabku
"Kenapa nggak mau?"
"Aku belum kenal, lagipula aku, kan, nggak suka sama Mas Aldo,"
"Iya, sih"
"Um ... maka dari itu, May, Aku mau minta tolong nih sama kamu, kalau habis ini kita ketemu Pak Fahmi dan beliau membahas itu, kamu bantuin aku, ya?"
"Siap! Aku harus ngomong gimana?"
"Pokoknya Kamu harus meyakinkan tiap jawaban yang Aku utarakan ke Ustad Fahmi," kataku sambil mendekatkan badanku dan menghadap ke wajah Maya
__ADS_1
"Oh Oke, siap!"
Kemudian kita memasuki kantor sekolah. Setelah berdiskusi dengan Pak Ridho tentang revisi brosur, kita langsung menuju lab komputer.
Kami mulai berkutat dengan lembar-lembar brosur pada aplikasi desain hijau itu. Hampir satu jam suasana hening menghiasi sekitar kami, tiba-tiba terdengar suara gelak tawa dua orang lelaki dan kemudian memasuki lab.
Terlihat Pak Fahmi dan seorang pria yang tak kukenal berjalan beriringan, pandanganku dan Pak Fahmi bertabrakan, refleks kualihkan pandanganku kembali menatap komputer, Maya yang melihat itu juga refleks menyenggol lenganku.
"Khanza, apa kabar?" tanya beliau mengejutkanku
"Ba-baik Pak, hehe," jawabku dengan senyum yang dipaksakan
Pak Fahmi dan rekannya langsung duduk dikomputer kendali dan mulai mengamati sesuatu. Mereka nampak asyik berbincang membicarakan hal yang sama sekali tak kumengerti. Aku mengabaikannya, mengelus dadaku seraya berusaha bersikap baik-baik saja.
"Za, kayaknya Pak Fahmi lupa, deh," celetuk Maya sambil berbisik padaku
"Sstt ... udah jangan diungkit-ungkit," kataku dengan suara tak kalah pelan.
Kemudian kami kembali larut dalam pekerjaan, hingga tiba-tiba
"Itu, loh, Khanza," ucap Pak Fahmi
Deg! jantungku seakan berhenti berdetak, duh, apalagi yang mau beliau buat 'ulah'. Aku hanya diam, tak menoleh apalagi menjawab
"Dia kemarin habis ikut lomba sains di tingkat provinsi, sekarang jadi ketua osis," lanjut beliau
"Oh, keren, ya," timpal rekannya
Aku masih diam, keringatku bercucuran dan jantungku terus berpacu
"Khanza ini yang mau Aku jodohkan sama ..."
"Nggak, Pak!" kataku memotong ucapan beliau
Beliau terkejut begitupun rekannya, refleks aku menutup mulut dan tersenyum kaku. Maya pun menepuk jidatnya, ah kacau!
Pak Fahmi tersenyum dan berkata, "Wah, udah peka, nih, kayaknya. Kenal sama Aldo, kan?"
"Um ... cuma tau aja, sih, Pak, bukan kenal," jawabku apa adanya karena memang Aku hanya tahu
"Ah, masa? kalian, kan ikut lomba bareng waktu tingkat kabupaten?"
"I-iya, Pak"
"Jadi gimana? mau, kan?"
Aku meremas jemari Maya, bibirku bergetar dan keringatku masih deras bercucuran. Aku harus bilang gimana?
"Anu, Pak, kan Khanza masih kelas 11, masa mau dijodoh-jodohkan?" celetuk Maya
Wah, benar juga alasan Maya ini
"Iya, Pak. Saya masih belum mau mikirin itu, masih senang sendiri," imbuhku penuh keyakinan
Pak Fahmi diam, alisnya bertaut. Wah, gawat ini. Apa beliau marah?
"Hahaha, benar juga kamu, Khanza. Iya deh, tapi kalau kamu mau serius, kamu bisa bilang sama saya, ya," kata beliau penuh keyakinan.
"Ba-baik, Pak" jawabku Akhirnya.
Ah, lega rasanya aku bisa menghentikan acara jodoh-menjodohkan seperti ini. Aku berharap Pak Fahmi tidak mendengar kabar tentang aku dan Risky, karena beliau sendiri pun agak tidak menyukai Risky. Entahlah, mengapa.
__________________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya
Dukung author dengan bintang-bintang kalian
Salam,
__ADS_1
Khanza di bumi