
"I-ini ... " mataku terbelalak, mencoba mengamati dengan seksama, sesuatu yang dikirimkan Risky tersebut.
Risky mengirimkan sebuah gambar, berupa tangkapan layar ruang chat dengan nama Risaa. Aku tertegun, ternyata sudah sejauh ini hubungan mereka. Sekali lagi, aku membaca chat tersebut
@Risaa
Kalau boleh jujur, sebenarnya aku baper sama kamu, wkwk
@Riskyy
Masa?
@Risaa
Iya, wkwk. tapi aku takut malah merusak pertemanan kita. jadi aku anggap kamu sahabat aja
@Riskyy
Kenapa kamu bisa baper sama aku?
@Risaa
Entahlah, soalnya kamu selalu bikin aku ketawa. Aku suka
@Risky
Hm ... gimana, ya?
@Risaa
Jangan dipikirkan, kita begini aja, ya
@Risky
Hmm ... boleh, terserah kamu
Aku menghela nafas panjang, ingin aku berteriak marah karena ulah Risky. Kesimpulanku, Risa tak mungkin bilang begitu kalau Risky nggak memulainya dulu. Aku masih mengendalikan emosi, mencoba berpikir semua aka baik-baik saja
@Riskyy
Za ...
Kamu nggak papa?
Aku menggigit bibir, berusaha berpikir untuk bersikap sebijak mungkin
@ZaKhanza
Lupakan, sejak kapan kalian berkomunikasi?
@Riskyy
Sudah lama sebenarnya, dulu dia tiba-tiba mengirimiku pesan di aplikasi biru. Lanjut, dia juga adik kelas saat MTs dan rumahnya masih satu kecamatan denganku
Ternyata, mereka memang cukup dekat. Lalu, muncul lagi pesan dari Risky
@Riskyy
Aku dan dia cuma chattingan biasa, sih. Bercanda dan saling ejek. Salahku juga, padahal sudah ada kamu, tapi aku tetap menanggapi pesannya. Jadinya dia keterusan baper
Lalu, aku berinisiatif mengirimi foto dari postingannya yang kusimpan beberapa hari lalu. Aku mrncarinya di galeri dan mengirimkannya.
@ZaKhanza
Ini, kan?
@Riskyy
Kok kamu tahu?
@ZaKhanza
Jangan ragukan perasaanku, Ky. Aku selalu merasakan jika ada perbedaan padamu
@Riskyy
Iya, itu orangnya
@ZaKhanza
Cantik, ya? semua targetmu emang cantik
@Riskyy
Aku sudah mengurangi komunikasiku, Za. Aku ingin berubah
Aku menghela nafas panjang, bersiap mengeluarkan kata-kata mutiara padanya
@ZaKhanza
Ky, begitulah perempuan. Dia lebih banyak menggunakan perasaan jika berhadapan dengan lawan jenis. Cinta tercipta karena kebiasaan, kalau dia terbiasa di becandain sama kamu, ya gini jadinya. Aku merasa bahwa dia masih berharap sama kamu. Ya keputusan ada pada dirimu
@Riskyy
Nggak, Za. Aku nggak mau sama dia
@ZaKhanza
Bukan sekali aja, kemarin Fania, sekarang Risa. Setelah ini siapa lagi?
@Riskyy
Sudah, Za. Cukup. Kamu jangan marah, ya?
@ZaKhanza
Aku nggak marah, kamu tahu cemburu? iya itu
@Riskyy
Maafkan aku, Za
Aku menghela nafas lagi, berusaha membuka pintu maaf selebar-lebarnya meski rasanya amat sakit
@ZaKhanza
Iya, jangan di ulangi lagi
@Riskyy
__ADS_1
Iya, Za. aku udah nggak rutin chat dia
@ZaKhanza
Ada baiknya, kamu hapus postingan itu. Postingan yang kamu menandai Risa. Aku tak sanggup melihat
@Riskyy
Iya, Za. Aku hapus
Aku terdiam, lelah memang menjalani hubungan dengan mantan playboy seperti dia. Ataukah Risky sebenarnya belum 'mantan'? lalu, bagaimana kisahnya dengan Nana itu? bukankah Nana juga menyukai Risky?
Amat banyak pertanyaan yang berputar di otakku,tapi aku masih sangat lelah untuk mencari jawabnya. Sedikit demi sedikit fakta telah terungkap. Mungkin ini salah satu proses pendekatan? berusaha menerima masa lalunya yang membuatku berkali-kali menahan sakit.
Tunggu, jika satu persatu masa lalu Risky mulai terungkap, bagaimana dengan masa laluku? haruskah kuberi tahu?
________________________________
Tak terasa, liburanku sudah hampir habis. Aku harus mempersiapkan diri untuk kembali ke ponpes. Apalagi, akan memasuki tahun ajaran baru, sebagai ketua osis, aku harus mempersiapkan untuk acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Selama liburan ini, aku dan anggotaku sudah mempersiapkan acara ini meski hanya lewat diskusi online. Persiapan sudah hampir siap, hanya menunggu rapat gabungan semua anggota osis untuk rapat kerja terakhir.
Untuk MPLS putri, yang menjadi ketua panitia adalah Maya dan aku menjadi pembantu umum yang bertugas mengawasi semua kinerja koordinator.
Sama halnya dengan di putri, MPLS putra pun juga turut berpartisipasi dan Ilham sebagai ketua panitianya. Mereka sudah menyiapkan dengan sangat matang, tinggal mereview saja, apa-apa yang harus diperbaiki. Semoga acara ini berjalan lancar, karena ini adalah acara terakhir untuk osis angkatanku.
Sehari sebelum kembali ke ponpes, aku menginap di rumah nenek. Nenekku tinggal di desa pinggiran kota yang jaraknya jauh dari rumahku disana. Banyak hal yang membuatku betah tinggal di rumah nenek.
Selain sinyalnya yang lancar jaya ketimbang di rumahku, disana juga ada kakak sepupuku yang rumahnya bersebelahan dengan nenek. Usia kita hanya beda enam bulan, jadi wajar saja kita terlihat selalu klop.
Saat itu, aku tengah tiduran di depan televisi sembari berbalas chatting dengan anggota osis, tiba-tiba kakakku datang
"Eh ... Dek, gimana kabarmu sama dia?"
Aku terkejut, karena dia tiba-tiba datang dan bertanya hal itu
"Sama yang mana, Mbak?" tanyaku sambil menahan senyuman
"Issh! itu yang katamu playboy,"
Aku hanya mengangguk dan tersenyum
"Kamu serius? kamu, kok, tahan, sih berhubungan sama playboy?"
Aku mengubah posisi tubuh menjadi duduk bersandar
"Mbak, aku mau cerita," kataku sambil menatapnya lekat
Kakakku semakin mendekat, "apa?"
Aku menahan nafas, dan tersenyum lagi
"Dia mau melamarku,"
"Apaaaa? Ka-kamu serius?" mata kakakku terbelalak, tak percaya dengan apa yang kukatakan
"Tunggu, apa? melamar?" imbuhnya lagi masih dengan ekspresi tak percaya
Aku mengangguk dan tertawa
"Kok, bisa? gimana ceritanya? bude tahu?"
Aku menggeleng, "aku belum cerita ke ibu kalau aku punya hubungan sama Risky, um ... aku takut"
Kemudian aku menceritakan semua hal yang kualami dengan Risky selama liburan ini, termasuk pesan dari Ilham itu. Sungguh, sampai saat ini pun, aku masih belum percaya jika pesan itu nyata
"Makanya, Mbak. Aku bingung sebenarnya, Risky benar-benar serius denganku atau tidak?"
Aku menghela nafas, "mana cobaannya berat banget, banyak orang ketiga yang nyelip,"
Kakakku manggut-manggut sembari mengusap dagunya, "menurutku, sih, dia serius. Cuma yang jadi kelemahan adalah dia belum berani ngomong sama kamu. Dia malah ngomong ke temannya, kamu nggak coba tanya ke dia?"
"Nggak, Mbak. Takut dikira terlalu berharap," jawabku sambil tertunduk
"Kalian, kan, baru kenal 3 bulan ini, ya? mending pendekatan dulu, lah. Saling mengenali masa lalu, biar terpupuk sifat menerima apa adanya,"
Aku mengangguk, "kupikir juga begitu"
"Tunggu dia yang ngomong sendiri ke kamu, saat ini mungkin dia masih memantabkan hati. Karena ini bukanlah hal yang sepele, kan? apalagi di usia kalian yang masih 18 tahun, perjalanan masih panjang, kalian harus sabar," kata Mbak panjang lebar
"Iya, Mbak, pasti!" ujarku mantap
_________________________________
Malam ini, aku sudah janjian dengan Risky untuk saling telfon. Sebenarnya, Risky sudah lama meminta telfonan denganku, hanya saja selalu kutolak dengan halus. Alasannya klasik, kalau nelfon malam-malam takut dicurigai ibu.
Aku memang amat takut, jika ibu mengetahui aku berhubungan dengan cowok, takut di marahi. Makanya, aku memilih di rumah nenek, agar aku bebas begadang dan bisa telfonan hingga pagi.
@Riskyy
Za, aku telfon kamu jam sebelas malam aja, ya?
@ZaKhanza
Kenapa, Ky? kok malem banget?
@Riskyy
Aku masih keluar, main sama teman
Aku menghela nafas panjang, bagaimanapun aku tak sanggup berkata tidak.
@ZaKhanza
Oke
Akhirnya aku harus menunggu Risky hingga larut malam. Tak dapat dipungkiri, Risky sangat menyukai dunia malam, maksudnya sangat suka keluar di malam hari. Walau sekedar ngopi di cafe atau main kerumah temannya.
Sangat berbeda dengan duniaku yang hanya diam di rumah, keluar hanya dengan orangtua atau saudara. Keluar malam? hampir tak pernah. Aku memang anak rumahan, entahlah, kenapa aku bisa sesabar ini menghadapi Risky.
Satu jam, dua jam, tiga jam, mataku mulai terasa panas minta di pejamkan. Saat mataku hampir terlelap,tiba-tiba, ting!
@Riskyy
Khanzaaaa .... kamu dah tidur belum?
Aku menghela nafas, akhirnya dia muncul juga
@ZaKhanza
__ADS_1
Belum, hampir aja ketiduran
@Riskyy
Maaf, ya, tadi masih keliling dulu
@ZaKhanza
Iya, nggak papa
@Riskyy
Gimana? jadi, kan?
@ZaKhanza
Ayok
@Riskyy
Nelfonnya lewat ruang chat aplikasi biru, ya?
@ZaKhanza
Iya ayok, terserah
Tak lama, ponselku akhirnya berdering. Cukup deg-deg an harus menerima telfon dari Risky, entahlah, mungkin karena aku belum terbiasa
"Halo?" sapanya di ujung sana, dengan suara berat khas Risky. Suara yang selalu kurindukan
"Halo ... "
"Dengar suaraku, kan, Za?"
"Iya, Ky. Dengar, kok," jawabku
"Kamu lagi ngapain sekarang?"
"Hanya tiduran di kamar, kamu sendiri ada dimana?"
"Di rumah teman"
"Apa? kukira sudah ada di rumahmu"
"Nggak, aku menginap disini"
"Ky, kamu nggak malu telfonan sama aku di rumah temanmu? ntar kalau temanmu tahu bagaimana?"
"Ngapain malu? kalau tahu ya biarin aja, kan kamu memang milikku," jawabnya enteng
Aku tersenyum, "bisa aja kamu"
"Pasti malu lagi, ya? Khanzaku emang pemalu, sih. Padahal Khanza, kan, Si Ketua Osis," kekehnya
"Issh! nggak usah ngeledek, ya?"
"Ampun-ampun, maaf nyonya, hehe"
"Aku kalau ke hal lain-lain nggak malu, tapi kalau ke cowok pasti malu"
"Apalagi ke cowok ganteng kayak aku, kan?"
Aku tertawa, "Ya Tuhan, ge-er amat dia"
Akhirnya kita terus bercanda malam itu, membicarakan banyak hal, dari tentang berbagai peristiwa di osis, di olimpiade, hingga hal-hal konyol lainnya
"Za, dengerin, aku punya lagu buat kamu"
"Lagu apa? kamu mau nyanyi?"
"Nggak! suaraku kurang nyaman, bentar, deh"
Aku menunggu, apa lagi yang mau di tunjukkannya
-Kau lihat aku disini menunggumu, menanti akan kehadiran dirimu, berkali-kali ku menghubungi kamu berharap, kau dan aku cepat bertemu-
Aku tertawa sekaligus tersipu malu, tak kusangka Risky begitu manis malam ini.
- Jujur, aku tak sanggup bila kau jauh, terasa berat dan hampir ingin mengeluh, rasa ini sungguh membuatku jatuh cinta padamu-
Aku tak tahan, aku berguling-guling di atas tempat tidur menahan rasa baper yang menyiksaku malam ini. Jika Risky melihatku saat ini, dia pasti akan meledekku karena pipiku yang sudah seperti tomat
-Kau ciptakan lagu indah, kau senyum semanis buah, satu tapi pasti dan sangat berarti, kau takkan pernah terganti-
"Duh, Risky udah deh, aku nggak tahan?"
"Loh, kenapa?"
"Huuu ... pipiku sakit banget, tau!"
"Hahaha, hayoo? kenapa? pasti baper, ya?"
"Tau, ah!"
"Huuu ... seandainya aku bisa melihatmu saat ini"
"Kamu mau apa? ha?"
"Pasti udah kayak tomat"
"Isssh! Risky!
"Kamu suka, kan? Hum?"
"Hum, suka. Suka banget"
"Duh, senangnya aku bisa membuatmu bahagia, Za," ucapnya dengan suara yang penuh kelegaan.
Jujur, aku juga amat bahagia. Malam ini, Risky sudah mengaduk-aduk perasaanku. Tak dapat kugambarkan, karena ini pertama kalinya untukku. Ingin rasanya aku melompat dan sampai pada tempat Risky berada.
Aku bahagia, amat bahagia
___________________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya ya
Dukung Author dengan bintang-bintang kalian
__ADS_1
Salam,
Khanza di bumi