JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 38


__ADS_3

Sudah lumayan lama Risky tak menghubungiku. Ku pikir karena sudah kelas 12 dan harus fokus pada persiapan ujian, tapi ini, kenapa tiba-tiba menghubungiku?


@Riskyy


Assalamualaikum, Khanza.


Apa kabar?


@ZaKhanza


Waalaikumussalam, Risky.


Alhamdulillah baik, kamu sendiri?


@Riskyy


Baik banget, Za.


@ZaKhanza


Kamu kok bisa online?


@Riskyy


Aku lagi dikunjungi, nih, sama orang tuaku


@ZaKhanza


Wah, enak ya, hehe


@Riskyy


Za, aku mau ngomong sesuatu, penting


Tumben, pikirku. Ada hal penting apa?


@ZaKhanza


Mau ngomong apa, Ky?


@Riskyy


Orang tuaku nanyain kamu terus. Mereka tanya, apakah orang tuamu juga tahu tentang hubungan kita?


Deg! jantungku seakan berhenti berdetak dan dadaku terasa sesak. Ada apa sebenarnya?


@ZaKhanza


Ada apa, Ky? orang tuaku nggak tahu tentang hubungan kita. Aku belum bilang, aku takut.


Jariku bergetar hebat mengetik pesan itu. Ada apa sebenarnya? apakah cerita Ilham waktu itu akan menjadi nyata?


@Riskyy


Kenapa kamu nggak bilang? disini orang tuaku udah tahu semua. Dan rencananya, kalo orang tuamu udah tahu dan setuju, kamu akan segera ku lamar.


Mataku terbelalak! Ya Tuhan, apakah ini nyata? berkali-kali aku membaca pesan itu karena takut salah baca, tapi ternyata tidak! ini benar-benar nyata!


@ZaKhanza


Tunggu! Ky, kok, buru-buru? aku belum siap.


Jujur, aku amat belum siap. Membayangkan untuk bercerita pada ibu saja aku tak pernah, dan ini? aku takut sekali, aku benar-benar takut.


@Riskyy


Orang tuaku yang minta, Za. Ini mereka bersamaku.


@ZaKhanza


Benarkah? aduh, gimana ini? aku emang belum bilang, Ky. Aku takut banget.


@Riskyy


Takut kenapa?


@ZaKhanza


Seumur hidup, aku tidak pernah bercerita tentang cowok sama sekali. Aku sangat takut.


@Riskyy

__ADS_1


Za, kamu harus tenang. Kalau kamu tak ingin terlepas dariku, maka ikuti aku. Hal ini bukan kuasa kita lagi. Ini sudah kuasa orang tua kita. Kamu cukup bilang kalo punya aku, nanti apapun respon orangtuamu, kita terima dengan baik.


Aku menggigit bibir, mataku sudah terasa panas dan sesak. Sesuatu seakan memaksa untuk menyembul keluar. Aku tak suka dipaksa, tapi aku juga tak mau kehilangan. Aku juga sangat takut untuk bicara pada kedua orangtuaku.


@ZaKhanza


Ky, ini pertama kalinya untukku. Aku benar-benar kaget dan shock. Tolong, beri aku waktu. Aku akan mencobanya.


Ku pikir, Risky akan mengatakan hal ini dengan perlahan seperti Ilham. Tapi, jika mendadak begini? aku bingung harus memulai darimana. Konsentrasiku pecah, tak lagi bisa fokus dengan pekerjaanku kini.


@Riskyy


Baik, aku beri waktu. Pikirkan baik-baik, Za. Jaga hubungan kita, aku tak mau ada kata melepaskan. Ku mohon.


Air mataku luruh juga akhirnya. Aku tak kuasa membayangkan kesedihan yang akan merundungku jika aku harus melepaskan Risky. Tidak! aku tak mau! Aku terisak. Aku sangat bingung, takut, kaget dan sedih.


Ini terlalu awal untukku. Pengalaman pertama yang sebenarnya indah, tapi harus penuh duka karena emosi dan ketakutanku sendiri. Aku takut, saat aku menceritakannya, ibu dan ayah akan memarahiku, menolak hubungan ini dan membuatku harus lepas dari Risky.


Membayangkan saja hatiku terasa sakit. Kenapa aku justru membayangkan kesedihan atas kabar gembira? karena aku tak pernah mengalami peristiwa seperti ini. Sungguh, aku tak tahu harus berbuat apa.


@ZaKhanza


Aku akan lakukan yang terbaik, Ky. Aku akan pertahankan hubungan ini, aku juga tak mau kehilangan.


@Riskyy


Benar, ya, Za? orang tuaku sudah menyukaimu, aku tak mau mengecewakan mereka.


Aku menghela napas penuh keputus asaan. Tak kuasa membayangkan jika orang tuaku benar-benar menolaknya. Mengecewakan Risky, juga mengecewakan orang tuanya.


@ZaKhanza


Iya, Ky. Aku juga tak ingin mengecewakan siapapun.


Air mataku masih terus berlinang, bingung harus mulai dari mana dan kapan. Ujian sudah semakin dekat dan pikiranku terbelah begini. Aku benar-benar bingung.


"Za," ucap Wina seraya memelukku.


Aku menoleh dan merapatkan pelukan Wina. Menelusuk dalam kungkungannya, menangis sepuasnya.


"Menangis, lah, Za. Jangan buru-buru. Katakan jika sudah siap" Wina mengusap kepalaku.


Aku takut, benar-benar takut.


Ujian kelas 12 sudah dimulai. Karena tahun ini semua ujian menggunakan sistem CBT (computer base test) maka dibentuklah sesi ujian.


Di sekolahku, ada tiga sesi. Pagi, siang dan sore. Biasanya sistemnya, jika pagi kelas 12 IPA Putri, siang kelas 12 IPS Putri dan Sore 12 IPA dan IPS Putra. Kelas putra di gabung karena jumlahnya lebih sedikit.


Dan sistem tersebut di rolling setiap harinya. Jika hari senin pagi kelas 12 IPA Putri, maka selasa pagi kelas 12 IPS Putri, begitu seterusnya.


Dan hari ini, aku kedapatan ujian sesi siang. Jadi, aku masih bisa bersantai di pagi hari. Seperti saat ini, selepas pulang diniyah (sekolah kitab) pagi, aku masih asyik mengobrol dengan Egha di kelas.


"Aku harus gimana ya, Gha?" tanyaku setelah menceritakan kejadian dengan Risky itu.


Sudah seminggu sejak Risky mengatakan ingin melamarku, tapi aku tak kunjung memberi jawaban. Bukannya aku tak berusaha, tapi aku masih sibuk menguatkan hati untuk bicara pada orangtuaku.


"Emang solusinya, kamu harus bilang, Za. Bagaimanapun, kamu harus menghargai usaha Risky yang udah berniat memberimu kepastian. Aku tahu, ini memang berat. Apalagi menyangkut cowok dan hal sesensitif ini"


Aku menghela napas pelan, "aku tak mengerti kenapa harus buru-buru seperti ini, mana lagi ujian, konsentrasiku benar-benar pecah"


"Maka dari itu, Za. Biar cepat kelar, kamu harus segera bilang ke orangtuamu. Gini deh, kamu harus punya keyakinan dan kepercayaan diri. Kamu udah gede, kamu berhak menentukan pilihanmu selama itu baik. Kali ini kamu harus  out of the box , mengeluarkan keluh kesahmu termasuk tentang lamaran ini, bicarakan baik-baik"


"Ingat Risky, Za. Dia udah serius dan berusaha buat memilikimu seutuhnya. Apalagi orangtuanya yang meminta sendiri, kan? sekarang tinggal kamu, tinggal usaha kamu"


Egha menjelaskan dengan cukup panjang, tanpa terasa, aku seperti memiliki energi untuk melangkah maju. Aku merasa sudah memiliki keberanian untuk bercerita.


Benar kata Egha, cinta itu butuh pengorbanan untuk saling memiliki. Jika Risky sudah berusaha memilikiku, maka aku akan melakukan hal yang sama. Lebih baik aku usaha dulu, soal hasil, aku serahkan semua yang terbaik.


"Iya, Gha. Aku akan lakukan. Mungkin ini sudah jalanku. Aku tak menyangka, harus menerima lamaran bahkan di usia 18 tahun," kataku seraya merapikan buku-buku.


"Itulah hidup, Za. Kita nggak bisa mengatur, hanya bisa berencana. Siapa tahu, orang yang kita benci malah jadi jodoh kita," ujar Egha seraya tersenyum padaku.


Aku membalas senyumannya, "doakan ya, Gha. Semoga orangtuaku menerimanya"


Egha memelukku, "selalu, Khanza"


Aku benar-benar lega, setelah sekian lama memendam masalah ini, akhirnya aku menemukan solusi dan keberanian. Ternyata selama ini, masalahnya ada pada diriku yang kurang berani mengambil keputusan. Sesaat setelah kami berpelukan, tiba-tiba Aini menghampiriku.


"Mbak Khanza ujiannya sesi apa?"


Aku menoleh, "sesi siang, kenapa?"

__ADS_1


"Zizah sekarang sedang sakit, Mbak. Dia pengen ketemu sama Mbak Khanza"


Aku mengernyitkan dahi, setelah cukup lama kami tak bertemu sekarang dia malah ingin menemuiku.


"Yuk samperin, Za. Dia penggemarmu, loh. Masa' sakit nggak disamperin? aku temenin, deh" Egha menyenggol lenganku.


"Ayo, Mbak. Aku antar sekarang" Aini menatapku.


Aku mengangguk, "ayok, tapi aku mau beli-beli sesuatu dulu buat dia"


"Nggak usah, Mbak. Dia langsung minta Mbak dianterin ke kamarnya, ayok"


"Ya sudah, ayok"


"Dia kamar apa?" tanyaku saat kami menuruni tangga.


"Kamar Aisyah"


Aku mencengkram tangan Egha, "Za, apaan, sih! sakit tauk"


"Gha, Kamar Aisyah itu kan kamarnya Nana juga. Kalo ada dia, gimana?" tanyaku pada Egha dengan suara yang amat pelan.


"Loh, emang iya? kok, kamu tahu?"


"Aku waktu itu pernah dengar dari teman-teman, gimana dong?"


"Udah, nggak papa. Santai aja, kayaknya IPS kebagian sesi pagi hari ini," ucap Egha berusaha menenangkanku.


Aku mengelus dadaku, "oh iya, semoga aku tak bertemu dengannya"


Aku sebenarnya bukannya takut untuk bertemu Nana, tapi aku hanya tak mau melihat wajahnya yang langsung penuh emosi jika sudah bertemu denganku.


Sesampainya di Asrama Putri Pusat Kamar Aisyah, mataku langsung tertuju pada seseorang yang tidur dengan memakai selimut. Zizah, ternyata dia sedang tidur.


"Dia lagi tidur, emang nggak papa dibangunin?" bisikku pada Aini.


"Nggak papa, Mbak. Tadi minta dibangunin"


Kemudian, Aini mendekati Zizah, "Zah, lihat, siapa yang datang"


Zizah membuka matanya perlahan dan langsung tersenyum saar melihatku, "Mbak Khanza! akhirnya kita ketemu"


Aku memeluknya dan dia membalas pelukanku. Jujur, aku juga merindukannya.


"Kamu sakit apa? mulai kapan, Dek?"


"Cuma sakit biasa, Mbak. Bentar lagu juga sembuh, hehe"


"Makannya dijaga, ya. Jangan sering-sering makan pedas" Aku menasehatinya seraya memijat pundaknya.


"Iya, Mbak. Kemarin dia habis makan cilok setan, terus langsung sakit tadi malam," celetuk Aini seraya meletakkan segelas minuman teh kemasan dingin.


"Kamu repot-repot aja, Dek," ujar Egha pada Aini seraya menancapkan sedotan pada minuman itu.


"Kamu bilang ngerepotin tapi diminum juga," ucapku seraya menggelengkan kepala, heran dengan tingkah Egha.


Lalu kami tertawa bersama dan kemudian bercerita banyak hal. Hingga tiba-tiba, bruuaakkkk!


Kami terkejut dan sontak menoleh ke arah pintu kamar. Terlihat Nana telah membanting pintu dan menatap tajam ke arahku. Mata kami beradu, tapi aku tak langsung memalingkan wajah seperti biasanya, aku malah ikut menatap matanya tajam.


Dia berjalan ke sisi kamar, mengambil sesuatu di loketnya dan meninggalkan kamar dengan membanting pintu lagi. Aku menghela napas, berusaha menenangkan hatiku.


"Duh, maaf ya, Mbak. Mbak Nana suka gitu, marah-marah nggak jelas," ucap Aini seraya tersenyum canggung padaku.


Aku tersenyum, "tak apa, Dek. Aku memaklumi"


"Ku kira tadi IPS Putri ujian sesi pagi," bisik Egha padaku.


Aku tersenyum pada Egha, "kamu salah prediksi"


"Seharusny Mbak Nana nggak gitu kalo ada tamu," ujar Zizah dengan wajah cemberut.


Aku mengusap kepalanya, "nggak papa, kami memang pernah memperseterukan sesuatu ... "


Zizah dan Aini menatapku.


"Tapi sayangnya, aku yang memenangkan perseteruan itu," ucapku seraya tersenyum penuh arti.


______________________________


Part-terakhir, nih! eh, gimana? wkwkw

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komentarnyaaaa


Hayoooo part terakhirnya masih besok wkwk


__ADS_2