JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 25


__ADS_3

"Menurutku, kita belanja sekarang aja. Acara ini, biar ketua panitia yang menghandle. Aku, kamu sama Nina ke super market pesantren buat memesan sembako," kata Ita


Mataku membulat, Ha? supermarket pesantren? tempat Hamdan bekerja?


"Harus kesana, ya ... " gumamku


Memang kalau dipikir-pikir, untuk belanja di waktu dekat ini solusi terbaiknya adalah di supermarket pesantren. Sebenarnya tak masalah meskipun aku pergi kesana, hanya saja aku malu jika nanti bertemu dengan Hamdan, malu karena kita sempat berada dalam satu grup chat waktu itu.


"Kenapa, Za?" tanya Ita


"Um ... Nggak papa, kok,"


Ita masuk ruangan lagi untuk memanggil Nina, begitu mereka keluar, kami langsung menuju ke supermarket.


"Belanja dimana, Mbak?" tanya Nina padaku


"Di supermarket ponpes"


"Wah, bisa ketemu Mas Hamdan dong," celetuk Nina sambil menyenggol lenganku


Duh! anak ini, kalau mau bercanda memang nggak tahu kondisi.


"Loh, emang kenapa, sih?" tanya Ita yang mulai terlihat penasaran


"Ini loh, Nina. Katanya kangen sama Hamdan," jawabku asal


"Loh! kok, Nina? nggak, ah! yang ada Nina selalu kesel kalau ketemu Hamdan!" keluh Nina dengan bibir mengerucut, aku terkekeh.


"Heh, ngelamak! " bentak Ita sambil mendorong Nina, hingga Nina hampir saja jatuh tersandung aspal.


"Aduh!" Nina mengusap jempolnya sambil berjalan.


"Nah, kan! langsung kena azab habis ngatain Hamdan, hahaha" aku tertawa


"Ya Allah, aku disia-siain melulu! udah capek jadi manusia, aku pengen jadi ubi aja!" keluh Nina lagi


"Pantas, sih kalau jadi ubi, wkwk. Emang kamu pendek," ujar Ita santai


"Kamu ini, sih! ketua osis kok, gak ada wibawanya. Terlalu cerewet!" kataku sambil mendekap Nina.


"Mbak nggak tahu, sih. Gimana nakalnya anak MTs kalau kegiatan, mereka banyak alasan terus"


"Makanya, kamu harus bisa menaklukkan mereka biar nurut!" kataku, kemudian mencubit hidung Nina.


Kami masih dalam perjalanan menuju supermarket. Jarak yang ditempuh memang lumayan jauh, MTs ada di belakang, sedangkan supermarket di depan.


"Kalau putra, sosialisasinya ba'da dhuhur, ya, Za?" tanya Ita


"Hu'um"


"Terus, sekarang mereka ngapain?"


"Tidur kali," jawabku ngasal


"Iya kali, ya. Ponpes putra sepi banget ini"


Saat ini kami memang tengah melewati ponpes putra, meskipun tidak benar-benar lewat di depannya, tapi dari kejauhan memang terlihat amat sepi.


Selang lima menit kita berjalan, akhirnya kita sampai juga di supermarket. Dari luar, nampak Hamdan tengah sibuk di meja kasir. Aku menghela napas panjang, agar tetap tenang.


"Hai, Bro!" sapa Nina pada Hamdan begitu kami memasuki supermarket


Hamdan langsung menoleh, "bra-bro-bra-bro, emang anak ini super ngelamak, ya"


"Siapa suruh, cari gara-gara dulu? siapa yang ngatain aku pendek waktu olimpiade?" tanya Nina sambil melotot pada Hamdan.


Hamdan hanya terkekeh dan melempari Nina dengan seplastik tissue.


"Oh, iya. Para ketua ini ngapain berbondong-bondong kemari? mau minta sembako?" tanya Hamdan sambil memasukkan beberapa bungkus snack ukuran besar, kemudian mengambil sekotak coklat dan memasukkannya ke dalam kantong kresek.


"Minta ... Minta ... Ya nggak, lah! kita ini mau beli!" protes Ita sambil berkacak pinggang.


"Mau beli apa?"

__ADS_1


"Um ... persediaan minyak sama mie instan banyak, nggak?" tanyaku akhirnya setelah menahan kegugupan.


Hamdan menoleh padaku, "oh ... itu, banyak kok, Bu Risky, eh ... Maksudku Khanza," jawab Hamdan kemudian dia menutup mulutnya.


Aku melotot padanya dan memalingkan wajah.


"Eh iya, dengar-dengar, Khanza sekarang sama Risky, ya?" tanya Ita tiba-tiba sambil menarik tanganku


"Eh, kata siapa? nggak, lah!" elakku


"Aku katanya teman-teman, loh!"


Duh! teman-teman siapa lagi, sih! emang emberan semua mereka.


"Nah, maka dari itu ... " ucap Hamdan memotong percakapan kami, kemudian dia menyerahkan bungkusan plastik berisi snack dan coklat yang dia kemas tadi kepadaku.


"Eh ... Eh ... Apa ini?" tanyaku gelagapan


Tanganku menolak halus dan agak menjauh, tapi Hamdan malah memelototiku.


"Maka dari itu, ini nih. Dari Risky buat kamu," lanjutnya.


Kini bungkusan itu sudah ada di tanganku, aku masih melongo tak percaya. Mataku masih membulat menatap Hamdan. Kemudian aku menoleh ke arah Ita, lalu ke arah Nina.


"I-ini serius?" tanyaku masih tak percaya


"Ya iya, lah!"


Aku masih melongo dan menatap Hamdan. Aku benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Tak percaya Risky akan memberiku makanan sebanyak ini. Jangan heran, jujur ini adalah kali pertamanya dalam hidupku. Mendapat kejutan seperti ini, apalagi di situasi begini.


Risky memberiku sesuatu lewat orang yang dulu pernah kusukai, percaya? aku masih belum percaya.


"Hu! nggak, deh! kamu pasti nipu aku!" tolakku sambil meletakkan bungkusan itu di meja kasir lagi.


"Loh, kok nipu, sih?" Hamdan menautkan kedua alisnya


"Masa' Risky ngasih aku itu?"


"Kurang?"


"Tadi pagi dia kesini, dia bilang, kalau Khanza nanti kesini belanja buat besok, tolong kasih ini, ini, itu, itu lagi, dan jangan lupa itu juga," kata Hamdan sambil menunjuk beberapa deret makanan.


"Masa' sih?" tanyaku masih tak percaya


Kini Hamdan yang menepuk jidatnya, "duh, anak ini dibilangin ngotot mulu! ini udah, ambil aja!" Hamdan menyerahkan bungkusan itu lagi padaku.


Akhirnya kuambil juga dengan hati yang bimbang. Ita dan Nina yang sedari tadi menyaksikan kami, kemudian angkat bicara


"Nah, bener, kan? kalian emang ada apa-apa," celetuk Ita sambil menyenggol lenganku


"Wih, Mbak Khanza. Pasti seneng, tuh!" goda Nina padaku.


Aku tersenyum menahan malu, tak terasa pipiku mengembang dan terasa panas. Kejuta ini, akhirnya kejutan ini benar-benar terlihat nyata.


Kemudian aku menatap Hamdan, "tolong salam kan, ya. Terima kasih banyak"


Hamdan tersenyum dan menganggukkan kepala.


_________________________________


Sudah sejak pukul 06.00 WIB kami sibuk dengan segala persiapan bakti sosial. Mulai dari persiapan menata sembako-sembako, list nama penerima sembako, dan banyak hal lagi.


Kegiatan kali ini adalah kegiatan terakhir sebelum upacara penutupan besok. Maka kami harus mempersiapkan segalanya dengan baik. Apalagi melibatkan para peserta MPLS, agar mereka mendapat pengalaman terbaik.


Pukul 07.30 WIB semua peserta sudah siap berbaris sesuai regunya. Baik mereka ataupun panitia, mengenakan baju batik dengan rok hitam panjang. Bedanya kalau panitia mengenakan jilbab hitam, dan peserta mengenakan jilbab putih.


Sebelum berangkat, para peserta menyanyikan yel-yel kelompok dan yel-yel MPLS. Untuk peserta putri, mendapat jadwal sosialisasi pagi hari, sedangkan peserta putra di siang hari. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir adanya pertemuan antara putra dan putri.


Pukul 08.00 WIB, kami pun berangkat ke tujuan masing-masing. Dengan dipimpin oleh kakak panitia, mereka berbaris dengan rapi. Kami akan membagi sembako kepada orang-orang tak mampu yang ada di desa ini. Kami harus melewati jalan besar ataupun perempatan, maka dari itu, di sepanjang jalan, sudah ada osis putra yang menjaga keamanan kami.


Aku berada di barisan paling belakang, mengawasi setiap kegiatan mereka. Di setiap perempatan, di kerumunan osis putra, aku selalu mencoba mencari-cari keberadaan Risky. Dari awal kita kembali ke ponpes, belum sekalipun aku bertemu dengannya.


Rasa rindu? pasti ada. Apalagi setelah dia memberiku kejutan kemarin, tak henti-hentinya aku tersenyum. Maksud hati ingin mengucapkan terima kasih, tapi dia tak juga muncul menemui.

__ADS_1


Pukul 11.00 WIB kegiatan bakti sosial sudah selesai dilaksanakan. Para peserta digiring ke sekolah untuk diberikan arahan kegiatan penutupan besok. Akhirnya setelah semua selesai, saatnya bagi para panitia untuk beristirahat.


"Akhirnya! besok hari terakhir!" celetuk Maya sambil merebahkan tubuh di tembok depan kelas.


"Kenapa, Bu? udah capek jadi ketua panitia?" ledek Fani sambil memijat-mijat lengan Maya


"Uh ... Disini, disini ... " kata Maya sambil menunjuk-nunjuk pundaknya


"Ye ... Keenakan dia, mah" Fani menarik tangannya dan berdiri


"Belum jadi ketua osis, tuh," celetuk Maya tiba-tiba


"Aduh! nggak kebayang, deh," keluh Maya sambil mengangkat tangannya


"Lebay!" akhirnya aku ikut meledek Maya


"Khanza aja santai, kok, iya kan, Za?" tanya Alfi tiba-tiba sambil merangkul pundakku.


Aku menahan nafas, mencoba untuk tidak gugup, "i-iya, Al. Hehehe"


"Ehem!" deham Maya dan Egha hampir bersamaan


Aku melotot kearah keduanya, lalu Hani tiba-tiba ikut merangkulku


"Ya, iya lah! Khanza kan, wonder woman," kata Hani sambil mengedipkan mata kearahku


"Bukan cat women, loh ya?" ujar Anita akhirnya memecah tawa diantara kami.


Aku tersenyum lebar, setelah semua yang kami lewati akhirnya kami bisa menjalin kerukunan lagi. Anita dan Fani sudah berbaikan denganku. Begitu juga Fani dan Alfi, tak sedikitpun membahas tentang Risky. Inilah yang ku mau, kembali rukun dengan mereka.


Sebentar lagi, kami sudah memasuki kelas 12. Sudah saatnya fokus untuk menghadapi ujian dan menjalin kenangan sebelum perpisahan.


"Eh, mumpung lagi pake batik semua, yuk kita fotbar!" ajak Maya sambil setengah melompat


"Wah, ide bagus tuh, Gais!" dukungku juga


"Kameranya ada, kan?" tanya Anita pada Mira


Mira mengeluarkan kamera DSLR dari tas nya, "ada dong!"


"Cepat cari relawan!" teriak Uni sambil menarik tangan Hani dan berlari


"Relawan apaan?" tanyaku


"Relawan yang mau motretin kita, hahaha" jawab Egha sambil tertawa


Aku menepuk jidat, "ada-ada aja"


"Yuk, ah! kita menata barisan dulu," kata Fani sambil berjalan ke lapangan


Kemudian kami berbaris memanjang sesuai tinggi badan. Yang tinggi berdiri, yang agak pendek jongkok. Karena tinggiku dan Alfi hampir sama, maka kita berdiri berdampingan.


Aku cukup gugup sebenarnya, takut Alfi tiba-tiba membicarakan Risky. Setelah semua siap, Uni dan Hani datang membawa 'relawan' yang mereka maksud.


"Nemu dimana?"celetuk Maya dengan polosnya


Sontak membuat kami tertawa tak ada hentinya, "dikira barang? nemu segala!" ujar Anita sambil menyeka air mata sehabis tertawa.


"Yuk, Neng-Neng, mau di fotoin seperti apa?" tanya Adi dengan polosnya


"Pokoknya aku harus cantik! hahaha" Anita masih tertawa.


Aku juga tak henti-hentinya tertawa. Ah ... Aku amat bahagia, bisa merangkul kalian seperti sedia kala.


________________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya ya


Dukung Author dengan bintang-bintang kalian


Salam,

__ADS_1


Khanza di dunia nyata


__ADS_2