
Sial! Ada apa sih dengan manusia ini? Kenapa berani sekali dia menanyakan hal itu padaku? Ya Tuhan, aku harus menjawab apa? Aku benar-benar bingung, aku tak mau masuk kedalam perangkapnya. Tapi tak dapat dipungkiri, aku memang pernah menyukainya.
Haruskah aku jujur? Ataukah aku harus?...
@ZaKhanza
Umm, Sebenarnya ...
Balasku pada Risky menggantung. Jujur, aku sangat ingin bilang bahwa pernah suka, tapi disisi lain aku juga takut responnya nanti. Akankah dia menerimaku?
@Riskyy
Sebenarnya apa, Za? Gimana humm?
Duh, aku sangat bingung, haruskah aku bilang kalau aku suka dia? Apakah aku terkesan murahan?
@ZaKhanza
E-eh anu, sebenarnya, gimana ya jelasinnya? Um, sebelum aku bilang, kamu harus janji akan satu hal
Keringat dingin bercucuran di pelipisku, hilanglah sudah rasa lapar yang sedari tadi melilit perut, sampai-sampai
"Ya ampun, Khanza! Belum kau makan juga tu pecel? Yaelah, keburu jadi bubur tuh! Hei! Kamu ngapain, sih!" Wina mengumpat dan hendak menghampiriku.
"Eits, kamu mau kemana, ha?" Hadangku saat Wina hendak melihat komputerku
"Mau liat, kamu lagi ngapain"
"Eh udah, kagak usah! Iya, iya aku makan!"
"Beneran? Ya udah"
Huft, lega sudah. Ting! Masuk lagi notifikasi chat
@Riskyy
Oke, harus berjanji soal apa?
Jantungku berdegub kencang, Ya Tuhan, apakah Risky benar-benar serius? Aku tak bisa membaca pikirannya, bagaimana ini?
@ZaKhanza
Kamu harus janji, apapun pernyataan dari aku ini, kamu jangan pernah berubah. Jangan ngehindar, anggap saja percakapan kita ini tidak pernah ada
Inilah yang aku bisa. Meminimalisir kegundahan hatiku saat ini. Dia harus sadar, dia berurusan dengan siapa
@Riskyy
Kenapa Aku harus begitu? Aku nggak mau melupakan percakapan ini
Oh, lagi-lagi. Apakah ini benar-benar dia? Kerasukan apa dia ini?
@ZaKhanza
Aku nggak mau hal ini mempengaruhi kita. Aku nggak mau nambah musuh cowok, udah
@Riskyy
Kenapa kita harus musuhan? Udahlah, apa jawabanmu? Apakah benar kamu suka aku?
Duh, apakah ini saatnya? Saatnya dia tau yang sebenarnya? Ya Allah, semoga ini yang terbaik
@ZaKhanza
Iya, Aku pernah suka sama kamu
@ZaKhanza
Tapi sebelumnya kumohon, jangan anggap aku sedang nembak kamu, aku nggak pernah mau pacaran, aku nggak mau reputasiku sebagai ketua osis anjlok. Aku bilang gini karena kamu tanya dan maksa aku. Sudahlah, lupakan. Tapi ingat, jangan berubah. Jangan ngehindar apalagi memusuhiku
Uh, akhirnya kukatakan sudah. Aku terasa menggugurkan janji-janjiku untuk melupakannya. Sekarang, malah aku tercebur di dalamnya.
Ting! Masuklah notif balasan. Aku mendiamkannya, takut untuk melihat balasan Risky. Tapi Aku sudah terlanjur berkata, sudah mau dimana?
Kubuka dan kubaca
@Riskyy
Oh, gitu. Benar berarti dugaanku
Balasnya, begitu. Hanya begitu. Wajahku memanas, dadaku bergemuruh, seharusnya aku sadar bahwa inilah balasannya. Kenapa aku begitu bodoh? Mataku menghangat, seakan-akan ada yang menyembul keluar.
Tetapi
Tiba-tiba masuk notif lagi
@Riskyy
Makasih, Za. Kamu sudah jujur sama aku. Aku nggak akan berubah, kok. Santai saja, kita jalani apa adanya, ya. Aku tau bagaimana posisimu, aku nggak akan bilang siapa-siapa
Deg! Apa ini? Apakah ini artinya dia menerimaku? Aku bingung, sungguh. Bagaimana ini? Harus kujawab apa?
Akhirnya, Aku spam Risky dengan stiker menangis. Ku gambarkan itu adalah kesedihanku. Aku terlalu bingung harus menjawab apa
@Riskyy
Loh, loh. Kok nangis, sih? Hayo, katanya ga boleh berubah, Khanza kok berubah? Kok sedih?
Air mataku jatuh sudah, aku tak bisa menahannya lagi, aku tergugu. Kututup wajahku untuk menghadang air mata agar tak lagi jatuh. Tapi semua percuma, nafasku masih terasa sesak. Oh, Risky? Tak cukupkah kau menyiksaku?
Dengan air mata yang masih berlinang, ku balas chat dari Risky
@ZaKhanza
Aku bingung harus bagaimana, ah, sudahlah. Jangan dipikirkan. Kamu, ingatlah pesan-pesanku tadi
@Riskyy
Oke, siap buk bos!
Eh, tapi tunggu. Kenapa dia nggak menyatakan perasaannya juga?
@ZaKhanza
Kalau kamu gimana?
@Riskyy
__ADS_1
Apanya, Za?
@ZaKhanza
Perasaanmu, bagaimana?
Jantungku kembali berpacu, akankah kuketahui sebuah pernyataan yang bisa membuatku lega?
@Riskyy
Oh, itu. Nanti ya, akan kukatakan saat kita liburan bulan depan
@ZaKhanza
Um ... begitu ya
Aku kecewa sebenarnya, tapi tidak mungkin jika aku terus memaksanya, takut dikira terlalu berharap.
@ZaKhanza
Ky, ingatlah sekali lagi, aku nggak sedang nembak kamu
@Riskyy
Iya, Khanza. Aku paham, kok
@ZaKhanza
Baiklah
@Riskyy
Lagi ngejar deadline, kan?
@ZaKhanza
Iya, aku off dulu, ya
@Riskyy
Oke, semangat
Kututup aplikasi chat biruku. Aku menghela nafas panjang, pikiranku terasa lelah memikirkan ini semua. Ternyata Wina memperhatikanku sedari tadi.
Akhirnya, aku berjalan kearah Wina, jatuh di pangkuannya, dan menangis sepuasnya.
_________________________________
Matahari sudah bertengger di singgasana. Pancaran sinarnya menembus celah-celah jilbab yang kugunakan. Hingga membuatku bercucuran keringat. Aku berjalan agak cepat menuju sekolah, biasanya aku berangkat dengan Egha, kini Aku harus berangkat sendirian.
"Loh, Za, kamu kok berangkat sendiri? Egha mana?" Tanya Maya yang sedang sibuk menyapu kelas.
"Egha lagi nggak enak badan, May,"jawabku seraya meletakkan tas diatas meja
"Oalah, makanya dari kemarin aku nggak liat dia waktu diniyah di pondok,"
"May" Panggilku
"Hem? Eh, bentar" Jawab Maya kemudian dia meletakan sapu di belakang meja
"Sok atuh, ngomong aja"
"Um, Aku mau cerita sesuatu. Tapi nggak sekarang, besok-besok aku mau cerita ya," kataku sambil cengar-cengir
"Yaelah, kalo gitu mah nggak usah cerita kalik!"
"Bukannya ga mau cerita, sih. Tapi emang masih nggak tepat aja, hehehe. Aku ngomong gini soalnya aku takut lupa, makanya kapan-kapan ingetin!"
"Iya deh iya" Akhirnya Maya menyerah dan beralih ketempat duduknya.
Huft, Aku masih belum siap menceritakannya pada siapapun, hanya Wina saat itu yang kebetulan melihatku menangis. Ku ceritakan semuanya pada Wina, dan dia sempat memarahiku.
Bodoh memang, sangat bodoh. Sudah tahu Risky suka mempermainkan wanita, masih saja ku jawab demikian. Tapi apalah daya? Diriku masih menyimpan rasa suka.
Meski Aaku menyangkal sekuat apapun, apabila mendengar sesuatu tentangnya, ada saja yang tergerak dalam hatiku. Arggh! Bagaimana ini? Apa status hubunganku dan Risky? Benar-benar di ambang, hambar dan tak berarti.
Apakah aku hanya sebagai pelampiasan saja? Atau dia hanya ingin bermain-main denganku?
Lalu? Hingga detik ini pun, aku tak tahu, teman-teman siapa yang Risky maksud itu. Teman-teman yang mengatakan bahwa aku suka dia.
Padahal, tak ada seorang pun yang benar-benar tau perasaanku pada Risky selain Egha dan Maya. Atau Risky hanya membuat alibi saja? Agar aku mau menjawab pertanyaannya.
Liburan sudah tinggal seminggu lagi, itu berarti aku kan segera mendapat jawaban dari Risky. Aku harus benar-benar menanyakannya. Jangan sampai aku di bodohi lagi, dia harus mengatakan yang sebenarnya padaku.
_________________________________
Suasana sore itu sangat menyenangkan, aku tengah dibonceng ayahku menuju rumah. Ya, Hari ini adalah hari kepulangan kami dari ponpes. Kami diberi waktu pulang seminggu sebelum ramadan, jadi Bulan Ramadan kurang sehari, kami harus kembali lagi ke ponpes.
Meski hanya seminggu, tapi aku sangat senang. Bisa bertemu dengan keluarga dan adik-adikku. Aku juga akan memanfaatkan liburan ini untuk beristirahat dari segala tugas, baik tugas sekolah, ponpes ataupun organisasi.
Malam hari, kuberanikan diri untuk menghubungi Risky terlebih dahulu, aku sudah bisa menggunakan ponselku. Kubuka aplikasi chat berwarna biru itu dan ternyata sudah ada chat dari @Riskyy itu
@Riskyy
Hai, Za. Gimana? Udah sampe rumah atau belum?
Aku terkejut! Jantungku berdegup sangat kencang, kuberanikan membalas chat darinya
@ZaKhanza
Udah kok, Ky
@Riskyy
Alhamdulillah, istirahat dulu sana
@ZaKhanza
Iya, ini
@Riskyy
Oh, iya, kamu punya nomor WhatsApp, nggak?
@ZaKhanza
Aku belum install aplikasinya, Ky. Kamu bisa hubungin Aku di chat biru ini saja
__ADS_1
@Riskyy
Um, nggak enak, Za. Lebih enak WhatsApp
@ZaKhanza
Ya udah, besok aku install sama beli nomornya dulu
@Riskyy
Oke, Buk
Aku menggigit bibirku, sudah lumayan lama Aku tidak berbalas chat dengan cowok seperti ini. Aku masih merasa kaku. Tak berani memakai berbagai emoticon, karena Risky pun tidak memakainya.
Aplikasi WhatsApp pun masih baru saja booming saat ini, jadi wajar saja aku masih belum install aplikasinya.
Kuberanikan diri untuk menagih janjinya,
@ZaKhanza
Ky, aku mau tanya sesuatu
@Riskyy
Iya? Tanya apa?
@ZaKhanza
Kamu masih ingat janjimu?
Aku menunggu balasannya, ku pandangi terus menerus guliran jam pada ujung kiri atas gadget ku, tak terasa sudah 5 menit berlalu dan Risky belum membalas chatku.
Aku menghela nafas, memang tak seharusnya begini. Status chat ku sudah terbaca, namun tak kunjung dibalas. Mungkin dia benar-benar lupa, pikirku.
Akhirnya, di menit ke tujuh, bunyi notifikasi, Ting!
@Riskyy
Oh itu, Ingat dong
Buru-buru kubalas
@ZaKhanza
Kapan mau kamu katakan?
@Riskyy
Sebentar lagi, ya. Aku telfon kamu. Nama nomormu?
Deg! Jantungku terasa akan meloncat keluar, Apa? Telfon? Seumur hidup aku belum pernah di telfon oleh cowok yang notebene cowok yang aku suka. Tapi ini? Dia malah mau menelfonku?
@ZaKhanza
Kok nggak ngomong disini aja?
@Riskyy
Aku pengen dengar suara kamu
Tanpa terasa, senyum ini terukir begitu saja. Pipiku terasa menghangat. Jantungku semakin tak karuan, tapi? Haruskah dia menelfonku?
@ZaKhanza
Aku malu, Ky
@Riskyy
Malu kenapa?
@ZaKhanza
Soalnya aku belum pernah di telfon sama cowok
Jawabku jujur dan apa adanya, tidak salah bukan?
@Riskyy
Oh, bagus, dong! Ini akan jadi pengalaman pertamamu. Mana nomornya?
Akhirnya, aku luluh juga. Kuketikkan nomor yang kumiliki, dan kukirimkan. Send!
@Riskyy
Oke, nomor sudah diterima. Bentar ya, aku siap-siap dulu
@ZaKhanza
Iya, Ky
Jantungku makin tak karuan saja, bagaimana suaraku nanti? Apa tidak terdengar seperti burung sumbang? Tanpa terasa, selimut yang kugunakan menutup kakiku, sudah tak beraturan bentuknya. Akibat digesek-gesek di empunya untuk menahan kegugupannya.
Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit tak kunjung berdering gadgetku. Akhirnya dimenit ke dua puluh, berdering lah gadgetku karena panggilan dari nomor tak dikenal!
"Halo, Assalamualaikum," sapa suara seseorang di ujung sana. Suara yang selalu kurindukan semenjak mengenalnya
"Wa-alaikumussalam," jawabku yang selalu dengan suara burung sumbang, sial!
"Ini aku, Risky. Simpan, ya, nomornya"
"I-iya"
"Um, jadi gini, Za ... "
Jantungku kembang kempis, nafasku terasa sesak. Akhirnya, aku akan tau kebenaran ini semua!
__________________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya ya
Dukung Author dengan bintang-bintang kalian
See ya!
Salam dari Khanza di dunia nyata!
__ADS_1