JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 8


__ADS_3

Langkah kakiku tertahan, karena tiba-tiba diri ini mengingat kejadian seminggu yang lalu. Tak terasa, seminggu seperti sebulan, aku belum bertemu Risky sama sekali. Semilir angin menerpa jilbabku, membawa rindu yang kupendam sendiri.


Tak dapat kuungkap. Aku menghela nafas panjang dan melanjutkan langkah menuju sekolah. Pikiranku berkecamuk, sampai kapan aku akan memendam rasa ini sendiri? Bukankah ini akan menyakitkan? Mengingat diriku pernah gagal dalam menyimpan cinta sendiri.


Terkadang keraguan menyelimuti diriku. Berbagai pertanyaan terlintas dibenakku. Apakah aku benar-benar jatuh cinta sendirian? Mengapa Risky tidak mencariku? Ah, betapa lancang diriku. Memaksa untuk cinta itu tidak baik. Lalu apa aku harus menikmati siksa yang indah ini? Perasaan cinta itu sangatlah indah, tapi jika kupendam sendiri, bukankah ini menyiksa?


Satu persatu kunaiki anak tangga, sambil merangkai peristiwa demi peristiwa yang kulalui bersamanya. Berbagai kenangan indah, membuatku begitu mudah jatuh cinta dengannya.


Langkahku terhenti, ingatanku menyadarkan bahwa sepertinya ada hubungan spesial antara Risky dan Alfi. Hatiku ngilu, rahangku mengeras. Seketika otakku menangkap sebuah kesimpulan bahwa aku harus membuang jauh-jauh perasaan ini. Aakkhhhh!! Aku bingung. Aku gelisah. Mau kukemanakan perasaan ini? Batinku tersiksa.


Kulanjutkan langkahku secepatnya menuju kelas. Aku harus kuat!


___________________________


Sepulang sekolah, aku langsung menuju laboraturium komputer. Aku dan kru majalah sekolah mempunyai projek membuat majalah di semester ini. Sebenarnya projek ini sudah berjalan selama sebulan, namun terpaksa kami hentikan karena agenda lomba seminggu yang lalu.


Di dalam lab sudah ada beberap kru yang mulai bekerja, berkutat dengan laptop ataupun komputer.


"Za, kamu sudah makan siang?" Tanya Wina begitu aku duduk di depan salah satu komputer.


"Belum, aku males makan nasi. Aku mau beli cilok aja," jawabku sambil menyalakan komputer.


"Kenapa males? Nanti sakit perut loh, lagian kalau makan cilok, kan, jadi lapar lagi nanti."


Aku hanya diam tak bergeming. Aku langsung membuka aplikasi desain yang berwarna hjau itu. Sambil menunggu loading, Aku membuka wifi dan akun sosial mediaku. Saat aku tengah mendesain,  tiba-tiba ada notifikasi yang masuk.


Tinggg!


@Alfii


Za, Aku mau ngomong sesuatu ini


Dahiku mengernyit, nafasku tertahan. Ada perlu apa Alfi? Sebelum ini aku belum pernah chatting dengan Alfi, baru sekali ini.


@ZaKhanza


Apa, Fi?


@Alfii


Sebelumnya aku minta maaf, Za, mungkin ini salahku, tidak langsung memberitahu kamu. Anita dan Fani salah paham sama aku.


@ZaKhanza


Ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi


Rahangku mengeras, jantungku berdegub kencang. Sepertinya telah terjadi hal yang buruk di belakangku.


@Alfii


Waktu agenda lomba seminggu yang lalu, aku diberi uang sama Risky, soalnya aku nggak ikut penutupan, jadi nggak ikut makan-makan. Risky memberiku uang sebagai gantinya. Salahku, aku tidak memberitahu Kamu. Aku malah bercerita pada Anita dan Fani. Mereka malah menuduhku dan Risky macam-macam. Aku merasa bersalah, Za. Tolong maafkan aku.


Mataku membulat dan terasa ada butiran hangat yang menyembul keluar. Ternyata, mereka sudah sedekat itu. Bahkan, Risky tidak memberitahu Aku tentang uang itu. Apa saja yang mereka tutupi di belakang ku?

__ADS_1


Tanpa membalas pesan tersebut, langsung kumatikan komputer, kusambar tasku dan berlari. Tak peduli Wina memanggil di belakangku. Aku terus berlari, berharap tak ada yang melihat air mataku.


Aku menangis sesenggukan dalam perjalanan pulang ke asrama. Aku sendiri disini. Berlari sendiri, berharap yang tak pasti. Sudah kuduga, cintaku ini salah. Sangat salah. Aku sudah tahu bahwa aku jatuh cinta sendirian, tapi aku terlalu naif.


Aku terlalu percaya padanya. Ya Tuhan? Mengapa aku gagal lagi melabuhkan hati? Apa kesalahan yang telah aku perbuat? Tak cukupkah hatiku hancur karena Hamdan, kini harus kembali remuk karena Risky? Mengapa mereka hadir dalam hidupku. Tuhan, aku lelah. Sangat lelah.


_____________________________


Aku berjalan sendiri sambil menenteng es melon di tangan. Sesekali menyesapnya dan merasakan air mengalir di tenggorokan. Sekarang hatiku seperti es, tak ada kehangatan apalagi cinta. Semua telah kubuang begitu saja. Tak peduli meski luka di hatiku semakin menganga. Aku harus terjaga, dari segala harapan yang sia-sia.


Aku masih mengabaikan pesan dan permintaan maaf dari Alfi. Aku juga enggan bertemu Anita dan juga Fani. Jujur aku benci mereka semua, apalagi Risky. Mencampur adukkan masalah pribadi dengan organisasi. Sungguh hina! Patutlah aku menyebut mereka hina.


Saat aku mau memasuki kelas, tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Aku spontan menoleh, dahiku mengernyit saat mengetahui bahwa Anita yang menarik tanganku. Kuhentakkan tanganku hingga genggamannya terlepas.


"Za, Kita harus bicara," ucap Anita.


"Apa? Aku sudah mengetahui semuanya," jawabku sambil memalingkan muka.


Ekspresi mereka berubah, wajahnya mengeras. Namun Aku tak peduli.


"Urus saja urusan kalian. Aku tak mau tahu" Jawabku sambil berlalu memasuki kelas.


Biarkan aku menjadi jahat sekali ini.


_______________________________


Sudah 3 hari sejak kejadin Anita menarik tanganku dan sejak saat itu pula aku tak bertemu dengannya. Saat aku tengah asyik mengobrol dengan Egha dan Maya, tiba-tiba


"Za, kamu dicari sama ketua umum, tuh, di lobi. Di suruh cepetan!" Ucap Uni sambil mengguncangkan bahuku dan berlalu begitu saja tanpa menunggu jawabanku.


"Za, Kamu harus kuat, ya. Buktikan bahwa kamu bisa melalui ini, buktikan bahwa kamu nggak bergantung sama Risky. Mau aku temani?" Ucap Maya menenangkanku sambil mengelus punggungku.


Aku menghela nafas panjang. Sungguh aku lelah jika berhadapan dengan mereka lagi. Bukan aku yang lelah, tetapi hatiku. Aku menggelengkan kepala dan berjalan keluar kelas. Menuju lobi, menemui Risky. kuharap ini adalah yang terakhir kali.


Perlahan kuberjalan menyusuri tangga hingga sampailah di lobi sekolah. Di kursi panjang, sudah ada Risky dan Adi. Terlihat raut wajah yang berseberangan diantara keduanya. Adi yang diliputi rasa khawatir dan Risky yang wajahnya mengeras, seperti menahan amarah. Namun aku berusaha bersikap sewajarnya.


Tanpa berucap apa-apa, aku berdiri di depan mereka.


"Za, Kamu sudah tahu ceritanya?" Tanya Aldi padaku.


Aku diam tak bergeming dan memalingkan wajah, sekilas nampak Risky melihatku.


"Gara-gara uang yang diberikan Risky pada Alfi, masalahnya jadi runyam. Anita dan Fani salah paham. Menuduh Risky tidak adil. Karena hanya Alfi yang diberi uang katanya," jelas Aldi sambil terus menatapku.


Aku hanya menghela nafas pendek dan tersenyum miring. Siapa yang peduli?


"Dan gara-gara masalah ini, Anita sampai mengancam tidak mau mengerjakan laporan. Padahal, laporan itu harus segera disetorkan pada Pak Fauzan," Imbuh Aldi lagi sambil menunduk.


Aku langsung menatap mereka tajam. Ini sudah keterlaluan.


"Apa?! Katakan sekali lagi!" Bentakku. Emosiku sudah ada di ubun-ubun.


Aku melihat rancangan laporan yang teronggok tak berguna di atas meja. Segera kuraih dan kubaca. Seketika ku pandang Risky, berharap mendapat penjelasan. Namun lagi-lagi Risky memalingkan wajah, tak menjelaskan apapun.

__ADS_1


"Itu balasan buat orang yang nggak adil!" Teriak Anita tepat di belakangku. Sejak kapan dia ada disini?


"Seandainya Risky tak berbuat macam-macam, sudah pasti selesai itu laporan!"


Aku hanya diam, berusaha menahan emosi dan melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba Risky berdiri


"Sebenarnya apa masalahmu, Anita? Hah? Apa urusanmu dengan perbuatanku? Uang yang kuberi untuk Alfi adalah uangku sendiri! Bukan uang untuk panitia! Lalu kenapa Kau yang sewot, ha?" Teriak Risky tepat di depanku.


Bagai disambar petir di siang hari. Mataku membulat dan kepalaku terasa pening. Syok dengan kata-kata Risky? Apa? Uang Risky sendiri? Sampai seperti itu perjuangan Risky untuk Alfi? Mataku menghangat. Terasa ada buliran yang memaksa keluar dari mataku, segera kutahan dan kututupi mulutku.


"Anita, aku minta maaf sungguh! Aku tidak bermaksud membuat kalian bertengkar. Ini semua kesalahanku. Seharusnya aku tidak menerimanya, seharusnya aku menceritakan hal ini pada Khanza terlebih dahulu, maafkan aku!" Ucap Alfi kini diiringi isakan. Sepertinya dia tahu ini akan terjadi, lalu mengapa dia yang menangis? Siapa disini yang disakiti?


Sraakk!! Kulempar rancangan laporan itu di depan mereka. Kini lelehan air mata tak dapat kutahan lagi. Mataku memerah dan basah karena air mata.  Aku muak! Aku Kesal! Aku benci mereka semua.


"Puas! Puas kalian bertengkar, Hah? Siapa disini yang seharusnya sakit hati? Hah? Jawab! Siapa? Kalian berbuat seenaknya di belakangku, tanpa ijinku! Dan sekarang berakibat terbengkalainya laporan! Dimana otak kalian, Ha?"


Aku mengatur nafasku, memandang satu persatu wajah-wajah penghianat di depanku.


"Dan Kau!" Teriakku sambil menunjuk Alfi.


"Untuk apa air matamu itu, Hah? Aku menunggu i'tikad baikmu untuk berbicara langsung padaku, namun nihil! Bahkan kau seolah tak punya salah padaku!" Teriakku lagi.


"Kau!" Kini Aku menunjuk Anita, yang kutunjuk matanya mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Kau mau menangis, Hah? Apa urusanmu? Sampai Kau gadaikan kewajibanmu demi hal sampah semacam ini?"


Kini Aku tergugu, tak ada yang bisa menghentikanku. Ku pandang Risky,


"Kau! Tak cukup puas kau buat Aku sakit hati, Hah? Dari tadi Aku menunggu penjelasan dari mulutmu, namun apa yang kudapat? Tak bisakah Kau bersikap profesional tanpa melibatkan perasaan di organisasi? Lihatlah ulahmu Wahai Ketua Umum! Anggotamu hancur oleh ulah mu sendiri!" Teriakku sambil menunjuk wajah polos dan sok manisnya.


"Mulai sekarang, Aku tak akan peduli! Jangan harap sikapku akan sama pada kalian!" Teriakku untuk yang terakhir kali dan kuberlari menjauhi mereka.


Hatiku pilu bak dihujam sembilu. Kini luka itu telah sempurna sudah, berdarah dan bernanah. Tak cukup karena luka karena cinta, kini ada luka baru. Tak bisakah mereka berfikir dan meredam ego masing-masing? Mengapa mereka begitu egois? Ya Tuhan, kuatkan aku.


Sampai di kelas, langsung kupeluk Egha dan menangis sepuas-puasnya di bahunya. Aku lelah, sangat lelah. Bahkan aku merasa malang dengan diriku sendiri.


"Apa salahku, Gha? Mengapa mereka begitu jahat padaku? Mengapa mereka begitu egois?" Ucapku tersedu-sedu, aku sangat sakit, sungguh sakit.


"Aku tidak kuat, Gha, aku lemah" Isakku lagi pada Egha.


Egha memelukku erat, dia menangis. Ya, dia menangis. Aku sudah tak tahan dengan semua ini, semua terasa kejam untukku.


Langit masih cerah, tapi tak lagi untukku. Kini, diriku diliputi kesuraman. Aku tak dapat lagi merasakan kehangatan dan cinta. Semua mati. Semua habis. Kini diriku kembali sakit, dengan luka menganga yang harus ku obati sendiri.


Cinta memang tidak harus memiliki, meski sakit, aku harus merelakannya. Sebuah kenyataan pahit yang kuterima bahwa, Risky telah berjuang untuk Alfi. Dan aku? Hanya bahan mainan saat sang pemeran utama tiada. Aku hanya pemain tambahan, yang bisa saja suatu saat dihempas dan di tendang jauh-jauh. Inilah aku, Khanza yang malang.


_______________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya ya


Dukung Author dengan bintang-bintang yang kalian miliki

__ADS_1


Salam,


Khanza dari dunia nyata.


__ADS_2