JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 5


__ADS_3

Pernyataan dari Pak Sanusi seketika membuatku terbelalak. Tak pernah terbayang aku dan teman-teman harus menginap di sekolah. Padahal badan sudah sangat letih dan lengket, rasanya sangat ingin mandi.


"Serius, Pak? Kami harus menginap?" tanyaku tak percaya.


"Serius, kamu lihat ada ekspresi bercanda di wajah saya?"


Aku hanya terdiam


"Sudah saya ijinkan pada pengurus keamanan, Kalian di ijinkan menginap dengan beberapa syarat, salah satunya kalian harus tidur di dalam kelas tertutup dengan kunci di dalam. Nanti saya tempatkan di ruang rapat saja, ada kelambunya juga" Terang Pak Sanusi sambil menggiringku berjalan menuju tempat teman-temanku berkumpul.


Aku hanya melongo dan terus melongo, mata dan bibirku membulat. Ya Tuhan aku sangat lelah.


_______________________________


"Jadi, Risky, tugas kamu saat ini adalah menjaga mereka, memastikan mereka aman dan tidak ada yang mengganggu. Kalau terjadi apa-apa, maka itu tanggung jawabmu!" Perintah Pak Fauzan pada Risky di depan pintu ruang rapat.


"Siap, Pak!" Jawab Risky mantab dan tersenyum.


"Dan kamu Khanza, sebelum tidur, tutup semua jendela dan kelambu. Kunci pintu jangan lupa!" Terang Pak Sanusi pula padaku.


Aku hanya mengangguk lemah.


Pak Fauzan dan Pak Sanusi meninggalkanku dan Risky didepan pintu ruang rapat, saat aku hendak menutup pintu, tiba-tiba Risky menahannya


"Tunggu! Aku mau bicara dulu."


Aku terkejut, jantungku berdetak lebih cepat dan mataku membulat.


"A-apa?" Tanyaku terbata.


"Besok, teman-teman osis putri yang lain, berangkat pukul berapa?"


"Jam 6 sudah aku suruh stand by disini."


"Kalo berangkat setelah shubuh, bagaimana?"


Aku mengernyitkan dahi


"Nggak bisa! mereka juga nggak akan mau! banyak yang harus mereka siapkan"


"Oh, begitu" dia mengangguk-angguk.


"Ada lagi?" tanyaku sebelum menutup pintu.


"Umm, nggak ada. Kamu jangan tidur malam-malam, segeralah tidur," ucap Risky sambil dihiasi senyuman manisnya.


Aku tersentak. Apa dia barusaja memberiku rasa perhatian? tiba-tiba pipiku terasa hangat. bibirku seolah terisihir tertarik keatas membentuk sesungging senyum.


"Oke" jawabku singkat.


segera Aku menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


tiba-tiba,


"Oke guys, sekarang kita tidur beralaskan apa?" Tanya Uni dengan berkacak pinggang.


Aku menatap sekeliling ruangan ini. Cukup luas dan bersih. Di sekeliling ruangan berjajar meja-meja rapat yang sudah tertata rapi, menyisakan tempat kosong di tengah ruangan. Di ujung ruangan sebelah kanan ada kardus besar berisi tumpukan tropi untuk acara besok. Di samping kardus besar itu ada tumpukan kardus juga yang sudah terlipat. Sayangnya, tak ada karpet maupun tikar diruangan ini. Refleks aku tertawa terbahak-bahak menyadari suatu hal.


"Hahahaha, ya kita pakai kardus lah buat tidur!" Kelakar Wanda sambil memungut tumpukan kardus itu.


Kami malah tertawa saat menggelar kardus dan menjadikan satu selayaknya karpet.


"Kalo lagi kecapekan gini, otak suka miring ya, bukan hal lucu malah bikin ketawa," ucap Anita sambil melepas jilbab dan menjadikannya bantal.


"Ini namanya training hidup susah, biar tau rasanya tidur beralaskan kardus!" Kekehku sambil membenarkan posisi jilbabku yang akan kugunakan sebagai bantal.


Kami sudah siap merebahkan punggung, dan mulai terpejam. Jam menunjukkan pukul 01.00 WIB dini hari. Ah, lelahnya hari ini. Tapi nanti saat pagi menjelang pasti akan lebih sibuk daripada sekarang.


______________________________


Malam ini sangat sunyi, sepertinya anggota osis putra pun juga tengah beristirahat. Tapi entah kenapa, mataku tiba-tiba terbuka lebar dan rasa kantuk pun hilang. Kulihat, jam masih menunjukkan pukul 03.00 pagi, artinya aku hanya tertidur selama 2 jam.


Ku tatap wajah teman-temanku, mereka pulas sekali tidurnya. Tiba-tiba ada yang mendesak keluar di bawah perutku, Ah, sial! kenapa harus sekarang, sih! mana berani aku keluar saat ini. Lalu aku memutuskan untuk menahannya dengan duduk disalah satu meja rapat, aku ingat masih ada nomor peserta yang belum di cek dan di lengkapi, lebih baik Aku meyelesaikan itu saja.


15 menit, 25 menit, 35 menit masih aman. kemudian saat pukul 03.45 WIB pintu ruang rapat di ketuk dengan keras dan bertalu-talu. Tentu saja aku terkejut dan hendak beringsut. Ditambah ada suara teriakan-teriakan yang tak begitu jelas. Aku masih mematung ditempatku, mencari waktu aman.


Tiba-tiba Anita terbangun dengan wajah terpejam sambil memakai jilbabnya. Berjalan tergesa kearah pintu dan membukanya kasar.


"Risky! Apa an sih, gila kamu, ya!" Umpat Anita


Ha? Risky? Jadi itu Risky? Ngapain dia sih!


"Ckkk ... nggak penting! Za, tuh liat si Risky!" Ujar Anita padaku. Kemudian Anita beranjak tidur lagi.


Aku berjalan mendekati pintu sambil menutup sebagian wajahku dengan jilbab, hingga hanya menampakkan mata dan kaca mataku saja.


"hmm," gumamku. Aku enggan berbicara karena sudah pasti suaraku serak khas orang bangun tidur.


Risky terkejut, dan kemudian tersenyum


"Eh, Khanza. Loh, kamu nggak tidur?" Tanyanya dengan wajah berbinar.


Aku hanya menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


Duh, kenapa dia tanya melulu sih.


"Aku terbangun, terus nggak bisa tidur," jawabku akhirnya.


"Jadi, tidur cuma sebentar dong. Hmm, Kamu jangan sampai kurang tidur, Za, nanti sakit loh, Aku nggak mau itu," katanya polos.


Aku membulatkan mataku dan terkejut lagi dengan kata-kata sihirnya. Untung saat itu Aku masih menutupi wajahku, jadi tak akan tampak kalau Aku tengah tersenyum lebar.

__ADS_1


"Hahaha, nggak kok; biasa aja," jawabku sambil tertawa renyah, menutupi kegugupanku. Ya Tuhan Aku meleleh.


Dia tersenyum, kemudian mengangguk.


"Sudah! Tidur lagi sana. Bentar lagi kalau shubuh, Aku bangunin," ucapnya sambil merapatkan jaket yang ia kenakan.


Aku hanya mengangguk dan kemudian menutup pintu. Tubuhku masih enggan beranjak dari balik pintu, kemudian aku bersandar dan kakiku merosot. Aku gagal! Aku gagal mengubur perasaanku.


_____________________________


"Nina, kamu mengepel dilantai atas, ya!" Teriakku pada Nina dari bawah.


Pagi ini setelah shubuh kami sangat sibuk mengepel lantai, karena bekas hujan kemarin. Tadi malam anggota osis putra sudah kuwalahan untuk mengepel lantai. Maka, pagi ini kami jadi upik abu harus mengepel sana sini dan menenteng ember-ember. Untung saja semua berkas-berkas dan ***** bengek dari agenda lomba ini rampung semua.


Para anggota osis putra ada yang membantu kami menyemprotkan air dari selang karena lumpur yang menempel di lantai cukup kuat. Ada juga yang bertugas membersihkan lapangan dan memasang sound.


Saat kami tengah sibuk bebersih, kembali kuingat serangkaian kejadian-kejadian yang ku alami, hingga aku berkhianat pada diriku bahwa tak dapat lagi aku membendung perasaan.


Kini aku akui, aku tengah jatuh cinta pada seseorang yang baru kukenal selama sebulan ini. Aku tau, mungkin ini terdengar gila namun inilah cinta.


Pagi ini, lagi-lagi ia memberiku senyuman dan kehangatan, menjadikanku kembali berbunga dengan semua perlakuan sederhananya. Musik mengalun menambah syahdu dalam hatiku.


-Kutuliskan kenangan tentang, caraku menememukan dirimu, tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu-


Lagu ini, lagu yang sangat aku sukai, lagu yang sangat aku impikan, lagu yang ingin kualunkan saat hatiku jatuh cinta, dan kini aku benar-benar jatuh cinta.


-Tak kan habis sejuta lagu, untuk menceritakan cantikmu, kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini-


Tak perlu banyak kata, tak perlu banyak aksara untuk menggambarkan cinta yang kurasa saat ini. Senyummu, tawamu seolah membiusku dan meluluh lantahan hatiku. Memporak porandakan hatiku, mencabik cabiknya hingga aku pasrah. Memberimu ruang tak berujung untuk membawa hatiku dan melambungkannya.


-Telah habis sudah, cinta ini tak lagi tak lagi tersisa untuk dunia karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu-


Dan kini, pagi ini, seriring dengan tebitnya matahari, ku teriakkan dengan lantang pada dunia bahwa kini aku telah jatuh cinta. Dosakah aku mencintainya? dia telah merebut hatiku yang dengan susah payah ku kubur dalam-dalam. Tapi Aku suka, sangat suka dengan caranya merebut hatiku, senyumnya, tawanya, perhatiannya kembali membiusku.


-Dan telah habis sudah, waktu ini tak lagi berpijak, pada dunia, karena telah kuhabiskan sisa hidupku hanya untukmu-


Dan kini, kutegaskan kembali, bahwa aku sungguh mencintaimu. Aku mohon, jangan alihkan senyummu dariku, jangan sembunyikan tawamu saat bersamaku, kau sudah membuatku bangkit dari keterpurukan jahatnya sebuah cinta. Kini aku kembali percaya bahwa, cinta itu baik, cinta itu indah. Dan kini kutemukan saat bersamamu.


Lagu yang mengalun pagi ini, menggambarkan suasana hatiku, segala rasa lelah seperti lenyap begitu saja. dan kini Aku bahagia. Aku tengah jatuh cinta.


"Khanza" Suara lembut itu membuatku terkejut.


Kini, dalam pandanganku, kutemukan Risky tengah tersenyum manis padaku.


____________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya ya


Dukung author dengan bintang-bintang kalian

__ADS_1


Salam,


Khanza di bumi


__ADS_2