JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 20


__ADS_3

POV Risky


*2 bulan sebelum mengenal Khanza


Malam ini, aku harus begadang semalaman. Karena hari ini adalah hari jumat, aku harus melakukan piket jaga malam asrama putri. Untung saja aku tak sendirian, selama berjaga biasanya ada 2-3 orang dalam satu tempat.


Pesantrenku memiliki banyak santri, karena itulah pasti memiliki banyak asrama. Hari ini aku bertempat di asrama putri yang masih baru itu. Letaknya ada di sebelah ndalem, dekat asrama putra. Begitu jam menunjukkan pukul 10 malam, aku bersiap berangkat.


"Ky, kamu bawa apa aja?" tanya Rosi padaku sebelum kami berangkat


"Bawa apa?"


"Kamu mau, kita semalaman jaga sambil gigit jari? ya, bawa makanan, lah!" Rosi berkata sambil mengambil uang dari dompetnya


"Oh, kukira bawa apa. Iya, kita beli makanan dulu ntar," jawabku


Tiba-tiba, muncul sebuah ide


"Kita bawa bantal lagi, yuk" usulku sambil berbisik pada Rosi


Rosi terkejut dan memukul lenganku


"Kau ini! kau mau kita di hukum?"


Aku terkekeh, "Hahaha, gitu langsung nyolot"


"Kau masih ingat, kan, kejadian minggu lalu? waktu kita jaga asrama putri disana? gara-gara kita bawa bantal, kita ketiduran. Akhirnya paginya kena ta'zir,"


Aku tertawa mengingat kejadian itu. Aku di ta'zir bukannya susah malah senang.


"Yaudah, yuk, berangkat" kataku sambil keluar dari kamar.


Kami berjalan beriringan menuju kantin, untung saja kantin untuk santri putra buka 24 jam. Karena memang dikhususkan bagi santri yang kedapatan jaga malam. Setelah membeli beberapa gorengan dan segelas kopi, kami segera menuju lokasi. Karena jika kita terlambat sedikit aja, ta'zir siap menanti kita.


Sesampainya di lokasi, kami segera mencari tempat untuk duduk dan meletakkan makanan. Di depan asrama, ada sebuah gazebo yang mungkin biasanya di gunakan santri putri untung duduk bersantai. Kami meletakkan makanan disana, dan duduk santai.


"Jam segini udah sepi banget, ya" kataku sambil terus menatap asrama putri itu. Berharap ada salah satu penghuninya, yang melihat pesonaku.


"Dari luar emang keliatan sepi, coba masuk ke dalam, beh!" ucap Rosi sambil memejamkan mata dan alis yang bertaut


"Kenapa?" tanyaku menahan tawa


"Kau akan mati berdiri, hahaha. Bayangkan di kelilingi cewek seasrama, dan kau hanya sendirian. Kalau aku mungkin udah pingsan," katanya kemudian disusul tawa yang menggelitik


"Lebay, kau. Kalau aku, mah, nggak mungkin. Yang ada mereka akan bertekuk lutut padaku," kataku penuh percaya diri


"Dasar playboy, lu!" Rosi memukul lenganku lagi. Kemudian kami terus bercanda.


Tak terasa sudah hampir dua jam kita berjaga, makanan sudah habis, kopi tinggal sesruput. Mata kami sudah mulai terasa panas minta dilelapkan. Tapi kami harus benar-benar menahannya. Jangan sampai, tepat jam 12 malam nanti, saat koordinator keamanan mengontrol tugas, mendapati kami sedang tertidur.


Kini, jam menunjukkan pukul 12 tepat. Suasana malam ini kian terasa sunyi, kalau tak ada rembulan, pasti suasana makin mencekam. Aku dan Rosi memilih diam dengan pikiran kami, duduk bersandar pada tiang gazebo dan melipat tangan di dada.


Tak lama, terdengar suara langkah kaki, aku yang pertama kali mendengar, tiba-tiba terkejut. Segera ku menoleh ke sumber suara, memastikan siapa yang datang


"Udah, nggak usah ketakutan gitu. Itu suara koordinator keamanan pasti," ucap Rosi santai


"Siapa yang takut? aku cuma pengen tau, siapa yang datang," Aku bersungut- sungut, kemudian berdiri dan semakin merapatkan tangan di dada


Tak lama, sumber suara semakin dekat.  Klok ... klok ... klok ... suara sandal bakiak (sandal dari kayu) yang bergesek dengan lantai aspal. Rosi yang tadinya santai, kini mulai menegang. Dia berdiri, mendekat padaku.


"Eh, tapi kok suara bakiak, ya? masa koordinator pake bakiak?" tanyanya dengan suara pelan


"Ssttt! makanya diem, kita ambil kuda-kuda. Kalau yang muncul bukan manusia, kita langsung cabut," ucapku tak kalah pelan.


Semakin lama, suara semakin jelas dan semakin mendekat. Jantungku sudah berpacu amat kencang. Seumur hidup, belum pernah aku bertemu makhluk lain, mungkin inilah saatnya. Aku meraih batu yang berukuran agak besar di depanku dan bersiap akan melempar.

__ADS_1


"Eh, emang hantu bisa di pukul, ya? bukannya mereka transparan?" Rosi bertanya padaku


"Diem aja kau!" kataku dengan nada agak tinggi namun tetap bersuara pelan.


Suara itu semakin jelas, semakin dekat. Klok ... klok ... klok ... Aku sudah bersiap memukul, jika sesuatu itu muncul di balik tembok, batu ini akan segera kulempar. Suara itu semakin dekat, dan kemudian muncul lah sosok itu, mataku terbelalak, sepersekian detik kemudian, aku tertawa terbahak-bahak.


"Kalian ngapain pelukan sambil bawa batu kek gitu?" tanya Mas Munir dengan ekspresi terkejut bukan main.


Aku dan Rosi masih tertawa terbahak-bahak, tak sanggup berhenti, saat sudah mulai berhenti, tiba-tiba teringat lagi kekonyolan kita.


"Kalian kira, saya hantu?" tanya Mas Munir sambil berjalan mendekati kami


"Ma-maaf, Mas. Hahaha, aduh, tadi Risky ngira itu suara bakiak terbang, hahaha, aduh, sakit perutku, tadi udah mau lari," ucap Rosi terbata-bata disela-sela tawanya.


"Maaf, Mas. Habis, pas jam 12 malem, sih," imbuhku masih disela-sela tawa.


Mas Munir hanya menggeleng dan tersenyum geli, "makanya, jangan ngelamun!" kemudian beliau melihat kearah asrama.


"Daripada ngelamun gak jelas, noh! tata sandal-sandal santri putri yang berantakan itu! siapa tahu dapat jodoh," celetuk beliau sambil menunjuk ke depan pintu asrama.


Aku dan Rosi seketika berhenti tertawa dan saling memandang, "emang bisa kayak gitu, Mas?" tanyaku memastikan


"Mungkin aja, siapa tahu diijabah," kata beliau akhirnya sambil berlalu.


Kemudian Aku dan Rosi terdiam, memandang sandal-sandal yang berserakan itu, "Sana, gih! siapa tahu dapat jodoh beneran!" perintah Rosi padaku


Aku mengernyitkan dahi, "Lu kagak?"


Rosi terkekeh, "Ya, iyalah, yuk, lah"


Aku tertawa dan segera memunguti sandal-sandal itu dan menantanya, "Ya Allah, semoga jodohku adalah salah satu santri di asrama ini," doaku sambil memantabkan hati


"Aamiin," kata Rosi sambil mengusap wajahnya.


Kemudian, kami berdua tertawa bersama


_________________________________


Aku berjalan perlahan menuju ruang osis, rasa lelah jelas terlihat pada raut wajahku, tapi sedari tadi aku tak dapat berhenti tersenyum, percakapanku dan Khanza tadi masih terus terngiang dalam otakku. Apakah aku masih bisa bertemu dengannya lagi? entahlah.


Aku menghentikan langkah, raut wajah Khanza yang penuh harap juga memenuhi otakku. Apakah Khanza sungguh-sungguh menyukaiku? aku harus bagaimana? membiarkannya saja atau menanyakan kebenarannya?


Ku lanjutkan langkahku, memasuki ruang osis, dan merebahkan tubuhku di sofa empuk. Aku memejamkan mata


"Ky, malam ini kamu masih mau menginap disini?" tanya Ilham padaku


"Hmm," gumamku


"Ky, tadi kamu ngomong apa aja sama Khanza?" tanya Adi tiba-tiba


Aku membuka mata, "kamu ngintip, ya? emang kenapa?"


"Iya, tadi aku juga liat kalian ngobrol, kamu suka sama dia?"


Aku hanya diam saja


"Kayaknya Khanza benar-benar baper sama kamu,deh, Ky" celetuk Ilham


Aku mengeryitkan dahi, "kok bisa?"


Ilham berdecak, "Kamu nggak ngeliat matanya? dari sorot matanya aja udah keliatan kalau dia tulus banget, masa elu nggak merasa?"


Aku diam, kemudian menghendikkan bahu


"Aku bingung," jawabku seraya mengubah posisi dari tidur menjadi duduk

__ADS_1


"Bingung apaan?" tanya Aldi sambil mendekat padaku


"Aku udah merelakan Alfi, meskipun belum sepenuhnya, dan gua udah nemu target selanjutnya" aku mengeluarkan sepuntung rokok dari dalam saku, menyalakan, dan menyesapnya.


"Kamu serius? kamu kok nggak ada tobat-tobatnya, Ky," keluh Ilham


"Emang siapa targetmu?" tanya Adi kemudian


"Fania"


Lagi-lagi Ilham berdecak, "Kamu emang beneran mau dan sabar ngadepin Fania?"


"Emang kenapa? dia cantik," jawabku santai


"Kamu jangan mandang fisik doang, lah! iya, dia cantik. Tapi kamu,kan, belum tahu gimana sifatnya," ujar Ilham kemudian memalingkan wajah


"Fania kenapa?" tanya Aldi yang semakin penasaran


"Biarkan Risky sendiri yang menyimpulkan," ucap Ilham sambil melirikku


"Kalau aku, sih, lebih milih Khanza, aku tahu dia tulus," imbuhnya lagi


Aku mengernyitkan dahi, "kok, kamu yakin banget?"


"Entah, aku merasa gitu aja. Meski Khanza tak secantik Fania, tapi kurasa dia terbaik," jawab Ilham seraya menyesap rokok yang dia pegang


"Kamu sebenarnya juga bimbang, kan?" tanya Aldi tiba-tiba sambil menunjukku


Aku melotot, "bimbang apaan? dah, lah! aku capek,"


Aku berdiri dan membuang putung rokok, kemudian tidur di sofa. Aku menghela nafas, kalau boleh jujur, benar apa yang Aldi katakan, aku bingung dengan sikap Khanza, apakah ini adalah balasan bagiku karena mempermainkannya?


__________________________________


Aku berlari terengah-engah, jam masih menunjukkan pukul 3 pagi, tapi keringatku sudah bercucuran. Aku berlari dari kamarku menuju kamar Ilham, aku sudah tak tahan, akan kuputuskan segera masalah ini.


Padahal, dia bukanlah wanita yang terlihat menarik, tapi mengapa kini aku malah terjerat pesonanya? sudah berkali-kali aku memimpikan hal ini. Arrghhhh! aku sungguh bingung.


Aku memasuki kamar Ilham, kulihat dia tengah memakai handuk dan rambutnya terlihat basah


"Kamu habis mandi?" tanyaku sambil tercengang di tengah pintu


Ilham terkejut dan menatapku dari atas kebawah, "ngapain kamu disini?"


Aku menepuk jidat kemudian bersandar pada bingkai pintu, Ilham menatapku lekat, "ada apa, Ky?"


Aku berjalan memasuki kamar dan menyandarkan tubuhku pada tumpukan bantal yang sudah tersusun rapi. Suasana jam 3 pagi di asrama sudah ramai, bangun tidur, para santri akan mengantri kamar mandi untuk mencuci baju atau mandi. Seperti yang terlihat di kamar Ilham ini, amat sepi, mungkin penduduknya tengah di kamar mandi.


"Aku mau cerita," ucapku sambil menatap lurus kedepan


Ilham mengenakan kausnya dan duduk di hadapanku, "soal apa?"


Aku menghela nafas panjang, kemudian menatap Ilham. Ilham nampak mengernyitkan dahi, aku masih bingung merangkai kata dan harus memulai dari mana


"Gini, beberapa hari ini ... "


__________________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya ya


Dukung Author dengan bintang-bintang kalian


Salam,

__ADS_1


Khanza di bumi


__ADS_2