JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 32


__ADS_3

-Aku nggak pernah menyangka, mencintai Risky harus menerima resiko sebesar ini ... -


Khanza


***


Sinar matahari enggan menerangi pagi ini. Hujan semalam memang masih meninggalkan bekas berupa titik-titik embun di tiap helai daun dan jalanan tanah yang agak becek membuat sepatuku sedikit berlumpur.


Akses jalan dari pesantren menuju pesantren untuk siswi memang berbeda dengan siswa. Jika siswa melewati jalan utama lewat gerbang depan, maka siswi melewati jalan belakang.


Hal ini bertujuan untuk menghindari frekuensi pertemuan antar siswa dan siswi. Dan juga untuk meminimalisir para siswi agar tak sering bertemu orang luar. Para siswa melewati jalan di belakang pesantren yang berjajar dengan perkebunan warga. Mereka juga lebih sering berangkat secara berkelompok agar terlihat lebih ramai.


"Widih! penampilan baru, ey!" celetuk Egha


Aku terkejut dan langsung menutupi wajahku dengan jilbab, "apaan sih, Gha!" gerutuku


Tadi memang aku memilih berangkat sendiri karena takut teman-teman membully penampilan baruku.


"Berangkat sekolah nggak ngajak-ngajak!" sahut Maya.


"Kita udah nungguin di depan asrama, tauk!" Egha juga tak mau kalah ikut menggerutu


Aku hanya tertawa dan sedikit membuka wajahku, menampakkan mata dengan kacamata baruku.


"Coba lihat!" ujar Egha seraya melepas tanganku dari wajah


Tanganku masih erat menutupi wajah dan enggan melepasnya


"Uh, apaan sih! malu tau!" gerutuku lagi dan hal yang tak kusadari adalah aku mulai jadi pusat perhatian anak-anak lain yang melintasi kami.


Banyak pasang mata yang melihatku, mereka juga penasaran karena penampilan baruku. Ada yang menatap dengan ekspresi penasaran, ada yang juga bodoamat dan ada juga yang biasa saja, hanya memandang sekilas.


"Hei, aku jadi pusat perhatian, loh!"  ucapku dengan suara pelan.


"Makanya, lepasin tanganmu! aku pengen liat," ucap Maya denga suara yang tak kalah pelan.


Tiba-tiba, bruk! "Kalo ngobrol jangan di tengah jalan, dong!"


Aku terkejut, ada yang mendorongku dari belakang. Untung saja aku tak sampai terjatuh, hanya agak kehilangan keseimbangan. Aku membetulkan kacamataku dan melihat siapa yang berulah barusan.


"Nana ... " gumamku


Nana menatapku, awalnya dari ekspresi biasa saja menjadi ekspresi mengejek. Aku sulit mengartikan tatapan matanya karena dia menatapku dari ujung kaki hingga kepala. Bibirnya tersenyum miring dan kemudian berjalan lagi.


Aku menelan ludah, berusaha baik-baik saja setelah mendapat perlakuan seperti itu.


"Jalanan masih luas, kok, dorong-dorong orang!" umpat Maya


"Ssttt! udah, nggak papa," ucapku sambil meraih tangan Maya


Aku masih menatap punggung Nana yang semakin menjauh dariku dan menghembuskan napas pelan.


"Kamu jangan diam aja, dong, Za!" Egha kini menatapku kesal.


"Aku hanya nggak mau cari masalah, Gha," jawabku kemudian lanjut berjalan.


Egha dan Maya menyusulku, "seandainya aku nggak memikirkan reputasi, tentu saja aku sudah menyemprotnya habis-habisan, tapi aku sadar, itu bukan gayaku," lanjutku.


"Kayaknya Nana emang beneran nggak suka kamu, Za," timpal Maya


"Aku udah sadar dari sejak dia tahu kalau aku ada hubungan sama Risky"


"Kamu diam aja?" tanya Egha


"Aku mau apa? menemuinya di kelas IPS dan mengatakan 'kamu jangan tidak suka aku'?" aku bertanya balik pada Egha


Egha malah tertawa, "itu bukan gayamu"


Aku mengangguk, "lagipula, selama itu tidak mempengaruhi sekolahku, aku nggak akan menanggapi ... "


"Selama ini, dia cuma diem-diem bae, ya sudah, aku juga demikian," lanjutku


"Dia makin terlihat kalau tidak menyukaimu sejak kejadian pelantikan itu," gumam Maya seraya mengusap  dagunya.

__ADS_1


"Wah, kamu kok keliatan beda, Za?"


Aku terkejut, ada yang memanggilku. Aku mencari sumber suara dan ku temukan Pak Ridho yang kini tengah menatapku dengan senyum yang sumringah.


Aku tersenyum canggung, "e-eh iya, Pak"


"Kan jadi keliatan lebih dewasa," ujar beliau seraya mengacungkan dua jempol


"Terima kasih, Pak!" ucapku sambil menundukkan kepala dan berlalu.


"Pak Ridho ini ada-ada aja, orang lagi serius ngobrol juga," celetuk Egha dengan suara pelan.


Aku tertawa dan memukul bahunya pelan


"Kamu, kok, tau, May?" tanyaku menanggapi penyataan Maya tadi.


Maya mengangguk, "aku nggak liat ekspresinya waktu itu?"


Aku menggeleng


"Dari awal acara, Nana dan komplotannya udah liatin Risky. Apalagi pas Si Risky motret-motret kamu, beuh!"


"Kenapa?" tanyaku


"Tatapannya penuh dendam. Entah itu hanya firasatku atau memang kenyataannya begitu," jawab Maya


Kami mulai menaiki tangga sekolah untuk menuju kelas. Sebentar lagi kami akan melewati kelas IPS, aku menghela napas, entah untuk keberapa kalinya.


Saat kami melintasi kelas IPS 1, tiba-tiba Fania muncul dari dalam kelas dan hampir bertabrakan denganku.


"Eh, Fania!" sapaku lengkap dengan senyuman.


Fania hanya menatapku datar dan berlalu tanpa membalas sapaanku. Aku mengernyitkan dahi.


"Tadi Nana, sekarang Fania," celetuk Egha sambil menghendikkan bahu.


"Entahlah, semenjak aku ada hubungan sama Risky, kayak makin banyak saja yang tidak suka aku," kataku sambil melipat tangan di dada.


"Fania juga sama seperti Nana, melihatmu sangat akrab dengan Risky, membuat mereka panas hati dan pikiran," sahut Maya


Kami memasuki kelas dan meletakkan tas di meja masing-masing. Kami duduk bersebelahan dan melanjutkan percakapan


"Aku juga nggak akan tanya, mengapa mereka bersikap begitu padaku, biarlah sesuka hati mereka mau berbuat apa, aku lelah," lanjutku.


Aku menyandarkan punggungku dan menatap lurus kedepan.


"Aku nggak pernah menyangka, mencintai Risky harus menerima resiko sebesar ini ... " gumamku


"Gimana sama Alfi?" tanya Egha tiba-tiba


"Apanya?"


"Hubunganmu sama Alfi"


"Sama, aku juga lama nggak bertegur sapa. Sejak ... kapan aku lupa," kataku


"Kenapa?"


"Entahlah, mungkin karena memang tak ada yang di bicarakan ... "


"Setelah ini, pasti mereka akan merasa canggung untuk menyapaku," lanjutku


"Padahal sudah kelas 12, ya," kata Egha


"Seharusnya kita tetap menjaga kerukunan, soalnya udah mau pisah," kata Maya pula.


Aku menghendikkan bahu. Memikirkan sikap mereka yang tiba-tiba membenciku semenjak aku berhubungan dengan Risky. Aku tak habis pikir, mengapa lagi-lagi aku menempati posisi yang sulit?


Mencintai seorang playboy, ternyata harus siap dengan resikonya. Aku tak pernah mengalami kisah cinta seekstrim ini, apalagi di depan mataku, mereka nyata mengibarkan perang dingin.


__________________________________


Sudah lama aku tidak bertemu Risky. Baik di sekolah ataupun di pengajian pagi. Jujur, aku amat merindukannya. Aku sudah tak bisa lagi menghubunginya lewat chat karena aku sudah tak lagi menjadi kru majalah, jadi aku sudah jarang memegang komputer.

__ADS_1


Saat melewati kelasnya di lantai dua, aku sering mencuri-curi pandang berharap dia tengah menatapku dengan tersenyum seperti beberapa waktu lalu. Tapi nihil, tak ada senyum untukku. Aku amat merindukannya.


Ingin rasanya aku bertanya pada teman-temannya apa yang terjadi, tapi aku malu. Aku hanya bisa berharap dalam doa agar dia baik-baik saja. Apalagi saat melewati kantin, aku berharap ada tangan yang melambai padaku yang biasanya membuatku salah tingkah, tapi lagi-lagi, semua hanya angan.


Siang ini begitu terik, aku dan Wina tengah berjalan menuju ruang guru karena dipanggil oleh Pak Ridho. Begitu memasuki ruangan, aku langsung menghadap Pak Ridho yang kini tengah berkutat dengan komputernya.


"Pak," sapaku dengan berhias senyum


Pak Ridho menoleh, "oh, kalian. Silakan duduk," ucap beliau sambil mempersilakan kami duduk di kursi di depan mejanya.


Aku dan Wina saling menatap, "ada apa, Pak?"


Pak Ridho menatap kami bergantian, "kalian sudah kelas 12, kan?"


"Iya, Pak," jawab kami hampir bersamaan


"Kalian ada rencana bikin buku tahunan?"


Aku dan Wina tersenyum lebar, "oh iya, Pak"


"Nah, disini saya mau minta bantuan kalian buat desain buku tahunan, untuk siswa dan siswi," ucap beliau sambil menatap kami lamat-lamat


"Mumpung belum ujian, sebentar lagi kalian akan liburan maulid nabi. Setelah itu, kalian masuk, sudah dikebut oleh berbagai ujian. Ada baiknya buku tahunan itu jadi sebelum ujian-ujian di laksanakan," lanjut beliau


Buku tahunan adalah, buku sejenis album yang berisi profil dari tiap-tiap siswa dan guru di sekolah. Buku ini dibuat bertujuan sabagai kenang-kenangan.


"Kami bikin desainya, Pak?" tanyaku


Pak Ridho mengangguk, "kenapa saya pilih kalian?"


Aku dan Wina saling tatap, kemudian menggeleng


"Anggap saja ini bentuk pengabdian kalian yang terakhir. Saya amati juga desain-desain kalian bagus-bagus, jadi, mengapa tidak di manfaatkan aja?" jelas beliau


Aku dan Wina mengangguk paham, "baik, Pak. Kapan kami bisa mulai? untuk konsepnya bagaimana?" tanya Wina


"Sebaiknya kalian mulai secepatnya untuk konsep terserah kalian," jawab beliau.


"Oke, Pak. Siap laksanakan!" jawab kami hampir bersamaan.


Tiba-tiba, aku teringat sesuatu


"Oh iya, untuk siswa ... " ucapku tertahan, kemudian menatap Wina


"Kenapa?" tanya Pak Ridho


"Kami juga yang mengerjakan?" tanyaku ragu-ragu


Wina menepuk jidatnya, "kan tadi Pak Ridho udah bilang, Za," geram Wina dengan suara pelan


"Oh iya? aku nggak dengar," kataku malu-malu


"Iya, kalian juga. Kalau mau minta bantuan Siswa, kalian bisa hubungi salah satu wakil. Biasanya, siapa yang bisa desain-desain gitu?" Pak Ridho menatapku


"Irwan," jawab Wina


Mataku terbelalak dan kemudian menatap Wina, "kamu ... serius, Win?"


"Kan, dia dulu jadi perwakilan kunjungan di Graha Pena, kan? berarti dia bisa desain," jawab Wina polos.


"Ya, sudah. Kalian bisa minta bantuan Irwan," ucap Pak Ridho santai


"Yes!" Wina mengepalkan tangan penuh kemenangan. Aku tahu, bahwa Wina memang menyukai Irwan sejak pertemuan di Graha Pena itu, sedangkan aku?


Haruskah aku bertemu Irwan lagi?


__________________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya ya ....


*Author lagi males basa-basi, wkwk_- lagi ngantuk soalnya

__ADS_1


Salam,


Khanza di dunia nyata


__ADS_2