
Aku bercerita banyak dengan Risky, mengenai pribadi masing-masing, warna kesukaan, kegiatan, dan juga tak jarang kami bercanda saling meledek. Bahkan tak terasa suaraku terdengar hingga keluar kamar.
Tiba-tiba, ada seseorang yang membuka kelambu kamar yang ku tempati
"Loh, kamu nggak tidur, Za?"
Gawat! itu suara nenekku. Buru-buru aku memejamkan mata dan menutupi badan dengan selimut. Untung saja, lampu kamar tengah ku matikan jadi tak akan terlihat kalau aku memakai earphone.
"Tadi kayaknya ada suara ketawa-ketawa, kayak suara Khanza ... tapi ini, kok?"
Nenekku sepertinya bingung, tapi tak kunjung beranjak dari kamar ini. Sedangkan di ujung sana, Risky memanggilku berkali-kali, memastikan aku tak tertidur. Aku bingung harus bagaimana, tapi disisi lain aku juga geli dengan keadaan seperti ini.
"Ah, mungkin salah dengar ... " gumam beliau seraya meninggalkan kamarku
"Hu ... selamat," celetukku
"Apa? pesawat?" sahut Risky tiba-tiba
"Bukan, jerawat!" kataku jengkel namun terpingkal-pingkal
"Kamu jerawatan? pasti kangen aku, ya"
"Ih, ge-er kamu," elakku sambil haha-hihi
"Za, kamu nggak ngantuk?"
"Nggak, tuh. Kenapa? kamu ngantuk?"
"Nggak, aku terbiasa begadang. Kamu kayaknya nggak kebiasaan tidur larut malam, apalagi ini udah jam 2 dini hari, besok kamu harus kembali ke ponpes"
"Nggak papa, Ky. Aku emang pengen banget ngobrol sama kamu, apalagi setelah ini kita bakalan jarang komunikasi intens kalau di sekolah"
"Beneran? nggak papa?"
"Iya, beneran," jawabku akhirnya
Aku akan menikmati malam ini meski harus menahan kantuk yang teramat sangat. Inilah kesempatanku, melakukan proses pendekatan dengan Risky. Maka, akan ku lakukan sebaik mungkin.
"Za, kamu kalau ada apa-apa, atau ada hal yang mengganjal pikiranmu tentang aku, apapun itu, jangan ragu untuk bercerita dan bertanya padaku. Karena aku nggak mau kamu dengar sesuatu yang nggak mengenakkan tentangku dari orang lain. Mending, kamu dengar langsung dari aku, ya?"
Seperti ada secercah harapan untukku. Sepertinya Risky akan benar-benar jadi milikku. Bibirku tertarik keatas, tak terhitung sudah berapa kali ini terjadi padaku.
"Kamu bakalan kayak gitu juga, kan, Ky?" tanyaku
"Maksudnya?"
"Kamu akan cerita ke aku apapun yang membuatmu penasaran atau membuat pikiranmu tak enak"
"Tentu saja, karena kamu sudah menjadi bagian dari hidupku"
Aku tersenyum lagi, Ah ... Risky, bahagianya aku dimiliki olehmu. Bersyukurnya aku bisa menyadarkanmu, mengembalikanmu ke jalan yang benar, melunakkan hatimu yang keras. Semoga, kamu seperti ini sampai kapanpun.
"Ky, sebenarnya aku mau cerita ini sama kamu," ucapku karena tiba-tiba aku mengingat kejadian dengan Pak Fahmi
"Cerita apa, Za?"
Aku menghela nafas, "kamu janji dengerin sampai selesai, ya?"
"Iya, pasti"
"Jangan marah juga"
"Nggak, kok. Aku nggak akan marah sama Khanza"
Aku menggigit bibir, bingung harus memulai dari mana dan kata apa. Aku takut menyakiti hati Risky.
"Halo? Za? kamu disitu, kan?"
"E-eh iya"
"Mau cerita apa?"
Aku menghela napas panjang, "Kamu nggak dengar berita apa-apa pas ramadan kemarin?"
"Berita apa?"
"Jadi, Pak Fahmi mau menjodohkan aku sama Mas Aldo ... "
Aku pun menceritakan semua kejadiannya, baik kejadian saat pengajian kitab atau kejadian di lab. Aku bercerita dengan amat hati-hati, karena takut menyakiti hati Risky. Kuutarakan juga bahwa aku amat tak setuju dengan rencana Pak Fahmi itu.
"Aldo yang jaga toko alat tulis di samping super market itu?" tanya Risky akhirnya
"Iya, Ky," jawabku lemah
Aku mendengar dia tengah menghela napas panjang, "seandainya Pak Fahmi tahu bahwa kita ada hubungan, beliau pasti akan menunjukkan ketidak sukaan. Karena beliau tak menyukaiku, entahlah"
"Iya, aku tahu. Makanya, aku bilang kayak gitu ke beliau, aku masih menyembunyikan hubungan kita," jelasku seraya merangkai berbagai peristiwa yang pernah terjadi antara aku dan Risky
Jujur, aku juga merasa lelah jika harus backstreet seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi? jika kita mengumbar hubungan ini, jelas akan mengganggu sekolah dan pesantren kita. Hubungan kita masih seumur jagung, namun cobaan sudah datang silih berganti.
"Ky, kamu marah, kah?" tanyaku takut-takut
Cukup lama Risky tak menjawab pertanyaanku, dan itu membuat aku semakin merasa bersalah.
"Ky?"
__ADS_1
"Humm?"
"Marah?"
"Kalau mau marah, mau marah sama siapa? ke Pak Fahmi? nggak mungkin, beliau juga guruku. Ke Aldo? dia bahkan tak tahu apa-apa tentang kita,"
Aku menghela nafas lagi, bingung mau menjawab apa
"Yang kita lakukan saat ini adalah, saling menjaga hati, Za. Kamu menjaga hatiku, aku menjaga hatimu ... "
"Kuatkan hati kita, bahwa kita tak akan terpengaruh oleh siapa pun, saling terbuka dan menerima. Sudahlah, tak apa. Anggap saja, ini bumbu-bumbu hubungan kita, kamu yang kuat, ya ... " katanya dengan suara yang terdengar amat damai.
Aku tersenyum, kali ini aku benar-benar merasa dimiliki dan dijaga. Aku semakin memantabkan hati untuk melabuhkan sepeenuhnya pada Risky, menyerahkan segala cintaku untuknya.
"Terima kasih, ya, Ky. Aku jadi lebih tenang sekarang," ucapku
"Iya, Za. Kamu yang sabar, ya. Ini masih permulaan, kedepannya kita akan menghadapi berbagai cobaan dan ingat, kita harus saling menguatkan,"
Ya Tuhan, inikah kata-kata yang keluar dari mulut seorang 'mantan' playboy? kata-kata yang dia ucapkan untuk tetap menggenggam erat diriku. Diriku, orang baru yang mungkin telah lancang mencintainya, namun dia telah menerimaku dengan segenap jiwa.
"Pasti, Ky. Kamu ... sudah membuatku merasa amat berarti," ucapku
"Dari awal, kamu memang sangat berarti untukku, Za. Menjalani hubungan denganmu, membuatku sadar akan satu hal,"
"Apa?"
"Bahwa, mencintai seseorang karena hatinya, jauh lebih bahagia. Amat bahagia, Khanza, aku bahagia memilikimu," ucapnya yang terdengar amat manis di telingaku.
Aku tersenyum, pipiku seketika menghangat. Aku amat terharu, karena ini pertama kalinya dalam hidupku. Ah ... Risky.
"Aku juga senang bisa memilikimu, Ky. Aku bisa meluapkan rasaku pada orang yang benar-benar menganggapku ada. Aku bahagia, bisa merubahmu menjadi lebih baik, kamu ... jangan nakal lagi, ya"
"Nggak! aku nggak akan nakal. Kalau nakal, aku malu sama Khanza, hahaha"
Tawanya, suaranya, adalah semangatku. Semangat untuk menjalani hidup.
"Iya, nanti aku hukum kalau nakal, hahaha"
"Za?"
"Hum?"
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Iya, apa?"
Cukup lama dia terdiam, kemudian, "kamu pernah mendoakan aku dalam sujudmu?"
Aku terkejut, sekaligus mulai merasa malu jika harus menjawab sejujurnya.
"Nggak, papa. Jawab aja"
"Harus jujur, ya?"
"Iya, dong"
"Sebelum kita menjalani hubungan ini, bahkan saat aku pertama kali menyimpulkan bahwa aku memang menyukaimu, aku sudah mendoakanmu," jawabku malu-malu
"Oh, iya? kamu serius?"
"Hu'um"
"Wah, nggak nyangka, loh. Kamu sampai segitunya, Za,"
"Apaan, sih, Ky! aku jadi malu, deh. Tahu gitu, aku nggak jujur tadi"
"Loh ... loh ..."
Kemudian, terdengar suara tawa di seberang sana. Aku menjadi sangat malu, mungkin Risky menganggapku terlalu berharap.
"Kamu nggak mau dengar doaku, Za?"
Mataku terbelalak, "doa? ya, mau, dong!"
Dia terdengar tengah menarik nafas, "Aku selalu berdoa, Ya Allah, jika dia memang untukku, maka dekatkanlah kami dengan jalan yang baik. Jangan biarkan apapun menghalangi langkahnya, karena aku tak bisa menjaganya dengan jarak dekat, maka aku minta bantuaMu menjaganya untukku," ucapnya perlahan.
Hatiku berdesir, dan bulu romaku merinding. Sungguh, aku tak percaya dia begitu menyayangiku, aku tak sanggup berkata-kata, Risky ... doamu semoga menjadi doa yang diijabah oleh Allah.
"Ky, makasih atas doanya, aku nggak sanggup ngomong apa-apa ... "
"Khanza, itu doa untukmu. Semoga Allah selalu mengabulkan, ya"
"Aamiin"
Aku bahagia, amat bahagia. Menjadi bagian dari salah satu doanya adalah bagian terindah dalam hidupku, semoga, ini akan abadi.
"Aku juga punya doa untuk mu, Ky ... "
"Oh, iya?"
"Doa yang kupanjatkan seusai sholat, doa yang tak pernah bosan ku curahkan pada Allah ... "
Aku menarik napas, "Aku selalu berdoa, Ya Allah, jika memang dia untukku, maka dekatkanlah kami, lindungilah kami dari segala hal yang mungkin memanaskan hati kami. Dan jika dia memang hanya singgah untuk sementara di hatiku ... "
"Maka, berilah dia wanita yang baik. Wanita yang selalu membuatnya bahagia, wanita yang menyenangkan hatinya,"
__ADS_1
"Wah ... Za, aku ... aku ... tak percaya doamu begitu dalam untukku ... "
"Ky, kita saling mendoakan, ya. Semoga kita dapat di satukan suatu saat nanti," ucapku meyakinkan dirinya agar kita sama-sama saling mendoakan dan menguatkan.
"Aamiin ... Aamiin ... Aku sangat menantikan itu, Za. Kamu jangan hilang, ya?"
Aku tertawa, "nggak, aku nggak akan hilang . Aku ada untukmu," jawabku akhirnya.
Pagi itu, pukul 03.00 WIB adalah saksi bagaimana doa kita di utarakan. Doa kita di dengar oleh para malaikat shubuh, agar di hantarkan pada Allah untuk di kabulkan. Semoga, semua semakin meyakinkan.
_____________________________
Tanggal 15 Syawal, para santri sudah harus kembali ke ponpes. Setelah melewati liburan panjang, kini, saatnya untuk kembali ke aktifitas masing-masing. Meski amat berat, para santri harus kembali tepat waktu agar tidak di ta'zir
Apalagi untuk para anggota osis sekaligus panitia MPLS, kami harus memulai aktifitas lebih dulu untuk melancarkan kegiatan wajib tahunan tersebut. Memberikan kesan awal terbaik, untuk murid-murid baru.
Segala persiapan untuk MPLS sudah rampung dan sebagian sudah di laksanakan, kami segenap panitia dari anggota osis, sudah bersiap-siap untuk melaksanakan agenda selanjutnya, yakni sosialisasi dari Badan Narkotika Nasional (BNN)
Setelah sebelumnya kami melaksanakan berbagai acara, mulai dari upacara pembukaan, pendalaman materi, pengenalan sekolah, dan dinamisasi forum. Hari ini, adalah hari kedua pelaksanaan MPLS.
Kami, para panitia dan peserta tengah berjalan ke gedung MTs untuk memulai kegiatan sosialisasi BNN tersebut. Aku berjalan paling depan bersama Maya, si Ketua Panitia
"Duh, aku benar-benar deg-degan, loh!" celetuk Maya tiba-tiba
"Kenapa?" tanyaku santai
"Ini pertama kalinya aku jadi ketua panitia!"
"Terus?"
Maya menepuk jidatnya, "Aku sangat excited meski harus berkali-kali bertengkar dengan Ilham," jawabnya seraya memalingkan wajah
Aku tertawa, "emang kenapa?"
"Duh, anak cowok itu ribet banget sumpah! nggak jelas maunya apa! masa', kemarin mereka minta jadwal pagi untuk sosialisasi, padahal pagi, kan, jadwal untuk cewek!"
"Makanya, ngadepin mereka itu ada triknya," kataku yang spontan membuat Maya penasaran
"Gimana?"
Lagi-lagi aku tertawa, "Intinya, mereka itu cuma mau dekat aja sama kamu, mereka sok-sokan marah cuma mau cari perhatian, percaya?"
Maya melotot, kemudian menggelengkan kepala. Aku terkekeh
"Mereka akan semakin menggodamu jika kamu iku-ikutan marah. Makanya, kalau mereka udah kayak gitu, cukup kamu diemin atau jawab seperlunya. Dijamin mati gaya, tuh, mereka. Hahaha" jelasku sambil tertawa terbahak-bahak
"Eh ... gitu, ya?" Maya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Udah, deh. Nggak penting. Sekarang kamu minta panitia keamanan, gih! buat mengontrol peserta masuk kelas biar nggak saling dorong," kataku saat memasuki pelataran gedung MTs.
Para panitia keamanan, mulai mengambil alih kendali untuk mengontrol peserta. Karena ini adalah acara gabungan, dari MTs, MA dan SMK, maka semua panitia harus kompak dan bersatu dalam melaksanakan tugasnya, agar acara berjalan dengan lancar.
Kemudian, narasumber dari BNN memasuki ruangan dan memulai acara sosialisasi. Selain sosialisasi dan sesi tanya jawab, acara ini juga di sertai beberap permainan dan nobar (nonton bareng). Jadi, para peserta tidak akan merasa bosan Karena, keaktifan peserta, akan dinilai oleh panitia penilaian, untuk menjadi peserta terbaik di upacara penutupan.
Pukul 11. 00 WIB, acara sudah berjalan hampir satu jam. 30 Menit lagi, acara ini akan selesai dan semua peserta kembali ke lembaga masing-masing, tiba-tiba
"Khanza!" Sapa seseorang dari belakang dan sontak membuatku terkejut
"Duh! Ita! ngapain ngagetin segala, sih!" sungutku sambil memukul Ita karena refleks rasa terkejutku
"Hahaha, serius amat, buk, ngeliatnya. Udah, santai aja, pesertanya nggak akan kabur, kok," kelakarnya masih dengan tawa yang menyebalkan
"Huh, kamu ini," aku kembali memfokuskan pandangan pada pemateri sosialisasi
Ita adalah ketua osis SMK Putri, jadi kami memang sudah lumayan dekat dan sering berinteraksi
"Za, agenda kita besok, kan, bagi-bagi sembako, tuh"
"Ya, terus?" ucapku sambil terus fokus pada acara
"Kita belum belanja sembakonya," kata Ita yang spontan membuatku menoleh untuk melihat Ita.
"Astaga! Iya! duh, kok bisa lupa, sih," gerutuku
"Makanya, ini aku ingetin kamu!"
Aku berdiri dan keluar ruangan, Ita membuntutiku.
"Gimana dong?" tanyaku sesaat setelah kita sampai di depan ruangan.
"Menurutku, kita belanja sekarang aja. Acara ini, biar ketua panitia yang menghandle. Aku, kamu sama Nina ke super market pesantren buat memesan sembako," kata Ita
Mataku membulat, Ha? super market pesantren? tempat Hamdan bekerja?
"Harus kesana, ya ... "
_____________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya, ya
Dukung author dengan bintang-bintang kalian
Salam,
__ADS_1
Khanza di dunia nyata