
Alhamdulillah, kini aku telah memasuki jenjang yang lebih tinggi, jenjang akhir dalam sekolah menengah atas. Tak terasa, sudah hampir tiga tahun aku menikmati masa sekolah sekaligus pesantren.
Banyak sekali pengalaman yang kudapat selama dua tahun ini, terutama di sekolah, aku mengikuti beberapa organisasi hingga akhirnya menjadi ketua osis saat aku di kelas 11.
Menjadi pemimpin di suatu organisasi tidaklah mudah, banyak hal yang harus kurelakan demi kesuksesan tiap program dalam organisasi. Harus rela pulang sore atau meninggalkan beberapa mata pelajaran jika tiba-tiba ada rapat dan pekerjaan mendadak.
Tapi disisi lain, aku juga senang. Melalui organisasi, aku banyak bertemu orang hebat. Apalagi saat aku sudah bertemu dengan Risky, aku semakin bersyukur bisa jadi bagian dari organisasi. Karena melalui organisasilah, aku dan dia bertemu.
Kini, saatnya aku mencari pengganti. Mencari sosok kandidat yang dinilai mampu untuk menggantikan posisiku. Setelah acara MPLS seminggu yang lalu, aku sering membahas masalah ini dengan teman-teman. Dan kami sepakat untuk memilih Bulan Oktober untuk mengadakan reformasi pemilihan ketua. Itu artinya, kegiatan reformasi akan dilakukan bulan depan.
_____________________________________
Kring ! kring! kring!
"Hoaammm ... Akhirnya istirahat juga," celetuk Maya sesaat setelah Bu Erna keluar ruangan.
"Kamu mau ngapain emang?" tanyaku seraya membereskan buku-buku
"Mau tidur!"
Aku terkekeh, "emang semalem nggak tidur?"
"Aku ada ujian diniyah, tadi malem aku begadang buat belajar, dan sekarang ngantuk ... Huuaaaa ..." ucap Maya seraya menguap lebar-lebar
"Nggak mau ke kantin?" tanya Egha tiba-tiba
Aku menggeleng, "nggak, deh. Panas, desak-desakkan pula"
"Emang nggak lapar?"
Aku menggeleng, "tadi pagi, sarapan di pondok lauk ayam goreng sama sambal, jadi aku makan banyak, hahaha," kelakarku
"Yah ... aku ke kantin sendiri, dong?"
"Sama aku, yuk!" ajak Hani sambil merangkul Egha
"Lah! yuk!" ucap Egha bersemangat
Baru saja Egha dan Hani melangkah, tiba-tiba Uni datang dengan hebohnya.
"Gaes, Gaes!" katanya sambil menggiring Egha dan Hani mendekati aku dan Maya
Aku mengernyitkan dahi, "kenapa, Un?"
"Gini, sebelumnya aku mau cerita sesuatu. Tapi aku mau tanya dulu padamu, Za," ucap Uni sambil menatapku
"Tanya apa?"
"Kamu lagi emosi, nggak?"
"Ha? enggak, tuh. Biasa aja. Kenapa?"
"Beneran?"
"Ada apa, sih, Un?" sela Maya yang kini sudah terlihat tidak mengantuk lagi.
__ADS_1
Uni menghela napas panjang, "jadi gini, sebenarnya aku mau cerita ini sama Khanza aja. Tapi kupikir itu nggak enak, secara kalian, kan, sahabatan. Bantu aku cari solusi buat masalah ini,"
Aku semakin bingung dengan ucapan Uni, "oke, tenang. Huft ... Ceritakan, ada apa sebenarnya, Un?" tanyaku
Uni menggigit bibirnya sambil menatapku, "jadi, Za, aku, kan sekelas diniyah sama Lili dan Miza. Nah, tadi itu mereka tanya ke aku," ucap Uni hati-hati
"Lili dan Miza siapa?" tanyaku
"Oh, Lili dan Miza anak IPS itu?" tanya Egha untuk memastikan
"Mereka itu, yang sahabatnya Nana, kan?" tanya Hani juga dengan suara yang cukup pelan.
Apa? Nana? Nana yang katanya suka sama Risky? aku mulai merasakan ada firasat tak baik, jantungku berdetak amar cepat.
Uni mengangguk mantap, "Iya, betul. Jadi, tadi itu mereka tanya, kamu sama Risky ada hubungan apa gitu?"
Mataku terbelalak, "lah, apa urusannya sama mereka?"
"Bentar, belum selesai," sela Uni sambil menggenggam tanganku
"Za, sabar dulu, dengerin baik-baik," ucap Maya
"Mereka tanya, kamu dan Risky ada hubungan apa? mereka tanya ke aku, karena aku kan sekelas sama kamu. Nah, aku pura-pura **** aja, ku jawab, nggak tahu ... "
Uni menghela napas, kemudian melanjutkan, "aku takut salah jawab, makanya aku jawab nggak tahu. Soalnya kamu sendiri, kan, menutupi hubungan ini"
Aku mengangguk
"Terus, karena aku kepo juga, akhirnya aku tanya balik, emang kenapa? gitu ... "
"Ja-jawab gi-gimana?" tanyaku terbata
"Risky jawab, sebenarnya kamu hanya pelampiasan aja, karena sebelumnya Risky ditolak sama Alfi. Risky ngedeketin kamu cuma sebagai mainan aja, um ... gimana, ya jelasinnya? pokoknya gitu, deh, Za ... "
Bagai disambar petir di siang hari, jantungku saakan mencelus keluar dari tubuhku. Nafasku terasa sesak, dadaku terasa sakit. Sangat terkejut dengan apa yang Uni katakan. Aku sempat tak percaya, jika Risky mengatakan itu.
Tapi sejurus kemudian, pikiranku berbelok. Aku semakin yakin jika Risky memang mengatakan itu, dia mengatakan itu pada Nana karena dia malu harus mengakui bahwa dia sebenarnya memang ada hubungan denganku.
Bandingkan, aku dan Nana beda jauh. Nana menyukai Risky dan Nana memang cantik. Dan aku? kecantikanku jauh di bawah Nana. Kalau memang begitu, kenapa dia tidak berpacaran saja dengan Nana? kenapa harus capek-capek menyakitiku?
Tak terasa, setitik embun menyembul dari netraku. Aku sungguh tak sanggup jika ada yang menginjak harga diriku seperti ini.
"Ka-kamu serius, Un? mereka bilang gitu?" tanya Maya dengan suara bergetar
"Billahi, aku menyebut asma Allah, aku nggak bohong ... " ucap Uni tertahan, menahan emosi yang bergejolak
"Aku nggak terima mereka bilang gitu ... " lanjutnya kemudian
"Lanjut, aku diam saja meski mereka ngomong gitu, dan mereka kemudian ngomong lagi, kasihan, ya, Khanza. Ku kira dia ketua osis yang pintar, ternyata enggak. Mau aja di bodohi sama Risky, hahaha, .... " ucap Uni lalu dia memelukku erat
"Aku nggak terima kamu dihina kayak gitu, Za ... Aku nggak terima ... Kalau aku sudah disitu, akan ku cabik-cabik habis mulut mereka!" ucap Maya sambil terisak.
Jangan tanyakan kondisiku, aku sudah menangis hebat dalam pelukan Uni. Aku tak sanggup berkata-kata, sungguh hatiku teramat sakit luar biasa. Harga diriku benar-benar diinjak, aku malu sebagai ketua osis dihina seperti itu.
Aku tak tahu apa tujuan Risky mengatakan alasan itu pada Nana, aku benar-benar tak habis pikir. Sampai hati dia menyakitiku dan menempatkanku pada titik terendah seperti ini.
__ADS_1
Aku bodoh? Ya Tuhan, kuatkanlah hamba. Aku amat lelah menghadapi Risky. Sudah cukup aku disakiti olehnya. Sudah cukup air mataku terkuras habis hanya untuk menangisi laki-laki jahat seperti dia.
"Za, kamu nggak usah khawatir, biarkan aku yang mengurus ini. Aku sendiri yang akan menghadap Risky untuk merobek mulutnya, " ucap Maya dengan mata yang sudah sembab.
Aku tak mampu mengangkat kepalaku dari dekapan Uni, kepalaku benar-benar terasa amat sakit. Egha dan Hani juga sudah memelukku, memberiku penguatan. Mereka sudah tak mampu berkata-kata lagi ...
"Za, aku nggak rela kamu nangis terus gara-gara Risky. Kamu harus kuat, ya?" hibur Hani sambil mendekapku lebih erat.
"A-aku ... a-aku ... Apa salahku? apa salahku pada mereka? pada Risky? hingga mereka menyakitiku seperti ini. Katakan! apa salahku!" aku sudah dikuasai emosi
Ingin rasanya aku menghampiri mereka di kelas IPS dan merobek mulut mereka hingga berdarah-darah. Tapi, aku masih mempertahanka harga diriku. Ya, harga diri yang sudah mereka injak-injak.
Kini, dalam kondisi menyedihkan. Aku berusaha bangkit. Akan kutunjukkan jika aku bukan ketus osis bodoh seperti yang mereka katakan. Aku akan membuktikan, bahwa omongan sampah mereka bukanlah apa-apa untukku.
_____________________________________
Sudah dua minggu sejak kejadian itu, aku lebih banyak menutup diri. Lebih banyak diam daripada berinteraksi dengan teman-teman. Rasa sakit yang kurasakan, masih jelas terasa. Ini bahkan lebih sakit daripada menghadapi cinta bertepuk sebelah tangan.
Persiapan untuk kegiatan reformasi juga mulai dilaksanakan. Aku sudah membentuk susunan kepanitiaan, dan yang menjadi ketua panitia adalah Fani. Seperti biasa, aku akan menjadi pembantu umum yang bertugas menerima laporan dari ketua.
Reformasi dilakukan sendiri-sendiri oleh osis putra maupun putri, tapi untuk acara pelantikan dan penurunn jabatan, maka akan dilaksanakan bersama.
Aku juga sudah meminta setiap koordinator seksi untuk mengurus keperluan mereka sendiri, jika ada keperluan dengan osis putra, maka akan ku temani. Seperti siang ini, Maya memintaku untuk menemaniya bertemu Risky
"Za, aku tahu kamu nggak mau ini. Tapi aku mau konfirmasi terkait konsumsi acara pelantikan sama Risky, dia ketua panitia konsumsi di osis putra ... " pinta Maya dengan sangat hati-hati
"Kalau kamu nggak mau, biar aku minta temani Fani aja, ya?"
Aku terkesiap, jangan sampai Fani bertemu Risky. Aku menghela napas panjang.
"Aku bukannya nggak mau, sih, May. Tapi aku belum siap," jawabku pelan
"Iya, itu. Aku minta temani Fani aja, ya?"
Aku diam, masih mengumpulkan keberanian dan kekuatan untuk menghadapi ini.
"Nggak, biar aja saja yang temani kamu. Aku ... " ucapku tertahan.
"Aku harus bersikap profesional"
"Kamu yakin, Za?"
Aku mengangguk, "aku ajak Egha juga, ya?"
Maya tersenyum kemudian memelukku.
Kami memilih jam istirahat untuk menemui Risky, karena saat itu keadaan sekolah sedang ramai, jadi tidak akan ada yang menuduh kami macam-macam.
Kami berjalan perlahan menuju loby, Maya ada di depan, sedangkan Aku dan Egha di belakang. Sebelumnya kami sudah membuat janji dengan Risky, jadi kami tak perlu memanggilnya lagi. Begitu kami sudah sampai di loby, Risky melambaikan tangan dan menemui kami.
Terlihat bahwa dia tengah tersenyum padaku, tapi aku buru-buru memalingkan muka. Tak sudi rasanya wajahku terlihat olehnya. Maya berdiri di depan Risky dengan jarak satu meter. Aku dan Egha di belakang Maya, membelakangi mereka.
"Za, ini kesempatanku!" bisik Maya padaku
Aku hanya mengangguk mantap dan berusaha menguatkan hatiku.
__ADS_1