
POV Risky
Aku menghela nafas panjang, kemudian menatap Ilham. Ilham nampak mengernyitkan dahi, aku masih bingung merangkai kata dan harus memulai dari mana
"Gini, beberapa hari ini ... "
Aku masih ragu untuk menceritakan hal ini. Jujur, ini adalah pertama kalinya dalam hidupku.
"Apa, Ky?"
Aku menatap Ilham lekat, "kamu jangan bilang siapa-siapa, ya?"
Ilham mengernyitkan dahi, "apaan sih? bikin penasaran aja?"
"Ck! kamu dengarkan aku dulu"
"Iya, apa?"
"Setelah aku cerita ini, kamu harus kasih aku solusi"
"Kamu ada masalah?"
Aku menggelengkan kepala
"Terus?"
Aku menghela nafas panjang, "beberapa hari ini, aku mimpi aneh terus"
"Mimpi apa?"
"Kamu tahu? dalam mimpiku ada dua wanita, ada Alfi dan juga Khanza ..., " ucapku tertahan, masih bingung merangkau kata
"Ha? serius? terus?"
"Kamu tahu, kan, kalau aku emang suka sama Alfi? dan kamu juga tahu, kan, kalau aku di tolak sama dia? Nah, disitu masalahnya"
Ilham masih terus menatapku tak percaya, "terus, terus?"
"Dalam mimpi, ceritanya aku lagi ngejar-ngejar Alfi, aku kayak lagi berusaha untuk mendapatkan dia, tapi Alfi malah mencampakkanku. Alfi sama sekali nggak menoleh ke arahku, dan dia malah lari. Nah, saat aku terjatuh waktu ngejar Alfi, tiba-tiba ada Khanza di belakangku, dia nolong aku, menyembuhkan lukaku, terus setelah sembuh, aku balik ngejar Alfi, aku jatuh lagi, terus Khanza datang nolong aku, gitu terus sampai berkali-kali," cerocosku panjang lebar dengan napas terengah-engah
Ilham masih menatapku lekat, sepertinya dia juga sama-sama bingung harus bilang apa
"Dan aku sudah mimpiin ini berkali-kali dalam beberapa hari ini," lanjutku
"Awalnya aku berpikir, ini efek dari seringnya bertemu dengan Khanza. Tapi ternyata enggak,"
Aku menunduk, "aku mimpi kayak gini seperti mendapat sebuah firasat, ini mimpi yang berbeda"
"Ky" sela Ilham
Aku menoleh,
"Kayaknya ini sebuah pertanda, deh," ucap Ilham sambil menatapku serius
"Maksudmu?"
"Ini memang bukan mimpi biasa, menurutku. Ini adalah tanda, yang menunjukkan bahwa mungkin ini saatnya kamu menoleh kebelakang, menoleh ke Khanza," jelas Ilham
Aku mengernyitkan dahi
"Dalam mimpi itu, sudah terlihat sangat jelas, jika Khanza sebenarnya lebih baik daripada Alfi, Khanza akan tetap kembali padamu meski kamu udah nyakitin dia berkali-kali"
Aku masih diam, mencoba mencerna kata-kata Ilham dengan baik
"Sebenarnya aku sudah tahu sejak lama, kalau Khanza itu tulus sama kamu. Aku udah pernah bilang, kan? Nah, dengan adanya bukti mimpi kayak gini, emang nggak akan salah, deh. Khanza emang yang terbaik" Ilham semakin mendekat padaku, seperti mencoba menyentuh hatiku dengan kata-katanya.
"Sepertinya benar ... " ucapku
"Mimpi ini, memang sebagai petunjuk bahwa saatnya Aku menoleh pada Khanza," ucapku sambil terus berpikir keras.
__ADS_1
Bagaimanapun, ini bukanlah hal yang sepele, jadi aku harus benar-benar tepat dalam mengartikan mimpi ini. Aku harus mengambil langkah bagaimana caranya untuk menyelesaikan hal ini.
"Aarghhhh! aku bingung, Ham," erangku sambil mengusap kasar wajahku
"Aku bingung, aku masih amat mencintai Alfi, makanya aku masih percaya kalau dia akan kembali padaku. Tapi setelah adanya mimpi ini? aku harus bagaimana?"
Ilham mengusap pundakku, mencoba memberi ketenangan, "kamu tenangkan diri dulu, ini memang keputusan sulit. Kamu juga jangan gegabah, jangan gunakan emosi. Keputusan tetap ada di tanganmu"
Aku menghela nafas panjang, kupikir memang lebih baik aku mencoba mendekati Khanza, mencoba melihat bagaimana responnya jika benar-benar kudekati.
Apalagi, teman-temanku termasuk Ilham, mengatakan kalau sebenarnya Khanza menyukaiku. Mungkin dengan demikian, usahaku untuk mendekati Khanza dan mencoba membuktikan mimpi itu akan jadi lebih mudah.
"Kayaknya kamu bener, deh, Ham," ucapku
"Soal apa?"
"Khanza menyukaiku, mungkin karena sangking sukanya, dia bisa masuk ke mimpiku"
"Nah, langkahmu bagaimana?"
"Aku akan coba dekati dia," ucapku mantap
Ilham menatapku tajam, "kamu serius? kamu yakin?"
Aku mengangguk yakin, "iya"
"Kalau memang itu keputusanmu, mencoba mendekati Khanza, kuharap kamu jangan sakiti dia. Jangan ceritakan dulu tujuanmu mendekati dia adalah untuk membuktikan mimpi itu," ucap Ilham penuh penekanan
"Khanza itu gadis yang baik dan jujur, jangan coba-coba sakiti dia"
"Tenang aja, Ham. Aku akan mendekatinya sebaik mungkin"
________________________________
Akhirnya, aku menemukan momen yang pas untuk mendekati Khanza. Saat itu aku tengah pulang sebentar kerumah untuk suatu kepentingan, jadi kugunakan saja kesempatan itu.
Pada awalnya aku masih ragu-ragu, apakah langkah yang kuambil ini tepat, menanyakan siapa yang disukai oleh Khanza. Tapi pada akhirnya, kulakukan saja dengan penuh rasa percaya diri.
Sejak saat itu, aku memang sudah tidak memikirkan Khanza lagi, tapi nyatanya dia malam merasuk dalam mimpiku. Dan hingga membuatku ada di posisi sekarang ini, posisi membuktikan kebenaran mimpi.
@Riskyy
Katakan, sebenarnya kamu menyukaiku atau tidak?
@ZaKhanza
Apa maksudmu?
@Riskyy
Sudahlah, katakan saja. Aku tau dari, teman-teman kalau kamu menyukaiku
Berkali-kali kulontarkan pertanyaan yang sama pada Khanza, namun dia sepertinya masih ragu. Bukan Risky namanya jika tak mendapatkan apa yang ia mau, maka kupaksa dia agar mau mengakuinya.
Tapi, Khanza memang bukanlah wanita biasa. Sebelum mengutarakan jawabannya, dia masih mengajukan syarat.
@ZaKhanza
E-eh anu, sebenarnya, gimana ya jelasinnya? Um, sebelum aku bilang, kamu harus janji akan satu hal
Pada awalnya aku merasa risih karena dia menjadi tak mudah ditaklukan, pakai syarat-syarat segala. Tapi, aku tetap mencoba mengikuti alurnya agar tak mencurigakan.
@ZaKhanza
Kamu harus janji, apapun pernyataan dari aku ini, kamu jangan pernah berubah. Jangan ngehindar, anggap saja percakapan kita ini tidak pernah ada
Aku semakin bingung, jika memang benar Khanza menyukaiku, dia takkan mengatakan hal itu.
@Riskyy
__ADS_1
Kenapa aku harus begitu? aku nggak mau melupakan percakapan ini
@ZaKhanza
Aku nggak mau hal ini mempengaruhi kita. Aku nggak mau nambah musuh cowok, udah
@Riskyy
Kenapa kita harus musuhan? Udahlah, apa jawabanmu? Apakah benar kamu suka aku?
Aku mulai geram dan kehabisa kata-kata, tapi tak dapat dipungkiri, sebenarnya aku paham bagaimana rasa khawatir yang Khanza rasakan saat ini. Dia berpikir, jika dia langsung mengatakan yang sebenarnya, dia takut dikira murahan. Atau, dia khawatir, jika setelah dia mengatakan yang sebenarnya, aku jadi benci padanya.
@ZaKhanza
Iya, Aku pernah suka sama kamu
Nah, binggo! akhirnya dia mengaku juga. Ternyata benar apa yang dikatakan Ilham, dia memang menyukaiku sejak di acara olimpiade itu.
@ZaKhanza
Tapi sebelumnya kumohon, jangan anggap aku sedang nembak kamu, aku nggak pernah mau pacaran, aku nggak mau reputasiku sebagai ketua osis anjlok. Aku bilang gini karena kamu tanya dan maksa aku. Sudahlah, lupakan. Tapi ingat, jangan berubah. Jangan ngehindar apalagi memusuhiku
Oh, jadi ini alasannya. Sebenarnya dia tidak mau berpacaran, dia hanya mau kita saling mengungkap perasaan. Baik, dapat kuterima dengan baik. Akhirnya, Khanza sudah ada di tanganku. Aku yakin, setelah ini dia akan luluh padaku dan dari situ akan terbukti, apakah mimpi itu benar adanya.
_______________________________
Liburan kali ini, akan kugunakan sebagai waktu pengujianku pada Khanza. Seberapa sabar dia menghadapi aku yang seperti ini. Jujur, aku masih belum bisa membuka hatiku sepenuhnya pada Khanza. Aku masih ingin mencoba mencintai, tapi mungkin bukan sekarang waktunya.
Setelah pernyataan pada waktu itu, dia juga menanyakan perasaanku. Aku bingung harus menjawab bagaimana, lalu kujawab saja saat liburan akan kuberitahu jawabannya dan Khanza bisa percaya begitu saja.
Aku harus membuat jawaban semeyakinkan mungkin, agar Khanza makin luluh padaku. Maaf, Za, mungkin saat ini aku masih berbohong. Belum bisa jujur jika sebenarnya aku masih belum ada rasa.
Hari-hari kulalui dengan apa adanya, aku baru menghubungi Khanza pada malam hari, itupun saat hampir tengah malam. Dan kulihat dan kuperhatikan, Khanza amat sabar menantikan kehadiranku. Dia rela begadang hanya untuk menemaniku berkirim pesan.
Aku juga masih belum bisa menjadikannya prioritas, itu terbukti jika aku baru menghubunginya saat ponselku sepi. Aku punya dunia yang harus aku perhatikan, aku memang masih belum benar-benar bisa terfokus padanya. Mungkin karena itu, karena aku masih belum mencintainya.
Hingga suatu hari, aku mulai berpikir bahwa aku terlalu jahat padanya. Aku tidak pantas untuk wanita sebaik Khanza. Dia rela menantikanku, bersabar dengan sikapku, meski tak jarang aku tak memperhatikannya.
Aku mulai melaksanakan rencana selanjutnya, rencana ini adalah rencana penentu. Rencana yang memutuskan, lebih baik aku lanjut atau tidak dengan Khanza. Meski rencana ini terkesan agak kasar, tapi aku harus tega melakukannya. Aku tak mau, dia terus tersakiti olehku.
Aku berencana untuk mengirimkan fotoku dan teman SD ku dulu. Sebenarnya ini foto lama, hanya saja foto ini yang akan kugunakan untuk memancing respon Khanza. Foto yang menampakkan aku dan temanku berpose bersama yang memang terlihat cukup dekat.
Sebelumnya aku menggunakan alibi untuk mempengaruhi Khanza, agar mulai menghindar dariku. Tapi itu tak mudah, Khaza sudah terlalu percaya padaku.
@ZaKhanza
Maka dari itu, Ky. Inilah saatnya. Kita masih dalam fase pendekatan. Kita sama-sama memahami sifat masing-masing. Pendekatan bukan hanya tentang pasangan yang baru saja jatuh cinta, tapi juga tentang pertemanan. Jujur, aku bingung dengan hubungan kita, tapi aku selalu tunjukan yang terbaik buat kamu. Dan sekarang? Kamu mau minta aku buat nggak percaya? Maaf, Aku nggak bisa
Setelah dia mengirim pesan tersebut, langsung saja ku kirim fotoku. Send! dan dia membuka fotonya. Jantungku berdegub amat kencang, menantikan respon yang akan Khanza berikan. Hingga cukup lama aku menunggu, rasa khawatir mulai menghampiriku.
Kemudian, aku spam pesan singkat padanya, ku telfon juga namun tak satu pun yang di angkat. Aku semakin kacau dan khawatir, tiba-tiba muncul sebuah penyesalan. Seharusnya aku tidak melakukan ini ... Khanza terlalu baik untuk harus menerima hal sejahat itu.
Mungkin dia berpikir, bahwa aku bermain-main dengan perempuan lain. Aku semakin khawatir, Khanza juga belum mengangkat telfonku. Hingga pada akhirnya masuk sebuah pesan darinya.
@ZaKhanza
Oh jadi begitu maumu, baiklah. Sudah sampai disini saja, jangan hubungi aku lagi
Ya, Tuhan ... dia benar-benar marah dan menganggap semua ini sungguhan. Aku benar-benar menyesal melakukan ini, jujur aku amat menyesal. Buru-buru ingin kubalas pesannya namun dia sudah terlebih dahulu memblokir kontakku.
Aku menghela nafas berat, aku amat sangat menyesal. Aku merasa amat bersalah. Huft ... lalu, apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?
___________________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya ya
Dukung author dengan bintang-bintang yang kalian punya
__ADS_1
Salam,
Khanza di dunia nyata