JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 34


__ADS_3

Aku hendak mengetikkan jawaban pada chat Risky, namun akhirnya kuurungkan.


"Win," panggilku pada Wina yang sibuk memindah file dari kamera ke komputer.


"Hmm," jawab Wina yang masih tetap fokus menatap layar.


Aku dan Wina memang bagi tugas. Wina bertugas memilah foto dan memasukkannya ke dalam desain, sedangkan aku khusus membuat desain itu sendiri.


"Aku mau tanya, nih"


"Tanya apa?"


"Um ... kalau yang jadi perwakilan siswa buat bantuan kita itu Risky ... boleh, nggak?" ucapku ragu-ragu.


Aku takut Wina salah paham. Aku takut Wina mengira, aku menolak kerjasama dengan Irwan, agar bisa bersama Risky . Padahal tidak begitu kenyataannya.


Wina menatapku, "Risky?"


Aku mengangguk dan menatap komputer lagi. Muncul chat dari Risky


@Riskyy


Gimana, Za? kamu mau? kalau mau kita langsung ketemu.


"Kenapa tiba-tiba minta Risky?" tanya Wina dengan diselipi tawa pada kalimatnya.


"Ck! bukan aku yang minta! coba deh, kamu lihat chat ini," ujarku sambil menarik tangan Wina agar melihat chat dari Risky.


Wina membacanya dengan seksama, kemudian mengangguk-angguk


"Oh iya, iya. Kenapa dia tiba-tiba nawarin diri?"


"Entahlah, gimana?"


"Kamu ini ... kenapa masih tanya, sih. Cus, lah!" ucap Wina sambil menyenggol lenganku.


"Boleh, ya? hahaha" aku langsung mengetikkan jawabanku.


@ZaKhanza


Iya, deh. Aku mau.


@Riskyy


Serius? ayok ke tangga utama. Jangan lupa bawa kameranya ya


Aku menelan ludah menahan kegugupan. Sebentar lagi aku akan bertemu Risky dengan penampilan baru. Aku benar-benar gugup. Buru-buru kuraih kamera dan berjalan keluar.


Aku berjalan pelan-pelan agar tak cepat-cepat bertemu Risky. Aku benar-benar malu. Sesampainya di dekat tangga, kulihat ada seorang cowok yang tengah berdiri masih mengenakan seragam.


Jarak kami berdiri masih dua meter, namun terasa begitu dekat. Aku amat malu, tapi aku ingin terus menatapnya. Napasku memburu, akhirnya kerinduanku terobati sudah. Riskyku ternyata baik-baik saja.


"Za ... kamu?" tanya Risky yang masih terus menatapku


Risky berjalan mendekatiku, untungnya aku masih bisa mengendalikan kesadaran dan berjalan mundur.


"E-eh! berhenti! disitu aja, jangan mendekat!" ujarku sambil menunjuk kakinya.


Risky berhenti melangkah tetapi matanya masih terus menatapku.


"Sejak kapan kacamatamu diganti?" tanyanya.


Aku menunduk dan menutup sebagian wajahku, "udah agak lama, kok ... "


"Wah, aku baru tahu. Kenapa kamu nggak cerita?" kini Risky duduk di bangku depan kelas


Aku ikut duduk, tapi tentu saja dengan jarak dua meter. Aku terlalu gugup untuk begitu dekat dengannya. Kuberanikan diri untuk membalas tatapannya, karena kuingin sekali memandangnya.

__ADS_1


"Aku malu aja yang mau cerita," jawabku pelan


"Kok malu?"


"Takut nggak bagus"


"Apanya?"


"Ini," ucapku sambil menunjuk kacamata baruku.


"Za, kamu nggak usah mikir gitu. Kamu ya kamu, bagaimanapun ya tetap untukku ... "


Risky semakin intens memandangku hingga membuat jantungku berdegub amat kencang. Untung saja, sekolah sudah sepi karena semua siswa sudah pulang satu jam yang lalu. Jika kejadian ini dilihat oleh Nana atau Fania, bisa didemo aku.


"Kamu bagus, makin cantik," lanjutnya dengan senyum yang menunjukkan lesung pipit dan gigi gingsulnya.


Aku benar-benar malu sekarang. Pipiku menghangat dan aku tak dapat menyembunyikan senyumku. Untuk mengalihkan sikapku, aku memandang ke arah lain.


"Kalau senyum ya liat ke aku, dong!" celetuknya


"Apaan, sih!" ujarku dengan senyum yang tak dapat kutahan.


Risky tertawa dan itu membuatku semakin jatuh cinta padanya. Aku bersyukur bisa menjadi salah satu alasannya untuk tersenyum. Dengan senyum itu, aku merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi orang-orang yang membenciku.


"Oh, iya. Ini kameranya" aku meletakkan kamera yang kubawa tadi di depanku, berjarak satu meter dengan Risky.


"Itu kameranya OSIS Putri, aku pinjam ke Fara"


Risky mengambil kamera itu dan mencoba membidik kesegala arah.


"Kamu nanti minta bantuan siapa buat motretin teman-teman?" tanyaku


"Gampang soal itu, mah" Risky masih mencoba membidik dan kemudian dia mengarahkan kameranya padaku, cekrek!


"Ih! kebiasaan! ngapain, sih!" aku terkejut saat Risky benar-benar memotretku.


"Hapus, nggak!"


"Nggak, wekk!" Risky menjulurkan lidahnya padaku dan semakin membuatku kesal.


"Dih! nanti dilihat teman-teman!"


"Nggak akan, setelah ini, fotonya akan kusimpan dengan aman," katanya seraya mengedipkan sebelah mata.


Aku cemberut, kemudian tersenyum. Lalu, cekrek!


"Astaga, Risky!!!" aku hendak menghampirinya namun tak jadi, aku harus menjaga jarak dengannya.


"Udah, nggak papa atuh. Bagus kok, cantik," ucapnya sambil melihat-lihat hasil potretan pada kamera itu.


"Kamu kenapa ganti kacamata?" tanyanya


"Kacamata yang lama udah nggak fokus, terus modelnya udah kuno juga," jawabku


"Eh, iya. Kamu kok masih ada di ruang osis? kan udah bukan osis lagi?" tanyaku saat mulai menyadarinya.


"Tadi aku kebetulan berkunjung, main-main ke ruang osis. Disana lagi rame, terus aku pinjam laptop buat ngehubungin kamu"


"Oh gitu, um ... aku boleh tanya nggak?"


Risky menatapku, "tanya apa, Za?"


"Kamu kenapa mau bantuin aku?" aku menggigit bibir takut pertanyaanku membuatnya tersinggung.


Risky tertawa, "kamu mau tau alasannya?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Kamu kan tadi bilang, butuh bantuan dari pihak siswa"


"Iya, terus?"


"Daripada orang lain, mending aku yang bantuin kamu. Aku nggak mau kalau orang lain, biar aku aja," jawabnya santai.


Aku mengernyitkan dahi, "ha?"


"Udah, biar aku aja yang bantuin. Aku lebih mudah buat komunikasi sama kamu. Jangan khawatir, pasti beres, kok!" lagi-lagi Risky mengedipkan sebelah matanya padaku.


Aku tersenyum. Tak kusangka aku akan sedekat ini dengan Risky. Berbicara tanpa beban dan bercanda. Kini, apa yang menjadi milikku akan tetap menetap. Begitu juga Risky, keyakinannya padaku, membuatku semakin mantap memilikinya.


_____________________________


Akhirnya urusan buku tahunan pun selesai, setelah kira-kira sebulan menyelesaikannya. Sekarang saatnya percetakan yang bekerja, kita tinggal menunggu hasilnya.


Bulan Desember adalah bulan istimewa untukku, akhir desember nanti, aku akan berusia 18 tahun. Tak terasa, aku sudah bukan remaja lagi.


Bulan Desember, juga menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh para santri karena liburan akan terjadi di bulan itu. Meski hanya seminggu, tapi para santri amat antusias.


Liburan kali ini dalam rangka memperngati maulid nabi. Dalam setahun, kami ada tiga kali liburan. Mulai dari liburan maulid nabi, liburan awal puasa dan libur lebaran.


Dalam benakku, masih terngiang-ngiang ucapan Risky saat itu. Bahwa akan ada sesuatu di liburan kali ini, tapi apa? aku tak mau berhayal terlalu tinggi karena hubunganku dengannya masih sebatas ini.


Aku sanggup menjalani hubungan sederhana, tapi untuk jenjang yang lebih tinggi, aku masih belum sanggup. Entahlah, aku hanya bisa pasrah dan menikmati hubungan ini sebaik-baiknya.


Hari yang di nanti pun telah tiba. Banyak wali santri yang menunggu kepulangan anak-anaknya di depan gerbang ponpes. Begitu juga ayahku, yang kini tengah menungguku.


"Langsung pulang?" tanya beliau


"Iya, Yah," jawabku seraya melambaikan tangan ke teman-teman


Ayah menyalakan motornya dan membawaku keluar dari lingkungan ponpes. Di perjalanan, tak henti-hentinya aku menengok kesana kemari melihat pemandangan. Sudah hampir 4 bulan aku tak melihat dunia luar, kini saatnya aku melihatnya lagi.


Suasana sore ini amat damai, angin yang bertiup perlahan, membelai jilbabku. Aku amat bahagia dengan apa yang kumiliki, kini bertambah dengan cinta. Aku telah memiliki cinta yang kudapat dari orang yang ku mau. Tak sabar rasanya aku untuk bertukar kabar lagi dengannya.


_______________________________________


Malam ini tanggal 10 Desember, itu berarti aku harus kembali ke ponpes di tanggal 17. Aku melingkari kalender yang tertempel di ruang makan.


"Kenapa di lingkarin?" tanya ibu tiba-tiba mengagetkanku


"Eh! oh ini ... hehe, biar nggak lupa kapan harus kembali ke ponpes," jawabku


Ibu mengangguk, "teman-temanmu, nggak ada yang mau main kesini?"


"Entahlah, Bu. Habisnya mereka rumahnya jauh-jauh. Ada yang di luar kota juga"


"Oh gitu, kalau ada yang mau main kesini, ya main aja," kata Ibu akhirnya sambil berlalu


Aku hanya diam saja, memikirkan suatu hal. Aku jadi ingat sesuatu. Ya, lagi-lagi aku mengingat ucapan Risky, tentang sesuatu yang akan terjadi di liburan ini.


Aku menelan ludah. Takut, sesuatu yang ku khawatirkan akan dilakukan oleh Risky. Aku belum siap. Sebentar, tidak-tidak. Aku menghela napas.


"Oke, semua akan baik-baik saja. Semoga tidak terjadi," gumamku meyakinkan diri sendiri.


_________________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya yaaa..


*dah lah  wkwk capek aku ngetik -_-


Salam,


Khanza di dunia nyata

__ADS_1


__ADS_2