
Aku tak percaya, tindakanku mengirimi Risky foto akan berujung demikian. Aku tak terbiasa jika harus bertemu dengan cowok di luar seperti ini, apalagi statusku masih menjadi santri.
@ZaKhanza
Ha? mau nyamperin? kenapa?
@Riskyy
Maksudnya kenapa? ya mau nyamperin
Aku menggigit bibir, ingin rasanya aku menolak secara halus namun hatiku tak sampai. Cukup lama aku mendiamkan chat dari Risky, sampai-sampai dia menelfonku. Terlalu gugup, ku tolak panggilan itu.
"Mbak, Risky mau kesini!" kataku pada Mbak Fia yang tengah asyik bermain ponsel
"Apa? kamu serius?" tanya Mbak Fia tak kalah terkejut
Aku mengangguk, "gimana ini?"
"Kalo suruh datang aja gimana?"
"Aku takut--"
Ting! suara notifikasi memutus ucapanku.
@Riskyy
Kamu dimana, Za? mumpung aku lagi di kota ini
Jantungku berdegub tak karuan. Huft! benar-benar Risky amat pandai membuat jantungku olah raga.
"Mbak, gimana ini? aduh, aku deg-degan!" aku bergetar hebat.
Rasa yang kini menyelimutiku hampir sama saat Risky mengatakan akan datang ke rumah.
"Udah, suruh dia datang aja, aku juga pengen tau," ucap Mbak Fia sambil tertawa.
"Ya Tuhan, aku takut!" aku menggigit bibir dan terpejam.
Haruskah aku mengatakan lokasiku? aku benar-benar amat takut karena ini di luar rumah. Takut ada yang melihat kami. Selera makan yang tadi kurasa, kini hilang entah kemana.
"Ini, Mbak, pesanannya," kata pelayan yang mengantar makanan kami.
Pelayan meletakkan makanan dan minuman di atas meja, sedangkan aku masih gusar diliputi kegelisahan. Hingga kemudian,
@ZaKhanza
Aku ada di kafe pelangi
Aku menyuapkan ayam teriaki kedalam mulutku seraya menanti balasannya. Cukup lama kunanti mungkin Risky sedang di jalan.
"Kenapa takut, sih, Mbak?" tanya Adel yang juga tengah menyendokkan es krim pot bunganya tadi.
"Aku masih santri, kalo kita ketemuan di luar kayak gini itu nggak enak rasanya, takut ada yang melihat," jawabku sambil sesekali melirik ponsel.
"Lagian disini kita, kan, di dalam kafe, ga bakal ada yang liat" Mbak Fia juga turut memberi komentar.
Mereka begitu menikmati makanan terkecuali aku, yang rasanya perutku sudah terasa penuh. Aku benar-benar tak nafsu makan. Ah! sial! Ting! ponselku berbunyi.
@Riskyy
Kafe pelangi yang mana?
@ZaKhanza
Di jalan MT. Hariono, dekat toko buku
@Riskyy
Oke, meluncur
Aku menghela napas panjang dan menutup wajahku. Kubiarkan ayam teriaki dan es krim stroberiku teronggok di atas meja.
"Nggak dimakan?" tanya Mbak Fia
"Aku hilang nafsu makan," jawabku murung
"Loh, mau ketemu cowoknya, kok, murung?" Mbak Fia mencoba menggodaku.
"Huuu! Mbak Fia! aku kan nggak pernah ketemuan-ketemuan gini," keluhku terdengar putus asa.
Mbak Fia dan Adel hanya tertawa. Aku mendengus kesal. Hampir 20 menit aku terdiam hingga terdengar suara motor yang terhenti di depan kafe. Aku menoleh, dan ternyata Risky! Aku menggigit bibir dan memalingkan wajah.
Jujur, perasaanku saat ini melebihi saat Risky datang ke rumah, entahlah. Aku melirik sekilas, dia datang bersama temannya. Dia tengah memesan sesuatu dan kemudian mencari tempat duduk di dekatku.
Aku sadar dia tengah menatapku tapi aku memilih diam dan menunduk. Aku bingung harus memulai percakapan darimana, lidahku benar-benar kelu. Padahal ini bukan pertama kali kita bertemu.
Tiba-tiba ada yang menendang kakiku, sontak aku meringis kesakitan dan menoleh pada Mbak Fia. Nampak Mbak Fia tengah melotot padaku, kemudia melirik Risky. Sedangkan Adel hanya tertawa mengejek.
__ADS_1
"Um ... baru datang, Za?" tanya Risky yang seketika membuatku terkejut.
Aku mendongak dan spontan menoleh ke arahnya, "e--eh iya, oh nggak, udah dari tadi"
Aku menggigit bibir meluapkan kekesalan pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku bersikap konyol seperti ini. Kemudian Mbak Fia menendang kakiku lagi dan melotot.
"Kamu tanya-tanya juga, dong!" bisiknya penuh penekanan.
Aku terperanjat, "Ka--kamu dari mana?"
"Dari rumah teman," jawabnya datar.
"Dimana?"
"Di daerah Kaliwangi"
Aku menghela napas dan mulai bisa bersikap santai. Aku memasukkan ayam teriaki ke dalam mulutku, hingga,
"Kamu katanya mau melamar dia?" celetuk Mbak Fia yang dia tujukan pada Risky.
Aku langsung tersedak mendengarnya dan menendang kaki Mbak Fia.
"A--apa?" tanya Risky terbata sambil tersenyum canggung pada Mbak Fia.
"Apa, sih! nggak ada!" ucapku pada Risky yang juga diselipi senyum canggung.
"Mbak! apaan, sih!" aku melotot pada Mbak Fia. Yang dipelototi hanya cengar-cengir.
"Aku mbaknya Khanza dan ini adekku," ucap Mbak Fia memperkenalkan dirinya dan Adel.
Aku menepuk jidat, Ya Tuhan, memalukan sekali!
"Oh, iya, Mbak, aku Risky" Risky juga akhirnya memperkenalkan diri.
Aku terdiam, bingung harus bagaimana lagi. Tiba-tiba,
"Za" Risky memanggilku
Ragu-ragu aku menoleh, "i--iya?"
Risky hanya tersenyum memandangku yang sontak membuatku salah tingkah. Aku memalingkan wajah kemudian menunduk.
"Za, sini duduk di dekatku, kamu nggak pengen?"
Aku melotot, tak percaya dengan apa yang Risky ucapkan barusan. Jantungku kembali berpacu.
Tak terbayang olehku aku duduk di dekat Risky, Arrrghhh! tidak!
"Loh, kenapa? dia udah jauh-jauh datang kesini, loh," Mbak Fia malah mendukung ucapan Risky.
"Iya, ya, Mbak. Cuma sebentar, kok. Di foto aja," ucap Risky terdengar bersemangat.
Aku melirik sekilas ke arah Risky, tanpa sengaja, teman Risky yang sedari tadi diam, kini nampak menahan tawa.Uh ... aku benar-benar malu. Aku menoleh ke arah Risky dan tersenyum selebar mungkin.
"Sini" Risky menepuk kursi yang ada di sampingnya.
Aku menghela napas pendek dan berdiri. Bahkan, saat berdiri pun, tubuhku menjadi amat lemas. Ku kuatkan diri untuk melangkahkan kaki mendekati Risky. Begitu sampai, aku duduk di kursi tadi, berjarak agak jauh dari Risky dan tetap menunduk.
Tanpa aba-aba, Risky menarik kursiku agar menempel pada kursinya hingga membuatku terkejut.
"Eh, eh!" celetukku sambil mencoba menjaga keseimbangan.
Kini kursi kami menempel dan jarak kami sudah semakin dekat.
"Mbak, tolong fotoin," ucap Risky seraya menyerahkan ponselnya pada Mbak Fia.
"Oke" Mbak Fia meraih ponsel Risky dan mulai membidik kami.
Aku mencoba tersenyum ke arah kamera namun terasa kaku. Cukup lama rasanya karena Mbak Fia memotret kami berkali-kali.
"Udah ya?" aku berdiri dan berjalan ke kursiku.
Baru saja aku duduk, Risky sudah menyusulku untuk ikut duduk di kursiku. Aku amat terkejut dan hendak menjauh, namun Risky menarik gamisku.
"Disini aja? mau kemana?" tanyanya sambil tersenyum nakal.
"O--oh, iya. Nggak kemana-mana," ucapku seraya duduk kembali.
Kini kami hanya berjarak 5cm dan itu membuat jantungku kembali berpacu. Berkali-kali aku menghembuskan napas agar tidak merasa gugup.
"Foto lagi ya?" tawar Risky seraya mengarahkan kamera selfie.
Aku terperanjat. Sungguh malu harus foto selfie apalagi di depan Risky.
"Ayok," ucap Risky
Aku mulai tersenyum dan berusaha bersikap santai. Risky berselfie ria dengan berbagai macam gaya sedangkan aku hanya tersenyum canggung.
__ADS_1
"Kamu lucu, ya?" Risky melihat-lihat hasil jepretan tadi.
"Kenapa?"
"Gugup banget keliatannya"
Aku menggigit bibir dan menahan malu. Akhinya dia menyadari sikapku.
"Udah nggak papa, makasih ya," ucapnya seraya berdiri dan mengusap kepalaku.
Aku terkejut dan mendongak menatapnya. Senyum itu terlihat amat tulus kepadaku. Aku bahagia kegugupanku tiba-tiba luruh seketika.
Risky meraih tasnya di atas meja dan temannya pun ikut berdiri.
"Aku pulang, ya?" ucapnya padaku masih dengan senyuman yang manis.
Aku mengangguk, "hati-hati"
Risky mengedipkan sebelah mataya dan menyodorkan tangannya ke arahku. Aku bingung kemudian menatapnya, ragu-ragu ku raih tangannya dan begitu tangan kami menempel dia menggenggam tanganku erat.
Aku masih menatapnya, mencari kekuatan pada sorot mata itu. Kekuatan untuk semakin mencintainya setulus hati. Aku tersenyum dan dia juga tersenyum.
Sore ini, adalah sore paling indah. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pertanda senja akan berakhir, aku mendapatkan kekuatanku dari cinta yang kumiliki. Risky, kamu milikku.
_________________________________
Aku sudah kembali ke ponpes sejak satu minggu yang lalu. Setelah liburan, kehidupan dan aktifitas kembali seperti biasanya. Mengaji di ponpes dan belajar di sekolah.
Satu bulan lagi, tepatnya awal Bulan Februari. Hari-hariku akan padat dengan ujian-ujian. Apalagi tahun ini, semua bentuk ujian di lakukan dengan CBT (computer base test) jadi kami harus benar-benar fokus dengan ujian.
Tapi, siang ini sepulang sekolah, kami masih harus berurusan dengan Pak Ridho lagi.
"Pak, kami udah kelas 12, seharusnya udah pensiun," keluh Wina
Pak Ridho terkekeh, "emang udah tua? kok pensiun segala"
"Maksudnya, kan ada adek-adek kelas, kenapa bukan mereka aja?"
"Saya sudah terlanjur sreg (pas) dengan kerjaan kalian," jawab Pak Ridho santai.
Aku hanya diam menikmati perdebatan Pak Ridho dan Wina yang tak kunjung usai. Pak Ridho meminta kami untuk memeriksa kelengkapan data siswa kelas 12 yang akan ujian bulan depan.
"Uh, Pak Ridho!" Wina akhirnya mengalah dan menuju ke salah satu komputer.
Aku dan Wina sudah teramat dekat dengan Pak Ridho. Kami pun sering mengobrol ringan dan saling curhat. Apalagi Pak Ridho orang yang ramah dan supel. Kami selalu nyaman saat bertukar cerita dengan beliau.
Aku mengikuti Wina dan duduk di depan komputerku.
"Datanya masih yang kemarin ya, Pak?" tanyaku seraya mencari folder di library.
"Iya, yang itu, cuma ngelanjutin dikit," sahut Pak Ridho kemudian meninggalkan kami di lab.
Suasana hening karena aku sama Win sama-sama fokus memeriksa data. Setelah cukup lama kami sama-sama diam, tiba-tiba,
"Za, gimana kamu sama Risky?" tanya Wina yang tanpa sadar sudah ada di dekatku.
Aku mengernyitkan dahi sambil tersenyum, "kenapa? ahaha ya baik-baik aja"
"Cerita, dong!"
"Cerita apa?"
"Apa aja! aku pengen dengar ceritamu sama Risky," rayu Wina sambil terus mendekatiku.
Semenjak Win tahu kalau Risky semakin serius menjalani hubungan denganku, Wina semakin respect dengan Risky. Dia selalu memuji-muji Risky bahwa Risky adalah cowok yang baik dan bertanggung jawab.
Padahal jika mengingat awal-awal hubungaku dengan Risky dulu, Wina sempat memarahiku. Hahaha, sekarang semua telah berbalik. Lalu aku menceritakan kejadian-kejadian yang ada saat liburam kemarin, saat Risky datang ke rumahku.
"Wah, hebat ya Risky itu! nggak nanggung-nanggung, langsung datang ke rumahmu," ucap Wina seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sendiri nggak percaya, dia mau datang ke rumah" Aku melanjutkan pekerjaanku.
"Dia kayaknya serius sama kamu, Za," ujar Wina sambil menatapku lekat.
Aku masih fokus menatap layar, "iyakah?"
Wina menggangguk, "kamu tungga aja, deh. Bentar lagi kamu akan benar-benar di lamar"
Aku ngernyitkan dahi, bagaimana mungkin Wina menebak hal itu, padahal aku tak pernah bercerita tentang ucapan Ilham dulu. Mungkinkah, Wina hanya asal tebak? Menanggapinya, aku hanya tersenyum.
"Hahaha, bisa aja kamu, Win, kalo benar gitu, aku udah pasti pingsan"
Tak lama, muncul notifikasi dari komputerku. Aku lupa kalau aku menyalakan ikon WIFI, otomatis semua notifikasi akan muncul. Kulihat, ada pesan dari Risky, ada apa, ya?
______________________________
Mendekati Part terakhir!!!!! jangan lupa vote dan komentarnya yaaaa
__ADS_1