
"Um, jadi gini, Za ... "
Jantungku kembang kempis, napasku terasa sesak. Akhirnya, aku akan tau kebenaran ini semua!
"Gimana, Ky?"
"Um, gimana ya jelasinnya?"
Aku diam saja, aku tak ingin memaksa, aku ingin dia mengatakan itu sesuai dengan isi hatinya.
"Sebenarnya aku sudah tertarik sama kamu sejak pertama kali bertemu, saat kamu memprotesku di musholah? Ku pikir kamu adalah perempuan paling berani yang pernah aku temui, makanya aku langsung tertarik," jelasnya
Aku mengernyitkan dahi, apa benar Risky begitu?
"Kamu serius?" tanyaku tak percaya
"Aku serius, Za. Aku terus ikutin kamu, selalu baik sama kamu, ya meski sebenarnya pernah marah-marah juga, hehe. Tapi saat itu jujur, aku nggak serius marah. Justru aku nyesel habis marah sama kamu. Maka dari itu, aku langsung berusaha baikin kamu, biar kamu nggak terus-terusan benci sama aku," lanjutnya lagi.
Tanpa terasa, senyum sudah tersungging di bibirku. Aku merasakan pipiku mulai memanas.
"Kamu beneran serius, kan, Ky?" tanyaku sekali lagi memastikan ini bukan mimpi.
"Beneran, Khanza. Apalagi teman-teman banyak yang bilang kalau kamu sendiri suka sama aku, jadi aku beranikan diri buat tanya ke kamu. Aku semakin yakin buat jalani ini sama kamu," imbuhnya lagi.
Ya Tuhan, ingin rasanya aku melayang hingga ke awan menembus langit. Akhirnya, Risky benar-benar kembali padaku.
"Jadi, hubungan ini apa?" tanyaku hati-hati
"Kita anggap, kita saling memberitahu apa yang kita rasakan. Nggak perlu pacaran, kamu nggak mau pacaran, kan?"
"Hu'um"
"Nah, begini saja ya, cukup kita yang merasakan kebahagiaan ini," katanya lagi.
Lagi-lagi Aku dalam kondisi kebimbangan, Aku takut rasa yang kini tengah berbunga tak bisa bertahan lama. Aku takut merasakan sakit lagi.
"Tapi Ky, Aku takut," kataku
"Takut kenapa?"
"Takut sakit lagi, takut rasa yang kumiliki ini tak bertahan lama," keluhku
Karena memang benar, aku takut tiba-tiba hilang rasa karena belum lama aku mengenalnya.
"Jangan takut, aku akan menjamin rasa ini bertahan lama," katanya terdengar mantap
"Dengan cara apa?"
"Kita yang akan melakukannya bersama, percayalah," kata Risky akhirnya membuatku seketika tenang kembali.
Dadaku bergemuruh, jantungku semakin tak karuan. Entah berapa kali aku menghentak-hentakkan kakiku pada kasur tempatku berbaring kini.
Tak ayal, sudah sangat lama aku tidak merasakan cinta yang sesungguhnya, cinta yang saling memberi. Inilah yang aku mau, Risky jadilah milikku.
"Ky, aku mau tanya boleh?"
"Iya? tanya aja. Apa yang nggak buat Khanza, hum?"
Duh! ingin rasanya aku mencakar-cakar tembok tak kuasa menahan rasa bahagia ini. Apakah ini mimpi?
"Kamu serius nggak ada hubungan apa-apa sama Alfi?"
"Iya, Za. Nggak ada kok, kenapa?"
"Um, Aku cuma takut merusak hubungan kalian," jawabku sekenanya
Karena memang alasanku bertanya bukanlah demikian. Aku bertanya hanya untuk memastikan, bahwa Alfi sudah tidak terikat dengan Alfi.
"Nggak kok, Za. Udahlah, kamu santai aja. Kini aku sepenuhnya milikmu," katanya diiringi suara tawa yang terdengar begitu renyah.
Pipiku sudah terasa sakit, karena sedari tadi tidak berhenti tersenyum. Ah, Risky, kenapa kamu suka mengaduk-aduk hatiku?
"Ah, apa an sih, Risky! Malu tau!"
"Loh, kok malu? pasti seneng, ya? apalagi ini pertama kalinya kamu telfonan sama cowok, iya kan?"
Ah, sial! Kenapa dia masih mengingat itu? makin malu aku jadinya.
"I-iya"
"Hm... Bagus dong! Ini berarti mengesankan untukmu, semoga kamu bahagia, ya?"
Iya, Ky. Aku bahagia, sangat bahagia.
Malam itu, Aku dan Risky terus berbincang, bercanda dan tertawa bersama hingga shubuh menjelang. Berkali-kali dia mengeluarkan celetuk yang membuatku terbang kemana-mana.
Ah, Risky. Bahagianya aku sudah memilikimu. Setelah apa yang selama ini aku inginkan selalu gagal, akhirnya dapat kugapai juga. Semoga, saat ini tidak kembali membawa luka.
_______________________________
Seperti permintaan Risky kemarin, aku sudah menginstall aplikasi WhatsApp dan memverifikasi nomornya. Kemudian, aku membagikan nomorku pada ruang chat Risky, aku juga ingin membagikan nomorku pada teman-teman agar dapat berkomuniskasi dengan mereka. Maka, aku menyebar link nomorku di beranda aplikasi biruku. Send!
Setelah itu, aku membuka lagi ruang chatku dengan Risky. Tak ada balasan, hanya ada sisa chat semalam saat aku berpamitan padanya. Itu artinya, dia sama sekali belum online. Kemana dia? Apa dia sibuk, ya?
Tak lama, muncul notifikasi pada aplikasi WhatsAppku, Ting! Aha! Ini pasti Risky.
@NoName
Selamat pagi, Bu Ketua!
Mataku berbinar, membaca chat yang baru saja masuk pada aplikasi itu. Dan lagi-lagi, dia memangilku dengan panggilan itu, panggilan yang selalu membuatku rindu.
@ZaKhanza
Selamat pagi juga, Pak Ketua!
Balasku buru-buru, aku tak mau dia menunggu terlalu lama.
Ting! Masuk lagi nofitikasi.
@NoName
Ehe, apa kabar, bu?
Aku mengernyitkan dahi, kenapa dia malah tanya kabar? bukannya baru tadi malam kita telfonan?
@ZaKhanza
__ADS_1
Ya pasti baik dong, Pak. Bapak sendiri apa kabar?
Kupikir tak salah jika harus menanyaakan kabar, toh mungkin saja itu salah satu bentuk perhatiannya padaku.
@NoName
Pasti baik juga. Kalau Bu Ketua baik, pasti aku baik, Ahaha
Aku tertawa, bisa-bisanya cowok ini merayuku. Ah, makin bahagia aku dibuatnya.
@ZaKhanza
Bisa aja, sih!
@NoName
Eh Bu, ini nomor baru, ya?
@ZaKhanza
Iya, kan bapak yang minta kemarin?
@NoName
Masa? Eh aku lupa, hahaha
Ku pandangi foto profil pada kontak tersebut. Nampak potret seorang cowok yang tengah menghadap kebelakang, mengenakan kaus orange tengah berdiri di depan tenda, Oh jadi Risky ini suka ikut perkemahan, ya? Baru tahu aku.
@NoName
Eh Buk, Ibu bukannya dulu ikut Olimpiade Madrasah yang di Provinsi itu, ya?
Aku mengernyitkan dahi, kenapa dia tiba-tiba tanya itu?
@ZaKhanza
Iya, Pak. Kenapa?
@NoName
Di tingkat kabupaten, Ibu juara berapa?
@ZaKhanza
Juara satu, makanya terus diutus maju di tingkat provinsi
@NoName
Wah, keren. pasti banyak pengalamannya
Aku tersenyum dan tersipu malu
@ZaKhanza
Alhamdulillah, Pak. Banyak pengalaman, juga banyak teman
@NoName
Iya loh! Hum, sayangnya aku nggak bisa maju tingkat provinsi, hanya sampai tingkat kabupaten, hahaha
Aku terkejut, memangnya Risky pernah ikut lomba? sama Aku? tapi kapan?
@ZaKhanza
@NoName
Loh, iya. Masa lupa, sih? Hahaha
Aku semakin bingung, seandainya dia pernah ikut lomba, harusnya aku ingat dan sudah pasti kenal.
@ZaKhanza
Emang Bapak pernah ikut lomba apa?
Tanyaku akhirnya
@NoName
Bahasa Inggris, masa beneran lupa?
Ha? Astaga? Apa benar?
@ZaKhanza
Loh, bukannya yang waktu itu ikut lomba bahasa inggris itu Irwan, ya?
@NoName
Iya emang! Aku emang Irwan, Bu!
Apa? Jadi, dari tadi Aku chattingan dengan Irwan dan bukannya Risky? Ya Tuhan, kepalaku pening dan dadaku sesak, apalagi ini?
Tiba-tiba, foto profil pada kontak itu berubah menjadi foto wajah Irwan yang nampak dengan jelas. Yasallam, jadi ini benar-benar Irwan? Dapat dari mana dia nomorku? Atau mungkinkah dia ambil di berandaku? Ya Tuhan, aku kecewa. Sangat kecewa.
Buru-buru kubuka ruang chatku dengan Risky di aplikasi biru, dan benar saja. Ruang itu masih saja sama, belum ada tanda-tanda si empunya akun @Riskyy itu tengah online.
Aku menghela napas, kenapa harus berurusan dengan Irwan? Ah, kemana saja Risky ini. Tiba-tiba muncul notifikasi pada WhatsAppku
@NoName
Bu, kok lama nggak di balas?
Aku menatap chat itu dengan nanar, bukan ini yang aku mau. Aku mau Risky, bukannya Irwan. Akhirnya, kuabaikan saja ruang chatku dengan Irwan, aku mau menunggu Risky saja.
_________________________________
Ternyata, hubungan ini tidak sepenuhnya buatku bahagia. Nyatanya, Risky masih belum memprioritaskan aku. Aku tak sanggup meminta, apalagi memaksa. Aku hanya bisa menunggu, meski tengah malam dia baru menghubungiku, tak apa. Aku akan tetap menanggapinya.
Meski dalam hati, ingin sekali aku tanyakan kemana saja dia? kenapa baru menghubungiku tengah malam? tapi aku tak bisa. Selalu muncul rasa tak enak hati yang menahaku untuk bertanya. Ah, aku hanya bisa pasrah.
Apakah memang begini yang namanya hubungan "hanya mengetahui perasaan" ?bisa ditinggal dan disinggahi sesukanya, padahal diri ini sangat rindu dan sangat ingin berbinacang serta bercanda. Risky juga tidak pernah bercerita padaku, apa yang tengah di lakukan, kemana perginya dia.
Sering juga kulihat, di timelineku, dia asyik berkomentar ria dengan teman-teman ceweknya. Sesekali juga berbalas komentar dengan Alfi. Aku hanya bisa bersabar dan bersabar. Jika aku merundungnya dengan berbagai larangan, aku takut malah membuatnya tak nyaman dan meninggalkanku, aku tak mau itu.
Terkadang, sambil menunggu Risky membalas chatku, aku juga berbalas chat denga Irwan. Kurasa, Irwan asyik juga orangnya. Dia selalu menuangkan ide-ide segar di sela-sela chat kami. Aku juga mulai merasa nyaman dengannya, tapi aku juga masih tau diri. Aku masih dalam ikatan dengan Risky, jadi aku harus tahu batasku.
Bahkan berkali-kali Irwan memberiku kode-kode yang menyatakan bahwa dia menyukaiku, tapi aku selalu menepisnya. Selalu menganggap itu hanya bualan. Aku takut dia semakin menjadi-jadi hingga akhirnya benar-benar menyatakan cinta padaku, aku tak mau itu, hingga tiba-tiba suatu hari
__ADS_1
@Irwan
Za, Aku boleh tanya sesuatu?
@ZaKhanza
Tanya apa, Ir?
@Irwan
Seberapa dekat Kamu sama Risky?
Aku terbelalak, kenapa tiba-tiba dia menanyakan itu? Ya Tuhan, jangan sampai dia menyatakan perasaan padaku
@ZaKhanza
Um, ya hanya teman saja. Sebatas ketua umum dan wakilnya, emang kenapa?
@Irwan
Kamu yakin?
@ZaKhanza
Iya, ada apa, sih!
@Irwan
Nggak papa, kok
Aku mengernyitkan dahi, seperti ada sesuatu yang tengah Irwan sembunyikan entah apa itu. Aku tak mau mengoreknya terlalu dalam karena takut dia terlena, akhirnya kudiamkan saja chat itu begitu, hingga dia lupa.
________________________________
Malam ini, aku tengah asyik berbalas chat dengan Risky, kembali dia membawa banyak kebahagiaan untukku. Kembali membuatku tertawa dan melupakan pikiran negatifku tentangnya. Ah, semua ini memang butuh waktu untuk terbiasa.
Meski dia masih belum bisa memprioritaskanku, setidaknya dia masih ada untukku dan kembali padaku. Aku akan jadi rumah untuknya, belajar mencintai dengan ikhlas karena dia menjamin rasaku agar bertahan lama.
Hingga tiba-tiba, muncul nofitikasi pada Aplikasi WhatsAppku. Ada sebuah nomor tak dikenal mengirimiku sebuah chat
@NoName
Assalamualaikum, Mbak Cantik
Ha? Siapa ini? dilihat dari foto profilnya, dia ini seorang cewek. Wajahnya tidak terlihat karena sebagian tertutup oleh stiker.
@ZaKhanza
Waalaikumussalam, ini siapa, ya?
Balasku, siapa ini? mengapa memanggilku begitu?
@NoName
Aku Zizah, Mbak. Ingat?
Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat Zizah yang mana. Dan akhirnya ku ingat juga
@ZaKhanza
Ah iya, aku ingat. Zizah anak IPA adik kelasku, kan?
@Zizah
Nah, betul, Mbak. Hehe
@ZaKhanza
Ada apa, Dek?
@Zizah
Nggak ada, Mbak. Save ya nomorku
@ZaKhanza
Oh, oke, Dek.
Cukup lama dia tak membalas chatku, hingga akhirnya
@Zizah
Mbak, dapat salam dari seseorang
Aku mengernyitkan dahi, salam dari siapa?
@ZaKhanza
Dari siapa, Dek?
@Zizah
Dari Mas Irwan, kangen katanya
Mataku terbelalak. Ha? Apa? Irwan? Bagaimana Irwan mengenal Zizah? dan kenapa menitip salam seperti itu?
@ZaKhanza
Kamu siapanya Irwan, Dek?
Balasku, sungguh anak ini membuatku penasaran.
@Zizah
Aku adiknya, Mbak. Adiknya Mas Irwan.
Seketika tubuhku melemas, Ya Tuhan? Apalagi ini?
_______________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya ya
Dukung Author dengan bintang-bintang kalian
Salam,
__ADS_1
Khanza di dunia nyata