
"Kamu udah sarapan?" tanya Risky padaku saat aku tengah menggigit semangka yang tadi diberinya
Aku menggeleng, "kok belum sarapan?" tanyanya
"Um ... males aja aku," jawabku sekenanya
"Aku belikan, ya?" tawarnya
"Nggak perlu, jangan repot-repot," tolakku
"Siapa juga yang repot?" Risky berlalu meninggalkanku dan menuju teman-temannya.
Aku hanya menghendikkan bahu kemudian lanjut membantu Maya.
___________________________________
Acara sudah dimulai, semua peserta mengikuti dengan khidmat. Aku sudah memasuki barisan dan fokus pada acara. Acara pertama adalah pelepasan jabatan, yang akan dilakukan oleh anggota osis lama.
Aku dan Hamdan maju kedepan menghadap kepala sekolah, diikuti oleh ketua osis yang baru. Pelepasan jabatan di simbolisasi dengan penyerahan selempang jabatan. Mataku berkaca-kaca tak kuat menahan haru.
Begitu selempang ketua osis diberikan pada kandidat terpilih, Fara, air mataku meluruh juga. Tak hanya aku, semua anggotaku, Maya, Egha, Hani, Uni, Anita, Fani dan semuanya juga sama. Mereka tak kuasa menahan air mata yang memaksa untuk menyembul.
Saat kami sudah kembali ke barisan, aku langsung berlari keluar barisan dan menangis sejadinya. Tak hanya aku, teman-teman ternyata melakukan hal yang sama. Mereka sontak memelukku dan menangis bersama.
Satu tahun kita melewati suka duka menjadi bagian dari osis, tak hanya nama yang kita dapat, tapi juga persahabatan. Kami mengingat bagaimana kami sibuk mempersiapkan berbagai acara untuk para siswa, tapi ternyata banyak siswa yang membangkang pada acara kami.
Kami saling menguatkan, disaat masalah banyak menghadang, kami selalu ingat janji kami untuk saling memaafkan. Saling mengingatkan agar pertengkaran tak berlangsung lama. Melalui osis ini juga, kita belajar saling menghargai perbedaan pendapat. Tak jarang kami bertengkar dengan osis putra, saling mengolok bahkan saling bermusuhan. Tapi, justru itulah yang akan kami rindukan.
Bahkan, melalui osis aku temukan tambatan hati yang kini menjadi milikku. Seseorang yang berkali-kali menyakitiku, namun aku tetap tak berhenti menyukainya.
"Za, makasih udah jadi ketua yang baik selama ini. Membimbing kami biar nggak manja ... " ucap Maya diiringi isakan.
"Za, akhirnya lepas juga tanggung jawab kita, semoga kita bisa jadi lebih baik ... " Hani memelukku erat
"Kalian, terima kasih sudah mendukungku. Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa. Aku tidaklah hebat tanpa kalian. Kalian ... adalah sumber inspirasiku," kataku sambil menatap satu persatu wajah sembab itu
"Uh ... pokoknya Khanza is the best, deh," Uni memelukku semakin erat
"Kalianlah yang terbaik, ingat ... jangan nakal-nakal ya, sudah kelas 12," ujarku sambil berusaha tertawa
"Ah, bentar lagi ujian! Hu ... " keluh Egha sambil menyeka air matanya
Aku dan teman-teman tertawa, kami menangis karena bahagia. Bersyukur sudah mendapat pengalaman terbaik dan berkumpul dengan orang-orang sehebat mereka.
Disela-sela momen seperti itu, aku menoleh ke barisan osis putra. Mereka juga melakukan hal yang sama, saling berpelukan dan saling menguatkan. Lalu tiba-tiba Risky menatapku dan tersenyum melihatku.
Buru-buru kupalingkan wajah karena malu sebab mataku sudah amat sembab. Lalu aku menoleh lagi, dan Risky masih menatapku kemudian mengedipkan sebelah matanya. Aku tertawa dan menutup wajahku.
_________________________________________
"Za, kok ngelamun aja, sih," ujar Maya kemudian duduk di sampingku.
Acara sudah selesai 20 menit yang lalu dan teman-teman osis juga tengah beristirahat. Namun, aku masih enggan beranjak. Berbagai kenangan indah di osis masih melekat dalam benakku.
"Aku masih belum percaya kalau aku sudah lepas tanggung jawab," lirihku dengan menatap lurus kedepan.
"Pengen jadi osis lagi?" tanya Maya dengan sedikit tawa
"Nggak, bukan! capek aku jadi osis, hahaha ... "
"Ya, gimana ya. Senang aja gitu udah jadi bagian dari mereka ..." lanjutku
Maya memegang tanganku, "inilah yang namanya pengalaman adalah guru yang terbaik. Kita dapat banyak pelajaran yang nggak akan kita dapatkan bangku sekolah tapi bisa kita dapatkan di organisasi"
__ADS_1
Aku mengangguk, "melalui osis juga, aku jadi punya haters," celetukku dan kami pun tertawa
Tiba-tiba, cekrek! aku dan Maya terkejut, ada suara kamera di sekitar kami. Aku mencari sumber suaranya dan ternyata Risky! dia tengah memotret kami dari jarak 1,5 meter.
"Ih, apaan, sih, Risky!" keluhku sambil menutupi wajah.
"May, kamu minggir. Aku mau motret bidadari yang habis nangis," ujar Risky sambil terus membidikku
"Hahaha, emang kenapa sih meskipun aku ikut difoto?" tanya Maya sambil pura-pura marah.
"Jangan, nanti Latif cemburu," celetuk Risky dengan polosnya
Aku tertawa dan cekrek!
"Yes! dapet!" ujar Risky sambil tersenyum lebar
"Ih, Risky! hapus fotoku!!" keluhku sambil berlari berusaha mengambil kamera DSLR itu
"Eh, nggak boleh. Enak saja. Foto ini punyaku!" ucap Risky
"Mau buat apa? jelek juga!"
"Terserah aku lah mau buat apa, wekk!" katanya sambil menjulurkan lidah
Aku cemberut dan cekrek!
"Yes! dapat lagi! hahaha"
"Ya ampun! hapus!"
Risky berlari menghindari kejaranku sambil terus mengejek. Meski dalam hati aku rasanya amat bahagia, tapi tetap saja aku malu. Penampilanku sudah tidak paripurna, mata sembab dan hidung merah. Sungguh menyebalkan.
"Eh, Khanza, Maya, ayo makan dulu!" panggil Egha dari ruang konsumsi
"Ini kita ditraktir Risky, katanya ini PJ, hahaha," lanjut Egha sambil tertawa.
"Pajak Jadian!" jawab Egha dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Mataku terbelalak dan berlari menuju Egha untuk menutup mulutnya.
"Sip! kamu keren,Gha," celetuk Maya sambil bertoss ria dengan Egha.
"Biar yang disana panas," ucap Egha dengan suara pelan
"Siapa?" tanyaku
Egha menunjuk ke arah taman, aku menoleh, ternyata ada Nana dan komplotannya yang tengah menatap kami.
Aku menepuk jidat, "aduh ... kalian ini! gimana, sih?"
"Sstttt! biar ini jadi pelajaran!" ucap Maya
Kemudian kami memasuki ruang konsumsi, sebelum masuk, aku sempat menoleh ke basecamp. Mataku tertabrakan dengan pandangan Fania, ternyata sedari tadi dia melihat kami. Dilihat dari tatapannya, ada segurat kekesalan yang ditujuka padaku. Aku hanya menghela napas dan tersenyum.
______________________________
Selepas dari habisnya masa jabatanku, aku kembali hidup normal. Menjadi siswa biasa yang hanya fokus pada sekolah. Kini aku sudah menginjak kelas 12, maka aku harus semakin fokus.
Bukan hanya di sekolah, di ponpes pun, aku sudah menginjak kelas yang lebih tinggi dengan pelajaran yang juga lebih sulit. Aku harus benar-benar memfilter, mana yang harus benar-benar kupikirkan.
"Za, kamu tahu kalau ada kenaikan kelas mengaji pagi?"
Aku yang tengah melipat-lipat baju siang itu sontak menoleh, "kamu serius? kukira hanya ada kenaikan kelas diniyah"
__ADS_1
"Iya, pengumumannya akan diumumkan besok pagi," kata Oliv sambil berpindah duduk di dekatku
"Kamu kata siapa?"
"Tadi Ustad Munir nelfon kesini"
Aku menghela napas, "aku naik nggak ya ... "
"Pasti naik kalau kamu, mah. Tapi aku bingung, kita naik ke kelas pengajian kitab apa ya?"
"Mungkinkah naik ke kelasnya Kyai?" tanyaku memastikan
"Maksudmu, ngaji kitab di ndalem? bareng cowok-cowok?" Oliv berbalik tanya padaku
Aku menelan saliva dan mengangguk, "mungkin aja ... "
"Duh, yang bener? aku nggak siap," keluh Oliv
"Aku pun ... "
Aku cukup takut jika mengaji sekelas dengan santri putra. Meski dalam majlis kami terpisah oleh tembok, tapi saat mengaji nanti akan ada sesi membaca kitab. Dan dalam sesi tersebut, santri putri yang kedapatan jadwal akan membaca dengan menggunakan mikrofon dan itu amat membuat santri putri grogi.
"Kita lihat besok, Za," ujar Oliv menatapku
_________________________________
Pagi yang kutunggu telah tiba, selepas sholat shubuh aku langsung menuju papan pengumuman untuk melihat daftar santri yang naik kelas mengaji. Begitu sampai, tempat tersebut sudah penuh sesak dengan para santri yang juga ingin melihat pengumuman.
"Za!"
Aku menoleh, ternyata Oliv memanggilku.
"Gimana?" tanyanya seraya mendekatiku
"Kamu lihat sendiri, masih ramai. Aku nggak bisa liat," kataku seraya membetulkan kacamataku yang melorot.
Oliv terlihat tak sabar, dia menerobos kerumunan agar bisa sampai kedepan papan pengumuman.
"Permisi, permisi, orang cantik mau lewat," celetuknya tanpa merasa bersalah
Aku hanya melihat dan tertawa, tiba-tiba
"Za! tebakanmu benar!" teriaknya yang sontak membuatku terkejut
Buru-buru kususul Oliv dengan menerobos kerumunan. Jantungku berdebar, aku takut apa yang ku khawatirkan jadi kenyataan. Begitu sampai, aku langsung melihat namaku
"Ah, benar! kita masuk di kelas paginya Kyai," ujarku sambil terus melihat nama-nama yang terpampang disana
"Ki--kita dapat jadwal baca hari apa, Za?" tanya Oliv ragu-ragu
Aku masih fokus mencari namaku, kemudian mataku terbelalak, "Ya Tuhan! aku satu jadwal sama Risky!" kataku hampir berteriak
Oliv menatapku kemudian melihat jadwal baca, "kamu benar ... "
Aku masih tak percaya, aku dan Risky sekelas mengaji kitab dengan jadwal baca di hari yang sama. Hal yang kutakutkan, akhirnya terjadi!
_____________________
Jangan lupa vote dan komentarnya, Gaes wkwk
Karena ini kisah nyata, maka cerita ini kubuat senyata mungkin dengan kejadian asli. Meski sedikit kutambahkan unsur fiksi, tapi tak mengurangi keaslian cerita.
Kalian akan tahu, sebuah kebenaran di akhir kisah. So, ikutin terus ya
__ADS_1
Salam,
Khanza di dunia nyata