
POV Risky
Sepanjang hari, aku terus memikirkan cara untuk menebus kesalahanku pada Khanza. Aku sadar aku telah melakukan hal buruk pada gadis sebaik dia. Meski niatanku adalah menunjukkan diriku yang sesungguhnya, kurasa itu memang bukan cara yang baik.
Jika aku menjelaskan lewat chat di aplikasi biru, apakah Khanza akan menerimanya? tidak. Aku harus menemukan cara lain, cara yang berkesan untuk Khanza. Aku juga tak akan menceritakan kejadian ini pada siapapun, meski pada Ilham. Aku tahu, Ilham akan benar-benar memarahiku.
Sejenak aku berpikir, kemudian
"Ah, iya! sepertinya ini ide bagus!"
Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka lemariku. Mencari benda yang akan kugunakan untuk melancarkan ideku.
"Semoga aku membawanya," gumamku
Setelah cukup lama mencari akhirnya ketemu. Sebuah buku harian yang biasanya kugunakan untuk mengungkapkan isi hatiku. Memang aku tak setiap hari menulis disini, karena aku menulis jika memang benar-benar ada kejadian berkesan buatku.
Aku membuka tiap lembarnya, sedikit membaca bagian-bagiannya dan sesekali aku tertawa. Ternyata, cowok playboy sepertiku juga suka menulis buku harian. Buku ini belum pernah dilihat oleh siapapun kecuali aku.
Aku berniat menuliskan permintaan maaf dan klarifikasi tentang foto itu lewat buku ini. Biarkan Khanza menjadi orang kedua yang bisa membaca buku ini selain aku. Entahlah, meski aku baru mengenalnya dalam 3 bulan ini, aku bisa begitu percaya padanya. Apalagi setelah melihat betapa sabarnya dia menghadapi sikapku yang masih suka main perempuan, aku semakin yakin bahwa dia perempuan paling baik yang pernah kutemui.
Aku menghela nafas panjang, merenungi kesalahanku yang sudah menyakiti hatinya. Hatiku gelisah, ini adalah pertama kalinya aku merasa bersalah sudah menyakiti hati perempuan. Memang benar firasatku, hatiku perlahan menjadi lebih lunak semenjak mengenal Khanza.
Kemudian kuraih bulpoin, dan memulai menulis untaian kata maaf. Aku yang masih belum sempurna ini, belum bisa menjadikannya prioritas karena aku masih belajar memahami, belajar menghargai perasaan.
_______________________________
Sudah tiga hari semenjak kembalinya para santri ke pesantren, belum sekalipun aku bertemu dengan Khanza. Jangankan bertemu, membalas pesanku saja tidak. Aku semakin khawatir, Khanza akan benar-benar marah dan pergi. Aku juga takut, dia takkan memaafkanku.
Sudah berkali-kali aku mengiriminya pesan namun tak kunjung terbalas juga, hingga pada akhirnya di hari keempat
@Riskyy
Aku tahu Kamu online, Za. Kenapa nggak membalas chat ku?
Pesanku pada Khanza akhirnya. Aku tahu hari ini dia akan online, dan dia masih belum juga membalas pesanku.
@ZaKhanza
Buat apa?
@Riskyy
Aku mau minta maaf, Za. Kenapa kamu mem-blok nomor WhatsAppku?
@ZaKhanza
Katakan, kamu mau apa?
@ZaKhanza
Oh tunggu dulu, sebelum itu aku mau minta maaf, Ky. Jika selama mengenalku, kamu merasa ilfiel atau eneg. Kamu sekarang bebas, jangan pikirkan aku, aku akan urus diriku sendiri
Nafasku tertahan, ini apa maksudnya? apakah Khanza bermaksud meninggalkanku?
@Riskyy
Za, jangan ngomong itu. Aku mau buat pengakuan sama kamu
@ZaKhanza
Nggak perlu
@Riskyy
Aku ingin kasih pinjam kamu buku harianku, buku yang selama ini hanya aku sendiri yang tau, disitu kamu akan tau semuanya, sungguh
@ZaKhanza
Sudahlah, Ky. Jangan kau lanjutkan
Aku mengusap wajahku kasar
@Riskyy
Za, kumohon. Aku sangat merasa bersalah
@ZaKhanza
Lantas?
@Riskyy
Terimalah bukuku, setidaknya bacalah dulu. Bagaimana responmu nanti, aku tak peduli. Asal, bacalah dulu bukuku
__ADS_1
@ZaKhanza
Baiklah
@Riskyy
Benar? Oke tunggu aku di tangga utama. Aku ada di ruang osis.
Aku mengehela nafas lega, akhirnya Khanza masih mau menemuiku. Buru-buru aku berlari menuju tangga utama. Hingga saat aku tiba disana, aku dikejutkan oleh penampilan Khanza.
Dia mengenakan pakaian yang hampir sama denganku. Baju batik berwarna army gelap dengan motif awan di pinggangnya. Ingin rasanya aku tertawa saat ini, tapi setelah melihat ekspresi Khanza, akhirnya kuurungkan.
"Ini," ucapku sambil tersenyum
"Apa ini?"
"Bukuku, buku harianku," jawabku
"Perlu, ya kamu ngasih ini ke aku?"
"Terima saja. Entah kamu bakal percaya atau nggak, itu urusan kamu. Tapi kumohon, terima dan baca ini"
Dia mengulurkan tangan, akhirnya mau menerima
"Ini serius?" tanyanya lagi
"Serius banget, Za. Setelah kamu baca, kamu nulis sesuatu ya, disitu. Apa aja, pokoknya harus nulis. Nanti kalau sudah selesai, kamu kasih ke aku lagi"
"Iya deh, iya"
Buku itu didekapnya di dalam jilbab, aku tertawa melihatnya
"Za" panggilku.
"Jangan sampai ada yang tau, ya, cukup kita berdua," kataku seraya mengedipkan mata.
Dia mengernyitkan dahi dan buru-buru lari. Akhirnya aku bisa tertawa, sudah ku pastikan pipinya pasti memerah.
________________________________________
Tak kusangka, Khanza akan mempercayaiku lagi. Tak dapat diragukan bahwa dia memang perempuan baik. Dia sudah memaafkanku meski sudah kusakiti hatinya. Aku menghela napas, membaca surat balasan dari Khanza di buku harianku. Tutur katanya, motivasinya, membuatku semakin yakin dengan kehadirannya.
Apalagi saat mengembalikan buku ini, dia juga memberiku hadiah. Tak pernah kusangka memang, dia akan mengetahui hari kelahiranku. Sebuah bingkisan kecil dengan kertas kado berwarna biru. Aku tertawa, ternyata dia manis juga.
"Ini dari siapa?" tanya bapak tiba-tiba saat aku tengah membereskan pakaianku setibanya aku di rumah.
Mataku terbelalak, "bapak, kok, ikut bukain isi tas ku, sih," gerutuku
Bapak diam saja dan tersenyum, kemudian membuka bingkisan dari Khanza itu
"Wah, bagus ini sorbannya," ucap bapak sambil membuka lebar-lebar sorban tersebut.
Aku menoleh, ternyata Khanza memberiku sorban. Aku hanya diam dan tersipu malu. Lalu, ada secarik kertas yang jatuh dari sorban tersebut dan segera kuambil.
-Ky, Happy Milad yang ke 18 tahun. Semoga sorban ini bermanfaat, ya. Semoga kamu jadi lebih dewasa-
Aku tersenyum, lagi-lagi Khanza memberiku kejutan manis.
"Siapa yang ngasih ini?" tanya bapak sambil menggodaku
"Khanza, Pak," jawabku santai
"Siapamu?"
"Gebetan"
Bapak tertawa dan akhirnya meninggalkanku. Yes! bapak suka.
________________________________
"Bapak pengen tahu, yang mana Khanza itu?" tanya bapak tiba-tiba saat kita tengah duduk santai
Aku mengernyitkan dahi, "apa, Pak?"
"Bapak pengen tahu, yang mana Khanza itu" ulang beliau
"Buat apa?"
"Cuma mau tau aja," jawab beliau santai
Aku menelan ludah, "bapak mau melihat fotonya?"
Beliau mengangguk
__ADS_1
Aku menggigit bibir, jujur aku gugup sekali. Kenapa bapak mau tahu foto Khanza? lalu kucarikan foto Khanza di galeri aplikasi birunya. Aku mengambil foto Khanza yang tengah mengenakan jilbab biru dongker tanpa kacamata.
"Ini, Pak," kataku seraya menyodorkan ponsel.
Cukup lama beliau mengamati dan jantungku berpacu lebih cepat.
"Kamu suka sama dia?" tanya bapak akhirnya.
"Suka, Pak," jawabku dengan polosnya.
"Dia terlihat seperti gadis baik"
"Dia memang baik, pintar juga," jawabku berusaha santai menutupi kegugupan.
Apa, sih, yang sebenarnya direncakan bapak?
"Kalau kamu memang suka, bapak akan mintakan dia ke orangtuanya," ujar bapak sambil menatapku
Mataku terbelalak, "ma-maksud, Bapak?"
Bapak tertawa, "iya, bapak akan mintakan dia ke orangtuanya untukmu, gimana?"
Aku masih terkejut, tak percaya jika bapak akan langsung mengatakan itu setelah melihat foto Khaza. Ada apa sebenarnya dengan foto Khanza? aku langsung melihat ponselku, menatap foto Khanza lekat-lekat.
"Hei, gimana?" tanya bapak lagi
"E-eh gimana, ya? kalau Risky, mah, nurut Bapak saja, deh," jawabku malu-malu
"Kamu suka, kan?"
"Iya, Pa. Suka. S-u-k-a," jawabku dengan malu-malu
"Oke, nanti akan bapak mintakan. Sekarang sekolah dulu, yang serius. Terus jalin hubungan baik sama dia, ya," kata bapak akhirnya sambil menepuk bahuku. Aku hanya mengangguk.
Aku masih belum bisa percaya jika bapak sudah merestui hubunganku dengan Khanza. Ya Tuhan? inikah jawaban dari mimpi-mimpiku tersebut? inikah jawaban dari semua keraguan itu? aku masih tak percaya. Ini ... ini ... benar terjadi padaku.
_______________________________
"Kamu serius bapak bilang gitu?" tanya Ilham dengan mata terbelalak.
Aku mengangguk sambil tersenyum
"Gila! keren banget!" puji Ilham sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Apanya yang keren? hahaha"
"Sumpah! ini ... ini ... benar-benar keren! kayaknya mimpimu waktu itu memang sebuah petunjuk," ucap Ilham masih dengan ekspresi kekaguman.
Aku mengangguk mantap, "kamu benar, ini memang benar-benar di luar nalar ... "
"Aku yang dulu nggak suka sama sekali sama Khanza, akhirnya memilih dia sebagai pencarian terakhir! mimpi itu memang benar-benar membuatku tobat!" ujarku
"Di tambah restu dari bapakmu, kita semakin yakin bahwa Khanza memang pilihan terbaik"
Aku mengangguk lagi
"Lalu, gimana rencanamu?" tanya Ilham kemudian.
Aku berpikir sejenak, "entahlah, aku masih bingung. Aku harus menceritakan hal ini atau tidak pada Khanza. Aku takut dia akan syok. Aku juga masih memikirkan rencananya kedepan. Khanza pernah bercerita padaku, bahwa dia akan berkuliah di luar kota. Itulah yang buat aku khawatir"
"Kenapa?"
"Itu artinya aku akan terpisah dengan Khanza dan aku tak mau itu terjadi ... " aku menghela napas
"Ku pikir, dia tak perlu berkuliah. Jika memang dia akan 'jadi' denganku, dia hanya cukup menemani ibuku di rumah, biarkan aku yang bekerja, apalagi aku anak tunggal, maka, bagaimanapun Khanza akan kubawa," kataku seraya menatap lurus kedepan.
"Wah, rencanamu ternyata sudah sejauh itu, ya ... " ujar Ilham juga sambil menatap lurus kedepan.
Aku menghela napas, "mungkin ini barakah yang kudapat saat aku menjadi ketua umum olimpiade ... "
"Aku menemukan perempuan sebaik Khanza, sesabar Khanza. Aku benar-benar tak mau melepasnya, sayang, dia anaknya sangat patuh dan penurut" lanjutku kemudian.
Aku menghela napas lagi, semua ini masih butuh waktu. Proses yang akan kulalui dengan Khanza masih sangat panjang. Akan ku manfaatkan waktu itu dengan sebaik mungkin. Seperti kata bapak, aku harus selalu menjaga hubungan baik dengan Khanza, dengan tambatan hatiku yang terakhir.
____________________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya
Dukung author dengan bintang kalian.
Salam,
__ADS_1
Khanza di dunia nyata