JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 31


__ADS_3

Aku mulai menjalani kehidupan 'normal'. Tanpa tugas-tugas organisasi dan hanya fokus pada tugas sekolah dan ujian. Waktuku di sekolah, tinggal beberapa bulan lagi, maka harus kumanfaatkan sebaik mungkin.


Aku juga sudah hampir menyelesaikan masa tugasku di kru majalah, jika majalah edisi semester ini terbit, maka tugasku pun selesai dan akan digantikan anggota baru.


Hubunganku dan Risky juga baik-baik saja. Kami sudah jarang bertemu dan berkomunikasi. Mungkin kami sesekali bertemu ketika tak sengaja melihatnya di kantin atau di depan kelasnya.


Kami hanya tersenyum dan saling pandang kemudian sama-sama membuang muka. Bukan bermaksud menghindar, namun itulah cara kami untuk mencari garis 'aman' tentang hubungan ini.


Atau tak sengaja bertatap muka saat pengajian kitab pagi. Jujur, aku amat tak percaya harus satu kelas dengan Risky, apalagi jadwal membaca kitab kami juga sama.


Aku bingung sekaligus senang, ini kebetulan saja ataukah sebuah pertanda? terkadang aku memikirkan pesan Ilham waktu itu. Hingga detik ini, Risky belum juga mengatakan apapun padaku.


Aku hendak bertanya, namun bimbang. Takut jika memang itu tak benar adanya. Aku masih menunggu dan menunggu. Menunggu Risky memutuskan langkah hubungan kita.


Aku menghela napas, memikirkan banyak hal membuatku amat lelah. Aku melepas kacamata dan memejamkan mataku.


"Kamu kenapa, Za?" tanya Maya sesaat setelah melihatku meletakkan kepala di atas meja.


Aku mengangkat kepala dan mengusap mataku pelan.


"May, kayaknya aku harus ganti kacamata baru, deh," keluhku sambi mengelap kacamataku dengan kain khusus kacamata


Maya menoleh, "kenapa?"


"Kayaknya yang ini sudah nggak fokus, aku agak buram saat melihat tulisan di papan tulis ... "


"Aku ... juga pengen ganti model kacamata. Yang ini udah kuno banget," lanjutku kemudian bertopang dagu menatap lurus kedepan.


"Kalau kamu nggak nyaman, mending ganti aja, Za. Jangan dipaksain," ujar Maya


"Kalau emang jadi, aku mau ijin pulang. 3 Hari paling lama,"


Maya mengangguk kemudian tersenyum.


____________________________


"Za, hari ini hari terakhir kita ngerjain majalah, loh. Besok jangan lupa untuk mengajukan revisinya ya," ucap Wina sambil terus fokus menatap komputer.


Sama halnya denganku, aku masih amat fokus menyelesaikan desain terakhirku. Hingga butuh waktu beberapa saat agar aku paham dengan ucapan Wina.


"Aku ... kayaknya besok nggak sekolah, Win," ucapku santai


Wina menoleh, "loh, kenapa?"


"Aku mau pulang, mau periksa mata dan ganti kacamata"


"Oh, gitu. Berapa hari?"


"Um ... paling lama tiga hari, keknya"


"Yah ... aku sendirian, dong!"


Aku mengernyitkan dahi, "apanya?"


"Ck! ya mengajukan revisinya!" decak Wina yang mulai terlihat sebal


"Hahaha, gitu aja sewot. Belum aku tinggal satu bulan ... "


"Kamu, kan, udah gede! ya sesekali ajak anak-anak lain lah. Ajak Mira juga bisa, atau Fara!" lanjutku hingga membuat si empunya naman menoleh.


Aku hanya tertawa kemudian kembali fokus bekerja. Tiba-tiba, ting!


@Riskyy


Assalamualaikum, Za


Aku terkejut, Risky? ada apa menghubungiku?


@ZaKhanza


Waalaikumussalam, Risky


@Riskyy


Apa kabar, Za? lama, ya, nggak ketemu ...


Aku tersenyum


@ZaKhanza


Alhamdulillah, Baik. Ye ... baru aja tadi siang ketemu di kantin


@Riskyy


Justru itu ...


@ZaKhanza


Apanya?


@Riskyy


Makin ketemu, makin bikin pengen ketemu terus


Aku tersipu malu, Risky sudah tak canggung lagi untuk berterus terang dengan apa yang dia rasakan. Begitu juga aku. Sudah mulai terbuka dengan apa yang kupikirkan.


@ZaKhanza


Yaudah, nggak usah ketemu-ketemu lagi


@Riskyy


Loh, bukan gitu solusinya


@ZaKhanza


Apa?


@Riskyy


Ada, deh. Nanti ya, nunggu liburan


Aku mengernyitkan dahi, dan tiba-tiba dadaku terasa sesak karena jantungku memompa lebih keras. Ada apa dengan liburan?

__ADS_1


@ZaKhanza


Ada apa dengan liburan?


@Riskyy


Udah, jangan dipikirkan. Makin kamu tanya, aku makin nggak mau jawab. Pokoknya tunggu aja!


Aku menelan ludah. Liburan masih tiga bulan lagi. Mau apa lagi dia?


@ZaKhanza


Iya deh, terserah kamu


@Riskyy


Hahaha, kali ini aku mau cerita sesuatu sama kamu


@ZaKhanza


Apa?


@Riskyy


Ini bukan masalah besar, tapi kalau dibiarkan, dia akan terus merajalela


Lagi-lagi aku mengernyitkan dahi, siapa yang dia maksud? aku berpikir sejenak, mencoba mengingat-ngingat siapa yang berulah akhir-akhir ini .... ah! jangan-jangan ...


@ZaKhanza


Siapa, Ky? ada apa?


Aku takut, Risky sudah mendengar kabar tetangku dan Irwan. Dan yang lebih kutakutkan adalah, Risky akan salah paham dengan semua kabar itu.


@Riskyy


Kamu kenal Riko?


Ah, ternyata bukan. Tapi, siapa? Riko?


@ZaKhanza


Riko? anak IPS?


@Riskyy


Nah, iya itu


@ZaKhanza


Kenapa? aku nggak kenal-kenal banget, sih. Cuma tau aja, soalnya dulu pernah lomba bareng-bareng.


@Riskyy


Kemarin, dia ngomong sama aku


@ZaKhanza


Ngomong apa?


@Riskyy


Aku mengernyitkan dahi, apa?


@ZaKhanza


Ha? tanya apaan?


@Riskyy


Dia tanya, kalau dia suka sama kamu, gimana responku? gitu


@ZaKhanza


Ha??? nggak salah?


@Riskyy


Lanjut, terus belum kujawab, dia udah nanya lagi, kalau kamu mau diambil dia, gimana responku?


Mataku terbelalak, apa-apaan ini? Riko, berani bertanya begitu pada Risky? aku tak habis pikir, apa yang ada dipikirannya. Aku sebenarnya sudah lama tahu, kalau Riko memang agak 'berbeda' padaku, tapi aku memang tak menganggapnya serius, dan ini?


@ZaKhanza


Terus, kamu jawab gimana?


@Riskyy


Simple aja


@ZaKhanza


Gimana?


@Riskyy


Kalau kamu mau, ambil aja. Tapi jangan harap, dia juga mau sama kamu. Udah gitu. Terus aku pergi ninggalin dia


Aku tertawa, menyadari suatu hal bahwa Risky tengah cemburu.


@ZaKhanza


Hahaha, jawabanmu kejam banget


@Riskyy


Terus, aku mau jawab gimana? ngasih kamu ke dia? nggak lah


@ZaKhanza


Kenapa? kenapa nggak kamu kasih aja?


Aku sengaja menggodanya, agar dia terlihat semakin cemburu

__ADS_1


@Riskyy


Kamu sudah jadi milikku, dan akan tetap jadi milikku


Aku tertawa lagi, tak kusangka Risky akan menjawab demikian. Kini aku terasa sempurna, dengan rasa cinta yang diberikan oleh Risky, rasa memiliki dan dimiliki


@Riskyy


Za, kuharap kamu mengerti. Mengerti dimana batasmu, jangan sampai hatimu goyah, karena diriku tak sedikit pun goyah tentangmu


@ZaKhanza


Ky, percayalah padaku. Aku akan tetap untukmu


Senyumku mengembang, karena memang kenyataannya, kini tak ada sedikit pun keraguan atas Risky. Aku sudah percaya.


_________________________________


Aku dalam perjalanan pulang untuk periksa mata. Aku berencana pulang selama 3 hari, sambil menunggu pesanan kacamataku jadi. Akhirnya, aku akan muncul dengan penampilan baru.


Kacamata yang kupakai ini, memang terlihat amat kuno. Model kacamata bening dengan frame tipis berwarna hitam. Bingkai kacamatanya pun, hanya sebatas bagian atas dan samping saja.


Terkadang aku merasa tak percaya diri dengan penampilanku. Dulu, saat aku tak punya hubungan dengan siapa-siapa, aku fine-fine saja dengan penampilan, bodo amat. Tapi, setelah aku memiliki hubungan dengan Risky, aku mulai memikirkan ulang hal ini.


Melihat perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan Risky, seperti Alfi, Fania, Nana, semuanya cantik. Tapi terkadang, ada saja yang menyebutku cantik, entahlah. Atau aku hanya terlalu insecure.


Tapi meskipun begini, ternyata juga masih ada yang menyukaiku. Seperti Irwan dan juga Riko. Salahnya, mereka datang disaat aku sudah memiliki tambatan hati. Aku tak habis pikir, apa yang membuat mereka menyukaiku?


"Mau yang model apa, Mbak?"


Lamunanku buyar karena seseorang yang melontarkan pertanyaan padaku. Terlihat seorang wanita paruh baya tengah tersenyum manis di depanku, seketika aku merasa canggung.


"E-eh ... Iya, Bu. Um ... yang mana ya?"


Aku melihat-lihat di rak yang ada di depanku. Terdapat ratusan model kacamata mulai dari yang elegan, simpel, hingga dengan model yang lucu dan imut.


Aku bingung, ingin rasanya memilih model kacamata yang imut karena ada temanku yang juga memakainya, tapi kembali lagi, apa aku PD? mengingat, wajahku sama sekali tak ada imut-imutnya.


"Coba yang ini," celetuk ayahku sambil menunjuk salah satu model kacamata.


Ayah menunjuk sebuah kacamata sederhana dengan kaca yang agak lebar dan besar. Model kekinian namun akan terlihat dewasa jika aku memakainya.


"Warna hitam?" tanyaku


"Biar cocok kalau mau pake baju warna apapun," jawab ayah.


Aku tertawa dan mulai mencoba kacamata itu. Terlihat bagus dan juga dewasa. Pilihan yang tepat dan aku suka.


"Yang ini aja, deh"


"Yang itu, ya, Mbak? yakin?" tanya ibu tadi sambil melihat-lihat kacamata yang barusan kupakai.


Aku tersenyum dan menganguk mantap.


"Baiklah, ayo kita periksa matanya," ajak Ibu itu sambil menggiringku kesebuah ruangan.


Diruangan itu, terdapat sebuah kursi besar dan berbagai macam alat yang aku tak tahu namanya, juga sebuah gambar--lebih tepatnya tulisan-- dengan berbagai ukuran. Mulai dari yang terkecil hingga yang amat besar.


"Oke, kalau nggak pakai kacamata gini, kamu liat huruf apa aja?" tanya Si Ibu sambil menyiapkan kacamata yang bisa dibongkar pasang.


"Um ... cuma huruf yang paling besar itu ... huruf M. Sama ... um ... " aku mencoba memaksimalkan pandanganku untuk melihat huruf di bawahnya.


"H .. K, I, terus lanjutannya aku nggak keliatan, hehehe," kekehku


"Wah, banyak ya ternyata, coba pakai ini," kata Si Ibu sambil memasangkan kacamata besar dengan pengait pada framenya. Pemgait yang digunakan untuk mengaitkan kaca saat melakukan tes mata.


"Apa saja yang terlihat?" tanyanya lagi


"Yang bawah sudah kelihatan, P, J, Z, D, F ... "


"Bawahnya lagi"


"H, R, A, T, Y ... "


"Bawahnya lagi?"


"Nggak kelihatan, Bu," ucapku


"Oke, coba lagi," kata Si Ibu sambil menambah kaca pada kacamata yang kupakai


"D, L, P, O, U, K ... "


"Bawahnya lagi?"


"G, D, E, W, J ... "


"Nah, sudah. Wah ... coba kita lihat, berapa minusnya?" tanya Si Ibu sambil menghitung kaca pada kacamata yang kupakai


"6, minus 6. Kedua mata sama-sama minus 6," ucap Si Ibu


"Oke, sekarang coba jalan, hati-hati" Si Ibu menuntunku berdiri dan berjalan


"Kamu liat sekitar, liat di luar sana, jelas, nggak?"


"Jelas banget, Bu. Jernih dan bersih," ucapku dengan senyum yang tak hentinya terukir.


"Agak pusing?"


"Iya"


"Mata kamu masih mengalami penyesuaian, nanti kalau kacamatanya udah jadi, kamu akan merasa agak pusing, antara 2-3 hari, jadi, siap-siap, ya," jelas Si Ibu sambil membereskan alat-alat


Aku mengangguk mantap dan tersenyum puas. Kali ini, aku akan hadir dengan penampilan baru, kacamata baru. Bagaimana, ya, respon Risky?


_____________________________


tbc.


Jangan lupa vote dan komentarnya dong gaes wkwk ... ini kisah nyata yang sengaja aku tulis untuk mengabadikan momentnya.


Vote dan komentar kalian, adalah semangatku ❤


Salam,

__ADS_1


Khanza di dunia nyata


__ADS_2