JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 4


__ADS_3

Cahaya Matahari pada Hari Jumat ini sangat cerah, secerah suasana hatiku tatkala merasakan bahwa perjalanan agenda ini akan segera selesai. Pagi ini masih pukul 06.00 WIB, namun matahari sudah keluar untuk menyongsong hari terlebih dahulu.


Aku dan seluruh santri putri tengah berjalan santai menuju lapangan pusat yayasan untuk melaksanakan kegiatan senam rutin setiap jumat. Kami berjalan beriringan sepanjang jalan membentuk garis panjang dan teratur.


Kami sama -sama menggunakan jilbab almamater ponpes. Karena kami santri dan berada di lingkungan ponpes, maka pakaian yang kami gunakan untuk senam pun tak luput dari gamis, rok, tunic atau gardigan.


Tak ada kaos olahraga ataupun celana training, karena kami santri putri dilarang memakai itu. Akan tetapi meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk berolah raga, karena setelah senam, kita akan bermain-main. Hari Jumat adalah 'Hari Raya' mingguan para santri.


____________________________


"Khanza!"


Merasa ada yang memanggil, aku pun mencari sumber suara.


"Hei!" Teriaknya sambil memukul pundakku dari belakang.


"Ya ampun, Fani, kamu ngagetin aja!" Sungutku sambil memukul lengannya.


"Hehe, habisnya, sih, Kamu bengong aja!"


"Capek tau, aku habis main spring"


"Oh iya, nanti jam berapa kita kumpul di sekolah? jadi,kan, kerja baktinya?"


"Jadi dong, Kita berkumpul pukul 9 saja"


"Hmm iya iya, pakaiannya? Kita pakai apa?"


"Pakai aja kaos seragam osis kita, yang warna merah itu. Kemarin kayaknya sudah aku umumkan deh waktu rapat anggota."


"Hehe iya, kemarin aku ke kamar mandi waktu Kamu mengumumkan itu"


Aku hanya manggut-manggut.


"Oke, deh, aku kesana dulu, ya, sampai ketemu nanti"


"Oke."


_____________________________


Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB, dan aku pun telah siap menuju sekolah. aku memilih berangkat dengan Egha dan Maya, karena ada suatu alasan.


"Hmm, aku mau cerita sesuatu, nih," Ucapku tiba-tiba


"Mau cerita apa? Pasti tentang Risky, ya?" Tebak Maya.


Aku hanya mengangguk.


"Menurut kalian, aku ini suka, cinta atau kagum, sih? Aku bingung. Jujur, aku bukan tipe cewek yang gampang suka sama cowok. Aku, tuh, pilih-pilih banget soal cowok, tapi kenapa sekarang jadi beda, ya?"


"Kamu ngerasa berbeda saat ketemu Risky mulai kapan?" Tanya Egha sambil menatapku.


"Entahlah, aku merasa ini mengalir begitu saja."


"Coba deh kamu rasain, daya tarik apa yang bikin Kamu luluh buat maafin dia?" Kini Maya ikut mengintrogasi.


"Jadi gini, kan selama ini, selama Kita jadi anggota osis, nggak ada, tuh kan ya, yang perhatian, telaten, dan dermawan sama kita anggota osis putri. Baru saat ini aku rasain, ada cowok yang melindungi dan menjaga gitu, entah ini namanya apa yang jelas aku senang aja bareng dia ... "


Aku menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan kata-kataku


"Kemarin waktu kita ngechek peserta yang daftar di loby, tiba-tiba ada yang mengejek kita tuh, manas-manasin kita, godain kita lah. Secara, aku malu dan reflek menjauh, dan Risky? dia malah tersenyum dan salah tingkah gitu, aku jadi makin bingung, dia maunya apa," kataku yang terdengar seperti keputus asaan.


Egha dan Maya diam, seperti tengah menganalisis sesuatu.


"Kayaknya itu salah satu bentuk kekagumanmu sama Risky. Kalian kenal nggak lama, kan? masih dapat 2 bulan jalan, kurasa kayak gitu. Tapi kagum juga tidak menutup kemungkinan terjadinya rasa suka kemudian cinta. Cinta itu jahat, Za. Tak peduli luka kita masih menganga atau nggak, cinta akan tetap menerobos luka kita, baik itu akan memberi bahagia atau luka lagi," Jelas Egha panjang lebar.


Aku, lagi-lagi menghela nafas.


"Aku takut jatuh cinta ... " Ujarku lirih.


"Sudahlah, Za, aku paham dengan apa yang kamu rasakan. Lukamu karena Hamdan belum juga pulih, lebih baik kamu fokus menyembuhkan luka itu, tapi tidak dengan cinta, lakukan dengan hal lain," Jelas Maya kemudian dengan mengelus pundakku.


"Apa yang buat kamu takut jatuh cinta, Za?" Tanya egha.


Aku masih diam dan menunduk, kemudian


"Pertama, aku masih dalam fase patah hati dan ingin move on, aku masih ingin menyembuhkan luka ini. Kedua, aku tidak yakin ini cinta ataukah perasaan suka atau bahkan hanya kagum. Jujur sikap dan pandangan Risky sangat membuatku bingung, terkadang membuatku nyaman dan merasa terlindungi saat bersamanya, tapi yang ketiga disisi lain ... " Ucapku tertahan


"Ketiga apa, Za?" tanya Egha dan Maya hampir bersamaan.


"Kurasa dia bersikap seperti itu hanya ingin membentuk chemistri denganku, karena ..."


Aku menghela nafas dan berusaha tersenyum


"Sepertinya Dia menyukai gadis lain"


Egha dan Maya menatapku bingung.


____________________________


Saat kami tiba di sekolah, sudah ada beberapa anggota osis putra dan putri yang berkumpul. Mereka masing-masing membentuk kelompok dan duduk yang berjauhan, tentunya untuk menghindari fitnah. Aku hendak berjalan ke bawah pohon asem dan meminta anggotaku untuk berkumpul disana, tiba-tiba


"Khanza!"

__ADS_1


Aku gelagapan dan mencari-cari sumber suara


"E-eh, Alfi, ada apa?"


"Nanti kita selesainya pukul berapa?"


"Ummm, entahlah. Aku tak dapat memastikan, tapi nanti pas waktunya sholat jumat, kita semua pulang dan kembali lagi pukul 14.00 WIB," jawabku


Dan aku merasa, dari ujung sana ada sepasang mata yang mengawasi kami. pPerasaanku berkata demikian namun aku enggan menoleh.


"Kalau Aku tidak ikut kembali pukul 14.00 gimana? boleh apa tidak?" Tanya Alfi sambil memegang tanganku


"Kenapa?"


"Aku harus kerumah saudaraku nanti, ada acara keluarga."


"Oh baiklah, tak apa. Tapi besok kamu datang pagi-pagi, ya, meskipun kamu nggak menetap di ponpes, Kamu harus berangkat lebih awal juga"


"Oke, siap Buk Ketua!" Kata Alfi sambil bersikap hormat padaku.


Aku hanya tersenyum, dan tiba-tiba mengingat ceritanya saat dikantin kemarin. Sakit, dadaku terasa sesak, ada rasa kecemburuan menyeruak disana.


Aku masih penasaran dengan kedekatan Risky serta Alfi. Ah, rasa ini sangat rumit, tapi perlukah aku menyelidikinya? Kurasa tidak. Karena aku suda berjanji untuk mengubur rasa ini dalam-dalam.


______________________________


"Khanza, osis putri kita tempatkan di ruang-ruang kelas saja, membersihkan semua ruang kelas dan menatap meja. Osis putra biar bagian luar dan lapangan," Kata Risky tanpa melihatku, matanya masih asyik melihat lembaran-lembaran kertas entah berisi apa.


"Oke," jawabku pelan, kemudian melipir ke anggota osis memberi instruksi.


Kami segera membagi tugas sesuai perintah dan mulai membersihkan semua ruang kelas yang akan digunakan. Setiap kelas akan berisi 20 peserta, maka kami cukup menata 20 kursi peserta dan 2 kursi pengawas di setiap kelas. Tak lupa kami juga menyapu, juga mengepel, membersihkan debu dijendela, dan banyak hal lain.


Kami semua bergotong royong mengerjakan tugas berharap saat matahari tepat di atas kita, semua kegiatan menyapu dan ***** bengeknya juga ikut selesai.


Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, dan sebentar lagi waktunya sholat Jumat, tiba- tiba,


"Eh, Ky, kamu ngapain kesini? Nyariin Khanza?" Tanya Anita dan sontak membuatku menoleh kearah sumber suara.


Kulihat Risky menengok ke kelas yang kini tengah kubersihkan sambil tersenyum kikuk


"E-eh nggak kok, cuma iseng-iseng aja, pengen liat-liat, udah lanjutin," Ucapnya sambil berlalu


Aku hanya mengernyitkan dahi, tanda tak paham. Kemudian tanpa sepengetahuan siapapun, kuikuti arah langkahnya dan dia akhirnya berhenti di salah satu kelas, berjarak 2 kelas dariku.


Kini dia tengah berbincang dengan seseorang, dia tertawa dan lawan bicaranya juga tertawa. Tak lama kemudian dia berlalu, kulihat siapa yang ia ajak bicara tadi.


"Oh, Alfi ... "


______________________________


"Ahhh, lega sekali bisa tidur selonjoran di lantai begini, ya, ditambah kenikmatan kipas angin yang berputar tepat di atasku, nikmat mana yang kau dustakan?" Ujar Fani sambil mengibas-ngibakan jilbab dan membukanya.


"Ada yang masih kurang loh, Fan!" Ujarku


"Apa an, Za?"


"Esnya! Esnya nggak ada!" Kekehku


Dan membuat  Fani tertawa. Tak lama kemudian terdengar pintu kelas diketuk.


tok


tok


tok


Aku dan Fani segera memakai jilbab, kami kelabakan. Kemudian aku berjalan mendekati pintu dan membukanya


"Kamu nggak pulang?" tanya Risky.


Oh ternyata Risky


"Belum," Jawabku sambil menyeka keringat di pelipis, sudah kurasakan mukaku sangat kusam dan penuh keringat kini.


"Kenapa?"


"Masih capek"


"Kamu sama siapa disini?" Tanyanya lagi


"Aku sama Fani"


Dan dia hanya ber 'oh' ria.


"Sudah ya, kututup pintunya. Kami mau istirahat" Tanpa menunggu persetujuannya, langsung kututup pintu dan menguncinya.


Kemudian kulanjutkan tiduranku dibawah kipas angin yang berputar. Putaran pada kipas angin seolah membawa putaran ingatanku tadi. Betapa lebar senyum yang diberikan Risky pada Alfi.


Sudah kulihat sendiri, bukti kedekatan mereka, bahwa ada tali yang mengikat mereka berdua. Bodohnya aku tertipu oleh senyuman yang sehari-hari diberikannya padaku. Seharusnya aku sadar bahwa itu hanya chemistri, hanya ilusi untuk memperbaiki hubungan ini.


Aku dan Fani hampir terlelap saat tiba-tiba terdengar pintu di ketuk lagi.


tok

__ADS_1


tok


tok


"Duh, siapa sih, yang ketok-ketok pintu lagi?" Tanya Fani dengan gusar. Aku enggan beranjak lebih memilih merubah posisi tidurku.


"Risky! Ngapain lagi sih, udah mau tidur juga," umpat Fani.


"Eh anu, ini Aku belikan Es sama cemilan buat kalian," kata Risky yang kudengar dari dalam kelas.


Reflek aku menoleh tapi masih tetap pada posisiku.


"Oalahh, ck ... ck ... ck ... Ngapain repot-repot sih, tapi nggak papa lah, hehe makasih, ya" Kini kelakar Fani terdengar memalukan sambil menerima nampan berisi teko es teh dan beberapa cemilan.


"Nanti tekonya kembalikan ke kantin ya, aku tinggal dulu," Ucap Risky kemudian melipir dan menjau


Usai menutup pintu, Fani meletakkan nampan di lantai.


"Wah, rezeki ini, cepat banget diijabah ya, barusan aja bilang pengen minum es, hehe." Ucap Fani Kemudian menyeruput Es tersebut.


Aku masih bingung, kenapa dia masih perhatian? apa arti dari semua ini?


_______________________________


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun pekerjaan juga belum menampakkan tanda-tanda akan selesai. Di sekolah masih ada beberapa anggota osis putri, ada Aku, Anita, Nina, Fani, Uni dan juga Wanda.


Kami adalah panitia Inti dari acara ini. Kini kami tengah menyiapkan dokumen-dokumen untuk lomba, soal-soal, blanko penilaian, daftar hadir, serta menempel nomor-nomor peserta di masing-masing bangku.


Hujan yang mengguyur kota sore tadi, membuat Kami harus bekerja 2x lipat. Air yang masuk kedalam koridor kelas, membuat kami harus mengepel ulang dan mengeringkannya.


Begitu juga dengan halaman sekolah, semua anggota osis putra nampak masih menetap di sekolah, sepertinya mereka akan menginap disini. Hal itu lumrah terjadi pada osis putra, mereka diijinkan menginap di sekolah apabila ada kegiatan seperti ini, tapi tidak dengan kami, anggota osis putri sekaligus santri putri.


Saat jam menunjukkan pukul 11 malam, aku mulai gusar. Pekerjaan ini masih belum selesai, tak mungkin ditinggal sedangkan kami harus segera pulang.


"Gimana ya, ini belum selesai semua. Aku takut kita kena ta'zir karena pulang malam-malam," kataku pada teman-teman yang kini juga masih berkutat dengan dokumen-dokumen.


"Masak nggak ada dispensasi buat kita?" Tanya Wanda.


"Entahlah, Aku tidak terpikirkan buat surat dispensasi," kata Anita sambil meregangkan tangannya.


"Apa aku tanya Pak sanusi saja, ya? Mungkin kita diijinkan pulang, biar ini diselesaikan anak putra" Usulku sambil memijit pelipis, Ya Tuhan pening sekali.


Saat aku mulai melangkah untuk mencari Pak Sanusi, tiba-tiba aku terkejut karena hampir bertabrakan dengan Risky. Ngapain dia kesini?


"Kamu ngapain?" Tanyaku sambil melotot kearahnya.


"Kamu belum selesai?" Tanyanya dengan ekspresi polos.


"Lihat saja sendiri!" Jawabku gusar.


Tiba-tiba Risky masuk keruangan


"Kalian mau aku belikan susu? Malam-malam begini enak buat minum susu," Kata Risky yang sontak membuat Kami melongo.


Apa? Susu?


Sejurus kemudian Kami tersadar dan Anita mulai mengeluarkan suaranya


"Wah, boleh tuh! Aku pesan susu putih ya!"


Kemudian diikuti oleh yang lain, saling bersahutan dan Risky hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aku masih berdiri dibelakang Risky, kemudian dia menoleh


"Bu ketua mau pesan susu apa?"


Deg! seketika tubuhku bersedir, syaraf motorikku seakan bekerja sangat lambat. Terbukti dengan diamnya diriku saat Risky memanggilku begitu. Cukup lama aku mematung, hingga kesadaran menyelimuti jiwaku.


"E-eh Anu, Coklat! Iya coklat," jawabku gelagapan dengan suara sumbang, Ya ampun.


"Oke siap meluncur" ucap Risky dengan kerlingan matanya yang seolah membiusku, Ya Tuhan ingin aku mengumpat saat itu juga.


Betapa lemahnya diriku, hanya dengan kerlingan mata, sudah mampu memporak porandakan kegigihanku mengubur perasaan dalam-dalam.


Aku hanya cemberut, kemudian berlari mencari Pak Sanusi dan melaporkan keinginanku. Begitu kusampaikan keinginanku pada beliau, beliau langsung merespon


"Tunggu disini sebentar, biar saya menelfon masing-masing asrama kalian," kata beliau dan kubalas dengan anggukan kepala.


Kemudian, beliau berjalan menjauh untuk menelfon. Sekitar 5 menit, beliau kembali dan mengatakan,


"Kalian akan tetap disini, kalian akan menginap!"


Sontak jawaban beliau membuatku sukses membulatkan mata dan menambah kepeningan di kepalaku. Ha? Menginap?


____________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya ya


Dukung author dengan bintang-bintang yang kalian miliki


Salam,


Khanza di dunia nyata

__ADS_1


__ADS_2