
Hari-hari kulalui dengan perasaan yang tak menentu. Hangatnya cahaya matahari tak dapat menghangatkan suasana hatiku. Hasrat yang dulu menggebu-gebu demi agenda ini, kini lenyap sudah, apalagi diriku terjebak gagal move on. Lengkap lah yang kurasa.
Sudah seminggu berjalan kami menyiapkan kepentingan agenda, namun tetap saja aku masih tidak bisa melupakan kejadian awal pertemuanku dengan Risky, bahkan saat bertatap muka dengannya pun aku masih menyimpan rasa tak suka, ah, kenapa aku jadi begini?
"Kamu kok belum pulang, Za?" Tanya Risky tiba-tiba saat mendapatiku masih berkutat dengan pekerjaan di laptop.
Aku hanya mendongak dan melanjutkan pekerjaanku,
"Belum selesai," Jawabku sekenanya.
"Masih lama ya? sudah pukul setengah 5 sore loh"
Aku hanya bergeming, kemudian,
"lagian aku nggak sendirian, ada Anita dan Nina juga, kalo kamu mau pulang ya pulang aja"
Dia kemudian berjalan agak jauh dariku dan duduk bersandar pada tembok musholah
"Aku temenin sampai kalian selesai."
Aku menghentikan pekerjaanku, Apa? dia mau menemani? Aku diam tak menanggapi ucapannya. Masih bertanya-tanya kenapa dia sudi menemani Kami, tapi tetap saja aku enggan bertanya. Ah, biarlah pikirku.
15 menit berlalu akhirnya pekerjaanku selesai. Aku berdiri dan merentangkan tangan lebar-lebar, kemudian sedikit mengintip ke tempat Risky duduk tadi, dan dia masih disana tengah asyik menonton sesuatu pada laptopnya.
"Za, kamu udah selesai?" Tanya Anita sambil memasukkan laptopnya kedalam tas.
"Udah nih," jawabku sambil ikut beberes.
"Yuk ah, pulang, Mbak. Aku udah capek banget ini, hoaammm" ajak Nina sambil bergelayut pada lenganku. Ah, adik kelasku ini memang manja sekali.
"Kalo kamu kayak gini, nggak akan selesai-selesai aku, Nin," ucapku sambil berusaha melepas gelayutannya.
"Eh, Za, Risky nungguin kita?" Tanya Anita setelah melihat Risky juga tengah memasukkan laptopnya kedalam tas.
Aku hanya mengangguk.
"Ngapain di tungguin?"
Aku hanya menghendikkan bahu.
Tiba-tiba,
"Ayok kalo mau pulang, Aku temenin. Aku tunggu di depan, ya" ujar Risky sambil berlalu meninggalkan kami.
Aku tak habis pikir dengan orang ini, kenapa sekarang dia jadi baik sekali? Dapat kuakui, meski aku masih menyimpan rasa ketidaksukaan padanya, namun dia juga menarik perhatianku.
Pasalnya bukan saat ini saja dia bersikap baik, pun tidak hanya padaku, tapi juga pada anggota-anggotaku. Kurasa ada sesuatu yang diincarnya, atau hanya firasatku saja? Ah, sudahlah, bodo amat.
Kami berjalan keluar gerbang sekolah dan mendapati Risky tengah berdiri sambil menenteng kantung plastik hitam
"Ini buat kalian, kalian pasti belum makan, kan? ini Aku belikan nasi pecek telur, nanti bisa kalian makan pas sudah sampai ponpes," ujarnya sambil menyerahkan kantung tersebut padaku.
Ragu-ragu aku menerima, tapi kemudian kuambil setelah menatap mata Risky yang mengisyaratkan seolah-olah berkata bahwa aku harus menerimanya.
"Makasih, kamu nggak harus repot beliin ini itu, apalagi nganterin kita. Aku merasa nggak enak," ceplosku begitu saja, tapi ini adalah salah satu tak tik ku untuk mengetahui tujuannya.
Kulihat dia hanya tersenyum sekilas dan menatap ke arah lain,
"Kalian itu tanggungjawabku, bagaimanapun aku akan menjaga kalian. Sudahlah tidak perlu kamu pikir secara berlebihan, cepat kita pulang" Katanya kemudian berjalan mendahului kami.
Deg! Aku terkejut mendengar jawabnya. Tiba-tiba pipiku mengembang dan menghangat. Tanpa sadar aku pun tersenyum. Ha? Aku tersenyum gara-gara Risky? Cepat-cepatku padamkan senyumanku dan berjalan mengikutinya.
"Kamu ngapain ngomog gitu, Za?" Tanya Anita tatkala kita berjalan beriringan.
Aku hanya tertawa
"Ihh malah ketawa, awas Mas Riskynya tersinggung, Mbak," kata Nina sambil menyenggol lenganku.
"Nggak kok, tenang saja. Lagian aku juga pengen tau, kan, kenapa dia baik banget, padahal sebelumnya ke aku dianya jahat, suka marah-marah," jawabku sambil memelankan suara, takut Risky mendengar.
"Tapi sekarang dia udah nggak pernah marah-marah lagi, kan, Za?" Tanya Anita sambil tersenyum menggoda padaku.
__ADS_1
"Apa an sih, mana ku tau," jawabku kesal karena senyum Anita.
"Kayaknya benar deh yang dibilang Mbak Egha," kata Nina sambil mengusap dagunya.
"Tentang apa?" tanya Anita yang kini sudah memulai aksi kekepoannya.
"Bahwa Mas Risky itu baik" Jawab Nina sambil tersenyum padaku
___________________________
Kini, secara perlahan aku dapat melunakkan sikapku pada Risky. Seringnya frekuensi Kita bertemu, membuatku menyadari sesuatu bahwa dia mempunyai pribadi yang baik, supel dan ramah.
Aku tak habis pikir, mengapa pertemuan pertamaku dengannya terasa menyakitkan. Karena bagiku, pertemuan pertama adalah penentu kesan mendalam kita pada seseorang.
Semakin lama dia juga semakin menunjukkan perhatian yang berarti untukku. Entah apa tujuan dia seperti itu, yang jelas kini aku sudah mulai merasa nyaman dengannya.
"Za, gimana persiapan tugasmu? Sudah berapa persen?" Tanyanya tiba-tiba saat tanpa sengaja kami berpapasan di loby.
"Ummm ... udah 60%, udah lumayan kok, Ky," jawabku sambil tersenyum.
"Oh begitu, baguslah. Kerja bagus!" Ucapnya sambil mengacungkan jempol dan mengedipkan mata padaku.
"Nanti kalau mau pulang, Aku temenin kayak biasanya ya," lanjutnya sambil berlalu dan melambaikan tangan padaku.
"E-eh iya iya" Jawabku penuh dengan kegugupan. Ya Tuhan, jantungkuu mau copot rasanya, senyumku mengembang dan pipiku memanas.
____________________________
"Gha, menurut kamu statement yang mengatakan kalau cewek itu mudah baper, bener atau nggak?" Tanyaku pada Egha saat Kami tengah menyantap cilok favorit.
"Bener pakek banget, soalnya cewek, kan, banyak pake perasaan," Jawab Egha santai.
"Oh, begitu"
"Kenapa? Kamu lagi baper, ya? Hayo, sama siapa?"
"Ihhh, apa an sihhh!" Jawabku berusaha menghindari pertanyaan yang bukan-bukan.
Gawat! kenapa Egha malah tanya itu sih!
"Enggak kok, biasa aja!" Jawabku sambil menutup mulut Egha. Dan sialnya Egha malah tertawa.
"Udah, jangan di tutup-tutupi, toh udah keliatan kalo kamu udah mulai suka dan nyaman sama Risky!"
Aku hanya diam sambil melotot pada Egha
"Nggak dapat di pungkiri, Za, cewek kalau lagi patah hati terus tiba-tiba dapat perhatian, dapat pujian dari cowok, dia akan cepat 'kecantol' alias cepat baper! Karena wanita suka itu. Aku juga merasakan hal itu pada dirimu."
Aku menghela nafas panjang,
"Entahlah, Gha, aku sediri bingung dengan perasaanku. Dulu aku benci banget sama dia, terus tiba-tiba dia mulai berubah dan jadi baik banget, perhatian, sering nemenin Aku. Aku nggak munafik, kalau pertahananku luluh lantah saat ini. Aku tak dapat berbohong kalau aku mulai nyaman dengan Risky, entah bagaimana perasaanya padaku, yang jelas saat ini aku mulai menyukainya," Kataku dengan suara yang bergetar, menahan getaran yang ada di dalam dada, meredam emosi tatkala hatiku bermain lagi.
Egha meraihku dalam pelukannya,
"Uhhhh, Khazaku jatuh cinta lagi," Ucapnya sambil mengusap kepalaku.
Aku, bukannya senang malah terisak dalam pelukan Egha. Aku? Mengapa begitu cepat jatuh cinta lagi? Padahal hati ini masih terluka, lukanya pun masih menganga. Yang kutakutkan kini, Aku takut jatuh cinta sendirian lagi, takut sakit lagi, takut menangis lagi.
___________________________________
Mulai saat ini, ku mantabkan hatiku bahwa ini, perasaan ini, akan ku kubur dalam dalam. Akan ku buang jauh-jauh karena ku yakin, rasa ini tak akan bertahan lama. Setelah agenda ini selesai, mungkin aku tak akan melihat Risky lagi. Pasti!
"Za, acaranya tinggal 3 hari lagi nih. Aku mau mengadakan kegiatan kerja bakti dan merapikan kelas-kelas," kata Risky tatkala kita sedang mengerjakan tugas agenda di Musholah sepulang sekolah.
"Oh iya harus itu, agenda kita akan dilaksanakan pada hari Sabtu, lebih baik Hari Jumat saja kita kerja bakti, soalnya, kan kegiatan sekolah dan ponpes libur semua kalo Jumat."
"Ide bagus itu, tapi aku nggak mau mengajak semua anggota."
Aku mengeryitkan dahi,
"Kenapa? Bukannya kalo makin banyak jadi makin bagus?"
__ADS_1
"Tapi kalo kita mengajak semua anggota, belum tentu semua akan bekerja, cukup panitia inti, panitia kebersihan dan akomodasi saja."
"Kok gitu?"
"Apanya?"
Aku berdecak sebal,
"Itu cuma sedikit, Ky. Palingan cuma 40 orang, sedangkan yang akan kita bersihkan sangat luas, sanggup cuma sehari?"
"Yang penting yakin, kalau sampai sore nggak selesai, biar panitia putra yang menginap disekolah buat lanjut bersih-bersih."
Aku hanya menghela nafas dan mengangguk
"Nanti kamu sampaikan, ya, ke panitia putri, Hari Jumat pukul 7 sudah stand by di sini," Tambah Risky sambil tersenyum manis padaku.
Kubalas senyumannya
"Oke"
____________________________
Siang ini terasa panas sekali, dan rasa panas inilah yang membuatku merasa sangat haus. Lalu aku memutuskan pergi ke kantin untuk membeli minuman, tiba-tiba
"Khanza!"
Ada yang memanggilku dan ternyata Alfi
"Ada apa, Fi?"
"Aku mau tanya sesuatu, nih"
"Ummm, tanya apa?"
"Katanya besok, kan, kita kerja bakti, nih, buat persiapan agenda olimpiade, emang bener, yang hadir harus kebersihan dan akomodasi aja?"
Aku tersentak, dari mana Alfi tau tentang rencana ini? Padahal masih nanti siang mau ku umumkan.
"Ka-kamu tau dari siapa?" tanyaku
Alfi tersenyum tersipu
"Dari Risky"
Ha? Jadi sebelumnya Risky sudah memberi tahu Alfi? Dan jadi sebelumnya mereka sudah saling kenal? Ada hubungan apa mereka? Ya Tuhan, jantungku berdegub kencang.
"Emang dasar, tuh, Si Risky, suka sok sok an sanggup, awas ya kalo malah nggak selesai," kata Alfi diiringi senyum disela-sela ucapannya
"Apa lebih baik Aku ngomong sama dia ya kalo keberatan?" Tanya Alfi lagi padaku.
Aku terkesiap,
"Jangan, Al, keputusan udah bulat, nanti dia malah marah," ucapku sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Tenang aja, Za, dia nggak akan marah sama aku, hehe," Ucap Alfi hingga membuatku kembali menahan gejolak cemburu yang luar biasa.
"Oh, gitu," Cicitku dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Ya sudahlah, aku ke kelas dulun ya, sampai jumpa besok Khanza." Ucap Alfi seraya melambaikan tangannya padaku dan berlalu pergi.
Ya tuhan, apalagi ini? Saat bungaku sudah mulai mekar, mengapa ada tangan yang ingin memetiknya? Mengapa ada yang ingin mencopot hatiku lagi? Aku harus kuat dan sadar diri, segera ku tepis pikiran burukku meski hatiku sakit sekali.
__________________________
tbc.
*Jangan lupa vote dan komentarnya
Dukung author dengan bintang-bintang kalian
Salam,
__ADS_1
Khanza di dunia nyata