
"Oh, ibu," celetuk Risky seraya agak berlari untuk meraih tangan ibuku dan menciumnya.
Aku terperangah dan tak percaya dengan tindakannya. Kemudian Jamil mengikutinya untuk bersalaman denga ibuku.
"Yang mana namanya Risky?" tanya ibuku
Aku mengernyitkan dahi, kenapa ibu bisa tahu? padahal aku belum mengenalkan mereka berdua.
"Kulo (saya), Bu," jawab Risky sambil mengagguk canggung.
Kemudian aku menggiring mereka masuk dan mempersilakan duduk. Mereka berdua duduk terpisah. Di ruang tamuku ada tiga kursi, ada kursi panjang, agak panjang dan kursi kecil. Jamil duduk di kursi kecil, Risky duduk di kursi agak panjang dan ibu di kursi panjang.
Jantungku berdebar hebat, apa yang akan ibu tanyakan pada mereka? khususnya Risky? tak kuhiraukan, buru-buru aku menuju dapur untuk mengambil minuman dan cemilan. Begitu sampai di ruang tamu, ku letakkan bawaanku di atas meja.
"Nggak usah buru-buru, ngobrol aja," ujar Ibu seraya beranjak meninggalkan kami.
"Loh, ibu mau kemana?" tanyaku
"Ibu di belakang aja"
Aku diam dan kemudian duduk di tempat ibu duduk tadi. Suasana hening tercipta hampir sepuluh menit karena kami sama-sama canggung untuk memulai percakapan.
"Eh, dimakan-dimakan, aku nggak buat cemilan spesial, adanya ini," kataku akhirnya
"Iya, nggak papa," jawab Risky seraya meraih sebatang wafer coklat.
"Um ... kalian ini, darimana?" tanyaku
"Dari rumah Jamil, terus kesini," jawab Risky
"Oh, Jamil orang sini, toh,"
Jamil hanya mengangguk dan tersenyum canggung, kulihat ekspresi malu-malu pada wajahnya.
"Oh, ini buat kamu" Risky menyerahkan kantong plastik belanja kecil berwarna ungu padaku.
Ragu-ragu aku menerimanya, "a--apa ini?"
"Yang kataku itu," jawab Risky seraya tersenyum manis
"Wah, repot-repot aja. Matur nuwun (terima kasih), ya," ujarku sambil meraih bingkisan itu.
"Aku nggak sempat bungkus pake kertas kado, um ... bukannya ga sempat, sih. Tapi nggak bisa, hehehe" Risky tertawa seraya menggaruk kepalanya.
"Aku juga nggak buat surat, bingung mau nulis apa," imbuhnya.
Aku mengernyitkan dahi. Bingung dengan ulah salah tingkahnya yang membuatku ingin melemparinya dengan bantal, hahaha. Tapi itu hanya anganku karena aku harus menjaga image sekarang.
"Nggak, papa. Ini udah banyak banget," kataku.
"Kamu tahu kenapa?" tanyanya
"Kenapa?"
"Soalnya bisa sedekat ini sama kamu, membuatku tak bisa berkata-kata," ujar Risky berusaha nge-gombal.
Aku tertawa, "terus kalo nggak bisa berkata-kata, dari tadi itu bukannya kamu udah berkata-kata? kalau bukan berkata-kata, apa dong?"
"Ngobrol, kayak kata ibu tadi," kekehnya
Aku tertawa lepas begitu juga Risky. Perasaan canggung dan dag-dig-dug ku lenyap sudah entah kemana. Aku memandangnya hingga aku menyadari satu hal. Aku dan Risky sama-sama memakai baju warna abu-abu! Ya ampun, terjadi lagi!
"Eh, kalo di rumah orang jangan main hape mulu!" tegur Risky pada Jamil.
Memang sedari tadi Jamil terus memegang ponsel hingga menutupi wajahnya. Risky mengintip apa yang tengah Jamil lihat di ponsel, kemudian tertawa. Risky berbisik dengan Jamil dan Jamil mengangguk. Aku tak paham apa maksud mereka.
"Oh, ayah kamu kemana?" tanya Risky
"Kerja," jawabku sambil meraih biskuit stroberi.
"Beliau tahu kalau aku mau main kesini?"
"Tahu, kok, kenapa?"
"Nggak papa"
Aku mengangguk. Kemudian melihat bingkisan dari Risky tadi. Aku mengambil isinya dan membukanya lebar-lebar. Aku terkejut, bagaimana caranya Risky membeli jilbab ini? karena jilbab ini hanya ada di toko-toko tertentu.
"Ky," panggilku
"Ya?"
"Gimana caranya kamu beli jilbab ini? kamu milih sendiri?" tanyaku
Tiba-tiba Risky tertawa, "Hahaha, ya iya, dong! aku ke tokonya sendiri"
"Gimana?" aku tertawa membayangkan Risky datang ke toko jibab dan memilih-milih layaknya ukhti-ukhti.
"Duh! ga kebayang, deh! aku pertama kali datang ke toko gitu. Sampe di liatin mbak-mbak yang jaga toko. Mungkin takut aku salah masuk toko kali, ya! Terus pas aku tanya jilbab itu, baru deh mereka paham kalo aku mau beliin cewekku," jelasnya kemudian mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku masih tertawa dan tak menyangka Risky melakukan hal itu untukku. Dalam lubuk hati, tersirat perasaan kagum dan baper. Ah, Risky. Tak kusangka, lelaki playboy sepertimu akhirnya bisa melakukan hal itu.
"Kamu sendirian?" tanyaku yang masih di selipi tawa.
"Nggak, sama temanku. Temanku sampai nggak mau lepas helm buat nutupin wajahnya, malu katanya!"
"Hahaha, kalo aku, sih, bodo amat. Yang penting bisa dapetin jilbab yang bagus buat Khanza," lanjutnya.
Aku tersenyum dan tiba-tiba pipiku menghangat. Senyumnya, tawanya dan suaranya senantiasa membuatku bergetar, inginku memeluknya namun itu mustahil. Amat mustahil.
__ADS_1
Kami terus mengobrol hingga tak terasa hampir dua jam berlalu, rintik air sudah sedari tadi membasahi bumi. Langit yang semula cerah, tiba-tiba mendung menandakan hujan akan bertandang.
"Za, udah mau hujan. Aku pamit pulang dulu, ya," ujar Risky
"Buru-buru aja ... " aku berdiri sambil mengerucutkan bibir.
"Mau lanjut kemana?" tanyaku
"Masih mau ke rumah Jamil lagi, ya kan, Mil?" Risky mencolek tangan Jamil.
"E--eh iya," jawab Jamil
"Bentar, aku panggilkan ibu" aku berjalan ke belakang
Beberapa saat kemudian aku kembali bersama ibu, "kok, buru-buru?"
"Injih, Bu. Ajrih kejawaan (Iya, Bu. Takut kehujanan) . Ini mau masih mampir ke rumah Jamil," jawab Risky sambil meraih tangan ibuku dan menciumnya, lagi.
"Yo wes, ati-ati yo? ojo banter-banter. Nggowo mantel, toh? (Iya, sudah. Hati-hati, ya? jangan kencang-kencang, bawa jas hujan, kan?)"
"Mbeto, Bu. (bawa, Bu)"
Jamil memutar sepedanya dan Risky duduk di belakang Jamil.
"Matur nuwun, Bu. (Terima kasih, Bu) Assalamualaikum," ujar Risky sebelum pergi.
"Iya, waalaikumussalam," jawabku dan ibu hampir bersamaan.
Akhirnya bayangan Risky pun hilang di tikungan jalan. Aku menghela napas, terasa cepat sekali dia meninggalkan rumahku. Tiba-tiba,
"Za, ini apa?" tanya ibu seraya membuka bingkisanku dari Risky tadi.
Aku menepuk jidat, lupa menyembunyikannya.
"E--eh, itu. Itu ... dari Risky, Bu," jawabku ragu-ragu.
Ibu menyerahkan bingkisan itu, "kenapa ngasih ini?"
Ibu mulai tersenyum jail dan menanti jawabanku tak sabar.
"Katanya hadiah ulang tahun ... "
"Bagus, kok. Pinter, ya, dia milihnya," ujar Ibu dengan senyum nakal.
Dalam hati aku merasa malu tak karuan. Aku juga diliputi rasa penasaran, kenapa ibu sudah tahu kalau yang datang itu namanya Risky? aku menggigit bibir, ingin ku tanyakan namun ibu buru-buru meninggalkanku. Huft, biarlah.
___________________________________
Sudah menjadi kebiasaanku sebelum kembali ke ponpes, aku akan menginap di rumah nenek. Aku akan menghabiskan waktu seharian hangout dengan mbak sepupuku. Seperti sekarang, aku berencana jalan-jalan sambil makan, untuk merayakan ulang tahunku.
"Pakai baju apa, Dek?" tanya Mbak Fia sesaat aku habis mandi.
"Um ... ini, Mbak," jawabku sambil memperlihatkan gamis biru langit dan jilbab dari Risky.
"Jilbab hadiah dari Risky" aku menjawab dengan malu-malu.
"Loh, kok, bisa ngasih?" tanya Mbak Fia
"Apanya?"
"Ck! gimana cara dia ngasih? di titipin di supermarket lagi?" Mbak Fia mencoba menggodaku dengan mengingat kejadian Risky yang menitipkan snack di tempat Hamdan waktu itu.
"Hu! ya nggak, dong! um ... dia datang ke rumah," jawabku
"Hah? serius?"
Aku mengangguk dan menceritakan kejadian 4 hari yang lalu itu. Mbak Fia menyimak dengan baik ceritaku, hingga kemudian,
"Wah, lampu ijo, tuh," celetuknya
"Apaan?" tanyaku tak paham
"Maksudnya, bibi (ibuku) udah ngasih isyarat untuk hubungan kalian"
"Iya, sih. Tapi aku ngakunya, kan, dia temanku!"
"Hahaha, kok, nggak ngaku aja?" Mbak Fia mulai menyisir rambutnya.
"Aku masih takut, Mbak. Gimana, ya?" aku juga sudah memoleskan bedak tipis-tipis pada wajahku.
"Ya sama kayak aku, masih backstreet," gumam Mbak Fia.
Aku hanya menghela napas dan lanjut memasang jilbab dari Risky. Aku dan Mbak Fia memang sama, sama-sama takut untuk mengaku bahwa kita punya hubungan spesial dengan seorang cowok. Takut tak dimarahi, takut tak di restui, dan sebagainya.
"Oh, iya. Aku mau pamitan sama Risky dulu" aku berbicara dengan diriku sendiri dan mengambil ponsel.
@ZaKhanza
Ky, aku mau keluar habis ini
Lanjut aku mengambil tas selempangku dan memasukkan dompet ke dalamnya. Kemudian, ting!
@Riskyy
Loh, jadi sungguhan?
@ZaKhanza
Jadi, dong
__ADS_1
@Riskyy
Sama Mbak Fia?
@ZaKhanza
Iya, sama adeknya juga
@Riskyy
Oh gitu. Hati-hati ya, jangan ngebut.
Aku tersenyum, rasa perhatian Risky selalu menambah rasa cintaku padanya. Setiap kegiatanku, tak afdol rasanya jika tanpa ijinnya. Dia memang tak memintanya, ini adalah inisiatifku sendiri.
"Udah siap, Mbak?" tanyaku saat melihat Mbak Fia mulai menyemprotkan parfum pada tubuhnya.
"Udah, nih," Mbak Fia meraih tas dan memasukkan ponselnya.
"Loh, Adel mana?" tanyaku menyadari bahwa Adel-adiknya Mbak Fia- tak ada di tempat.
"Dia udah di depan, noh!" jawab Mbak Fia
Aku berjalan kedepan sedangkan Mbak Fia mengeluarkan sepeda motot maticnya.
"Yaelah, kok udah nongkrong disini aje?" tanyaku seraya mengejutkan Adel dari belakang.
"Astaga! duh! kebiasaan, deh!" Adel mengelus dadanya kemudian berdiri.
"Iya, dong! harus semangat kalo mau traktiran," katanya sambil tersenyum lebar.
"Yeee! traktiran doang semangat! jangan lupa hadiahnya," sahut Mbak Fia seraya memakai helm bogonya.
"Hehehe, kapan-kapan aja, ya, Mbak Khanza, kalo aku dah sukses," ujar Adel sambil nyengir
Aku tertawa, "nunggu aku udah nikah dong! kelamaan!
Adel hanya menggaruk-garuk kepala. Aku memasang helm, Adek naik ke boncengan dan disusul aku di belakangnya. Kami berjalan dengan kecepatan sedang seraya menikmati suasana sore.
"Za, jadi kemana, nih?" tanya Mbak Fia saat kami sudah jalan 500 meter.
"Ke Kafe Pelangi, Mbak!" jawabku.
"Oke!" ujar Mbak Fia bersemangat.
Suasana sore ini sangat nyaman. Tidak terlalu panas juga tidak mendung. Melintasi jalanan kota di sore hari adalah kesukaanku. Menghirup udara segar, meski di kota.Iseng, aku mengambil ponsel dan berfoto selfie.
Aku berniat menunjukkan diriku pada Risky, bahwa aku tengah mengenakan jilbab darinya. Kemudian, foto tersebut ku kirimkan pada Risky. Tanpa menunggu balasannya, ku masukkan lagi ponselku ke dalam tas.
Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di kafe yang bernuansa girly tersebut. Begitu masuk, kami langsung memesan makanan dan minuman.
"Aku ayam teriyaki sama ice cream stoberi, Mbak" kataku seraya menyerahkan buku menu pada Mbak Fia.
Mbak Fia tipe orang yang tak suka daging, apapun jenisnya. Cukup lama dia memilih, akhirnya, "martabak jamur dan ice cream coklat"
"Adel jamur krispy dan es krim yang kayak pot bunga itu," celetuk Adel.
Aku dan Mbak Fia memandang Adel sambil mengernyitkan dahi, kemudian melihat buku menu. Aku yang menyadari terlebih dahulu, sontak menepuk jidat.
"Astaga! maksudmu Flower Ice Cream ini?" tanyaku memastikan
Memang yang di maksud Adel benar adanya. Flower Ice Cream ini sejenis es krim coklat yang wadahnya berupa pot bunga kecil dan ada sejenis garnish coklat berbentuk bunga.
Adel tertawa dan mengangguk. Mbak Fia memukul Adel, "eh, itu kemahalan! kira-kira dong kalo milih," bisik Mbak Fia.
Aku tertawa, "nggak kok, Mbak. Udah biarin," ujarku seraya menyerahkan buku menu pada pelayan.
Kami memilih tempat duduk dan menunggu pesanan sambil ngobrol. Tak lama, ponselku berdenting.
@Riskyy
Wah, cantik! kamu pake hari ini?
Aku terseyum
@ZaKhanza
Iya, dong
@Riskyy
Kamu dimana?
@ZaKhanza
Kenapa?
@Riskyy
Mau aku samperin
Mataku terbelalak, apa??!!!
___________________________________
tbc.
Jangan lupa vote dan komentarnya yaaa, aku suka kalias meskipun hanya baca dan nggak vote :') tapi aku lebih cinta buat yang suka vote ceritaku.
ILY 25k wkwkw
__ADS_1
Salam,
Khanza di dunia nyata