
"Gimana persiapannya? jam 10 kita mulai," kataku pada Fania seraya melihat berkas-berkas reformasi
"Udah beres, tinggal pelaksaannya," jawab Fania
Hari ini, osis putri akan melaksakan kegiatan reformasi. Kegiatan reformasi yang dimaksud disini adalah pemilihan ketua osis dan wakilnya melalui pemilu. Kami sudah menyiapkan tiga kandidat yang akan maju sebagai calon ketua osis dan wakilnya.
Kandidat pertama adalah Fara yang tahun kemarin menjadi wakilku, kandidat kedua adalah Mira yang dipilih atas kesepakatan rapat dan kandidat ketiga adalah Ella yang juga dipilih atas kesepakatan rapat.
Sistem pemilihan ketua osis baru sama dengan pemilihan umum yang ada di Indonesia (Pemilu) dengan menggunakan sistem pencoblosan dan kotak suara. Bedanya, kami panitia reformasi akan berkeliling di tiap kelas agar suasana tetap kondusif.
Pukul 10. 00 WIB kami sudah mulai berkeliling ke tiap-tiap kelas,
"Za, kamu ikut ke kelas mana?" tanya Maya tiba-tiba sambil menyusul langkahku
"Aku akan berkeliling saja, mengawasi," jawabku sambil terus berjalan
"Kamu nanti ikut masuk ke kelas 12 IPS, kan?" tanya Maya denga suara yang cukup pelan
Aku menghentikan langkah dan berpikir, "um ... iya, aku akan ikut masuk"
Maya mengangguk, "tunjukkan kalau kamu nggak lemah meski sudah diinja-injak"
Lalu aku mulai memasuki kelas 10, mengawasi proses berjalannya reformasi agar tetap kondusif. Lanjut ke kelas 11, kemudian ke kelas 12. Saat mau memasuki kelas 12 IPS, kelasnya Nana dan komplotannya, aku menghela napas panjang.
"Huft ... tenang, tenang. I'm fine," ucapku lirih berusaha menenangkan diri.
"Cuek aja, mereka nggak ada apa-apanya," celetuk Egha tiba-tiba sambil menepuk pundakku.
Aku hanya tertawa dan akhirnya ikut masuk ke dalam kelas. Pertama-tama, Fania selaku ketua panitia memberikan sedikit pidato pembukaan dan mengenalkan para kadidat, juga menbacakan visi dan misi mereka.
Aku masih tetap fokus berdiri di depan kelas meski banyak tatapan mata tak suka tengah menusukku. Kulihat Nana duduk di bangku nomor dua dari depan. Aku memang sengaja memandangnya, untuk menahan kegugupanku. Mata kami beradu, tapi sejurus kemudian dia memalingkan wajah. Kemudian berbisik dengan temannya.
Sejujurnya, selama aku bersekolah disini, tak pernah sekalipun aku berbincang dengannya. Sebenarnya kami memang tak saling kenal, hanya sekadar tahu nama. Tapi sejak beredar isu tentang aku dan Risky, kami jadi seperti perang dingin.
Meski bukan aku yang memulainya karena aku tak tahu bahwa Nana menyukai Risky, tapi tetap saja aku tak nyaman jika bertemu Nana. Ah, sudahlah, Nana tidak akan berani macam-macam di depan umum seperti ini. Kecuali komplotannya yang memang tidak segan-segan mencibir di depan semua orang.
"Terima kasih atas kerjasamanya, semoga pilihan kita menjadi pilihan terbaik," ucap Fania menutup reformasi di kelas ini.
Begitu kami mulai meninggalkan kelas, tiba-tiba
"Iya, semoga ketua yang baru ini nggak suka bikin sensasi, ya?" celetuk seseorang yang tak asing suaranya
Sontak aku menoleh, kulihat Miza tengah tersenyum miring padaku. Langsung kubalas dengan senyuman paling manis
"Semua itu tergantung pilihanmu sendiri, jadi jangan pernah kecewa dengan pilihanmu karena mereka lebih berkuasa," ucapku penuh penekanan di dua kata terakhir.
Tanpa memerdulikan responnya, aku langsung keluar ruangan. Maya dan Egha tersenyum padaku sambil mengacungkan jempol. Kini aku menang
__ADS_1
______________________________________
"Mau buat konsep seperti apa, Za?" tanya Hamdan padaku
Aku yang ditanya hanya diam saja, karena aku masih mencoba berpikir. Sore ini, kita melaksanakan gladi resik untuk Acara Pelantikan dan Penyerahan Jabatan (PPJ) besok. Semua anggota osis sudah berkumpul untuk mempersiapkan acara ini.
Kami mengusung tema outdoor karena peserta yang mengikuti acara ini campuran dari putra dan putri. Kami melaksanakannya di lapangan sekolah karena memang hanya tempat itu yang cukup menampung ratusan siswa.
"Um ... untuk mantan osis kita tempatkan disini," ucapku sambil menunjuk tempatku berdiri
"Kalau untuk calon osis, kita tempat kan bersebarang dengan mantan osis. Jadi nanti saat mantan osis maju kedepan, calon osis mengikuti dan berdiri di belakang mantan osis. Saat mantan osis berbalik, kan mereka berhadapan, tuh ... "
"Nah itu bisa buat momen penyerahan jabatan, um ... pakai media selendang aja. Ada kan, selendang yang ada namanya koordinator keamanan? yang gitu-gitu, tuh," kataku
Hamdan mengangguk-angguk, "oh iya, iya. Paham"
"Gimana?"
"Oke, deh"
Aku mengangguk dan segera meninggalkan Hamdan. Aku takut Risky salah paham jika melihatku tengah berbincang berdua dengan Hamdan. Karena saat ini Risky tengah sibuk membantu menata meja-meja dan kursi untuk dewan guru.
Sesekali mata kami beradu dan dia nampak tersenyum padaku. Bagai magnet, tiba-tiba bibirku ikut tersenyum tanpa harus diperintah. Ah, aku senang sekali. Akhirnya kerinduanku terobati meski hanya bisa bertatapan dari jauh.
Lalu, kami melaksanakan gladi resik. Kami berbaris dan melaksanakan tiap bagian acara selayaknya sungguhan. Ini kami lakukan untuk memaksimalkan acara yang akan terakhir kami lakukan agar terlihat paripurna.
Untuk anggota dari tiap seksi hanya membantu dibalik layar. Akan tetapi meski begitu, kami benar-benar saling bahu membahu dan mengukir kenangan paling indah karena ini adalah kegiatan kami yang terakhir. Setelah ini, kami akan fokus pada ujian-ujian dan perpisahan.
____________________________________
"Osis putri ada kamera?" tanya Risky tiba-tiba mengagetkanku
Aku yang tengah duduk sambil membaca pidato yang akan kubaca nanti jadi terkejut, "uh ... ngagetin! ada, kok!"
Risky tersenyum, "mana?"
"Itu, dibawa Maya," kataku sambil menunjuk Maya yang tengah asyik memotret teman-teman.
"DSLR?" tanya Risky berusaha meyakinkan
Aku mengangguk dan tak mampu berkata, karena jarak kami kini cukup dekat. Hanya berjarak setengah meter. Pagi ini Risky hanya mengenakan baju lengan panjang dan sarung coklat, berbeda denganku yang tengah mengenakan seragam lengkap.
"Kok nggak pakai seragam?" tanyaku penasaran
"Aku, kan, pemain dibalik layar, nggak usah pakai seragam," jawabnya sambil mengedipkan mata
"Ya ... meskipun gitu, pakai seragam dong! biar rapi," protesku
__ADS_1
"Siap! hahaha, aku bawa kok. Masih jam 6 pagi juga, bentar lagi aku mandi"
"Mandi?"
Risky mengangguk
"Mandi dimana?"
"Ya di kamar mandi, masa' di lapangan sini?"
Aku menepuk jidat, "bukan gitu, ih!"
Risky terkekeh, "semalem aku menginap disini, tadi shubuh ambil kue di pemesanan, baru selesai ini. Makanya aku gak sempat mandi, tapi aku bawa seragam. Nanti aku mandi di kamar mandi ruang osis," jelasnya panjang lebar
Aku hanya mengangguk-angguk dan beranjak meninggalkan Risky
"Za!" panggilnya
Aku menoleh, "iya?"
"Nanti aku pinjam kameranya, ya? setelah acara," ucapnya dengan senyum yang lebar
"Oke" jawabku kemudian berlari menjauhi Risky agar dia tak melihatku bahwa pipiku sudah memerah.
Pagi ini adalah hari yang kami tunggu-tunggu, hari penyerahan jabatan yang sudah kami emban selama satu tahun. Semua anggota osis sudah berkumpul untuk menyiapkan segala sesuatunya. Baik osis lama ataupun osis yang akan dilantik. Sekali lagi, kami melaksanakan gladi resik untuk menyempurnakan penampilan.
Acara akan dimulai pukul 09.30 WIB, masih banyak waktu untuk mempersiapkan dan mematangkan semua persiapan. Maya yang tadi bermain-main dengan kamera, kini tengah berkutat dengan konsumsi di basecamp.
"Ada lebihnya nggak, May?" celetukku seraya mengintip dari pintu
Maya menoleh, "kamu mau apa? kue atau buah?"
"Wah, ada ya? buah aja deh. Eh itu ada mangga!" ujarku sambil menunjuk buah mangga yang telah dikupas dan dipotong kecil-kecil.
"Enak aja, itu buat dewan guru," sahut seseorang dari dalam basecamp
Aku terkejut dan langsung masuk ke basecamp, sontak mataku terbelalak saat melihat Risky yang tengah mengupas buah semangka.
"Hahaha, akhirnya masuk perangkap juga!" ujar Maya sambil tertawa
"Kalau soal makanan ternyata nomor satu, ya. Nih, makan ini aja," kata Risky seraya menyerahkan buah semangka yang sudah dikupas kulitnya.
Aku tersipu malu karena tidak hanya Maya dan Risky yang ada diruangan itu, tapi ada juga teman-teman yang lain.Termasuk Fania, yang kini tengah menatapku dan Risky. Sepertinya, dia mulai mengetahui hubunganku.
Aku ragu-ragu mengambil semangka yang di sodorkan Risky, tapi begitu aku menatap matanya, aku serasa langsung mendapat kepercayaan. Maka dengan senyum sumringah, kuraih semangka itu.
"Semangka aja udah bisa buat kamu tersenyum," celetuknya dengan senyum dengan menampakkan lesung pipit.
__ADS_1
Aku benar-benar malu dan sudah pasti pipiku terlihat memerah, semerah buah semangka yang kini kugenggam.