JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 14


__ADS_3

Jujur, meski kini rasa benciku lebih besar daripada suka, tetap saja jantungku berpacu dengan sangat kencang. Aku melangkah perlahan menuju tangga utama, berharap tidak sampai bertabrakan dengan Risky.


Kulihat dari jauh, ada sesosok cowok mengenakan baju batik lengan pendek berwarna army gelap dengan motif awan-awan disekeliling pinggagnya, mengenakan sarung orange dan songkok hitam.


Astaga! mengapa bajunya sama denganku? Aku juga tengah mengenakan baju batik berwarna army gelap dengan motif awan, bedanya aku mengenakan jilbab instan hitam dan rok levis panjang. Ya Tuhan? ini kebetulan atau apa?


Dia mengernyitkan dahi, merasa janggal denganΒ  pakaian kita yang bisa dibilang mirip. Namun aku diam saja, tidak menghiraukannya. Kini aku berdiri didepannya, berjarak 1,5 meter dan memalingkan wajah.


Ternyata, dia tengah memakai tas selempang kecil yang ia gantung kebelakang badannya. Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah buku berwarna orange. Itu buku mirip dengan buku kas dikelasku, hehe.


"Ini," ucapnya sambil tersenyum


Aku hanya menoleh dan menaikkan sebelah alis


"Apa ini?" tanyaku


"Bukuku, buku harianku," jawabnya


"Perlu, ya kamu ngasih ini ke aku?"


"Terima saja. Entah kamu bakal percaya atau nggak, itu urusan kamu. Tapi kumohon, terima dan baca ini"


Ku ulurkan tanganku dan kuraih buku itu


"Ini serius?" tanyaku lagi memastikan


"Serius banget, Za. Setelah kamu baca, kamu nulis sesuatu ya, disitu. Apa aja, pokoknya harus nulis. Nanti kalau sudah selesai, kamu kasih ke aku lagi"


Ribet, keluhku dalam hati.


"Iya deh, iya"


Akhirnya kubawa buku itu, kupeluk di dada, kututupi jilbab agar isinya aman.


"Za" panggil Risky


Aku hanya menoleh


"Jangan sampai ada yang tau, ya, cukup kita berdua," katanya lagi dengan mengedipkan mata.


Aku mengernyitkan dahi dan buru-buru lari. Aku sungguh sudah tak tahan dengan pesonanya.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Pukul 03.45 WIB setelah melaksanakan sahur dengan segelas minuman sereal, kini aku menuju musholah. Dengan membawa buku harian Risky, aku sengaja memilih tempat yang sepi.


Kubuka, lembar per lembar dari buku tersebut dan kubaca. Aku tertawa tergelitik. Ah, ternyata cowok juga bisa begini. Kemudian, aku tertuju pada dua lembar terakhir. Ada sebuah kalimat yang isinya


~Pertama kali menemukan seseorang, yang bisa melunakkan hatiku yang keras~


Dan diakhir kalimat, ada singkatan namaku dan namanya. Astaga! ini apa? jujur aku tertawa geli melihat ini. Tapi, dalam hati ada sekelebat rasa bahagia, sampai begini dia membuat singkatan nama.


Ku buka lagi lembaran berikutnya. Akhirnya inilah isi ungkapan hati yang dia maksud


~Assalamualaikum, Za


Maaf sebelumnya, aku sudah melakukan hal yang sangat tidak pantas dan sangat melukai hatimu. Semua itu kulakukan agar kamu tahu, bagaimana diriku, agar kamu tidak terkejut nantinya jika tau bagaimana diriku yang sebenarnya.


Aku ingin Kamu mengetahuinya langsung dariku, bukan dari orang lain. Aku memang sengaja mengirimimu foto itu agar kamu tau, bahwa Aku tidak sebaik yang kamu kira.


Jujur, Za. Aku sangat sedih dan gelisah saat tau betapa kecewanya dirimu, ketika aku melakukan itu. Sempat muncul di pikiranku, bagaimana caranya agar kamu tak lagi kecewa padaku?


Maaf jika Aaku tak seperti yang lain, yang selalu lurus dan enggan berbelok. Jujur, ini adalah pertama kali dalam hidupku. Ini kisah yang tak pernah Aku alami sebelumnya. Berkat kamu, Za, aku belajar memahami perasaan orang lain.


Dari dulu, aku nggak ada keinginan memahami perasaan wanita. Ini adalah yang pertama kali, sumpah! sekali lagi maaf aku mengecewakan mu dengan sikapku.


Ya, memang inilah aku. Sulit membuat prioritas dengan orang spesial, kuharap kamu mengerti. Dan soal foto itu, dia adalah teman sekolah SD ku dulu. Tenang saja, aku nggak ada rasa apa-apa dengan dia, dan itupun foto lama, jauh sebelum aku mengenalmu.


Sekali lagi, maafkan aku, Za. Aku juga ingin, kita biasa saja ketika bertemu, seperti tidak terjadi apa-apa diantara kita


Salam,


RisZa :)


Dadaku berdesir, ada setetes embun yang membasahi hatiku. Kupeluk buku itu, dan embun itu menetes saja dari pelupuk mata. Aku tersenyum, melihat apa yang dilakukannya untuk meyakinkan agarku tak kecewa, membuatku bimbang lagi.


Apakah aku harus mengakhiri ini? atau tetap melanjutkannya? Aku bingung sekali. Buru-buru kuraih bulpoinku, dan mulai mengukir untaian kata dalam irama hatiku.


~Dear Risky


Alhamdulillah, sudah kubaca semua isi dari bukumu. Sebelumnya, kuucapkan terima kasih karena telah mempercayaiku memegang buku ini meski sebentar, tapi itu adalah sebuah kehormatan bagiku.


Aku sangat menghargai usahamu memikirkan perasaanku. Ketakutanmu akan kekecewaanku, memang benar adanya. Aku hancur, sangat hancur. Cara yang kamu gunakan memang tergolong 'kasar' untuk kaum sepertiku.


Tapi itu lebih baik, karena aku mengetahuinya darimu. Awalnya aku berpikir untuk mengakhiri ini, tapi kemudian pikiranku berbalik, haruskah? sepertinya tidak.


Aku menerima alasanmu, terima kasih sudah mau jujur. Dan aku memang memahami bagaiman hubungan kita. Um ... mungkinkah HTS? Hubungan Tanpa Status? Aku sadar bagaimana posisiku, jadi tak terlalu rumit bagiku untuk tidak selalu menjadi prioritasmu.


Seperti yang kubaca pada halaman-halaman sebelumnya, sepertinya kamu dalam fase pencarian jatidiri, sama sepertiku. Saranku, pilihlah circle pertemanan yang baik, Ky. Yang menyokong kelebihanmu, jangan lupa ingat ibu dan bapak dalam usahamu.

__ADS_1


Tetap semangat, ya. Dalam hal apapun, jangan pernah menyerah. Aku akan tetap seperti biasa, dan ingat jangan bilang siapapun soal hubungan kita.


Salam,


RisZa β™‘


Kututup buku itu dengan perasaan teramat lega. Setidaknya, aku mengetahui bagaimana alur hubungan ini. Meski terlihat aneh, tapi inilah yang ku mau. Tanpa suara, tanpa gerakan. Kita berperasaan dalam diam.


Aku berjalan menuju kamar, membuka loket bajuku dan meraih parfum andalanku. Ku semprotkan pada seluruh buku itu, kemudian kututup rapat. Tak sabar untuk mengembalikannya.


_______________________________


"Za, serius deh. Bantuin aku, yuk!" tiba-tiba Maya merengek padaku sepulang mengaji kitab pagi di Bulan Ramadan.


"Apa lagi, hum ... ? " tanyaku sambil memasukkan bulpoin kedalam saku.


"Aku lagi mau kasih hadiah untuk mas ku, tapi bingung mau kasih apa," ucapnya dengan wajah yang di manyun-manyunkan.


"Apa? sarung? baju koko? songkok? apalagi kalau cowok? gamis? hahaha," celetukku yang dihadiahi pukulan oleh Maya.


"Aduh, sakit! kagak Aku bantuin, ****** Kau!"


"Kamu, sih, kalau kasih saran suka ngeledek. Sesuatu yang murah-murah aja, um ... apa, ya?"


"Sorban? kayaknya bagus" kataku kemudian


"Aha! bener banget, Za! Ih, Kamu jenius banget, sih!" Kata Maya sambil mencubit-cubit pipiku.


"Astaga! suka banget nyiksa!" teriakku sambil menghindar.


Maya terus mengejarku sambil tertawa


"Za, Kamu mau kemana? Katanya mau bantuin?"


"Ke asrama bentar ambil duit," jawabku


Kupikir ide bagus, bulan depan adalah ulang tahun Risky, aku berinisiatif memberinya sesuatu sambil mengembalikan bukunya.


Setelah mengambil uang, aku dan Maya menuju toko baju yang ada di ujung jalan. Kami langsung menuju ke tempat berbagai macam sorban dan gamis cowok.


"Bu, liat sorban yang itu dong," pinta Maya pada Ibu Mukti, pemilik toko.


"Yang mana, Neng?"


"Itu yang warna orange"


Aku mengernyitkan dahi,


"Mas ku suka warna orange, hehe" cengir Maya sambil menyahut sorban yang Bu Mukti serahkan.


Sontak Aku menepuk jidat,


"Astaga! ya meskipun warna kesukaan, tapi masak iya sih, warna orange? ini mah, cocok buat cewek! udah, kasih warna lainnya!" kataku sambil memilah-milah sorban yang bergantung.


Bu Mukti hanya tersenyum simpul,


"Nah, ini bagus, Neng. Warna abu-abu, cocok, mah, kalau buat cowok," kata Bu Mukti seraya menyerahkan sorban abu-abu dengan motif dekorasi garis di ujung-ujungnya.


Kubiarkan Maya bereksplorasi dengan pilihannya, kini giliranku memilih pilihanku. Aku terus memilah lembaran sorban di depanku hingga akhirnya pilihanku jatuh pada sorban yang berada di akhir urutan.


Sorban yang cukup tebal, dengan warna coklat keungu-unguan. Meski dominan ungu, tapi ini terlihat menawan. Ujung-ujungnya semakin elegan dengan dekorasi rombe-rombe lonceng kecil. Ku raih sorban itu, dan kucoba kenakan di leherku, sangat bagus.


Akhirnya, pilihanku jatuh padanya!


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Hari ini adalah hari kelima sejak Risky menyerahkan buku hariannya padaku, dari kemarin dia berkali-kali menghubungiku lewat chat aplikasi biru agar aku segera mengembalikan bukunya.


@Riskyy


Za, Halo. Udah dibaca bukunya?


Za, udah nulis belom? jangan lupa, ya


Za, buruan balikin, dong! Aku nggak sabar, nih, mau baca


Za, hati-hati, ya, kalau mau nyimpan bukunya. Soalnya hanya Aku dan Kamu yang tau!


Za, cepat balikinn! Aku nggak sabar


Aku tergelitik, membaca beberapa chat darinya.Β  Memang beberapa hari ini aku sama sekali tidak online, karena memang tidak ada job untuk membuat brosur.


Hari ini, aku kebetulan online karena di perintah Pak Ridho untuk merevisi brosur. Yang datang ke MA pun hanya aku dan Maya, Egha tidak ikut karena sedang dikunjungi keluarganya.


@ZaKhanza


Aku udah di kantor, nih. Kamu dimana?


Balasku pada Risky akhirnya, tak perlu menunggu waktu lama, tiba-tiba terdengar notifikasi pada komputerku.Ting!

__ADS_1


@Riskyy


Aku ada di kantor osis, buruan, gih!


@ZaKhanza


Astaga, sabar! Maya yang kesitu entar


@Riskyy


Loh, kok, Maya?


Tanpa membalas chat darinya, buru-buru kudorong Maya sambil menyempilkan bungkusan kecil berisi hadiahku pada Risky di tangan Maya. Kemudian Maya berjalan buru-buru menuju tangga utama di depan ruang osis. Aku malu kalau harus menyerahkannya sendiri, maka kusuruh Maya saja.


Tiba-tiba, setibanya Maya di depanku


"Za, katanya Risky, mana bukunya?"


Astaga! Aku menepuk jidat, aku ini amnesia atau gila, sih? kenapa tadi bukunya nggak sekalian?


"Emang buku apa, Za?" tanya Maya lagi sambil mengernyitkan dahi.


"Bukan buku apa-apa. Cuma buku rapat yang kebetulan Aku bawa!" jawabku sambil menyambar buku orange itu dan berlari, sial!


Aku menaiki anak tangga, kemudian berdiri tepat didepan ruang osis. Tiba-tiba


"Loh, Khanza. Kamu mau cari siapa?" Adi muncul begitu saja di depanku yang membuatku tersentak kebelakang


"Ah, anu, apa, um ... mau cari Risky!" jawabku gelagapan sambil menyembunyikan buku itu kedalam jilbabku.


Risky muncul dari belakang Adi dan seketika membuatku lega, hufft.


Kemudian Risky memberiku isyarat bola mata, agar aku turun ke bawah tangga. Dengan gerak cepat, aku segera berlari kebawah. Risky menuju kamar mandi, begitu Adi masuk ruang osis, Risky langsung menemuiku.


"Hufft, tadi itu hampir saja," kataku sambil meletakkan buku 'keramat' itu di lantai


"Lagian, kamu Aneh, Za," celetuk Risky sambil mengambil buku itu


"Kok aneh?"


"Ngasih sesuatu, nggak sekalian bukunya. Nyuruh-nyuruh Maya pula!"


Aku hanya mengerlingkan mata dan bersikap acuh, Risky malah tertawa.


"Makasih, ya, hadiahnya. Padahal ulang tahunku masih lama"


"Simpan aja, kalau mau dibuka, harus ijin aku dulu, tepat di tanggal kelahiran," jawabku


"Kok gitu?"


"Suka-suka yang ngasih, lah!"


Lagi-lagi Risky tertawa renyah. Ah, Inilah yang kusuka darinya, selalu bisa membuatku bahagia hanya dengan mendengar suaranya.


"Oke, siap Buk!" Hormat Risky padaku.


Aku hanya tersenyum sambil menutup mulut, Kemudian berlari. Meninggalkan Risky masih dengan senyumannya.


_____________________________


Tak terasa, sudah hampir dua minggu aku melaksanakan ibadah puasa di pesantren. Setiap pagi setelah shubuh, adalah jadwal pengajian kitab yang terbagi dari beberapa kelas.


Aku mengikuti kelas pengajian tingkat menengah, yang diikuti oleh perpaduan santri putri dan santri putra. Meski kami mengaji pada kelas yang sama, tapi kami terpisah oleh sekat triplek yang tinggi, jadi lumayan aman.


Aku dan teman-teman sudah berkumpul di kelas dan memulai untuk mengisi absen. Pagi ini, kelas kami tengah membahas tetang kisah salah satu nabi. Aku sangat menikmati pengajian pagi ini, hingga


"Seperti saya contohkan, salah satu orang disini, um ... siapa ya?" kata Pak Fahmi disela-sela pembahasannya.


Beliau melihat ke kelas putri, dan nampak diriku yang memandang Pak Fahmi dengan polos


"Nah, Khanza! Saya contohkan seperti Khanza, menikah dengan Mas Aldo, nanti akan menghasilkan keturunan yang insyaAllah baik jika dilihat dari perpaduan kedua orangtuanya. Sama-sama pinter dan rajin!"


Sontak mataku membulat dan nafasku tertahan! Apa?! Apa Pak Fahmi bilang? Aku dan ... Mas Aldo? Nggak! Meski hanya perumpamaan, tapi konteksnya bukan gitu. Saat ini yang dibahas adalah keturunan, kenapa harus aku dan Mas Aldo?


Seketika seisi kelas riuh dengan sorak sorai. Mereka berniat memanasiku dengan Mas Aldo. Ya Tuhan, Mas Aldo ada di kelas sebelah? bagaimana ini? Kenapa, sih Pak Fahmi itu!


"Semoga, apa yang saya katakan ini benar adanya. Semoga mereka benar-benar berjodoh!" Tutup Pak Fahmi sambil melirikku.


Sontak, suasana kelas semakin riu, dan aku semakin gelagapan. Bagaimana jika Risky tau ini?


_______________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya


Dukung author dengan bintang-bintang yang kalian miliki


See ya!

__ADS_1


Salam, Khaza di bumi.


__ADS_2