JODOHKU PLAYBOY

JODOHKU PLAYBOY
PART 2


__ADS_3

"Saya Mas Hamdan!" Ucap seseorang di ujung sana.


Aku yang hendak mengangkat tangan untuk mengajukan rasa keberatan, akhirnya batal.


Bukan hanya diriku yang tidak setuju dengan keputusan Hamdan, tetapi anggotaku juga. Aku masih mencari-cari sumber suara, namun masih belum terlihat batang hidungnya.


"Oh, iya! silahkan Mas Risky. Perkenalkan dirimu terlebih dahulu," Kata Hamdan sambil tersenyum pada seseorang itu. Tunggu? Risky? siapa dia? Aku baru mendengar namanya saat ini.


Kemudian yang bernama Risky tersebut berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya. Kulihat dia, seorang cowok dengan postur tubuh standar, kulit sawo matang dan sorot mata yang tajam, di tambah alis yang tebal dan hidung mancungnya. Umm lumayan, tapi aku masih heran dengan keputusannya. Apa dia mampu? Apa Alasannya?


"Jadi, Apa alasan Mas Risky untuk berkenan maju sebagai ketua umum? bukankah ini tugas yang sangat berat?" Tanya Hamdan akhirnya.


Aku masih memperhatikan dengan seksama.


"Kalau Kita ingin maju, maka Kita harus berani mengambil resiko. Seperti saat ini, saya akan memaksimalkan kemampuan saya untuk meminimalisir resiko yang terjadi," ucapnya mantap.


Aku semakin mengernyitkan dahi.


"Dengan cara apa, Mas Risky melakukannya?" tanya Hamdan sekali lagi. Kulihat Si Risky menghela nafas dan tersenyum.


"Merangkul semua anggota dan memanfaatkan kemampuan mereka," Ucapnya diiringi tepuk tangan anggota osis putra.


Tapi tidak dengan anggotaku, mereka semua keberatan dan memintaku untuk membuka suara.


"Aku tidak setuju!" ucapku lantang dan langsung menjadi pusat perhatian, terutama Pak Sanusi beliau melihatku dengan sorot mata yang tajam menusuk.


"Oh, Bu Ketua, apa yang membuatmu tidak setuju?" Tanya Hamdan dengan suara yang tenang, berbeda dengan mukaku yang sudah merah padam.


"Banyak alasan yang bisa aku utarakan, salah satunya, dia akan membuat acara ini sebagai ajang percobaan. Ini bukan acara main-main, bagaimana mungkin dia menjadi ketua?" Ucapku meremehkan dan tersenyum miring.


Sontak ucapanku membuat gaduh suasana rapat dengan berbagai macam protes, aku hanya diam. Kulihat Risky juga diam, sambil sesekali menatapku. Hamdan tengah berpikir keras dan akhirnya,


"Alasanmu tidak bisa diterima, Risky akan tetap menjadi ketua umum!" Ucap Hamdan kini dengan nada ketegasan.


Mataku membulat dan bibir ku mengerucut. Fix! Aku benci semua ini.


_____________________________


"Za, kayaknya kamu harus ngomong, deh, sama Hamdan, apa dia serius?" Tanya Anita saat kami sedang memakai sepatu setelah keluar dari musholah.


Aku hanya menghela nafas dan melanjutkan memasang tali sepatu.


"Mungkin kamu bisa tau alasan Hamdan, kenapa membuat keputusan kayak gitu, Za," imbuh Maya


"Dia bilang kamu dulu, kalau mau nunjuk anggota lain?" Tanya Egha


Aku hanya menggelengkan kepala, enggan berbicara. Benar-benar tidak punya hati pikirku. Apa susahnya bilang dulu padaku, seharusnya segala keputusan dibicarakan terlebih dahulu.


Aku berjalan mendekati Hamdan yang tengah berbicara dengan Risky. Lalu Hamdan melihat dan menghampiriku, kini kita sudah saling berhadapan.


"Kamu serius?" Tanyaku


"Apanya?"


"Soal ketua umum"


"Apa aku pernah main-main dengan keputusanku?" Tanya Hamdan kini dengan melipat tangan di dada.


Aku hanya memalingkan muka, kulihat sekilas Risky memperhatikan kami.


"Za, aku tau ini yang terbaik, meski bukan aku yang menjadi ketua umum, aku akan tetap menghandle kegiatan ini, percayalah. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja sendiri, ada aku, ada Risky, ada teman-teman yang lain. Aku ingin merubah pandangan sebagai ketua, semua anggota berpotensi, maka dari itu aku membuat keputusan ini" Jelas Hamdan sambil menatapku lekat.


Aku memandangnya dan menghela nafas.


"Tapi, kenapa Kamu nggak bilang dulu? Itu yang mengganjal di benakku!" Ucapku penuh penekanan.


Dia menatapku lekat dan tersenyum,


"Semua akan baik-baik saja percayalah."


Kemudian dia mengedipkan mata dan berlalu pergi.


Dadaku bergemuruh karena perlakuannya, jantungku seakan memompa darah lebih kuat untuk mengendalikan emosiku, pertahananku luluh lantah, aku benar-benar gagal move on.


____________________________


Aku masih memandang keluar jendela. Salah satu aktifitas favoritku setiap pagi, menanti pujaan hati datang dan membuatku semangat lagi. Meski ku tau hatinya bukan untukku, tapi tetap saja hatiku ingin, ingin melakukannya.


Masih kuingat kejadian 2 hari lalu, saat rapat kulihat dia mencuri-curi pandang pada Hani, meski Hani tidak memperhatikannya, tetap saja hatiku teras sakit. Belum lagi perlakuannya padaku, senyumnya, kedipan matanya, suaranya, benar-benar membuatku gila. Ahh sudahlah. Aku sudah cukup lelah.

__ADS_1


Aku menghela nafas, perlahan-lahan aku harus bangkit, aku harus kuat melawan perasaanku.


"Za, pagi-pagi sudah melamun lagi, itu, tuh, ada yang nyariin kamu!" Teriak Egha sambil mengibas-ngibaskan sapu di hadapanku.


Aku menoleh, oh, kakak kelasku ternyata


"Ada apa, Kak?"


"Dek, kamu ada yang nyariin tuh dibawah," kata kakak manis itu.


Aku mengernyitkan dahi, siapa yang mencariku pagi-pagi begini.


"Katanya, sih, dia salah satu anggota osis putra, kamu suruh cepetan nemuin dia"


"Oh, oke deh, Kak, makasih banyak!" ucapku sambil tersenyum.


Si Kakak mengangguk kemudian berlalu, tak lama dia kembali menoleh dan berteriak


"Oh iya, Dek,  dia ada di lobby"


Lalu aku mengacungkan jempol dan berlari menuju lobby. Siapa kira-kira yang mencariku?


Aku berjalan menuruni tangga, dan menuju lobby sekolah kami. Kami hanya bisa melakukan pertemuan disitu, agar aman dan terhindar dari fitnah.


Kulihat ada dua orang cowok yang berdiri membelakangiku, cowok yang pertama berpostur pendek dan agak berisi. Oh, aku mengenalnya, dia Adi.


Cowok yang satunya lebih tinggi dari Adi, membawa buku catatan dan bulpoin, dan dia berbalik, oh, ternyata,


"Hmmm, Kamu nyariin Aku?" Tanyaku pada Risky. Aku bersikap seramah mungkin dan mencoba melupakan perkataanku tentangnya beberapa hari lalu.


Dia hanya mengangguk dan menatapku tajam. Aku mengernyitkan dahi, menelan ludah. Apa dia marah padaku?


"Memangnya ada keperluan apa?" Tanyaku lagi masih mencoba untuk ramah.


"Ayok rapat!" Ucapnya seperti sebuah titah yang harus kulakukan. Dan yang paling parah, dia memalingkan wajah dariku. Lagi-lagi aku terkejut dengan sikapnya. Kulihat ada rasa tak suka pada matanya.


"Sekarang?" Tanyaku lagi


"Nggak! tahun depan!" Ucapnya ketus. Kulihat Adi hanya menahan tawa. Aku hanya membulatkan mata dan mengernyitkan dahi.


"Ya, sekaranglah! Kamu nggak lihat aku udah bawa buku catatan?" Katanya sambil berteriak dan wajah yang merah padam.


"Kalo ngomong biasa aja dong, nggak usah nyolot juga! Aku denger kok nggak tuli. Orang tanya baik-baik sikapmu malah kayak gitu" Teriakku tidak kalah lantang. Buru-buru aku berlari menaiki tangga dan menuju kelas tanpa memperdulikan responnya lagi. Aku benar-benar benci padanya.


________________________


"Za, menurutmu Risky itu gimana?" Tanya Egha tiba-tiba saat Kami tengah asyik menyantap cilok di jam istirahat.


"Apanya? Aku benci dia," jawabku singkat.


"Jangan terlalu benci, nanti jadi Cinta loh!" Celetuk Maya sambil menyenggol lenganku, dan sontak membuatku tersedak.


"Ihhhh, Maya apaan, sih, uhuk uhuk! Aku tersedak ini," umpatku sambil buru-buru minum.


"Hahahah, tuh kan, Khanza aja langsung terkejut!" Maya masih menertawakanku.


"Kayaknya dia nggak sejahat kayak yang Kamu ceritakan deh, Za. Buktinya kemarin saat rapat dia bijaksana banget menanggapi pembahasan kita, cuma kamu aja agak sensi tiap kali dia ngomong," jelas Egha panjang lebar sambil mengusap-ngusap dagunya.


Buru-buru kuhabiskan cilokku dan membuang plastiknya ke tempat sampah kemudian menggebrak meja,


"Kalian aja yang nggak tau! Aku dibentak habis-habisan waktu itu!" Ucapku bersungut-sungut.


"Mungkin aja waktu itu dia pikirannya lagi kalut, makanya dia meluapkannya ke Kamu" Maya menanggapi kata-kataku sambil menopang dagu menatapku.


"Ya meskipun gitu, seharusnya dia nggak meluapkannya sama Aku dong!" Ucapku masih tidak terima.


"Udah-udah, sekarang kita fokus sama agenda saja, biar cepat kelar." Ucap Egha sambil mengelus lenganku. Aku hanya menghela nafas.


____________________________


POV Risky


Awalnya aku ragu, apakah aku mampu mengemban tugas sebagai ketua umum, tapi aku harus mecobanya. Selain aku ingin menambah pengalaman, aku juga ingin melancarkan usahaku. Aku tengah mendekati seorang gadis, dia juga salah satu anggota osis putri, Alfi namanya.


Sudah lama aku menaruh hati padanya, namun belum menemukan waktu yang pas untuk mendekati secara intens. Meski Kami sering berkomunikasi via online, namun itu terasa kurang pas. Semoga usahaku di lancarkan.


Tetapi saat rapat penentuan ketua umum, ada seorang gadis yang menentangku dan dia adalah ketua osis putri. Aku baru pertama kali meliatnya.


Seorang gadis berkacamata yang terlihat polos namun begitu berani. Terlihat saat dia dengan beraninya meremehkan kemampuanku di depan semua orang. Aku yang awalnya begitu percaya diri, seketika menjadi down. Aku tersinggung oleh kata-katanya. Aku menjadi tak suka padanya.

__ADS_1


"Kamu jangan mikirin ucapannya Khanza, mungkin dia tengah emosi, karena aku tak memberitahunya terlebih dahulu. Ini semua salahku," Kata Hamdan tiba-tiba saat Aku tengah memasang sepatu.


"Oh, itu. Iya, nggak papa, kok. Aku memakluminya. Dia tidak pernah mengenalku sebelumnya, jadi mungkin agak sulit menerima jika nanti harus menjadi partnerku," ucapku sambil tersenyum mencoba mencairkan suasana hati Hamdan.


Mungkin yang dikata Hamdan benar adanya, semua butuh proses untuk menjadi lebih baik.


"Aku tau dia ada perasaan berbeda padaku, tapi entahlah, Aku selalu suka saat dia mulai bersikap serius," kata Hamdan sambil tertawa.


"Kamu menyukainya?" Tanyaku


Hamdan menggelengkan kepala.


"Tidak, tapi aku tau, sudah ada hati yang siap menerima Khanza." Ucap Hamdan sambil melihat ke arah lain.


Namun saat kuikuti arah pandangnya, Hamdan malah berdiri dan berjalan menghampiri seseorang. Ternyata dia meghampiri Khanza.


Kulihat Khanza datang pada Hamdan dan bersungut-sungut. Sepertinya Aku paham arah pembicaraannya. Kulihat dia dan kebetulan dia juga melihatku. Ada tatapan tidak suka pada matanya. Tapi aku paham suasana hatinya saat ini, aku hanya menghela nafas.


________________________________


Hari ini aku mengetahui sebuah kenyataan bahwa, orang yang selama ini menjadi tambatan hatiku, lebih memilih hati yang lain. Alfi, lebih memilih Farhan, kekasihnya.


Aku baru tau kalau dia sudah kembali pada kekasihnya dulu, saat dia mengetahui perasaanku. Dia meminta maaf karena tidak bisa membalas rasaku. Sakit? tentu saja. Rasanya hari-hariku akan kembali suram, namun asal Alfi bahagia, aku tak apa.


Hari ini juga, agendaku untuk rapat koordinator dengan ketua osis putri, Khanza. Langsung aku menuju loby untuk memanggilnya.


"Gimana, ya, caranya aku manggil Khanza. Hmm ... emang dia kelas apa, sih? IPA atau IPS?" Tanyaku pada Adi.


"Dia anak IPA, kelas XIA IPA2 kayaknya" Jawab Adi.


Tiba-tiba ada kakak kelas yang melintas di depan Kami.


"Mbak, minta tolong boleh?" Panggilku pada Mbak itu.


"Oh, ada apa, Dek?"


"Minta tolong, panggilkan Khanza,ya, Mbak, ketua osis itu"


"Oh, iya, Dek. Aku panggilin"


"Makasih, ya, Mbak."


Kemudian, Mbak itu berlalu pergi. Aku kembali hanyut dalam lamunanku, memikirkan perasaanku.


"Udahlah, Ky. Jangan galau terus. Cewek nggak cuma Alfi, kok. Masih ada yang lainnya. Mau Aku kasih tau nggak, nih?" Goda Adi.


"Apaan sih, Di!" Kubogem lengannya, Adi hanya meringis dan meledekku.


Tiba-tiba,


"Hmmm, Kamu nyariin aku?" Tanya Khanza sambil tersenyum. Sepertinya Dia sudah melupakan kebenciannya padaku.


"Memangnya ada keperluan apa?" Tanyanya lagi masih dengan senyuman. Tapi entahlah, Aku sangat sulit membalas senyumannya.


"Ayok rapat!" Kataku sambil memalingkan wajah. Aku takut, ekspresiku yang sedang kalut ini malah membuatnya salah paham.


Dia mengernyitkan dahi, namun aku tak peduli, hatiku masih kalut.


"Sekarang?" Tanyanya dengan ekspresi polos. Yasalaamm, gadis ini terlalu polos atau nggak peka, sih. Sudah tau aku membawa buku catatan dan bulpoin, masih tanya sekarang- sekarang.


"Nggak, tahun depan!" Jawabku seenaknya, dan dia malah melongo.


"Ya sekaranglah! Kamu nggak lihat aku udah bawa buku catatan?" Bentakku spontan dan dia langsung terkejut sambil memegang dadanya. Ya Tuhan, aku salah bicara.


"Kalo ngomong biasa aja, dong! Nggak usah nyolot juga! Aku denger, kok, nggak tuli. Orang tanya baik-baik sikapmu malah kayak gitu!" Ucapnya dengan suara tak kalah lantang.


Untuk pertama kalinya, aku merasa menyesal sudah menyakiti hati seorang gadis. Belum sempat aku menjelaskan, dia sudah berlari menaiki tangga dan kulihat bahunya terguncang. Menangis? Khanza, Maafkan aku.


_____________________________


tbc.


*Jangan lupa vote dan komentarnya, ya


Dukung Author dengan bintang-bintang kalian


Salam,


Khanza di dunia nyata

__ADS_1


__ADS_2