
Taman Harapan......
Aku benar-benar gugup mendengar pertanyaan andin. belum saatnya aku beritahu semuanya. sepertinya aku berbohong untuk kali ini. demi tidak terjadi masalah antara aku dan andin.
"Oh, gue belum kepikiran mau masuk mana. niatnya si SMA 2 tapi mana mungkin hehehe"
"Hehehe kenapa ga SMA 10 aja, bagus juga loh itu. ya masuk kriteria ke sepuluh besar favorit di jakarta."
"coba deh nanti gue pikirin." aku mengiyakan perkataan andin agar dia tidak kecewa.
"Oke pokonya semangat terus" andin memberiku semangat.
"Semangatttt hehehe" aku juga memberi dia semangat.
"Oh iya aku mau tanya lagi boleh?" andin bertanya kembali kepada ku.
"Boleh"
"Ko kamu tumben mau ningkatin nilai kamu?" andin bertanya kembali.
gawat andin menanyakan soal itu. Aku tidak mau salah bicara, aku mulai memikirkan semuanya.
"Ya kan itu perintah pak andri," aku menjawab dengan sebaik mungkin agar tidak menjelaskan hal itu kepadanya.
"Pak andri perintahkan kamu itu untuk apa tujuannya?" dia benar-benar menjebak ku dengan pertanyaannya.
"Ya buat gue makin pintar lah, terus bisa ngalahin lo. hehehe eh btw awalnya gue di hukum lama-lama gue berpikir bener juga di bilang pak andri, gue harus berubah jadi lebih baik. di tambah papah galak loh jadi ya mau engga mau belajar kan."
Aku menjelaskan dengan sangat baik. Maaf pah kali ini aku bawa-bawa nama papah hehehe, dalam hatiku.
"Hehehe"
"Loh ko lo ketawa?"
__ADS_1
"Hmmmm engga, ternyata kamu takut juga ya sama orang. kirain berani sama semuanya."
"Ye takut lah, apalagi papah kalo udah marah. behhh bisa lebih parah dari pak miko hehehe"
"Hehehe" aku dan andin tertawa bersama. Bahagianya aku melihat andin tertawa.
"Oh iya sekarang gue boleh tanya ke lo?"
aku mulai bertanya. Kali ini aku bertanya seputar andin yang hanya mau bertemu berdua saja denganku tanpa teman ku.
"Iya tanya aja" jawab andin.
"Lo kenapa mau sama gue aja ngerayain nilai gue? Kenapa ga mau gabung sama teman-teman gue?"
Andin terdiam sejenak. mencoba berpikir agar dapat menjawab pertanyaan ku.
"Hmmm aku hanya?"
"Hanya apa? apa jangan-jangan lo ga mau di ganggu mereka? jadi kita bisa bermesraan layaknya sepasang kekasih disini hehehe " aku benar-benar percaya diri sekali.
"Ya terus kenapa? Maunya berdua aja?"
"Sejujurnya aku?" dia diam tidak melanjutkan perkataannya.
"Sejujurnya apa?" aku mulai bertanya kembali. Aku benar-benar penasaran.
"Tapi kamu jangan marah ya?"
"Iya engga tenang aja"
"Sejujurnya aku engga suka kamu dekat dengan teman-temanmu itu."
Aku terkejut mendengar andin berkata seperti itu. apa jangan-jangan benar apa yang di katakan reno bahwa aku dan teman-temanku hanya di nilai buruk di matanya. membuat aku sebal mendengar perkataan andin. tapi aku sudah bilang untuk tidak marah saat dia mengatakannya.
__ADS_1
"Emang kenapa lo ga suka?"
"Ya karena dia tidak baik, itu berpengaruh buruk untuk kamu, apalagi untuk perkembangan belajar kamu."
"Lo belum kenal teman-teman gue, mereka ga kaya gitu ko, mereka baik-baik. ya mungkin untuk masalah belajar, gue ya aja yang males. Jadi lo jangan beranggapan gue kaya gini gara-gara pengaruh mereka kaya gitu"
Aku mencoba untuk membela teman-temanku.
"Tetep aja rey aku ga suka! mau kamu bilang apapun aku tetap ga suka!" andin menjawab dengan nada tinggi.
"Cobalah din lo dekat dulu, baru menilai."
Aku menjawab dia dengan kesabaran. agar tidak memperpanjang masalah.
"Ga bisa pokonya aku ga suka mereka!!!"
Tanpa berkata apapun lagi, andin langsung pergi meninggalkan ku. ternyata itu alasannya andin tidak mau bergabung dengan teman-temanku.
Ya perempuan yang seperti andin, memang susah untuk menjelaskan apapun. Dia hanya menerima pikirannya dia tanpa melihat kenyatannya. percuma aku membela teman-temanku kalau di pikirannya dia selalu merasa benar.
Mungkin memang benar, seseorang yang pintar akan mempercayai dan merasa pikirannya saja yang selalu benar. makin hari aku dekat dan melihat tingkah laku dia, makin aku mengenal dia secara penuh.
Awalnya aku bilang dia perempuan sempurna. cantik, pintar, baik, lemah lembut, berpikiran terbuka. tetapi tidak semuanya aku benar, andin memiliki sisi tidak sempurna juga. dia hanya memandang diri orang lain buruk tanpa mengenalnya secara jauh dan utuh.
Ya bisa di bilang egois, aku jadi merasa dia seperti papah ku. Yang selalu berpikiran buruk tentang bola dan bola. yang dia mau hanya dirinya sendiri. dia hanya mau aku selalu menuruti permintaannya tanpa melihat dan mengenal diriku dan hobi ku sepenuhnya.
Ah sebal kenapa andin harus seperti itu!
aku sudah mulai jatuh cinta dengannya, tapi kenapa aku merasa kecewa saat mengetahui dan mendengarkan perkataannya dia yang seperti itu.
Tapi namanya jatuh cinta tidak bisa hanya menyerah begitu saja. akan ku coba dia untuk melihat dan mengenal sisi baik teman-temanku. dan menjauhkan sisi buruk dari pikiran-pikiran jelek yang dia pikirkan tentang teman-teman ku. belum jadi kekasih saja sudah mengatur aku. Huffffftttt walaupun bagaimana pun aku tetap cinta dengan dia.
Wah ko Andin berkata seperti itu? Kira-kira gimana ya Rey ngeyakinin Andin kalau teman-temannya tuh baik, ga buruk. Kalian pernah engga si di posisi andin dan Rey yang belum terikat jadi sepasang kekasih tapi sudah mengatur-atur seperti itu? Kalau aku si pernah hehehe. Lanjut part berikutnya yuk dari pada kelamaan dan penasaran. Selamat membaca readersku tercintaaaaaa enjoyyyyyyyyyyy
__ADS_1
#jadisaksiperjalanankisahreyandin