
Hari ini siswa dan siswi bergegas untuk datang ke sekolah. Untuk mengambil surat kelulusan. Akhirnya aku bertemu dengan Andin. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan dia sejak pulang dari yogjakarta. Aku sangat ingin melihat wajahnya.
Tetapi sebelum aku bertemu dengan dia, Aku harus mencari pak Andri terlebih dahulu. Karena hari ini aku akan mendaftar ke sekolah sepak bola itu. aku diam-diam ke ruang kesiswaan. Aku tidak mau Andin mengetahui ini. Aku melihat sekeliling ku berharap tidak ada orang yang melihat ku. Saat sudah sampai ruangan pak Andri aku langsung memberi salam.
“Asslammualaikum pak”
“Waalaikum salam, masuk Rey sini” jawab pak Andri sembari mengetik komputer.
“Baik pak” jawab ku sambil mendekat ke arah pak Andri.
Pak Andri menjelaskan padaku sembari menatap ku.
“Bapak sudah lihat semua nilai kamu, nilai di kelas 9 ini meningkat”
“Alhamdulillah pak, jadi bapak bisa daftarin aku ke sekolah sepak bola itu kan?” tanya ku dengan wajah bahagia.
“Bentar Rey, bapak jelaskan dulu” jawab pak Andri dengan wajah yang tidak meyakinkan.
“Persyaratan masuk sekolah itu yang di lihat nilai non akdemik dan akedemik. Nilai non akedemik kamu tidak usah di ragukan lagi, nilai kamu bagus. cuma untuk nilai akedemik di lihat dari nilai raport dari kelas satu, dua, dan tiga. Sedangkan kamu yang bagus nilai akedemiknya hanya kelas tiga.” Ucap pak Andri menjelaskan padaku.
“Jadi pak, saya engga bisa daftar?” tanya ku kembali dengan wajah lesu.
“Ya bisa, cuma kemungkinan buat lulus kecil Rey,”
“Gapapa pak, yang penting saya sudah daftar dulu.”
__ADS_1
“Baik, jadi kamu tetap ingin mendaftar?”
“Iya pak,”
“Baik lah kalau begitu bapak akan daftar kan, kamu tunggu dulu ya bapak masukan dulu nilai-nilai kamu”
“Baik pak”
@
Andin yang sedang di bawah pohon mencoba untuk mencari aku, biasanya saat aku ke sekolah pasti aku mencari Andin terlebih dahulu. Tapi karena aku ada urusan dengan pak Andri, jadi aku mengurusi semuanya sampai selesai setelah itu aku bebas melihat wajahnya Andin.
Andin mencari ku di segala sisi sekolah. Koridor sekolah sampai kantin. Prasangka Andin, aku di ruang kesiswaan. Karena teringat perkataan pak Andri pada saat itu. pak Andri mengatakan kalau aku harus naik nilainya dalam waktu satu tahun. Andin tidak mengerti maksud pak andri apa, kenapa terjadwal seperti itu. seperti ada perjanjian dan persyaratan anatara pak Andri dengan aku.
Dia menuju lah ruang kesiswaan. Karena sudah sangat penasaran. Perlahan-lahan dia berjalan menuju ruangan pak Andri. Akhirnya Andin sampai tepat di pintu ruangan Pak Andri. Saat ingin masuk dia melihat dan mendengar pembicaraan ku pada pak Andri dari balik pintu. Melihat dan mendengar semuanya membuat wajah Andin berubah menjadi merah. Seperti seseorang yang sedang ingin marah besar.
Dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Tangannya mengepal dengan sangat kencang. Dia tidak ingin masuk. Hanya melihatnya dari balik pintu. Karena dia tidak ingin memarahi aku di depan pak Andri. Dia tahu itu hal yang tidak sopan marah-marah depan guru. Andin juga sebenarnya kecewa dengan pak Andri kenapa tidak menjelaskan sejujurnya pada dia. Tetapi semuanya sudah terlambat. Andin hanya terdiam menahan air matanya. Merasa sangat kecewa.
“Sudah selesai Rey, bapak daftarkan di sekolah sepak bola itu. kamu tunggu pengumumannya. Berdoa supaya kamu bisa masuk. Bapak doakan kamu jadi pemain bola yang profesional.” Ucap pak Andri menyemangati ku.
“Baik pak, terima kasih banyak ya pak. Kalau bukan karena bapak saya engga bisa daftar.”
“Kamu juga harus bilang terima kasih pada Andin, berkat dia nilai kamu bagus di kelas sembilan ini.”
Mendengar pak Andri berkata seperti itu, aku teringat pada Andin. Bagaimana kalau Andin tahu semuanya? Aku benar-benar tidak mau dia mengetahui semuanya.
__ADS_1
“Baik pak, saya keluar dulu ya. Sekali lagi terima kasih pak” ucap ku sebelum bergegas keluar.
“Iya Rey sama-sama”
Saat aku keluar, aku terkejut melihat andin tepat sekali di depan pintu. Wajahnya yang lemah lembut berubah menjadi memerah dan terpampang jelas bahwa dia kecewa. Sepertinya dia mendengar semuanya yang aku bicarakan dengan pak Andri. Membuat dia menatap ku dengan wajah seram serta matanya yang tidak bisa di bendung. Aku benar-benar tidak tahu harus apa saat ini.
“Andin...???” ucap ku dengan sangat terkejut.
Saat aku mengatakan itu dia langsung pergi meninggalkan ku. Aku kejar dia dan ku pegang tangannya dia yang tidak sengaja. Agar aku dapat berbicara dengan dia. Saat aku pegang tangannya, dia langsung melepaskan dengan sangat kencang. Dan ku lihat wajahnya penuh di basahi air mata. Membuat ku merasa bersalah membuat dia menangis seperti itu.
“Din tunggu!!!!” ucap ku sembari memegang tangannya yang di selimuti jam tangan berwarna pink.
“Lepasin tangan aku!!!” dengan nada tinggi Andin menjawab.
Aku mencoba menghentikan dia dan berkata.
“Aku bisa jelasin semuanya din. Tolong dengarkan aku!!”
“Apa yang mau di jelasin HAH? Semuanya sudah jelas!!! Kamu tetap mau ikutin kemauan kamu memilih bola dari pada pertemanan kita! Dan aku lebih kecewanya lagi sama kamu, kamu memperalat aku supaya nilai kamu naik!. Dan itu karena apa? itu semua karena sekolah sepak bola yang kamu idam-idamkan itu!!!!. Aku kira kamu tulus Rey. Ternyata sama saja. benar kata murid-murid aku hanya di manfaatkan saja sama kamu. Aku sudah lakukan semuanya demi kamu. Bantu kamu belajar, bikin jadwal belajar kamu. Bahkan sampai malem aku rela di sekolah buat apa? buat bantu kamu belajar!!! Tapi balasan kamu apa? kamu berbohong dengan aku!! mana janji kamu? Aku mau, kamu fokus belajar dan masuk SMA 10. lupain semua mimpi kamu tentang bola! bola dan bola itu!” jelas Andin sembari air matanya basah di wajahnya.
“Din tolong lah dengarkan aku, bola tidak seburuk apa yang kamu pikirkan,”
“Apa? tidak seburuk apa yang aku pikirkan? Kamu lihat berapa orang pemain bola yang meninggal saat di lapangan? apa kamu tega suatu saat nanti aku lihat kamu kaya gitu! Aku belum siap Rey,, aku tidak suka kamu seperti itu. Aku mau kamu fokus belajar saja. Sesuai kesepakatan kita, aku engga bisa lanjutin pertemanan kita. Cukup sampai disini aja, mulai sekarang anggap kita seperti orang asing yang tidak saling kenal”
Saat mengatakan itu Andin pergi meninggalkan ku. Membuat ku menahan air mata ku. Sembari menendang tong sampah yang di depan ku.
__ADS_1