Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 28 : Aku Terjatuh


__ADS_3

Salsa berlalu. Dan aku berpikir keras maksud kekerasaan itu apa. Aku tidak mengerti maksud Andin bilang kekerasaan itu. Ya mungkin hanya anak yang pintar saja yang mengerti maksud Andin.


“Baik anak-anak kita udah sampai ke final, yang menang ke tahap final adalah kelas 9A dan 8C. Apakah kelas 9A dan 8C sudah siap???” ujar MC penuh semangat.


“Siap pak!!” seru kami.


Ya ini saatnya aku harus bermain dengan sebaik mungkin, aku akan buktikan pada Andin. Walaupun aku bodoh, malas, nakal, tapi aku masih memiliki sisi baik yang dapat di banggakan. Walaupun aku sudah mulai lelah dan tidak bersemangat, di tambah tidak ada Andin di sampingku. Tapi aku tetap harus berjuang. aku akan buat Andin bangga kepada ku.


“Rey lo bagian sini,, biar bisa gampang masuk bolanya.” saut Randy padaku.


“Iya soalnya tendangan lo pas sasaran.” Reno menambahkan.


Ya aku mulai menunggu bola, menunggu Rama melemparnya. Dan akan ku tendang pas sasarannya agar bolanya masuk.


“Siap-siap Rey.... dikit lagi Rama lempar ke lo, lo harus tendang!!” saut Rizky


memperintahkan aku.


“Oke!!!”


“Rey tendanggg!!!!!” Rama memberi aba-aba agar aku menendang bolanya.


Saat aku menendang bola, tiba-tiba tim lawan mendekati ku dan menyelengkat kaki ku. Membuat ku tidak bisa berdiri dan menyeimbangkan diri ku. Tim lawan akhirnya mengambil bola. Membuat aku terjatuh.


“Ahhhhhhhhh!!!!!!” teriak aku dan aku benar-benar merasakan sakit di bagian betis ku.


Membuat aku tidak bisa berdiri. Wasit akhirnya meniup peluit. Menandakan aku harus di obati. Teman-temanku, wasit, dan tim lawan mendekatkan ku. Membuat ku di pengap karena kerumunan mereka.


“Rey lo gapapa?” tanya Rama penuh khawatir.


“Gue ga bisa bangun, sakit banget kaki kanan gue..” aku menjawab dengan suara rintih karena luka ku.


“PMR bantu PMR!!!” ujar wasit memberi perintah.


Anggota PMR pun menghampiri, tapi meraka bingung mau bagaimana mengobatinya. Karena terlalu parah luka ku.


“Maaf rey gue ga bisa bantu, luka lo parah banget gue takut salah. nanti yang ada tambah parah...”


“Terus siapa yang bantu? Lo gimana si pmr doang tapi ga becus!!!” Reno menggertak salah seorang anggota PMR.


“Sabar-sabar gue panggilin Andin, dia soalnya ketuanya pasti bisa bantu luka lo dan dia lebih ahli dari gue.”


Aku langsung terkejut saat anggota PMR itu menyebut nama Andin. Dan aku langsung memintanya untuk jangan panggil dia. Aku takut dia akan khawatir.


“Eh engga usah, udah lo kasih betadine aja. nanti juga sembuh. ga usah panggil dia.” ucap ku.


“Ih apa-apaan si lo Rey!! liat luka lo itu parah, harus cepet-cepet di tanganin sama ahlinya. Cepet sekarang lo panggil Andin!!!” ucap Randy dengan wajah seramnya kepada anggota PMR itu.


“....Oke-oke” jawab anggota PMR itu. Dia langsung berlari mencari Andin.


Tibalah di kelas dan dia menemukan Andin. Dengan wajah panik anggota PMR itu. Dia langsung memberitahu.


Dengan tergesa-gesa berkata


“Dinnn please bantuuuu,,,,,”


“Bantu apa? pelan-pelan coba ngomongnya tarik nafas keluarin ri.”


“Anuh itu din si rey,”


“Rey kenapa? Cepet bilang!!!” dengan wajah panik, Andin bertanya dengan wajah memerah.


“Rey jatoh dan lukanya parah! Cuma lo aja yang bisa bantu obatin lukanya.”

__ADS_1


“APAAA!!!” suara dari bibir mungilnya menggelegar. Bola matanya langsung terbuka membuat Andin langsung bergegas mengambil alat-alat pmr untuk pertolongan pertama. Anggota lainnya mengikuti aba-aba andin untuk membawa tandu.


Saat andin sudah di dekatku. Ku lihat wajahnya berkaca-kaca seperti menahan tangis.


“Udah gapapa ko gue, tenang aja..” ucap ku agar andin tidak khawatir,Dia tidak menjawab hanya membersihkan luka ku.


“Beneran gue gapapa awwww.......!!!!!!” jawab ku dengan rintihan serta teriakan, karena obat yang di berikan Andin.


“Kamu bisa diem ga si, jangan banyak omong!!” gertak Andin padaku.


“Iyaiyaiya, pelan-pelan aja sakit tau!” jawab ku dengan pasrah.


“TANDU!!!” aba-aba Andin kepada anggotanya.


“SIAP din!”


Aku pun di pindahkan ke tandu dan di bawa ke ruang UKS.


Sesampainya di ruang UKS aku perintahkan anggotanya untuk pergi. Dan hanya aku saja dan Andin yang berada di dalam ruang UKS.


“Mending lo semua jaga lapangan gih, takut ada yang luka lagi. Kalo lo semua disini ga nyaman benget gue di liatin kek gini. udah kaya apaan tau hmmmm.” ujar ku pada anggota PMR.


Mereka pun pergi hanya aku berdua di ruang UKS. Ku lihat andin tidak bisa menahan tangisannya. Wajahnya di basahi air mata membuatku merasa tidak tega.


“Ih ko nangis, gue gapapa ko,,” ucap ku dengan wajah menahan kesakitan karena pengaruh obat yang di berikan Andin.


Andin hanya diam, ku berikan dia tissu tapi malah tangisannya menjadi jadi sangat kekanak-kanakan.


“Udah jangan nangis lagi, nanti kalo ada yang denger gimana? Masa siswa terpintar nangis hehehe” jawab ku, mencoba menenangkan dia.


“Kamu nih, lagi seperti ini masih sempat-sempatnya bercanda!” jawab Andin dengan marahnya.


“Gue gapapa ko, cuma luka sedikit nanti juga sembuh.”


“Oh jadi ini yang lo bilang kekerasaan hahaha” aku menjawab dengan tertawa.


“Ih jangan ketawa” jawab Andin sembari mengertak ku.


“Iyaiyaiya, gue cuma aneh aja masa main bola di bilang kekerasaan”


“Emang kekerasaan. nih sekarang kamu lihat, luka-luka kan? berarti sama aja!”


“Ih lo ya kalo di bilangin ngelak terus iya deh iya.”


“Yaudah kamu jangan banyak gerak!!” perintah Andin padaku.


“Iya, udah dong nangisnya.”


Aku dan Andin masih di ruang UKS. Ku dengar teriakan siswa dan siswi menyebut kelas ku. Sepertinya pertandingan telah selesai dan aku merasa kelas ku menang.


“Yeeeee akhirnyaaaa menang kelas 9A huuuuuu.....” saut salah satu siswa di luar.


“Iya walaupun rey engga ada, tapi ada Randy yang tendangannya juga mantep!”


“Iya tapi walaupun gitu, sebelumnya Rey yang masukin. dia udah dua kali masukin kan.”


Celotehan siswa dan siswi di luar.


“Tuh kan bener kelas kita menang!” aku berkata dengan Andin agar dia dapat memuji.


“Udah deh jangan ngomongin pertandingan lagi.” keluh Andin.


“Loh emang kenapa? lo seharusnya bangga dong.”

__ADS_1


“Apa yang mau di banggakan?”


“Ya bangga karena gue, kelas kita jadi menang. walaupun kena luka gini tapi tadi gue yang masukin. Dua kali lagi jago kan gue hehehe” dengan percaya dirinya aku berkata.


“Cukupppp!! Kamu liat keadaan kamu sekarang. apa ini yang di sebut menang? Luka-luka gini menang hah?” Andin menjawab dengan nada tinggi dan Nafas yang tidak beraturan.


Aku sangat terkejut mendengar Andin berkata seperti itu. Sebencinya itu dia dengan hobiku.


“loh ko lo kesal?” aku menimpali dengan sangat sabar. Agar aku tidak memiliki masalah dengannnya.


“Udah deh cukup jangan bicara lagi! kamu istirahat aja sana.” setelah berkata itu ia pergi meninggalkan ku. Aku mencoba menghentikan tapi tidak bisa karena kaki ku masih sakit.


“Tunggguu din.... auuuuu!!!!” jawab ku sembari memegang kaki kanan ku.


Saat Andin keluar ia berpapasan dengan teman-temanku. Datang lah teman-temanku untuk melihatku.


“Rey lo udah gapapa?” tanya Rama sambil memegang pelan kaki ku.


“Auuu..”


“Sorry-sorry gue cuma mau ngecek aja.”


“Jangan lo pegang bagian itu! tapi, udah gapapa ko. Cuma masih sakit dikit.” jawab ku.


“Hehehe maap. bagus deh kalo sakitnya berkurang. Oh iya btw kita menang Rey.” jawab Rama.


“Mantap kan?” tambah Reno.


“Ya iyalah menang sebelumnya kan gue yang masukin, dua kali lagi.” jawab ku dengan sombongnya.


“Alahhh alahhhhh lagi sakit masih sempat-sempatnya lo sombong ya hahaha”


“Ya bukan sombong si, tapi emang ga perlu di ragukan lagi bakat gue iya ga?”


“Iya bos iya” jawab Reno dengan wajah ikhlasnya.


“Oh iya itu tadi kita liat Andin, ko mukanya cemberut gitu, lo apain anak orang Rey?” tanya Randy.


“Ga gue apa-apain. Biasalah masalah perempuan.” aku menjawab dengan bohong.


“Masalah apaan perempuan? Emang perempuan punya masalah?” jawab Randy yang kebingungan.


“Ih dodol banget si lo!! masalah perempuan itu PMS. Mungkin dia lagi pms iya kan rey?” Reno menjelaskan pada Randy sembari memukul pelan kepalanya.


“Ya bisa di bilang gitu.” aku mengiyakan perkataan Reno.


“Oh gitu”


Rama, Randy, Rizky meneriaki telinga Randy. Mencoba menganggu dia karena tidak mengerti masalah perempuan itu apa.


“Iya DODOL!!!!!” seru Rama, Randy, Rizky dengan suara kencang.


“Hush ini UKS. nanti kalo bu Dewi liat kita berisik disini bahaya tau!” jawab ku pada mereka agar tidak berteriak.


“Oh iya ya, lagian si randy dodol banget!! Padahal pacar dimana-dimana masalah perempuan aja gatau uuuu gimana si lo ran....” jawab Reno dengan perkataan merendahkan.


“Hahaha iya juga ya” Randy membalas.


Wah Andin ko ga suka banget si Rey main bola? kenapa ya ko dia bisa kaya gitu? Hmm penasaran kan???? dari pada penasaran yuk lanjut part berikutnya. sebelum lanjut jangan lupa vote ya supaya aku semangat pecahin kisah Rey dan Andin.


Selamat membaca readersku tercintaaaaaa enjoyyyyyyyyyyy............


#jadisaksiperjalanankisahreyandin

__ADS_1


__ADS_2