Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 29 : Berangkat Pagi-pagi Buta


__ADS_3

Berhubung hari ini papah ku ada tugas di luar kota. Membuat ku berani pulang dalam keadaan seperti ini. Teman-temanku mengantarkan ku pulang. Sesampainya di rumah, aku dan teman-temanku langsung di sambut mamah dengan wajah yang sangat khawatir.


Rama dan Randy membantu membopong aku. Reno dan Rizky membawakan seragam sekolah dan tas ku. Kami masih dalam keadaan menggunakan baju bola.


“Rey beneran engga ada bokap lo kan di rumah?” tanya Rama dengan wajah ketakutan.


“Iya tenang aja, bokap gue keluar kota.” aku menjawab meyakinkan mereka.


“Huhhh untung deh...” Randy menghela nafas sembari menghelus dadanya.


Teman-temanku memang takut sekali dengan papah ku. Ya mungkin papah ku mengira mereka membawa pengaruh buruk bagi aku. Aku jadi malas, nakal, tidak penurut, pulang malam karena mereka. padahal tidak, aku memang tidak suka belajar. Makanya pelampiasannya bertemu mereka dan bermain bersama mereka. itu lah sebabnya papah sangat melarang ku dekat dengan teman-temanku.


“Lo berat juga ya rey?” ucap Randy.


“Yeee emang lo ga berat apa!”


“Iyaiyaiya”


Rizky mengetuk pintu rumah ku.


“tokkkkkkkk tokkkkkkkk” suara ketukan pintu.


“Asslammualaikum” ucap Reno.


“Waalaikumsalam iya bentar...” ucap mamah ku dan membuka pintu dengan wajah terkejutnya melihat ku seperti ini.


“Astagfiruallah rey, ko kamu bisa kaya gini? Yuk masuk, pelan-pelan.” ucap mamah ku.


“Gapapa ko mah, biasa tadi tanding bola hehehe” jawab ku sembari Rama dan Randy menaruh ku di sofa.


“Ya allah. Makasi ya Rama, Randy, Reno, Rizky udah nganter Rey sampai rumah.”


“Santai aja tante hehe” jawab Rama dengan cengirannya.


“Tante, ada om di rumah?” tanya Rama ke mamah ku.


“Engga ada ma, om ada tugas di luar kota. Biasa masalah kantor.” mamah menjelaskan pada Rama.


“Kan gue udah bilang dari tadi, ga percayaan banget si lo!” ucap ku pada Rama karena tidak percaya dengan ucapan ku.


“Ya engga,, gue kan takut lo bohong.”


“Udah tenang aja, engga ada om ko. Oh iya mau minum apa? tante buatin nih.”


“Air keran aja mah kasih.” jawab ku.


“Yee enak aja lo!” Randy menimpali dengan kesal.


“Kamu nih Rey!, jus jeruk aja gimana?”


“Oke tante,”


Saat mamah ku mengambil minum. Tiba-tiba reno menggoda ku dengan menyebut nama Andin.


“Tadi luka rey parah loh tante,,” ujar Reno dengan suara kencang agar mamah mendengar perkatannya.


Mamah menghampiri kaki ku lah sembari menaruh minum di meja dan mengecek luka ku.


“Beneran? sekarang masih ada yang parah ga?”


“Auuuu,,,,, mamah jangan di pegang.” ucap ku dengan rintihan.


“Maaf-maaf, sekarang masih sakit? Ke dokter aja yuk!” Ajak mamah.


“Engga usah mah, nanti tunggu kering juga sembuh.”


“Iya tante ga perlu, coba kalo tadi engga ada Andin pasti Rey udah di obatin di rumah sakit. Untung pertolongan pertama langsung di tanganin sama ahlinya.”


Aku terkejut mendengar Reno berkata seperti itu. membuat mamahku bertanya.


“Andin? Siapa itu Andin?”


“Itu loh tante yang Reyy.....” saat Reno berkata lagi, aku langsung memotong perkatannya. Reno memang benar-benar kompor.


“Bukan apa-apa mah, jangan dengerin Reno” aku mencoba untuk memberi pengertian pada mamah.


“Apa jangan-jangan??? Siapa tadi namanya?”


“Andin tante”


“Oh iya Andin, apa jangan-jangan dia perempuan selanjutnya yang kamu pacarin?” tanya mamah dengan prasangkanya.


“Nahhhh....” jawab Randy dengan wajah seperti menyembunyikan rahasia.


aku mengelak saat mamah berkata seperti itu.


“Ih apasi mah aku engga pernah pacaran” ngelak aku yang tidak merasa pernah pacaran.


“Loh itu yang suka kesini, bukan pacar kamu?” tanya mamah kembali padaku.


“Bukan, dia ngaku-ngaku aja.”


“Yee kamu, sudah-sudah di minum ayo.”


“Iya tante,”


“Yasudah tante tinggal dulu ya, nanti kalo ada yang sakit lagi. Bilang ya langsung tante bawa ke rumah sakit.”


“Oke tanta”


“Hehe oke mah, engga sakit lagi ko tenang.”


Mamah ku pergi dengan senyuman, aku langsung memarahi Reno.


“Eh sini lo!” perintah ku pada Reno.


“Apasi Rey?” Reno mendekat dengan ku dengan wajah pasrah.


“Sini!!”


Reno mendekat padaku Saat itu juga aku memukul kepala Reno.


“AUUUUU” jerit Reno dengan kencang membuat mamah ku kembali.

__ADS_1


“Kenapa? kenapa? masih sakit?” mamah menghampiri dengan wajah paniknya.


“Engga ko mah, tadi aku ga sengaja injek kakinya Reno, makanya dia berteriak.”


“Huhh bikin mamah kaget saja, yasudah” mamah ku pun pergi lagi.


“Aduh gue kena pukul lagi.” keluh Reno dengan wajah cemasnya.


“Lo lagian si berisik, kaya kompor meleduk!!”


Teman-temanku tertawa melihat tingkah laku aku dan Reno.


“Eh tapi Reno ada benarnya juga Rey.” tambah Rizky.


“Apa yang benar ky? Mau gue pukul juga?” jawab ku dengan nada sebal.


“Tenang tenang bos, gue cuma mikir gapapa nyokap lo kenal Andin. Supaya makin deket aja gitu antara Andin dan nyokap lo.”


“Nah itu yang gue maksud Rey” tambah Reno mencoba membela diri.


“Yeee apa? ikut-ikutan aja lagi”


“Serius rey maksud gue itu,”


Jawab ku dengan wajah melas.


“Tapi bukan saatnya gue kasih tau nyokap tentang Andin deh”


“Loh emang kenapa?” tanya Rizky dengan penasaran.


“Yah belum waktunya aja, nanti kalo dia udah baper sama gue baru deh gue kenalin.”


“Kayanya Andin udah baper sama lo deh” ucap Rama dengan sok tahunya.


Terhentak aku terkejut dengan perkataan Rama.


“Lo tau dari mana ma?” tanya ku pada Rama.


“Lo ga liat apa, pas tadi lo jatoh terus dia langsung panik. bahkan kaya nahan nangis gitu ga si?”


“Yee perasaan lo aja kali! dia kan bantu gue, emang udah tugasnya dia”


“Ya ga tau juga si, tapi gue yakin si dia udah mulai baper.”


Aku mencoba untuk memikirkan perkataan rama. Apa benar Andin sudah mencintai ku? Ya memang beberapa hari ini Andin tampak berbeda dari biasanya. Dia sudah mengatur aku padahal kami belum menjadi sepasang kekasih. Di tambah tadi, saat aku terjatuh ia sangat terpukul dan khawatir sampai-sampai air matanya jatuh di wajah manisnya itu. tapi jangan sampai prasangka ku ini berlebihan. Karena ketika tahu andin tidak mencintai ku. Membuat aku kecewa. Ku tenangkan pikiran ku dulu.


@


Hari ini aku berangkat sangat pagi, aku ingin melihat Andin karena sudah dua hari tidak melihat dia rasanya sangat merindukan dia. Ku coba telepon dia tadi malam. Tapi, tidak di angkat. Mungkin dia masih kesal. karena perilaku ku yang kemarin. Hari ini papah ku juga belum pulang. Membuat ku lega karena papah tidak melihat luka ku.


Dari kejauhan aku sudah melihat mamah yang sedang mempersiapkan sarapan.


“Sini mamah bantu, yuk pelan-pelan..” ucap mamah ku dengan hati-hatinya menanganiku.


“Aku udah engga apa-apa mah,” jawab ku untuk memastikan mamah, agar tidak khawatir.


“Tapi kamu belum sembuh total Rey, kan mamah udah bilang jangan masuk sekolah dulu. Tunggu lah sampai benar-benar sembuh baru masuk. Tapi kamu tetep kekeh!”


“Hehe iya mah, tapi aku beneran udah engga apa-apa ko mah,”


“Iya mah.”


“Janji ya di sekolah engga boleh main bola dulu,”


“Iya mah janji,”


“Yasudah sarapan dulu yuk.”


“Oke mah,”


Saat aku sedang sarapan, mamah ku bertanya kembali padaku.


“Oh iya Rey, ko kamu tumben banget pergi sekolah se pagi ini? biasanya mamah bangunin, tapi ga bangun-bangun. Kali ini kamu bangun sendiri.” Mamah bertanya pada ku karena tingkah ku yang berubah.


“Ya kan aku udah berubah mah sekarang, aku juga udah gede. masa di bangunin mulu sama mamah hehe,” jawab ku dengan wajah menyeringis.


“Tapi kayak engga biasanya mamah liat kamu kaya gini. apa jangan-jangan gara-gara si murid perempuan itu? siapa namanya mamah lupa lagi”


“Ih apasi mamah ngaco deh, murid perempuan itu siapa lagi. Engga ada siapa-siapa mah. Kan aku udah bilang jangan dengerin reno. Dia suka ngaco.”


“Iya deh iya mamah ga ngomongin murid perempuan itu lagi”


“Gitu dong mah, yasudah aku berangkat dulu ya.”


“Mamah anterin ya soalnya kamu belum sem....”


Saat mamah mengatakan itu, aku mencona untuk menghentikan dan memotong perkataan mamah.


“Mah,,, aku sudah sembuh. Mamah tenang aja, aku bareng Rama ko”


“Iya iya, tapi nanti sepulang sekolah mamah yang jemput ya?”


“Iya deh mah”


@


Sesampainya di sekolah, Rama dengan wajah setengah sadar mengerutu padaku.


“Ih lo bener-bener ya rey, berangkat sekolah sepagi ini. Gue lagi enak-enak tidur tau!”


“Udah deh ma, ikutin gue aja. Berangkat sekolah sepagi ini lebih bagus dari pada siang, kalo siang nanti telat kan?”


“Iya si, tapi kan ini masih class meeting, anak-anak juga masuknya nanti siang-siangan. Telat juga gapapa kan udah selesai ujian. Sekarang lo liat engga ada siapa-siapa kan di sekolah, cuma kita berdua aja rey. Pak satpam aja belum dateng. Emang lo bener-bener deh..”


“Ada ko murid yang udah dateng, gue yakin!”


“Siapa hah? Hantu? Mana ada murid yang dateng jam segini?” Rama dengan sebalnya bertanya.


Aku tidak menjawab perkataan Rama. Hanya senyuman manisku yang ku tampakan kepada Rama. Membuat Rama bingung melihat tingkah laku ku.


Sesampainya di kelas ku lihat sang putri itu dengan kebiasaannya sedang membaca buku. Membuat rama tersadar akan ucapan ku yang tadi.


“Oh murid yang lo maksud Andin toh, kenapa gue engga peka ya kalo itu andin huhhh” Rama menjawab.

__ADS_1


Aku tidak menimpali Rama, saat sudah sampai di kelas Rama langsung tertidur di bangkunya. Bangku milik Randy, Reno, dan Rizky dia jejerkan agar bisa di tidurinya. Andin melihat ku dan Rama dengan aneh. wajahnya terlihat jelas kebingungan.


“Hayyyyy Andini Putri hehe” ucap ku dengan senyum nakal ku.


Andin menahan tawa saat melihat ku datang sepagi ini. Dan biasanya aku seperti rama saat masuk kelas langsung tertidur seperti itu. Tapi kali ini berbeda aku dengan wajah segar ku yang tidak sama sekali mengantuk membuat andin kebingungan sendiri.


“Kamu ko bisa dateng sepagi ini?” tanya Andin heran kepada ku.


“Hehe gapapa cuma gue kangen aja sama seseorang,”


“Siapa? Murid perempuan yang sering kamu gombalin?” tanya Andin padaku.


“Bukan dong, murid yang gue kangenin ada di depan gue sekarang!” aku mengatakan itu tidak sadar. membuat Andin tersenyum malu dengan wajah yang memerah.


“Eh maaf-maaf, gue cuma bercanda jangan salah paham hehe”


Saat aku mengatakan itu, wajah Andin berubah tidak memerah dan tersenyum lagi.


Aku masih dengan sikap ku yang terus-menerus melihat wajahnya dia membuat andin malu sendiri.


“Kamu kenapa si ngeliatin aku kaya gitu? aku kan lagi baca jangan di liatin kaya gitu dong!”


“Hehe engga, gue seneng aja liat muka lo,”


“Apasi ih”


“Hehehe”


“Ko kamu tumben banget si ga tidur kaya teman kamu itu. Biasanya juga langsung tidur”


“Hehehe engga dong kan gue udah tobat mau lebih semangat lagi belajarnya, makanya ga tidur.”


“Masaaaa?”


“Iya dong, btw lo baca buku apa? kayanya suka banget baca buku itu dari kemaren,”


“Ceritanya seru soalnya”


“Tentang apa emang?”


“Jadi ini tentang cowo yang engga peka. Cewenya suka, tapi dia engga nunjukin gitu loh kalo dia suka. Cewenya mending diem tunggu cowonya bilang suka. Jadi kayak sama-sama gengsi.” Andin menjelaskan padaku.


“Hahahaha”


“loh ko kamu ketawa? Emang ada yang lucu?”


“Ya engga, cuma gue heran aja cewe kaya lo suka baca buku genre romance gitu hahaha”


Andin dengan wajah sebalnya menjawab. “Yee emangnya kenapa si?”


“Ya engga, gue pikir lo cuma baca buku ilmiah-ilmiah gitu,”


“Hmmmm iya deh iya”


Saat aku sudah berbicang sekitar 30 menit. Sama sekali tidak terasa berbincang dengan dia. Sebegitu nyamannya aku dengan perempuan ini. Sampai-sampai siswa dan siswi sudah ramai masuk di kelas. Tapi rama masih dengan tidurnya di bangku belakang.


Tiba-tiba datang lah kekasihnya yang cerewet, bawel, berisik. Yang wataknya berbeda banget dengan Andin. Bernama Clara yang keturunan bule itu, bicaranya saja belum terlalu fasih bahasa indonesia. Ya kekasihnya itu satu kelas dengan aku dan Andin. Pasti kalau dia sudah datang kelas ramai seperti pasar malam. Suara khasnya yang menggelegarkan itu membuat murid kadang kesal.


Tetapi Rama dengan sabarnya menanggapi perempuan itu. bahkan di jadikan pacar. Entah apa yang dia suka dari Clara. Kalau aku memiliki kekasih seperti itu sudah ku putuskan. Karena menganggu sekali bagi aku dan sekitar ku.


“Ramaaaaaaaa” ucap Clara dari kejauhan.


“Aduhhhh mulai drama lagi nih,” jawab ku pelan.


“Rama bangun sayang, kamu kenapa tidur disitu ih bangun ma!” ungkap Clara di telinga Rama.


“Ih apasi kamu, aku ngantuk tau.” jawab Rama dengan wajah tidurnya itu.


“Terus kenapa kamu dateng lebih pagi dari aku? terus menolak berangkat bareng aku?” tanya Clara pada Rama.


“Itu tuh gara-gara Rey, maksa aku berangkat pagi. Jadinya aku ngantuk, terus tidur disini.”


“Oh jadi ini gara-gara Rey, yang buat pacar gue lebih ngutamain perintahnya hah!!”


dengan tatapan tajam Clara membuat ku takut. Dan ku coba jelaskan kepada dia.


“Hehe sorry ra, sumpah ini ngelatih dia disiplin tau, emang lo ga seneng apa punya pacar di siplin?” kata ku memancing Clara agar tidak salah paham.


“Bener juga si, oke Rey gue ga marah. Santai, lo kan sahabat pacar gue jadi gue harus baik hehehe”


“Nah gitu dong,”


“Sayang bangunnnnn ihhhhh” teriakan Clara membuat siswa sebal.


Tiba-tiba Reno, Randy, dan Rizky tiba.


“Ramaaaa apa-apan lo! bangku gue di pake kek gini, bangun lo,” ucap Reno sembari menendang pelan kaki Rama.


“Dari tadi gue bangunin ga bangun-bangun ren” Clara menjelaskan pada Reno.


“Lo gimana si ra bangunin pacar aja ga bisa, maaaa bangunnnn woi kebo”


“Ye gue udah teriak-teriak di kupingnya tetep aja ga bangun-bangun” Clara membela diri.


“Keboooo pak Miko dateng woy bangun bangun!!!!” ucap Randy dengan bohongnya, membuat Rama langsung bangun. Dengan rambut berantakannya.


“Apa? Mana? Dimana pak Miko?” Ucap Rama mencoba untuk merapikan bajunya dan langsung duduk seperti nyata ada pak Miko.


“hahahaha” siswa dan siswi tertawa termasuk aku dan Andin.


“Dasar kampret bohongin gue lo!!!!” ucap rama dengan kesalnya merasa di bohongin.


“Lagian si lo susah banget di bangunin,”


“Songong banget lo ran bohongin pacar gue, karma lo!” Clara menambahkan.


“Iya nih sayang aku di bohongin,” jawab Rama pada Clara agar di bela.


“uluhhhhh uluhhhhh kasihannya.”


“Udah udah lebay lo ah berdua! sini bangku gue. Gue mau duduk....” pinta Randy.


“Iya nih iya ambil gih!”

__ADS_1


Reno, Randy, dan Rizky pun mengambil bangkunya untuk duduk di tempatnya.


__ADS_2