
Rumah Rey.....
Hari ini papah belum pulang kerja, ini adalah waktu yang tepat untuk memberi tahu mamah kalau aku masuk SMA 15 dan akan mengantikannya pada Andin.
Mamah yang sedang menonton TV aku mencoba mendekatkan.
“Mah aku mau ngomong” ucap ku pada mamah yang masih asyik melihat TV.
“Kenapa Rey? Bilang aja, mamah lagi nonton nih” jawab mamah yang masih saja menonton.
“Ihhh aku mau ngomong serius mah, dengerin aku”
“Hahaha”
“Ko mamah ketawa”
“Ga biasanya kamu mau ngomong serius sama mamah”
“Ih liat Rey mah, matiin Tvnya”
“Iya nih iya mamah matiin, kenapa si emang?”
“Jadi gini mah......”
Aku menjelaskan pada mamah semuanya. Membuat mamah terkejut karena tidak cerita tentang semuanya.
“Kamu ko ga bilang mamah, daftar di SMA 15 itu?”
“Awalnya itu kan gara-gara Rama mah”
“Jadi, kamu mau tukeran sama dia?”
“Iya mah, kasihan Andin bingung mau masuk kemana lagi. soalnya sekolah favorit sudah di tutup semua pendaftarannya. Jalan satu-satunya aku harus bantu dia.”
“Nanti kamu?”
“Kan aku udah bilang sama mamah, aku ga niat masuk sekolah itu makanya mau di gantiin aja sama Andin. Lagian aku tinggal tunggu pengumuman SMA 10, kalo ga masuk kan kata papah aku di swasta.”
“Iya deh iya, mamah ikutin kamu aja.”
“Oke mah berarti besok mamah dateng sama aku ke sekolah SMA 15 itu ya”
“Buat apa?”
“Ya buat tanda tangan kalo aku menerima”
“Berarti sama Andinnya juga?”
“Iya mah Andin dan keluarganya”
“Oke sekalian mamah mau liat Andin yang mana si orangnya”
“Ko mamah penasaran si”
“Engga, mamah cuma mau liat aja ko. Sekalian besok ajak papah ya,”
Aku langsung menolak perkataan mamah karena aku tidak ingin papah mengetahuinya.
“Jangan-jangan mah, kalo ajak papah nanti papah marah” ucap ku dengan wajah penolakan.
“Marah kenapa?”
“Udah pokoknya mamah jangan kasih tau papah tentang hal ini”
“Kasih tau aja ah”
“Jangan dong mah, pleaseeee”
“Gimana ya?”
“Yah mamah mah engga sehati nih sama aku”
“Hehe kamu mau papah engga tau tentang ini?”
“Iya mah”
“Tapi kamu harus kasih tau tentang Andin ya?”
“Loh kasih tau apa mah?”
“Ya kasih tau semuanya sama mamah, kamu berubah jadi rajin karena dia kan? ayo ngaku?”
“Iya mah iya”
“Hehe bener kan dugaan mamah, kamu suka kan sama dia?”
“Iya mah iya”
“Mamah penasaran Andin gimana si orangnya sampe kamu tergila-gila banget sama dia”
“Ih apasi mah”
“Pokoknya kamu harus kenalkan mamah ya pada Andin”
“Iya mah besok”
“Oke”
“Janji ya mamah engga kasih tau papah tentang ini?”
“Iya mamah janji”
“Oke, Aku ke kamar dulu ya mah”
“Iya sana, ganggu mamah lagi nonton aja nih kamu”
“Yee mamah”
Aku bergegas ke kamar ku. Entah kenapa aku tidak memikirkan sekolah sepak bola itu. lebih tepatnya aku sering memikirkan Andin.
Aku membuka Pintu kamar ku dan ku lihat kaca serta buku novelnya Andin aku lupa untuk memberikannya pada dia. Ku hampiri meja belajar ku dan ku ambil buku novel itu. Aku penasaran melihat judulnya yang seperti itu. Aku mulai membukanya dan membacanya satu persatu.
Ceritanya benar-benar seru sampai-sampai aku tidak sadar sudah larut malam dari jam empat sore sampai jam delapan malam aku tidak berhenti membaca. Aku tersenyum membaca ceritanya.
Ceritanya menceritakan tentang seorang anak perempuan pintar yang mencintai anak laki-laki yang nakal. anak laki-laki itu persis aku di dalam novelnya. Dan anak perempuan itu juga mirip sekali dengan Andin. Mereka sama-sama saling suka tapi tidak saling mengungkapkan hanya cinta dalam diam saja. Aku tidak mengerti kenapa Andin membaca buku yang seperti ini.
@
SMA 15.......
__ADS_1
Untuk pertama kalinya mamah ku bertemu dengan ayah dan bundanya Andin. Tidak tahu kenapa aku sangat nyaman saat dekat ayahnya Andin. Seperti memiliki ayah baru. Aku sering bercerita dengan ayahnya Andin. Itu lah sebabnya aku dekat.
“Oh ini yang namanya Andin?” tanya mamah pada Andin saat pertama kali bertemu.
“Iya tante”
“Cantik ya”
“Ih apasiii mamah, malu tau” aku menggerutu pada mamah.
Ayah Andin mulai menjelaskan semuanya.
“Jadi maksud kami kesini mengajak ibu untuk.......” ucap ayah Andin.
Saat mau melanjutkan pembicarannya mamah langsung memotong.
“Iya pak saya sudah tahu, Rey sudah menjelaskan semuanya hehe” ucap mamah sambil tersenyum.
“Bagus deh ibu sudah tahu, jadi ibu bersedia?”
“Bersedia pak”
“Makasi ya bu nak Rey sudah membantu”
“Santai aja om, yang penting aku bisa lihat Andin tersenyum lagi” ucap ku sembari melihat Andin.
“Hush apa si kamu Rey” tambah Andin sambil menatap ku.
Datang lah wakil kesiswaan SMA 15.
“Maaf pak, bu, sudah lama menunggu saya. tadi saya rapat dulu” ucap wakil kesiswaan sembari mendekat pada kami.
“Iya pak tidak apa-apa” jawab ayah Andin.
“Oh ini Rey dan Andin?” tanya wakil kesiswaan itu.
“Iya pak”
“Baik, ini saya sudah membawa surat berganti siswa. Bapak dan ibu, dari orang tua bisa menandatangani di bagian ini”
“Baik pak”
“Untuk sebelah sini, Rey dan Andin tandatangan bagian ini”
“Iya pak”
“Kalau sudah bapak dan ibu tunggu disini, saya bawa suratnya dan di berikan pada TU untuk menganti data nama siswa”
“Baik pak, Terima kasih banyak pak,”
“Iya sama-sama”
Wakil kesiswaan itu pergi untuk merapikan suratnya.
“Sekali lagi terima kasih ya bu sudah membantu. Kalau tidak ada ibu dan Rey anak saya sudah tidak tau mau masuk sekolah dimana” ucap ayah Andin.
“Iya pak sama-sama kami sangat senang membantu.”
Sekitar sepuluh menit kami menunggu, akhirnya wakil kesiswaan itu datang.
“Pak, bu saya sudah berikan datanya. Sekarang Andin sudah menjadi murid kami”
“Sekarang, Andin bisa ke ruang koperasi untuk membeli seragam sekolah,”
“Baik pak”
“Untuk ibu dan Rey boleh pulang”
“Terima kaaih pak”
“Bentar bu, sebagai tanda terima kasih datang lah kerumah kami” ajak ayah Andin.
“Beneran om?” tanya ku pada ayah Andin.
“Iya Rey, ajak mamah sama papah kamu ya nanti kita makan bersama”
“Wahhh oke deh om, gimana mah?”
“Oke setuju”
Ya itu awal pertemuan antar keluarga. Aku sangat senang berada di dekat keluarga Andin, seperti memiliki keluarga baru. Ayahnya yang Ramah tidak pernah marah. Berbeda dengan ayah ku yang selalu memaksa kehendak.
Bundanya yang lemah lembut membuat ku nyaman dekatnya. Mamah juga terbuka dengan keluarga Andin membuat ku senang. Aku berharap akan terus bisa bersilahturahmi dengan keluarga Andin.
@
Rumah Andin.....
Aku dan mamah
“Assalammulaikum” ucap mamah ku saat sudah di depan pintu rumah Andin.
“Waalaikumsalam, wah sudah datang yuk masuk” ajak bunda pada mamah dan aku.
“Iya bu”
“Yuk mari di makan maaf ya cuma ada ini aja” ujar bunda pada kami.
“Ini juga udah banyak ko tante” jawab ku pada bunda sembari mengambil makanannya.
“Iya Rey, habiskan ya makanannya,”
“Siap tante”
“Oh iya Rey, papah kamu kenapa tidak datang?” tanya ayah Andin padaku.
“Papah masih kerja om biasa sibuk,”
“Oh seperti itu, yasudah makan yang banyak ya,”
“Iya om”
Setelah makan aku di panggil oleh Andin.
“Rey sini” bisik Andin di telinga ku.
“kemana?”
“Sini ikut aku”
__ADS_1
“Iya”
Aku duduk di taman depan rumah Andin menikmati indahnya malam.
“Kenapa?” tanya ku pada Andin.
“Aku cuma mau bilang sekali lagi terima kasih ya, kalau bukan karena kamu aku udah tidak tau sekolah dimana,” ungkap Andin padaku.
“Kan aku udah bilang sama-sama tuan putri,”
“Ko tuan putri?” tanya Andin yang tidak mengerti maksudnya.
“Kan nama belakang kamu putri,”
“Hehe bisa aja kamu”
“Udah ya aku engga mau dengar kamu bilang terima kasih, terima kasih dan terima kasih lagi,”
“Iya bos siap”
“Hehe kamu mulai alay, panggil aku kaya gitu”
“Kan di ajarin kamu hehehe”
“Iya iya, sekarang udah lega? Ga ada yang di pikirin lagi?” tanya ku pada Andin.
“Udah lumayan, tapi ada yang aku pikirin sedikit”
“Apa?”
“Aku bingung adaptasi di sekolah itu, kalo aku inget SMA 2 kadang aku suka sedih, sekolah yang aku idam-idamkan dari SD. Tapi aku ga bisa masuk sekolah itu.”
“Hmmmm, din”
“Iya”
“Kan aku udah bilang, yang sakit, yang membuat kecewa, engga usah di ingat kembali. Kalo kamu makin ingat itu nanti kamu tambah sedih. Mending kamu ingat aku aja gimana? Kan lebih baik gitu hehehe”
“Hehehe kamu bisa aja, tapi untung ada Salsa jadi aku lebih semangat”
“Ada salsa aja nih yang bikin kamu semangat? Aku engga?”
“Iya deh iya kamu juga bikin semangat”
“Hehehe gitu dong, pokoknya aku ga mau liat seorang Andini Putri sedih lagi, terus ngeluarin air matanya. Aku ga tega tau”
“Iya deh iya”
“Kamu tau ga apa yang bikin aku ga suka?”
“Apa?”
“Aku ga suka kalo ada perempuan menangis, apalagi perempuan yang aku cintai menangis.”
“Siapa perempuan yang kamu cintai?” tanya Andin membuat ku gugup.
“Hehe engga aku cuma bercanda aja”
“Hmmm kamu nih”
“Apalagi waktu kamu sedih gara-gara aku, kamu nangis depan aku. aku benar-benar ngerasa diri aku bodoh sebodoh-bodohnya karena udah buat perempuan nangis gara-gara aku”
“Maaf ya aku engga bisa tahan sedih ku waktu itu”
“Hehe iya, tapi kamu janji ya sama aku engga boleh nangis lagi. Apalagi depan aku,”
“Kamu nih dari kemarin janji terus”
“Harus dong”
“Kalo aku atau kamu yang ga tepatin gimana?”
“Ya kita bakal pisah ga berteman lagi"
“Hehe iya deh iya janji”
“Gitu dong, mulai sekarang lupain yang buat kamu sedih. Mulai semuanya dari awal dengan semangat bersama aku”
“Apa? bersama kamu?”
“Hehe maksudnya....” jawab aku penuh gugup. Saat aku ingin melanjutkan perkataan ku Andin langsung memotong.
“Oke semangat bersama kamu”
“Hehehehe semangatttt!!!!”
Tiba-tiba ayah, bunda dan mamah datang menggoda ku bersama Andin.
“Semangat apa nih?” tanya ayah Andin pada ku dan Andin.
“Eh om engga hehe” jawab ku tersipu malu.
“Sekali lagi terima kasih ya pak bu, kami sudah merepotkan” ujar mamah pada ayah dan bunda Andin.
“Engga apa-apa ko bu, kami senang kalian datang” ucap bunda pada mamah.
Ayah tersenyum sembari berkata pada mamah.
“Justru kami yang bilang terima kasih,”
“Hehe iya pak, saya ikhlas ko membantu.”
“Iya om aku ikhlas sekali hehe”
“Yasudah kami balik dulu ya, sudah malam takut papah nya Rey sudah balik”
“Oke kalau kaya gitu, hati-hati ya”
Aku menatap Andin dan berbisik padanya.
“Aku pulang dulu ya, jangan kangen hehe”
Andin langsung memukul pelan pundak ku.
“Ih apasi kamu”
Sejak saat itu hubungan aku dengan Andin semakin dekat. Mamah suka bertanya padaku tentang Andin. Mamah memang suka dengan Andin katanya dia perempuan baik-baik. Mamah sangat mendukung ku dengan Andin. Bahkan suka memberi kabar lewat handpone.
Mamah meminta nomornya Andin. Awalnya aku tidak berikan tetapi, mamah maksa yasudah akhirnya aku berikan. Dan tidak ku sangka mamah dan Andin suka chatan. Aku senang mamah bisa dekat dengan Andin.
__ADS_1