Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 41 : Pengumuman di SMA 15


__ADS_3

Beberapa hari aku sedih memikirkan Andin. Tapi saat ini aku semangat karena aku akan bertemu kembali dengan dia dan melihat wajahnya. Tepat sekali hari ini aku akan mengikuti tes masuk sekolah SMA 15.


Hanya demi Andin, aku mendaftar sekolah di SMA 15. Aku juga tidak tahu kenapa dia daftar disini padahal dia juga daftar di sekolah SMA 2.


Aku dan Rama satu ruangan tes. Tapi aneh dari tadi aku belum menemukan dan melihat Andin.


“Ruangan tes kita di lantai tiga Rey, yuk kesana” ajak Rama padaku.


“Yuk, clara dimana?” tanya ku pada Rama, biasanya Clara selalu ada di samping Rama.


“Dia udah di ruangannya, gue beda ruangan sama dia” jelas Rama.


“Oh oke deh”


Andin memasuki ruangan tes bersama Salsa. Saat sedang duduk di bangkunya dia melihat ku berjalan menuju ruangan tes ku bersama Rey. Andin benar-benar terkejut dan tidak mengerti kenapa aku daftar juga. Ko ada Rey si, katanya dia daftar di sekolah sepak bola itu.


gumam Andin di dalam hatinya. Saat itu juga aku melewati ruangannya dan langsung di tutup lah hordeng jendelanya. Membuat ku heran seperti ada sesuatu disitu. Aku hiraukan dan tetap berjalan menuju ruanganku. Aku tidak sadar kalau itu ruangannya Andin.


Setelah selesai tes aku menunggu Andin di lantai bawah bersama Rama.


“Udah jam segini ko dia engga keliatan ya?” tanya ku sambil melihat jam hitam di tangan ku.


“Sabar Rey, mungkin lagi jajan” jawab Rama meyakinkan ku.


“Mungkin”


Tibalah Andin dan Salsa yang sedang berbincang. Dan Andin melihat ku terkejut. Andin langsung pergi dan menarik tangan Salsa.


“Din,,” pangil ku mencoba menghentikan dia.


“Bentar din,” tambah aku kembali agar dia mendengar.


Dia berhenti menoleh kepada ku dan berkata.


“Kamu siapa ya?” jawab Andin sembari pergi meninggalkan ku.


Benar-benar tidak berperasaan. dia tidak menganggap ku teman benar-benar kekeh pada pendiriannya untuk tidak mengenal ku lagi.


Aku mendengar salsa berbisik pada Andin.


“Ko kamu pura-pura engga kenal sama Rey si din?”tanya Salsa dengan heran melihat sikap temannya itu.


“Aku emang ga kenal dia” jawab Andin dengan tatapan ke depan. Salsa mencoba menerima perkatannya Andin. Karena tidak mau berdebat lagi dengannya.


Rama mencoba untuk menyemangati aku. melihat Andin begitu padaku.


“Sabar Rey, nanti juga dia akan sadar gimana kehilangan lo” ucap rama sembari menepuk-nepuk pundak ku.


“Maksudnya?” tanya ku yang tidak mengerti maksud Rama.


“Sebenarnya gue udah tau dari awal lo udah suka sama Andin kan?” jelas Rama membuat aku terkejut mendengar perkataan Rama.


“Apasi lo sok tau!”


“Udah lah Rey jujur aja kali, jangan gengsi kaya gitu.”


“Iya si hehe” ucap ku sambil memegang kepala ku karena merasa malu.


“Tuh kan hahaha” jawab Rama dengan tertawa.

__ADS_1


“Tapi lo jangan kasih tau Reno, Randy, sam Rizky ya?”


“Iya tenang aja ini rahasia kita berdua”


“Btw lo tau dari mana dah?” tanya ku pada Rama.


“Gue tau pas lo sering ngeliatin dia di kelas, terus pas dia telat lo bantu dia kan lo pura-pura telat. Terus lo ikutin perintah dia buat belajar, ya emang awalnya buat masuk sekolah bola itu si. Tapi lebih penting sering ketemu dia kan?”


“Hehehe”


“Hahaha udah ketebak Rey, tapi tenang lo bakalan gue bantu deketin dia”


“Bener ya?”


“Iya tenang aja”


“Emang lo sahabat gue yang paling pengertian”


“Rama gitu”


Dari kejauhan ku lihat Clara yang sedang membawakan minum.


“Ada apa ni? Pada senyum-senyum gitu”


“Biasa sayang Rey baru masuk sini udah ganggu murid disini hahaha” jawab Rama dengan bohongnya.


“Wah lo bener-bener Rey”


“Apasi lo bedua, udah ah gue mau pulang dulu”


“Oke Rey. Semangat deketin dia ya” ucap Rama saat aku pergi.


Rama berkata seperti itu padaku membuat Clara tidak mengerti maksudnya dan bertanya pada pacarnya itu.


“Maksudnya apa si sayang?” tanya Clara pada Rama.


Rama tidak menjawab hanya tersenyum pada Clara.


. @


Rumah Rey.......


Tiba di rumah ku lihat lah papah ku dan mamah ku. Aku takut dia membahas sekolah sepak bola itu. tapi demi mereka senang dan tidak tahu semuanya aku menuruti perintah papah.


“Rey kamu mau kan daftar sekolah di SMA 10?” tanya papah dengan serius.


“Tapi aku engga ngejamin bakalan masuk pah, soalnya dia pake nilai raport" jawab ku menjelaskan.


“Ya gapapa kamu coba aja dulu, kalo ga masuk kamu masuk sekolah swasta aja”


“Yaudah pah”


“Oke, papah daftarkan”


“Iya”


Aku menuruti semuanya agar mereka senang. Dan aku tidak yakin bakalan masuk sekolah SMA 10 itu. nilai ku hanya bagus di kelas tiga saja. Tapi tidak apa-apa yang penting membuat mereka senang. Dan tidak bertanya-tanya lagi soal sekolah sepak bola itu.


@

__ADS_1


SMA 15......


Hari ini pengumuman kelulusan masuk sekolah SMA 15. Tujuan ku hanya ingin bertemu Andin saja tidak lebih. Ku lihat lah Andin dan Salsa yang sedang melihat namanya di mading itu.


“Yeaaaa kita masuk din, liat deh kamu di urutan tiga wah keren kamu” ucap salsa dengan bahagianya.


“Iya sal”


Andin merasa tidak bahagia karena dia tidak ingin masuk sekolah SMA 15. Bisa di bilang dia tidak niat. Saat dia sudah melihat, giliran aku yang melihat. Aku berpapasan lah dengan dia, tapi aku tidak memanggil takut seperti kemarin dia berpura-pura tidak mengenal ku.


“Gimana rey lo masuk ga?” Rama bertanya padaku.


“Masuk” jawab ku sembari melihat urutan nama Andin.


“Asikk kita bareng lagi” jawab Rama sembari memeluk ku.


“Eh eh belum tentu, gue daftar juga tau di sekolah sepak bola sama SMA 10.”


“Hah? SMA 10?” tanya Rama dengan wajah terkejut sekaligus menahan ketawa.


“Iya”


“Pasti daftar di SMA 10, di suruh papah lo ya?”


“Iya siapa lagi”


“Hahaha Rey mana mungkin lo masuk situ, itu kan sekolah yang masuk ke sepuluh besar,”


“Gue udah bilang tapi dia tetep kekeh suruh daftar kesana.”


“Haha kalo sepak bola gue yakin si lo masuk soalnya nilai non akedemik dari kelas satu bagus”


“Iya, tapi nilai akedemiknya bagusnya cuma kelas tiga”


“Iya si yaudah lo berdoa aja”


“Si clara masuk ga itu?” tanya ku pada Rama.


“Masuk dong, gue kan emang selalu sama dia” jawab Rama dengan sombongnya.


“Enak lo ya, bisa langgeng gitu. Kapan gue kaya lo berdua hmmmm”


“Makanya jangan gengsi Rey, jujur ungkapin perasaan lo sama dia”


“Yeeeee nanti aja ah”


“Kapan?”


“Nanti kalo udah siap”


“Emang sekarang lo belum siap?”


“Iya belum siap di tolak”


“Hahaha sabar ya deketin cewe yang kaya gitu”


“Apasi lo ah ngeledek!!”


“Hahaha”

__ADS_1


__ADS_2