
Sudah satu bulan aku dan Andin suka memberi kabar dengan pesan. Telponan hingga pagi membuat ku senang dan bahagia. Entah kenapa Andin tidak merasa atau bisa juga di bilang tidak sadar bahwa aku benar-benar mencintai dia.
Saat chatingan aku selalu perhatian dengannya. Tapi kenapa dia hanya membalas ku biasa saja seperti seseorang yang tidak suka dengan ku. Membuat ku takut untuk mengatakan perasaan ku. Aku sama sekali tidak memikirkan taruhan itu. yang aku pikirkan hanya Andin harus menjadi miliku seutuhnya.
Saat aku sedang melamun, tiba-tiba rama datang ke kamar ku membuat ku tersadar akan lamunan ku.
“Hey bro lagi mikirin siapa si?” tanya Rama sembari tangannya menepuk pundak ku.
“Hehe engga”
“Gue tau lo pasti lagi mikirin Andin kan?” tanya Rama dengan prasangkanya.
“Ya gitu lah”
“Kenapa emang sama Andin?”
“Gue ngerasa dia ga suka sama gue ma,” jawab ku dengan wajah melas.
“Itu kan cuma perasaan lo aja,”
Aku menjelaskan pada Rama tentang ku dan Andin.
“Udah satu bulan gue sering chatan sama dia, tapi ga ada kemajuan. Dia kaya biasa aja gitu, padahal gue suka kasih dia perhatian”
“Terus lo udah bilang ke dia, kalo lo suka?” tanya kembali Rama.
“Engga”
“Ya iyalah lo ga bilang suka, gimana lo tau perasaan dia.” Jelas Rama dengan perkatannya.
“Terus gue harus gimana?” tanya ku pada Rama.
“Ya tembak lah, nyatain perasaan lo!” suruh Rama.
“Yee gila banget lo!!”
“Lo yang gila, suka dari dulu tapi ga bilang. giliran gombalin cewe bisa deh,”
“Ini cewenya beda ma”
“Udah makanya sekarang juga lo nyatain perasaan lo, biar hati lo lega ga mikirin lagi.” saran Rama.
“Terus kalo di tolak gimana?” tanya ku yang tak percaya diri.
“Menurut gue si engga,”
Mendengar Rama berkata seperti itu membuat ku tidak percaya dan bertanya.
“Lo tau dari mana?” tanya ku penuh penasaran.
Rama menjelaskan dengan sangat detail. Membuat ku tidak sadar akan perkataan Rama.
“Gue suka merhatiin tingkah lakunya Andin ke lo, waktu di kelas dia suka ngeliat lo, tanpa lo sadar. Terus dia bantu lo belajar dengan ikhlas, perhatian waktu lo jatoh. Bahkan sampe nangis kan. terus dia larang-larang lo padahal status lo sama dia masih jadi teman”
“Masa sih ma? Ko gue ga sadar. Itu termasuk ciri-ciri cewe suka ya?” tanya ku pada Rama.
“Gue kan punya cewe jadi gue tau hahaha” jawab Rama sembari mengejek ku.
“Yee sombong banget deh!”
“Udah pokoknya lo nanti malem nyatain perasaan lo ke dia, cewe kaya Andin tuh jangan lo pancing-pancing terus tapi langsung to the poin.”
“Oh gitu ya”
“Ya iyalah, apalagi dia cewe kalem susah ketebak cewe kaya gitu. Intinya lo harus jujur sama perasaan lo. Mau di tolak ke di terima ke yang penting lo udah bilang.”
“Oke deh ma, nanti gue coba bilang. tapi gue deg-degan”
__ADS_1
Saat aku mengatakan itu Rama langsung memegang dada ku yang bidang membuat ku geli.
“Gila rey jantung lu berdebarnya kenceng banget,” jawab Rama yang masih memegang dada ku.
“Ih apasi lo, geli tau!”
“Hahaha maaf maaf”
“Oh iya yang lain mana?” tanya ku pada Rama menanyakan yang lain.
“Nanti katanya mereka nyusul,”
“Oh”
“Jadi kan main bola?” tanya Rama yang ingin mengajak ku bermain bola.
“Engga deh, gue udah janji ke Andin engga main bola lagi”
“Hmmm iya deh iya”
“Gimana kalo kita main PS aja?” ajak ku pada Rama.
“Gimana ya?” Rama mencoba berpikir.
“Kan lo udah lama ga main PS sama gue,”
“Yaudah deh main PS aja,”
“Nah gitu dong itu baru sahabat gue”
“Yee giliran gini deh”
“hehehe”
Saat aku dan Rama bergegas untuk bermain PS. Tiba-tiba Rama melihat buku novel Andin di meja belajar ku. Novel yang biasa Andin baca di sekolah. Membuat Rama bertanya.
Aku yang sedang berjalan menuju tempat main PS langsung terhenti saat Rama mengatakan itu.
“Kenapa ma?” tanya ku pada Rama.
Rama langsung memegang buku novel milik Andin.
Sembari memegang bukunya dan berpikir keras Rama berkata.
“Ini buku kaya engga asing deh, kaya gue pernah liat. Punya siapa ya???”
“Punya siapa?” tanya ku mendekat pada Rama.
“Andin ya ga si?”
“Ko lo bisa tau?” tanya ku penuh curiga.
“Ya iyalah tau, kan dia bawa-bawa kemana aja”
“Oh iyaya”
“Terus kenapa di lo Rey?”
Aku menjelaskan pada Rama kalau aku menemukan buku Novel itu di kelas saat aku ingin mengambil kaca ku.
“Oh jadi gitu, judulnya gemesin sih cinta dalam diam hahaha” celetuk Rama.
“Hahaha kan emang awalnya juga gue mikir kaya gitu”
“Bentar gue baca sinopsisnya dulu di belakang”
Rama membaca sinopsi cerita novel tersebut. Dia senyum-senyum sendiri saat membacanya.
__ADS_1
“Kenapa ma lo senyum-senyum gitu?”
“Engga, lo udah baca?” tanya Rama padaku.
“Udah,”
“Semuanya?”
“Iya”
“Terus yang lo ambil apa dari buku ini?”
“Ya cuma dua orang yang gengsi buat nyatain perasaan”
“HAHAHAHA” tawa Rama dengan Terbahak-bahak.
“ko lo ketawa si? Emang ada yang lucu?” tanya ku pada Rama yang aneh melihat tingkah lakunya.
“Lo merasa aneh ga si?”
“Aneh kenapa?”
“Ya lo ga mikir apa seorang Andin baca buku romance kaya gini? Apa lo kira ga buang buang waktu dia?”
“Awalnya sih gue mikir gitu”
“Ini si fix!!!” ucap Rama sembari menunjuk-nunjuk tangannya. seperti menemukan jawaban soal matematika.
“Fix kenapa?”
“Fix kalo dia beneran suka sama lo Rey!!”
“Masa dari buku fiksi gitu lo bisa simpulin kalo dia suka sama gue”
“Aduh!!! Gue ga paham sebenarnya lu yang ga peka atau dia si? Andin tuh baca novel ini karena ceritanya mirip sama kisah percintaannya”
“Maksud lo percintaan Andin? Apa si gue ga ngerti”
“Aduhhh!!! Jadi gini, dia baca cerita ini karena ngerasa kalo dia di posisi cewe ini. Yang nunggu di tembak cowonya dulu. Masa lo ga sadar si. Karena ceritanya sama kaya kisah percintannya dia sama lo Rey makanya dia suka baca cerita romance ini”
“HAH!! Masa sih?”
“Iya dodol, berarti selama ini yang ga peka lo bukan dia!”
“Berarti gue harus gimana?”
“Aduh kenapa si gue punya temen dodol banget!. Di akhir cerita ini kenapa? apa yang di lakukan si cowo sama si cewe?”
“Ya si cowo akhirnya nembak tuh cewe”
“Nahhhh!!!!! Itu berarti lo harus tembak Andin!”
“Oh iya baru peka gue hahaha”
“Hahaha akhirnya otak lo loading juga”
“Yeaaa songong banget lo!”
“Udah makanya nanti malam lo harus tembak dia”
“Oke kalo gitu. Aduh jantung gue makin berdebar-debar”
“Mau gue pegang lagi ga dada lo”
“Gue tabok lo pegang-pegang!!!!”
“HAHAHAHA”
__ADS_1
Akhirnya kami pun tertawa bersama. Aku baru peka apa yang di katakan oleh Rama. Ternyata benar aku harus menyatakan perasaaan ku padanya.