Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 34 : Prasangka Mamah Papah


__ADS_3

Sudah enam hari aku terus menerus belajar dan mengikuti jadwal belajar yang di buat Andin. Tinggal satu hari lagi aku bebas. Ya hari ini, berhubung ini hari minggu aku belajar dari pagi sampai siang bersama Andin lewat telepon. Saat sudah selsai aku langsung tertidur. Beberapa bagian sudah ku coret yang sudah ku kerjakan.


Mamahku ke kamar ku, mamah melihat banyak buku berserakan di meja belajar ku. Mamah juga melihat jadwal belajar yang di berikan Andin yang ku tempel tepat di tembok ku, dekat meja belajar dan jendela kamar ku. Saat melihatnya mamah tersenyum tipis dan bergumam dalam hatinya kenapa anak ku sekarang bisa berubah kaya gini, jadi rajin belajar dan sudah enam hari dia tidak bermain bola. Siapa yang buat dia seperti ini ya. Aku benar-benar penasaran.


“Rey, bangun udah sore,” ucap mamah ku sembari memegang lembut rambut ku.


Aku terbangun saat mamah membangunkan ku.


“Huaaaa iya mah, ini jam berapa emang mah?” aku menjawab sembari menguap menandakan aku baru terbangun dari tidur.


“Jam 4 sore. Kamu tidur sudah lima jam.”


“Iya mah aku cape banget” jawab ku dengan suara serak.


Mamah menatap ku dengan tatapan lembut dan bertanya.


“Mamah boleh tanya sesuatu sama kamu?”


“Iya mah boleh”


“Kamu lagi jatuh cinta sama orang ya?” tanya mamah dengan sok tahunya.


“Ih apasi mah nanyanya kaya gitu” jawab ku sembari memindahkan guling di dekat ku.


“Iyakan? Siapa kenalin mamah dong” tanya mamah kembali membuat ku malu untuk mengatakannya.


Aku berdiri sembari mengambil handuk dan berkata.


“Udah ah aku mau mandi, mamah mau tau urusan anak muda aja”


“yeee kamu nih”


Hari ini papah ku libur kerja. Mengharuskan papah ada di rumah. Mamah memberi kopi pada papah yang sedang membaca koran.


“Pah, papah tau tidak?” ucap mamah mendekat ke papah.


“Kenapa mah?” tanya papah sembari membaca koran.


“Anak kita berubah banget” jawab mamah dengan wajah tersipu.


“Berubah kenapa Rey?”


“Dia sekarang makin rajin belajar, terus ga main-main bola lagi sama temen-temennya” mamah menjelaskan.

__ADS_1


mendengar perkataan mamah, papah langsung menutup koran yang di bacanya dan langsung bertanya dengan antusiasnya.


“Masa iya sih mah?”


“Iya pah, udah enam hari dia ga main bola lagi,”


“Apa dia dengar kata papah ya mah?” tanya papah dengan prasangkanya.


“Kayanya bukan pah,” mamah menajawab sembari memikirkan sesuatu.


“kalau bukan karena papah, karena siapa lagi mah? Mana mungkin engga ada hujan engga ada angin tuh anak bisa berubah kaya gitu. Mustahil hehehe”


Mamah langsung menatap papah dan berkata.


“Mamah tahu karena siapa?”


“Karena siapa mah?” tanya papah dengan wajah penuh penasaran.


“Karena dia sedang jatuh cinta”


“Hahaha apasi mamah ini. Masa jatuh cinta bisa bikin dia berubah” papah menjawab sembari senyum tipis dan menghela nafas.


“Ih papah kaya engga pernah muda aja, papah dulu engga inget waktu papah jatuh cinta sama mamah. Papah jadi sok baik gitu kan hehehe” mamah menjawab dengan mengingat masa muda bersama papah.


“Ih papah engga ngerti-ngerti, ya sama temannya lah pah” mamah menjawab dengan nada emosi.


“Siapa temannya?”


“Nah itu mamah belum tau, Rey tertutup banget. Ga pernah cerita ke mamah”


“Nah ini kesempatan kita mah” papah menjawab sembari mendekatkan wajahnya ke mamah.


“Kesempatan apa maksudnya pah?”


Mamah mendekatkan wajahnya ke papah dengan suara berbisik.


“Ih mamah masa ga ngerti-ngerti si hehe” tambah papah membalas perkataan mamah yang tadi.


“Oh jadi ceritanya balikin nih”


“Hehehe jadi gini mah, kan anak kita gara-gara suka sama temannya jadi berubah gitu. Gimana kalo kita minta bantuan ke temannya itu buat Rey berubah dan masuk sekolah SMA 10. Kan mau engga mau karena perintahnya dia. Dia pasti mau kan” papah menjelaskan dengan berbisik pada mamah.


“Oh iya, ide papah bagus juga. Berarti sekarang kita cari tau siapa orangnya.” jawab mamah dengan wajah antusiasnya.

__ADS_1


“Nah pinter mamah”


Dari kejauhan papah dan mamah melihat ku yang sedang turun ke tangga dan ku menghampiri dapur untuk mengambil minum. Saat aku di dekat mereka. meraka diam kembali tidak berbicara.


Papah kembali membaca koran dan mamah memegang ponselnya kembali. Membuat ku tidak mengerti seperti ada sesuatu yang ia sembuyikan.


Oh iya Kalian tahu tidak? Sebenarnya mamah ku juga tidak suka aku sekolah di sepak bola itu dan bermain bola. Mamah berpikiran sama dengan papah. Cuma mamah tidak mau membuat aku sedih, tertekan karena kedua orang tuanya yang tidak mendukung.


Untuk itu mamah di depanku seolah-olah mendukung ku. Padahal di belakang tidak sama sekali. Selama dua puluh empat tahun mamah berpura-pura mendukung. Awalnya aku kecewa dengan mamah. Tapi kalau mamah tidak berbuat seperti itu. bisa-bisa aku tekanan batin. Akhirnya aku menerima semuanya. Walaupun awalnya aku sempat kecewa tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.


@


Kamar Rey.......


Waktu menunjukan jam delapan malam. Waktunya aku belajar lagi. Ini terakhir aku belajar. Makanya aku harus benar-benar serius. Besok ujian akan di mulai.


Saat aku membuka buku dan memulai menelpon Andin.


Tibalah Rama menelponku. Membuat ku menerima telepon Rama dahulu.


Rama si kebo


Aku menamai nomor Rama di kontak handphone ku dengan kata Rama si kebo, karena dia kalau sudah tidur sulit di bangunkan. Pacarnya saja Clara kadang sulit membangunkan.


“Iya halo ma kenapa?” tanya ku pada Rama


“Rey sini lah ke lapangan main bola, udah lama lo ga main-main”


“Yah engga bisa ma, gue lagi mau belajar”


“Yailah dari kemarin belajar terus ga cape apa”


“Ini terakhir ma, lagian besok ujian malah main”


“Asikkk udah bisa ngomong kaya gitu lo, biasanya juga lo yang ngajakin kita main”


“Hehehe keren kan gue, udah salam aja sama yang lain”


“Oke deh”


Aku benar-benar tidak enak menolak ajakan teman ku. Tapi mau gimana lagi, ini demi sekolah sepak bola dan teman-teman ku.


Aku pun memulai belajar bersama Andin. Mamah ku menguping pembicaraan ku dan Andin lewat telepon. Dan pada saat itu mamah tahu perempuan yang aku suka bernama Andin. Mamah juga mengetahui yang membuat ku berubah seperti ini adalah Andin.

__ADS_1


Tuh kan aku udah tebak namanya itu Andin, yang Reno bilang itu gumam mamah di balik pintu kamar ku. saat mengetahui perempuan yang ku cintai.


__ADS_2