Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 32 : Berpura-pura pingsan


__ADS_3

Seperti biasanya setiap hari senin upacara. Tapi setiap upacara Andin tidak berbaris bersama dengan kelas ku. Karena dia harus menjaga di belakang barisan siswa dan siswi yang sedang berbaris untuk memastikan yang pingsan dan sakit saat upacara.


Saat pembina upacara sedang memberi amanat, ini saatnya aku berpura-pura pingsan. Aku ingin memastikan apakah Andin khawatir atau tidak. Sebelumnya aku sudah bekerja sama dengan Rama, Reno, Randy, dan Rizky. Benar-benar bagian yang ku tunggu-tunggu.


“Kalian sebagai siswa harus disiplin, baik itu disiplin masalah waktu......” pembina upacara masih memberi amanat.


Aku mulai dengan aksi ku kembali.


“Loh rey, lo kenapa?” ucap Rama memulai dengan wajah pura-pura panik.


“Rey muka lo pucet, lo kenapa? tambah Randy dengan suara besarnya membuat siswa dan siswi melihat ku.


Ini saatnya aku menunjukan pertunjukan ku. Ku terjatuh lah di tangan Randy. Dengan bantuan teman-teman ku. Rizky memanggil PMR untuk membantu. Ia pastikan terlebih dahulu kalau Andin yang akan membantu. Dia melirik kesana dan kesini untuk melihat Andin.


“PMR!! PMR mana?” ungkap Rizky dengan wajah paniknya.


“Udah dateng belum Andinnya?” aku berbisik pada Rama.


“Belum, sabar si Rizky lagi cari Andin” jawab rama di telinga ku. Agar tidak ada yang mendengar.


“Cepetan ih gue udah malu banget ini!!” gerutu ku pada Rama, Randy, dan Reno.


Datang lah Andin bersama temannya, membuat aku langsung menutup mata ku kembali agar dia percaya.


“Reyyyy.....” teriak Andin pelan.


“Tandu mana tandu??” ungkap Andin memerintahkan anggotanya.


Langsung aku di pindahkan ke tandu. Sesuai perintah Rama, Reno, Randy, dan Rizky yang membantu ku dan memegang tandunya. Agar nanti ketika sampai di ruang uks aku langsung di tinggalkan mereka. Dan kesempatan aku bisa bersama Andin di ruang UKS. Saat anggota PMR ingin membantu.


Teman-teman ku langsung menolak dengan alasan anggotanya perempuan. Pasti tidak akan bisa menggotong dan memegang tandunya. Karena tubuh ku terlalu berat.


“Sebelah sini, iya awas jangan terlalu ke pinggir nanti engga seimbang pas di gotong.” perintah Andin.


“Yang lain bantu aku ke UKS bawa Rey” perintah Andin kepada angggotanya dan langsung di tolak lah oleh Rama.


“Jangan dong, anggota lo cewe ga bisa gotong Rey yang badannya berat kaya gini. mending kita-kita aja.”


“Bisa ko iyakan guys?” tanya Andin pada anggotanya.


“Engga kayanya din, kamu ga liat badannya Rey besar juga. Sedangkan UKS jauh mending yang cowo-cowo aja yang gotong. Kita jaga yang sakit lagi disini.” ucap anggota PMR menjelaskan pada Andin.


“Oh yaudah” jawab Andin dengan nada pelan.


“Nah kan apa gue bilang,” ucap Rama kembali.


Karena suara kami yang berisik serta siswa dan siswi yang sedang fokus melihat ku di bopong membuat pembina upacara berucap.


“Itu ada apa ramai-ramai di belakang?” tanya pembina upacara.

__ADS_1


Randy dengan suara besarnya berteriak dengan kencang.


“Pingsannnnnn pakkkkk.......” ucap Randy.


Aku langsung pergi ke ruang UKS. Jadi ingat kejadian Andin menangis pada waktu itu. tetapi kali ini Andin tidak menangis. Hanya wajah paniknya saja yang ia tunjukan. Berbeda pada waktu aku terjatuh di lapangan dia lebih sangat khawatir dan panik.


Sampai-sampai menangis. Aneh sekali dengan perempuan ini, apa jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku ini sedang berbohong. Ahhh!!!! aku tidak mau tahu kalau aku sedang berbohong bisa-bisa dia marah dengan ku. Katanya perempuan sangat kecewa dengan laki-laki yang berbohong itulah sebabnya aku mencoba semaksimal mungkin dalam aksi ku ini agar tidak ketahuan.


“Huhhh akhirnya sampe UKS juga” ucap Rama dengan nafas tergesa-gesa.


“Iya, ternyata Rey berat juga ya,” tambah Randy.


“Udah deh mending kita ke lapangan lagi, upacara lagi.”


“Terus rey sendirian?” tanya Reno.


“Ya sama cewenya lah!!” jawab Rizky.


“Hah cewe?” tanya Reno dengan penuh kebingungan.


“Maksud gue sama Andin hehe” Rizky menjelaskan agar Reno paham.


“Kita tinggal ya din, jagain Rey ya,”


“Iya.” jawab Andin dengan singkat.


Andin memberikan aku minyak kayu putih di hidung ku. Membuat ku tidak tahan dengan wanginya. Karena aku tidak suka minyak kayu putih. Aku pun terbangun sembari batuk-batuk. Andin tersadar dan akhirnya aku di berikan air hangat.


“Hehe iya” jawab aku dengan menyeringis.


“Nih minum dulu, orang yang abis pingsan bagus minum air hangat kaya gini,” Andin mengulurkan tangannya dan di berikan lah air hangat itu padaku.


“Hah air hangat?” tanya ku dengan terkejut pada Andin.


Aku benar-benar tidak suka air hangat. Aku sukanya air dingin lebih menyegarkan. Tapi sepertinya aku tidak bisa menolak.


“Iya air hangat.”


“Yah, aku maunya air dingin. Ada ga?” pinta ku pada Andin.


“Ga bagus tau minum air dingin, minum ini aja ya” Andin tetap memaksa.


“iyaiyaiya”


“Kamu kenapa pingsan? ga biasanya kamu kaya gini?” tanya Andin, membuat ku gugup menjawab.


“Biasa, mungkin aku lagi cape aja hehe”


“Apa jangan-jangan tadi malam kamu main bola ya? Terus ga tidur sampe-sampe pingsan kaya gini?” tanya Andin prasangkanya dia yang sok tahu.

__ADS_1


“Engga ko, aku udah jarang main bola sekarang. aku di rumah terus main ps.”


Mendengar aku tidak sering bermain bola lagi, membuat Andin tersenyum tipis dari garis bibirnya. Sepertinya dia bahagia kalau aku tidak bermain bola lagi.


“Loh ko kamu ketawa?” tanya aku pada Andin.


“Engga aku cuma seneng aja kamu sekarang udah jarang main bola.”


“Loh ko seneng si?” tanya ku pada Andin merasa tidak mengerti perkatannya.


“Ya seneng, jadi kamu ga pulang malem lagi. lebih banyak istirahat di rumah, ga terluka lagi deh."


“Setiap aku main bola, aku engga pernah luka-luka ko bener. cuma waktu itu aja. Soalnya tim lawan nyelengkat kaki aku.” aku menjelskan pada Andin agar tidak salah paham.


“Udah ya udah mau aku marah? Jangan ngomongin itu lagi!”


“Hehe iya oke deh” jawab aku dengan pasrah.


“Yaudah kamu istirahat dulu, aku ke lapangan lagi ya. Takut nanti ada yang sakit atau pingsan lagi.” ucap Andin sembari berdiri dan berbalik badan untuk pergi dari ruang UKS.


“Dinnn....” ucap ku saat Andin mulai pergi.


“Iya?” jawab Andin dengan berbelok ke arah aku kembali.


“Sini aja temenin aku,”


“Kan kamu udah siuman, mending sekarang tidur aja dulu bentar sebelum jam pelajaran masuk”


“Iya tapi aku mau di temenin please temenin yah.....” ucap ku dengan wajah memelas.


“Iya deh iya bapak Rey yang playboy dan manja” ucap Andin dengan lucunya.


“Ih kamu apasi playboy-playboy ngomongnya, kaya paham aja!” aku menggerutu pada Andin.


“Paham aku, kamu kan suka godain cewe-cewe!”


“Tapi sekarang udah engga kan? lagian kalo playboy itu aku pacarin cewe-cewe kaya Randy noh cewenya banyak. Tapi kan ini beda, aku ga pernah nembak cewe. Ya cuma dianya aja yang ngarep dan ngaku cewe-cewe aku.” jelas ku pada Andin agar dia tidak berkata aku playboy-playboy lagi.


“Iya iya. aku percaya ga ya sama ucapan kamu hmmm?? kan dimana-mana cowo suka bohong. Dan kamu terkenal cowo yang pemberi harapan palsu. Apa jangan-jangan aku korban kamu berikutnya ya?” jawab Andin dengan banyak pertanyaan.


“Hehehe ngaco kamu, mana mungkin si. Udah deh buang jauh-jauh prasangka kamu itu” jawab aku dengan nada menahan ketawa.


“Eh apasi. Maaf-maaf bukan maksud aku ngomong aku korban kamu. Kita kan Cuma temen aja ya hehe” jawab Andin dengan salah tingkah.


“Kalo aku maunya lebih gimana?” tanya ku mencoba untuk memancing dia.


“Udah deh kamu nih!!!!” jawab andin sembari memukul pelan tangan ku.


“Hahaha mukanya merah, maaf-maaf aku bercanda doang ko hehe.”

__ADS_1


Saat aku mengatakan itu. wajahnya Andin berubah yang tadinya senang melihat aku berkata sebelumnya. Tapi saat aku berkata bercanda dia seperti tidak menerima perkataanku dari mimik wajahnya. Apa cuma perasaan aku saja ya yang terlalu percaya diri. Tidak mungkin Andin perempuan baik-baik menyukai aku laki-laki buruk.


Aku hanya bisa mencintai sepihak saja. Tidak mungkin cinta aku akan terbalas. Tapi nanti pada saatnya aku akan mengutarakan perasaan ku pada dia. Entah di tolak atau pun di terima aku tidak peduli. Yang penting aku sudah mengatakan dan lega. Saat ini aku tidak memikirkan taruhan itu. aku tidak peduli terkait tiket nonton bola itu. yang aku pikirkan hanya mengutarakan perasaaanku ini yang benar-benar jatuh untuk dia.


__ADS_2