Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 40 : SMA 15


__ADS_3

Ruman andin......


Sampai rumah, Andin langsung pergi ke kamar. Bundanya bingung kenapa anaknya pulang-pulang seperti itu. Tidak memberi salam bahkan langsung pergi ke kamarnya dan menangis dengan kencang. Bunda menghampiri Andin yang langsung berbaring sembari menutup wajahnya dengan bantal. Yang masih menggunakan seragam sekolah.


“Nak....”


“Bundaaaaaa” jawab Andin sembari memeluk.


“Aku takut bundaaa..... Rey juga kaya gitu. Aku engga kuat kalau aku melihat yang kedua kalinya” tambah Andin dengan tangisannya.


“Din, dengerin bunda” ucap bunda sembari mengelus rambut Andin.


“Iya bun”


“Kematian seseorang tidak ada yang tahu, hanya tuhan yang tahu din.”


“Tapi bunda aku takutttt”


“Iya bunda tahu kamu takut. Coba pelan-pelan kamu lupain itu. Rey itu berbeda dengan dia”


Bunda menenangkan Andin agar tidak berpikir yang engga-engga.


@


Rumah Rama.......


“Udah Rey, masa laki-laki nangis” ucap Rama sembari memberikan tissu padaku.


“Iya rey lo harus kuat!” tambah Randy.


“Gue belum bisa terima semuanya” ucap ku dengan suara yang tidak beraturan.


“Lo lagi Rey bukannya dari awal jujur sama Andin !!” reno menambahkan. Mendengar kata-kata Reno aku tambah kencang nangisnya.


“Reno lo mah!” ucap Rizky pada Reno dengan bola matanya yang tajam.


“Kalo gue kasih tau Andin dari awal. Mana mau dia bantu gue belajar ahhhhh” jawab ku sembari menangis kencang di tambah mengeluarkan kotoran ingus ku.


“Iya si, udah Rey lo engga usah mikirin dia. Kan lo juga ga suka sama dia. Ngapain galau,” ujar Reno padaku.


“Kalo gue ga deket lagi sama dia gagal dong tiket bolanya” jawab ku mengalihkan.


“Oh iyaya, kita cari cara lagi.”


Aku berbohong lagi pada teman-teman ku. Sebetulnya aku benar-benar merasa kehilangan. Aku tidak mengharapkan tiket bola itu. tetapi aku terlalu gengsi untuk mengatakan pada teman-teman ku. Sebelumnya aku sudah janji pada mereka tidak akan pernah jatuh cinta pada Andin. Tetapi, hati berkata lain aku sangat mencintai dia. Sampai-sampai aku menangis seperti ini gara-gara perempuan.


@


Rumah Salsa.........


Andin tidak memberitahu Salsa tentang semuanya. Dia sembuyikan pada Salsa.


“Din, kamu udah daftar di SMA 2?” tanya salsa yang sedang menyisiri bonekanya.


Andin yang dengan tatapan kosong menjawab.


“Belum”

__ADS_1


“Loh emang kenapa?” tanya Salsa kembali.


“Pendaftarannya besok”


“Oh gitu”


“Iya, kamu jadi masuk SMA 15?” tanya Andin pada Salsa.


“Jadi dong, aku emang udah pengen banget masuk situ, ya walaupun ga termasuk sepuluh besar si sekolah itu. ya gapapa yang penting peluang aku masuk besar hehe” jelas Salsa.


“Iya deh aku dukung kamu terus”


“Kalo aku mau ikut kamu, kayanya ga mungkin deh. Nilai ku biasa aja mana mungkin bisa masuk, SMA 15 tidak terlalu melihat nilai soalnya dia tes. Kalo tes aku yakin bisa soalnya banyak yang bilang soal tesnya mudah”


“Bagus deh kalau kaya gitu”


“Oh iya kamu cuma daftar di SMA 2 aja?”


“Iya”


“Kenapa ga dua aja coba? Satu lagi daftar di SMA 15 bareng aku. Jadi kalo kamu ga masuk SMA 2 bisa di SMA 15 iyakan?”


Andin terdiam, salsa mematahkan semangatnya menurutnya.


“Eh bukan gitu maksud aku din, maksud aku kamu bisa ada cadangan gitu loh.”


“Aku pasti masuk ko sal” jawab Andin dengan percaya diri.


“Oke deh”


“Beneran din?” tanya salsa sambil menatap Andin.


“Iya kalo aku engga masuk kan, bisa bareng kamu lagi”


“Oke kalo gitu, jadi besok jadwalnya kita harus kesana buat kumpulin data-data”


“Oke kalo kaya gitu”


@


SMA 15.........


“Akhirnya sudah selesai semua data-data yang kita kumpulkan” ucap Salsa pada Andin yang sedang berjalan.


“Iya sal”


“Udah tenang, kamu tinggal tunggu pengumuman SMA 2, dan besok tes disini deh”


“Iya hehehe”


Saat andin dan salsa sedang berbincang, bertemu lah Andin dengan Rama dan Clara. Clara menyapa Andin dengan Salsa.


“Loh din, sal, lo daftar sekolah disini juga?” tanya salsa pada Andin dan Salsa.


“Iya ra” jawab Salsa.


“Yee ketemu lagi dong kita,” ucap Clara dengan wajah sumringah.

__ADS_1


“Iya”


Rama melihat Andin penuh kebingungan.


“Oke deh gue kesana dulu ya” jawab Clara pada Andin dan Salsa sembari menggandeng Rama.


“Iya ra”


Saat Rama dan Clara sudah pergi, Andin bertanya pada salsa.


“Rama juga daftar sini?” tanya Andin.


“Iya kayanya din, soalnya kan clara pacarnya juga daftar sini”


“Oh kaya gitu”


“Iya”


@


Rama yang sedang duduk bersama clara di kantin SMA 15 langsung berkata.


“Sayang, aku telepon papah dulu ya”


“Iya sayang”


Rama berbohong pada clara, dia sebenarnya menelpon aku.


“Rey lo dimana?”


Aku yang sedari main PS langsung menjawab telepon Rama dengan menyalakan suara yang besar. Agar aku bisa mendengar.


“Di rumah kenapa ma?”


“Berisik benget si lo, cepet lo kesini!”


“kemana?”


“SMA 15”


“Hah ngapain?”


“Tadi gue liat Andin, dia daftar sekolah ini juga?”


Mendengar Rama menyebut nama Andin aku langsung berhenti main PS.


“APA???”


“Iya, ini kesempatan lo deket lagi. Kalo lo daftar disini kali aja ketemu lagi kan”


“Kan gue daftar sekolah bola itu”


“Yee belum tentu masuk hahaha. Udah lo cepet bawa data-data persyaratan nanti gue kirim. Sebelum lo nyesel”


“Oke deh ma”


Jadi aku menerima tawaran Rama. Kalau misalnya aku tidak masuk sekolah sepak bola itu, bisa saja aku masuk SMA 15. Dan begitu pun Andin kalau tidak masuk sekolah SMA 2 dia bisa sekolah di SMA 15 dan kita akan bertemu kembali di satu sekolah lagi. itu lah sebabnya aku langsung bergegas untuk datang, dan mengumpulkan data-data ku.

__ADS_1


__ADS_2