Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 42 : Kegagalan Terbaik


__ADS_3

Hari ini tepat sekali pengumuman seleksi masuk sekolah sepak bola itu. Aku pergi bergegas ke sekolah untuk melihat pengumuman itu. untuk bertemu pak Andri.


“Assalammuaaikum pak” ucap ku pada pak Andri.


“Waalaikumsalam, masuk Rey”


“Iya pak, gimana pengumumannya pak?”


Pak Andri menghela nafas dan menjelaskan padaku.


“Maaf ya Rey bapak engga bisa bantu, kamu tidak di terima”


Aku benar-benar sedih mendengar pak Andri berkata seperti itu.


“Yah gitu ya pak” jawab ku dengan wajah melas.


“Iya, kamu cari sekolah yang mudah saja di masuki. sekolah sepak bola ini favorit, banyak yang daftar. Dan pihak sana mencari yang terbaik dari nilai dan pengalaman.” Jelas pak Andri.


“Iya deh pak, makasi banyak ya pak. Saya keluar dulu” jawab ku sambil keluar dengan wajah menunduk.


“Iya Rey”


Aku benar-benar tidak ada harapan lagi. Andin tidak ingin berteman lagi padaku. Aku di tolak di sekolah yang aku idam-idamkan. Aku menyesal kenapa dari kelas satu aku tidak belajar dengan serius. Kenapa dari kelas satu aku tidak mengenal lebih dekat pada Andin. Kalau tahu begini aku benar-benar menyesal. Mungkin ini sebabnya aku berbohong menutupi semuanya dari Andin. Di tambah kedua orang tua ku tidak tahu kalau aku mendafrat. Itu lah sebabnya tuhan tidak merestui semuanya. Makanya aku di tolak hmmmm sakit juga di tolak.


Aku baru ingat kaca yang biasa ku bawa sekolah tertinggal di kelas ku. Aku sengaja membawa kaca bukan untuk mengaca, seperti perempuan pada umumnya. Tetapi untuk melihat Andin secara terus menerus dari kaca. Wajar karena aku duduknya di depan Andin. Andin di belakang ku jadi tidak bisa melihatnya terus menerus. Kalau aku menoleh ke belakang dia suka marah, katanya menganggu dia sedang membaca. Jadinya ku biarkan kaca menempel di depan ku agar pantulan wajahnya terlihat di kaca ku.


Saat aku sedang menghampiri kelas ku yang tidak ada murid karena kelas tiga sudah tidak datang-datang lagi.


Aku masuk kelas ku dan ku lihat kaca ku masih ada di meja ku yang ku tempel di bangku teman ku di depan. Ku ambil kacanya, saat aku mengambil.


Tiba-tiba ku melihat buku novel yang suka di baca Andin yang berjudul Cinta dalam diam. ku tertawa melihat judul novel tersebut. Tak ku sangka Andin membaca buku bergenre romance. ku ambil lah buku novel tersebut berharap nanti akan ku kembalikan padanya.


Aku keluar dari kelas membawa kaca ku dan novel Andin. Saat aku keluar dari kelas. Tiba-tiba aku mendengar guru ku sedang berbincang dengan guru lain. Ku dengarkan mereka berbincang.


“Bu tau ga si Andin murid terpintar itu, dia ga masuk di SMA 2. Kasihan ya padahal pinter. cuma kan balik lagi. dia daftar di sekolah favorit. Banyak yang pintar dan minat”


“Iya bu kasihan, persaingan memang ketat banget ya”


Mendengar percakapan itu, aku langsung menelpon Andin. Tetapi teleponnya tidak bisa di hubungi. Aku tahu betul saat ini andin sedang sedih. Aku pun juga sedih karena tidak di terima juga. tapi ya bagaimana lagi takdir berkata lain. Aku menerima semuanya.


@


Rumah andin.....


“Sudah nak, jangan nangis lagi. Kita bisa cari sekolah lain.” ucap bunda menenangkan Andin.


“Sekolah mana bun? Semua pendaftaran sekolah sudah di tutup, aku engga mau di swasta. Nanti teman-temanku tahu gimana bun? Aku malu” jawab Andin dengan menangis.


“Bagaimana kalau kita telepon pihak sekolah SMA 15” ujar ayah dengan idenya.


“Buat apa yah?” tanya bunda pada ayah yang tidak mengerti.


“Ya kita telepon, mungkin bisa di pertimbangkan anak kita bisa masuk lagi. Soalnya kan kemarin anak kita lulus”


“Oh iya juga yah”


Akhirnya ayah menelpon pihak sekolah SMA 15.


“Selamat siang pak maaf menganggu waktunya. Saya orang tua dari siswa bernama Andin.”


“Iya pak, ada yang bisa saya bantu?”


“Begini pak, jadi sebelumnya anak saya lulus di sekolah itu. Cuma karena kendala lain mengakibatkan anak saya tidak menerima dan tidak memberikan data-data anak saya. Bisa tidak ya pak anak saya masuk kembali di sekolah itu? saya akan membayar berapa yang bapak inginkan”


Ayah Andin melakukan ini semuanya untuk anaknya. Dia rela membayar berapa pun agar anaknya dapat masuk kembali di sekolah SMA 15 itu. karena kalau tidak masuk dia bingung harus memasukan anaknya dimana.


Walaupun dia seorang guru di SMA 2 dia tidak ingin melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Sekolah SMA 2 juga tidak bisa di sogok. Mungkin dia berharap SMA 15 bisa. Karena belum termasuk sekolah sepuluh besar. Tetapi sama saja tidak menerima penyogok kan juga. membuat ayah tidak tahu harus berbuat apa.


“*Maaf pak tidak bisa, tapi ada peraturan kalau mau masuk kembali. Di haruskan untuk bertukar bangku dengan temannya anak bapak. atau siswa lain yang sudah lulus di sekolah kami. Kalau itu tidak apa-apa karena tidak ada yang namanya penyogok kan”


“Oh seperti itu baik nanti saya kabarin lagi pak.”

__ADS_1


“Iya pak, maaf ya kami tidak bisa membantu bapak walaupun karena uang. Karena kami ingin sekolah kami bersih dari penyogok kan”


“Iya pak, maaf ya pak bukan maksud saya seperti itu”


“Iya pak, nanti kalau sudah menemukan murid yang ingin di tukar dengan anak bapak kabari lagi saja ya pak"


" Baik pak*"


Ayah memberitahu bunda dan Andin tentang peraturan tersebut. Andin merasa terhina kerena tidak masuk ke sekolah idamannya. Saat itu juga dia menenangkan pikirannya di taman tempat pertama kali Andin keluar bersama dengan ku.


Aku yang sedang mencari Andin kemana saja, tidak ketemu juga. Pikiran ku berkata dia ada di taman tempat pertama aku dengan dia. Ku cari lah disana, ternyata benar dia di taman dengan wajah kesedihannya. Ku samperi dia. Ku coba menenangkan dia.


“Din,,,” panggil ku pelan pada dia.


Dia tidak menajawab hanya wajahnya sedihnya yang di tunjukan. Air mata berhasil membasahi wajahnya. Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti itu.


“Din udah jangan nangis lagi, hidup tuh gitu kadang yang kita inginkan bisa saja bukan yang terbaik. Yang aku rasakan juga kaya gitu, aku ingin sekali masuk sekolah sepak bola itu. tapi takdir berkata lain aku tidak lulus dan aku bingung harus apa sekarang hmmm.” jelas ku pada Andin sembari ku duduk di sampingnya.


Andin mentap ku dan berkata.


“Apa? kamu tidak lulus juga Rey?”


“Iya hehe, tapi aku udah daftar di sekolah yang kamu saran kan di SMA 10. Ya aku ga terlalu berharap si soalnya kan sekolah itu terpavorit juga”


“Kamu lagi engga bohongin aku lagi kan Rey?” tanya andin dengan tidak percaya nya dengan perkataan ku.


“Ya engga lah, aku ga bohong. Masalah kemarin aku benar-benar minta maaf sama kamu, aku sama sekali tidak bermaksud memanfaat kan kamu. Tapi aku memang mau berubah”


“Terus rencana kamu abis ini gimana?” tanya Andin kembali.


“Ya aku ikutin aja alur ceritanya. Tinggal nunggu pengumuman SMA 10. Kalau ga masuk yasudah aku ambil swasta hehehe”


“Loh kan kamu di terima di SMA 15 kenapa ga ambil?”


“Oh iyaya, kalo aku terima SMA 15 itu aku bisa satu sekolah lagi sama kamu ya. Ko aku baru kepikiran ya.”


Andin Kembali menundukan wajahnya.


“Engga bisa Rey, aku ga bisa masuk SMA 15” ucap Andin seperti tidak ada semangat.


“Iya, cuma aku oonnya pas awal disuruh mengumpul kan data. Aku tidak kumpul kan. Ya mungkin karena sifat terlalu sombong nya aku. Jadi aku menolak sekolah itu dan tidak ada harapan lagi untuk aku masuk.”


“Ko bisa gitu ya peraturannya, kamu udah telepon pihak sekolah itu emang?”


“Udah tadi ayah. Cuma kata mereka kalau mau masuk lagi harus tukeran dengan ku. Jadi siswa yang sudah lulus harus bersedia berganti."


“Oh begitu, aku punya ide” ucap ku pada Andin.


“Apa?”


“Aku kan kemarin lulus di SMA 15 itu, gimana kalau kita tukeran?”


Andin masih tidak mengerti maksud ku dan dia bertanya.


“Maksudnya?”


“Kita tukeran. Jadi kamu bisa masuk sekolah itu,”


“Nanti kamu gimana?”


“Ya aku kan emang awalnya ga niat masuk sekolah SMA 15 itu, aku tinggal tunggu pengumuman SMA 10. Kalo aku engga lulus SMA 10 papah mau daftarin aku sekolah swasta”


“Kalo kamu ga niat, kenapa mau daftar di SMA 15?”


“Sebenarnya waktu itu Rama kasih tau, kalo kamu daftar di SMA 15. Jadi aku daftar karena ada kamu hehe”


“Yee dasar, aku emang bener-bener sombong. merasa yakin kalo aku akan masuk di sekolah SMA 2 itu. tapi kenyatannya engga kan hmmmm”


“Aku kan pernah bilang, kadang apa yang kita ingin kan ga selamanya terbaik buat kita. Mungkin ada hal lain lebih baik yang di kasih tuhan”


Andin tidak menanggapi perkataan ku hanya terdiam dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


“Ko kamu ketawa?” tanya ku yang melihat Andin tertawa.


“Engga, aku engga nyangka aja kamu bisa bicara bijak kaya gitu,”


“Hehehe mungkin otak aku lagi bener,”


“Hehehehe”


“Jadi gimana kamu mau tukeran sama aku?”


“Tapi nanti kamu ga....” jawab Andin, dan aku langsung memotong perkatannya.


“Kan tadi aku udah bilang, udah kamu ikutin aja ya. Engga usah mikirin aku. aku engga apa-apa ko hehe”


“Iya Rey, makasiii ya”


“Iya sama-sama din hehe”


“Sebelumnya aku minta maaf ya sama kamu, karena waktu itu aku udah marah-marah sama kamu. Dan engga dengerin penjelasan kamu.”


“Wajar ko kamu marah, emang aku keterlaluan. Seharusnya aku yang minta maaf sama kamu. Aku udah manfaatin kamu, bohongin kamu, dan buat kamu kecewa.”


“Aku juga udah nerima semuanya ko”


“Jadi, kita berteman lagi?”


“Hmm gimana ya?”


“Yee masa gimana?”


“Hehe iya”


“Janji sampai kapan pun kita berteman, walaupun beda sekolah tetap berteman?”


“Iya,,”


“Asikkkk”


Aku pun melihat Andin tersenyum kembali. Aku benar-benar sangat bahagia kalau dia tersenyum seperti itu. pelajaran yang aku dapat kan dalam masalah ini adalah segala sesuatu yang kita rencanakan, yang kita harapkan, memang tidak harus berjalan sea arah atau berjalan sesuai keinginan kita. Tapi semuanya sudah di atur tuhan. Kita hanya bisa menerima takdirnya. Sekali pun itu membuat kita kecewa. Tetapi percayalah, Takdir tuhan tidak pernah salah.


@


Rumah Andin.....


Ayah dan bunda yang sedang bingung memikirkan sekolah Andin, tidak tahu harus berbuat apa.


“Yah, bun” ucap Andin.


“Ayah dan bunda udah sepakat din, mau masukan kamu di sekolah swasta. Karena sekolah negeri tidak mau di masukan pakai uang. Termasuk SMA 15 itu yang tidak menerima uang. Peraturannya siswa yang sudah masuk mau bertukar sama kamu”


“Yah, bun, aku engga mau masuk sekolah favorit kerena di berikan uang.”


“Jadi kamu mau masuk sekolah swasta?”


“Aku udah ketemu temen aku yang mau di gantikan”


“siapa?”


“Rey yah, bun”


“Rey? Ayah ga asing dengan namanya”


“Itu loh yah, yang ayah main bola sama dia waktu jemput aku,,”


“Oh iya ayah baru inget, dia mau di gantikan?”


“Mau yah katanya”


“Bagus deh, yasudah kamu bilang ke dia, besok ke SMA 15 ajak orang tuanya”


“Boleh mamahnya aja yah?”

__ADS_1


“Boleh”


“Oke yah”


__ADS_2