Kamu Adalah Kenangan

Kamu Adalah Kenangan
Bagian 30 : Panggilan Aku Kamu


__ADS_3

Jam istirahat pun tiba, hari ini class meeting masih berlangsung. Perlombaan hari ini puisi. Membuat siswa dan siswi beramai- ramai melihat perlombaan itu. membuat aku kesana juga untuk mencari Andin. Karena dari tadi dia tidak ada di kelas. Ku cari lah dia di tempat perlombaan puisi itu. Tapi, saat aku sudah kesana dia tidak ada membuat ku bertanya pada Salsa temannya. Karena ada salsa disini.


“Sal lo liat andin?” tanya ku pada Salsa.


“Tadi si bareng, terus dia bilang mau cari buku di Perpus.” ucap Salsa dengan penjelasannya.


“Berarti dia di perpus?” tanya ku kembali.


“Iya”


“Oke makasi sal”


“Sippp”


Aku pun bergegas mencari andin ke ruang perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan ku lihat dia sedang membaca di ruang baca. Ku hampiri lah dia.


“Din,,,” panggil ku pelan.


“Loh kamu ngapain disini?” jawab Andin dengan wajah membingungkan.


“Gue dari tadi cari lo tau”


“Mau ngapain cari aku? tanya Andin padaku.


“Mau bilang minta maaf hehe” ucap ku dengan senyum manis yang ku tunjukan.


“Minta maaf soal apa?”


“Aku minta maaf ya soal kemaren, aku benar-benar membuat kamu marah”


Untuk pertama kalinya aku memanggil aku kamu pada andin. Awalnya membuat ku malu dan belum terbiasa. Tapi aku senang karena aku semakin dekat dengan dia. Andin bertanya kepada ku dengan wajah heran.


“Loh ko kamu panggilnya aku kamu ga kaya biasanya?”


“Ye kan kamu bilang ga terbiasa” aku menjelaskan agar dia tidak merasa canggung memanggil dengan sebutan aku kamu.


“Iya emang ga terbiasa, terus kenapa kamu ikutin aku ngomongnya aku kamu?”


“Ih dasar pinter, ya aku mau terbiasa. supaya kamu ga canggung lagi kalo aku ngomong kaya biasanya gitu,”


“Oh gitu” jawab Andin singkat yang keluar dari bibir mungilnya.


“Iya pintar”


“Ih iya deh iya”


“Jadi resmi nih?”


“Resmi apa?”


“Resmi gue panggilnya aku kamu”


“Hehe iya iya”


“Jadi, kamu udah makan belum?”


“Ih apasi kamu, mulai deh playboynya”


“Hehehe”


Kami pun tertawa bersama. Ya walaupun hanya resmi panggil aku kamu, bukan resmi menjadi sepasang kekasih tapi tidak apa-apa karena ini jembatan agar aku semakin dekat dengan dia. Senang sekali rasanya aku.


@


“Baik anak-anak bulan kemarin Rey dan teman-temannya mewakilkan sekolah kita untuk bertanding futsal antar sekolah. Dan kabar bahagianya Rey dan teman-temannya memenangkan pertandingan dengan juara 1. Bapak benar-benar bangga. Mari beri tepuk tangan untuk mereka.” ucap kepala sekolah ku depan anak-anak di lapangan karena sudah selesai upacara.


Aku dan teman-temanku dengan bangganya membawa piala yang besar itu. Menghampiri kepala sekolah di depan. Membuat siswa dan siswi bertepuk tangan dan memuji kami.


“Wah Rey keren banget ya, bisa menang gitu. Andai gue jadi cewenya pasti bangga banget punya pacar kaya dia.”


“Iya bener, udah deh jangan halu”


Celotehan siswa dan siswi membuat andin mendengar. Dia tetap dengan wajah muramnya.


“Sekarang sesi foto ya, rey pegang pialanya.” perintah kepala sekolah.


Aku foto dengan teman-teman ku serta guruku sembari siswa dan siswi melihat kami berfoto di depan lapangan.


“Pertahankan bakat kamu ya Rey, Rama, Reno, Randy, Rizky.” ucap terakhir kepala sekolah itu.


“Baik pak,”


Tiba-tiba Clara dengan aksinya di mulai kembali membuat semuanya melihat dia.


“Ramaaaaaaaa pacar gue, bangga bangettttttt”


dengan suara kencangnya membuat semuanya terdengar.


@


Saat istirahat datang, siswa dan siswi beramai-ramai melihat foto seragam. Membuat ku penasaran juga. Aku ingin melihat wajahnya Andin. Saat aku sedang melihat foto tersebut tiba-tiba terdengar suara murid perempuan dengan sok tahunya berkata.


“Eh liat deh, masa si Andin yang foto sama Rey, ga cocok tau. Ini pasti dia maksa jadi modelnya!”


“Ya iyalah ga cocok. si Rey lagi keren kaya gitu, masa sama Andin. Secara gitu cowo kaya rey mana suka sama Andin. Muka biasa aja, sifanya kaku banget, dia cuma pinter aja.”


Coletahan murid perempuan itu yang membuat ku geram. aku mengampiri dia agar tidak salah menilai Andin seperti itu.


“Heh!! apa tadi lo bilang berdua!” ucap ku. Wajah mereka gugup.


“Eh Rey engga bilang apa-apa ko kita”


“GUE DENGER!!!! Sekali lagi gue kasih tau lo ya, Andin bukan cewe kaya gitu. Dan lo, lo, jangan sembarangan nilai dia kaya gitu. Dia tuh bukan cewe semacam kaya lo yang ngomong tapi engga ada bukti. Dan beraninya di belakang. DASAR TONG SAMPAH!. JIJIK gue sama cewe kaya lo bedua!!!!” saat mengatakan itu aku langsung pergi meninggalkan murid itu. Aku paling tidak suka melihat perempuan ku di hina seperti itu.


Saat Andin melihat foto itu, wajahnya lesu tidak bersemangat. Seperti tidak percaya diri. Dia langsung pergi ke kantin dan menangis karena banyak yang tidak suka Andin dekat dengan ku. Aku pun mencari dia untuk menenangkan pikirannya. Karena siswa dan siswi banyak yang ngomongin dia di belakang. Bilang andin ga pantes lah buat aku. Sampai-sampai menghina fisiknya. Membuat ku geram melihatnya. Tapi aku tidak bisa menghentikan mereka semua. Yang hanya aku bisa sekarang mencari dia. Dan mencoba menenangkan dia.


“Udah din jangan nangis, jangan dengerin mereka.” ucap Salsa pada andin sembari mengelus pundak Andin.


“Kan aku udah bilang Sal sebelumnya aku tidak cantik, tapi kenapa bu Dewi maksa aku buat foto jadi gini kan. Awalnya aku juga sama Ivan tapi tiba-tiba bu Dewi panggil rey buat gantiin ivan.” ungkap Andin di barengi dengan suara tangisnya.


“Iya Din aku tau ko, udah makanya jangan dengerin mereka. kan engga sesuai apa yang mereka duga. Udah ya stop dengerin mereka. kamu cantik ko siapa bilang kamu engga cantik. Udah ih jangan nangis lagi nanti hilang cantiknya loh.”


Tiba-tiba aku sudah menemukan mereka. ku lihat lah andin sedang menangis. Ku hampiri dia dan ku berikan dia tissu sembari menyuruh salsa pergi.


“Nih buat kamu, udah jangan nangis lagi ya” ucap ku pada Andin mencoba untuk menenangkan dia.


“Kamu ngapain disini? Jauh-jauh sana jangan deket-deket aku lagi” jawab andin dengan wajah kesal serta jijiknya padaku.

__ADS_1


“Loh ko gitu?” tanya ku.


“Oh iya Din, aku ada urusan bentar ya” Salsa meminta izin pada andin untuk segera pergi


“Aku ikut sal.” jawab Andin yang ingin mengikuti salsa.


“Udah engga usah, kasian rey di tinggal. ” jawab salsa mencoba membela ku.


“Kamu kenapa din?” tanya ku kembali pada Andin.


“Gapapa” jawab singkat Andin.


“Terus kenapa nangis kaya gitu?” aku mencoba bertanya kembali.


“Aku bilang gapapa ya gapapa!!” Andin masih sama dengan jawaban yang sebelumnya.


“Aku tau ko, udah jangan dengerin mereka lagi ya. mereka tuh iri sama kita.”


“Kamu tau soal apa hah?”


“Ya aku tau mereka ngomongin kamu di belakang, tapi kan itu engga sesuai apa yang terjadi sebenarnya. Jadi untuk apa kamu masih pikirkan omongan mereka. kan kita yang jalanin bukan mereka.”


“Hah jalanin?” tanya andin atas perkaataan ku ini.


“Ya maksudnya kan kita yang tahu semuanya. Lagian kamu juga ga paksa aku buat foto sama kamu kan, mereka cuma iri din sama kita.”


“Aku cape deket sama orang yang banyak di sukain di sekolah. Rasanya aku mau mundur” Andin berkata seperti itu tanpa sadar. Membuat aku terkejut mendengar perkataannya.


“Maksudnya? Mundur apa?” tanya ku yang tidak mengerti maksud dia.


“Eh engga-engga maksud aku. Aku mau kita jauh aja. Kalo ada tugas yang kamu ga paham. Minta ajarin aja sama yang lain gitu,”


Mendengar Andin berkata seperti itu aku tidak menerima.


“Ya engga bisa gitu dong, kamu kan udah janji sama pak Andri buat bantu aku belajar selama satu tahun ini.”


“Ya abisnya gimana? Mereka semua ga suka!”


“Apa pentingnya si mikirin mereka? kan kamu bilang, kamu paling tidak suka kegagalan dalam membantu siapa pun. Masa cuma perkataan meraka kamu udah nyerah aja.”


“Hmm Iya deh iya.”


Mendengar Andin berkata iya aku senang sekali rasanya karena dia mengikuti perkatannku.


“Nah gitu dong, mulai sekarang jangan dengerin perkataan mereka. dan kamu harus fokus untuk selalu bantu aku belajar oke?”


“Iya rey iya”


“Janji ya?” ucap aku sembari mengeluarkan jari kelingking ku.


“Iya janji”


“Udah jangan nangis lagi, nanti jelek loh.”


“Kan aku emang udah jelek Rey. Cewe-cewe kamu tuh yang cantik-cantik.”


“Eits cukup, engga ada cewe-cewe aku. Mereka semuanya cuma ngaku-ngaku aja”


“Iya iya”


Gara-gara foto itu andin menjadi sedih. Sudah satu minggu dia bersabar. Dan aku selalu di sampingnya untuk selalu meyakinkan dia. Dan memerintahkan dia untuk tidak mendengar perkataan siswa dan siswi di sekolah ini.


Mempromosikan club dengan sama-sama itu sudah cukup bahagia bagi ku.


“Jadi, kalau masuk club PMR itu, nanti akan di ajarkan bagaimana cara mengobat orang,” ucap penjelasan Andin dengan sangat tertata. Setelah ini aku yang akan memperomosikan club ku.


“Siapa lagi yang mau gabung ke club PMR?” tanya Andin. Ya lumayan lah yang masuk satu kelas bisa 10 orang yang ikut.


Walaupun aku tidak menjelaskan lebih detail tentang club bola, tetapi sekali aku berkata banyak sekali yang ikut. Teman-temanku mencatat nama-nama yang bergabung.


“Siapa lagi yang mau ikut?” tanya aku pada murid kelas satu.


“Gue bang,”


“Gue juga”


“Gue mau”


Adik kelas ku dengan antusiasnya maju ke depan. Membuat ku menahan tertawa dan andin melihatku dengan malu.


“Ma catat siapa aja yang mau gabung!” perintah ku pada Rama.


“Oke rey!”


Saat murid laki-laki berkerumunan mendekat teman-teman ku. Aku mengampiri Andin dengan bangganya karena club ku lebih banyak yang mau gabung di banding club PMR nya dia.


“Liat kan? banyak yang masuk club aku”


“yailah banyak, club kamu kan emang banyak yang minatin. bahkan kalo ada pendaftaran untuk siswa perempuan. Pasti langsung daftar juga kan.”


“Kalo di buka pendaftaran buat murid kaya kamu, kamu mau gabung ga?”


“ih mana mau aku, keke....” belum melanjutkan perkatannya aku sudah memotong pembicaraan Andin.


“Kekerasaan maksud kamu haha”


“Ih jangan ketawa”


“Iya deh iya kekerasaan”


“Sana ih bantu teman-teman kamu mencatat”


“Iya iya Andini Putri hehe”


@


Setelah mempromosikan club, aku memberikan nama-nama anak baru ke pelatih untuk mendata. Setelah memberikan itu aku dan teman-temanku kembali ke kelas. Sesampainya di kelas ku lihat April sedang menginformasikan sesuatu. Tapi kali ini aku dan teman-temanku telat masuk. Tapi untungnya bu April baik dan memperbolehkan aku masuk.


“Maaf bu kami telat” ucap ku pada bu April.


“Iya tidak apa-apa Rey,”


Saat aku bergegas untuk duduk di bangku. Tiba-tiba bu April memanggil ku.


“Reyyy sebentar,” ucap bu April di depan kelas. Membuat teman-temanku melihat.


“Iya bu?”

__ADS_1


“Sini,”


Aku mengampiri kembali bu April.


“Gimana kalau Rey yang jadi pemimpin upacara????” ucap bu April pada siswa dan siswi. membuat ku terkejut.


“Iya bu setuju!!” saut murid kelas.


Membuatku menolak perkatannya. Aku baru saja sampai kelas kenapa aku di perintahkan jadi pemimpin upacara. Aku benar-benar tidak mengerti.


“Maksudnya apa bu? Saya baru sampe kelas loh bu. Engga tau apa-apa. pemimpin upacara itu maksudnya apa?”


“Ya kamu jadi pemimpin upacara besok senin Rey.”


“Hah?? Engga deh bu, jangan saya kan ada vino. Dia kan ketua kelas”


“Vino udah sering, ibu di tegur kepala sekolah. Ibu harus cari yang lain”


“Jangan saya bu, yang lain aja deh bu. saya jadi pancasila aja deh bu.”


“Kamu ga liat di papan tulis di depan, semuanya udah ada petugasnya. Tinggal pemimpin upacara saja yang belum.”


Ku lihat lah papan tulis. Benar semuanya sudah ada petugasnya. Termasuk Andin menjadi pembaca undang-undang. Aku benar-benar tidak tahu harus apa.


“Udah lah rey kamu aja ya, kali-kali.”


“Saya ga jamin bakalan bagus ya bu”


“Yakan belajar terus nanti latihan.”


“Iya deh bu, saya ikutin apa kata ibu aja.” jawab aku dengan pasrahnya.


Andin yang melihat ku langsung tersenyum. Aku benar-benar merasa malu.


“Baik anak-anak sekarang kita mulai latihan ya, semuanya turun ke lapangan.” ucap bu April.


“Baik bu” saut kami.


Lapangan.......


Di tengah terik matahari aku latihan. Tidak apa-apa kalau aku yang jadi pemimpin upacara. Karena aku mau melihat andin bangga kepada ku. Aku juga memiliki kelebihan lain. Bukan hanya bermain bola saja.


Akan ku buktikan pada andin.


Ku lihat pelatih paskibra sudah datang. Tapi kali ini perempuan yang melatih. Aku benar-benar sebal karena perempuan pegang-pegang tubuh ku karena untuk menyeimbangkan. Membuat andin merasa tidak nyaman melihat ku di pegang-pegang seperti ini. Wajah kesalnya terlihat dari kejauhan.


“Jadi gini rey, badan lo harus gini. Maaf ya gue pegang.”


“Iya.” jawab ku dengan singkat.


“Tangan lo kepal gini rey, tatapannya ke depan, dan dada lo bidangin.”


“Gini?”


“Bukan, lebih tegak lagi.”


“Maaf ya, gue pegang lagi. Jadi dada lo harus gini.”


“Udah-udah gue coba sendiri!”


“Oh oke oke,,”


Saat aku sedang latihan. Tiba-tiba ku lihat Andin yang meminta izin ke bu April untuk ke toilet membuat ku salah fokus dengan dia.


“Bu saya izin bentar ya mau ke toilet” izin Andin pada bu April.


“Oh oke nanti langsung kesini ya kalo udah. soalnya nanti bagian kamu.”


“Baik bu”


Salsa yang sedang membaca janji siswa langsung berhenti saat andin berkata dengannya.


“Sal,,,”


“Iya din?”


“Aku titip buku undang-undang ini ya?”


“Loh kamu mau kemana?”


“Toilet”


“Oke deh”


Melihat hal itu aku langsung pergi dan mengikuti Andin.


“Rey weh pandangan lo ke depan!!” ucap pelatih perempuan itu.


“Bentar dulu!”


“Woi lo mau kemana?” ucap pelatih perempuan itu.


“Rey mau kemana kamu?” tanya bu April padaku.


“Toilet bu” jawab ku sembari berlari.


Aku tunggu lah Andin di depan toilet wanita membuat murid perempuan langsung terkejut melihat ku di depan toilet wanita.


“Loh Rey ko lo di depan toilet cewe?” tanya murid perempuan. Aku tidak menjawab.


Datang lah andin dengan wajah lesunya dan terkejut saat melihatku.


“Loh kamu ngapain disini?” tanya Andin


“Tadi aku liat kamu pergi dari latihan.”


“Ya terus kenapa? udah gih pergi latihan sana!”


“Kamu cemburu ya hehe” tanya ku dengan percaya diri.


“Cemburu sama siapa?”


“Ya sama aku lah, gara-gara tadi pelatih perempuan pegang-pegang. buat kamu bete kan?”


“Apasi engga lah jangan ngaco kamu”


“Yaudah iya, tapi inget ya din perkataan ku. Aku engga pernah tergoda lagi sama cewe lain. Jadi kamu jangan khawatir. Dan aku ga pernah serius lagi sama cewe lain, keculi sama cewe depan aku” dengan perkataan itu aku langsung pergi meninggalkan Andin. Andin langsung menunduk malu serta bertanya apa maksudnya.

__ADS_1


“Maksudnya?” jawab andin saat aku sudah pergi meninggalkannya. Tapi aku mendengar perkatannnya dari kejauhan.


Ih Rey selalu ga jelas, bikin penasaran aja apa maksudnya gumam andin di dalam hatinya.


__ADS_2