
Setelah makan malam murid-murid di perintah kan untuk ke aula. Sepertinya mengadakan pementasan.
“Baik anak-anak kita akan mengadakan acara perpisahan yang pertama pementasan yang akan di isi oleh murid-murid. Acara pertama sambutan” ucap guru ku.
“Terima kasih sambutannya pak, acara berikutnya perwakilan dari angkatan kalian yang akan memberikan sambutan. Kita sambut Andini Putri.”
Aku benar-benar menunggu sekali momen dia membacakan sambutan.
“Terima kasih sebelumnya pak, saya perwakilan dari angakatan tujuh banyak-banyak terima kasih atas jasa dan pengajaran dari bapak ibu guru. Maafkan kami semuanya pak, bu, ..........”
Setelah andin memberikan sambutan tiba lah acara berikutnya.
“Baik untuk acara berikutnya hiburan. Stand up comedy yang akan di bawakan oleh Rey. Beri tepuk tangan yang meriah.”
Aku tekejut MC mengatakan hal itu, aku sama sekali tidak tahu. Pasti ini semua gara-gara teman-teman ku yang menyuruh panitia perpisahan.
“Ayo Rey maju maju” saut salah satu siswa.
“Maju maju” seru semuanya.
“Maaf pak, saya engga bisa” aku mencoba untuk menolak.
“Rey bisa pak, dia lucu banget soalnya.” ujar Randy pada MC.
“Engga pak, gimana kalo Reno? Dia lebih lucu pak.” aku mengalihkan, agar tidak maju ke depan. Aku benar-benar malu di lihat Andin.
“Oke Reno boleh maju”
“Ko saya si pak? Lebih lucu Rey kali” Reno bergerutu.
Saat Reno mengatakan itu, aku langsung melototi Reno sambil berbisik padanya.
“Reno lo maju sana, kalo ga maju nanti lo tidur di luar” bisik aku pada Reno.
Mendengar aku berkata seperti itu Reno langsung kebingungan
“Ko gitu si Rey?” tanya Reno dengan wajah melasnya.
“Udah maju aja sana!!”
“Iyaiyaiya!!”
Akhirnya Reno menyerah dengan perkataan ku. Dia langsung berdiri dari tempat dan langsung memulai aksinya. Semuanya tertawa, begitu pun Andin yang kalau tertawa selalu menunduk.
Aku mellihatnya dari kejauhan. Saat Andin sadar sedang di tatap aku. aku langsung mengusap kepala ku yang hanya ada sedikit rambut.
“Hahahaha Reno lucu banget!!”
“Iya bener, cocok dia jadi stand up comedy”
“Sumpah sumpah itu kenapa Reno joget joget ngakak banget gue tuhan”
Itulah celetukan murid-murid melihat aksi Reno di depan.
__ADS_1
@
Setelah acara telah selesai. Ini saatnya murid-murid tertidur. Malam ini adalah malam yang sangat indah bagi ku. Melihat Andin memberikan sambutan. Melihat dia tersenyum. Sepertinya aku tidak bisa harus berpisah dengannya. Aku ingin selalu melihat wajahnya.
Tapi rasanya tidak mungkin aku akan satu sekolah lagi dengan dia. Secara dia akan masuk di sekolah impiannya itu, dan aku juga akan sekolah yang aku idam-idamkan yaitu sekolah sepak bola itu.
Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam. Rama, Reno, Randy,dan Rizky sudah terlelap hanya aku saja yang tidak bisa tidur. Entah kenapa perasaan ku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang terjadi. Aku keluar dari kamar ku mencari udara segar agar lebih tenang. Tapi masih saja ada sesuatu yang mengganjal. Ku telepon lah Andin.
Sang Putri. Aku menamai dia di kontak handpone ku dengan kata sang putri. Karena aku mengambil dari nama belakangnya yaitu putri dan sang berarti selalu menuruti dan melayani dia.
“Hallo din? Kamu gapapa kan?”
Dia tidak menjawab. Aku makin khawatir.
“Hallo? Din?”
“Iya Rey” jawab Andin dengan nafas yang tidak beraturan. Seperti orang yang sedang menggigil.
“Kamu kenapa?” tanya ku pada Andin lewat telepon dengan penuh khawatir.
“Aku sakit Rey”
Mendengar Andin berkata seperti itu aku benar-benar terkejut sekaligus merasa khawatir. Takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
“Apa?”
“Aku alergi dingin”
“Kamu sekarang dimana?”
“Salsa mana?”
“Udah tidur, mau aku bangunin ga tega dia ngantuk banget”
“Yaudah sekarang kamu ke taman deket kolam renang, aku bawain obatnya. Jangan lupa pake jaket”
“Iya Rey”
Aku langsung bergegas ke kamar guru sembari berlarian untuk meminta obat. Guru ku masih tidur, aku ketuk-ketuk pintu kamarnya sampai terbangun walaupun yang aku lakukan tidak sopan.
“Tokkkk tokkkkk tokkkkk” suara pintu kamar yang ku ketuk.
“Pak pak pak”
“Iya bentar” suara guru ku dari dalam kamar.
Dengan wajah tidurnya sembari mengucek matanya guru ku berkata.
“loh Rey kenapa?”
“Bapak ada obat alergi dingin ga?”
tanpa basa basi aku langsung bertanya obat yang ku butuhkan.
__ADS_1
“Siapa yang alergi?” tanya guru ku penuh dengan khawatir.
“Saya pak” jawab aku dengan berbohong.
Agar guru ku tidak banyak tanya. Kalau aku berkata Andin, nanti guru ku sangat khawatir. Aku tidak ingin membuat orang lain khawatir. Cukup aku saja.
“Bentar bapak cari dulu ya,” jawab guru ku sembari membuka kotak P3K.
“Iya pak”
“Nih kamu oles badan kamu pake ini, terus ini ada tolak angin minum. Dan pake minyak kayu putih ini juga ya. Jangan lupa pake jaket terus kaya gini.”
Aku yang awalnya tidak ingin membawa jaket, entah kenapa mamah memaksa mungkin naluri seorang ibu. Makanya aku membawa ada fungsinya juga untuk Andin yang sedang membutuhkan. Dalam hatiku bergumam makasih mah, mamah emang ga pernah salah.
“Baik pak” ucap ku sembari membawa obat-obatan itu.
Aku langsung pergi dan mencari Andin di taman. Ku lihat dia sudah sangat menggigil dan wajahnya pucat. Aku langsung membuka jaket ku dan ku berikan pada Andin. Agar dinginnya bisa berkurang. Aku tidak apa-apa tidak menggunakan jaket karena aku sudah biasa terkena dingin.
“Ini kamu minum tolak angin sama air hangat dulu ya” ucap ku sembari memberikan obat itu dan air hangat.
“Iya Rey, ueueue” jawab Andin sembari mengepal tangannya yang di selimuti jaket.
“Setelah itu kamu olesan ini, di tangan, kaki, leher kamu ya.”
“Iya Rey” jawab Andin sembari mengoleskannya.
Sudah 20 menitan aku disini. Akhirnya Andin sudah siuman setelah mengoleskan dan meminum ait hangat yang aku berikan.
“Makasi ya Rey” ucap Andin sembari memberikan jaket ku.
“Iya sama-sama yasudah sekarang kamu tidur, dan pake minyak ini.”
“Iya rey, kamu juga tidur ya?”
“Iya din, kalo ada apa-apa telepon aku ya” pinta ku pada Andin.
Aku mengantarnya sampai depan pintu kamarnya. Dia hanya tersenyum tipis pada ku. Saat dia sudah masuk aku langsung bergegas pergi ke kamar ku untuk tidur.
Sesampainya di kamar ku lihat teman-teman ku masih tidur.
Aku menghampiri mereka aku tidur di sebelah Rizky di paling pojok. Saat aku mulai memejamkan mata kaki Rizky langsung berada di tubuh ku, dia seperti sedang menganggap ku guling. Benar-benar tidak tahu tempat.
“Aduhhhh ky kaki lo bisa kesana ga si?”
Rizky tidak terbangun. Tangannya mulai memeluk ku dan kepalanya berdekatan pada leher ku.
“Astagaaaa kyyyy bener-bener deh lo ya”
@
Siswa dan siswi sudah berkumpul di aula bersama dengan guru-guru.
“Baik anak-anak, hari ini kita bergegas pulang ke jakarta. Untuk surat kelulusan nanti bapak akan infokan pada kalian.” ucap guru ku di depan Aula.
__ADS_1
“Iya pak” seru siswa dan siswi.