Karena Jodoh Dari Lahir

Karena Jodoh Dari Lahir
Rumah baru


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah baru, Gilang terus saja menggoda Angel. Yang ujung-ujung nya selalu bikin Angel merasa sakit hati sama apa yang Gilang kata kan pada nya.


"Kamu bisa diam gak sih, punya mulut berisik banget deh." kata Angel pada akhir nya.


"Mulut kan mulut aku, masa kamu yang sewot aku mau ngomong apa. Jika aku gak bisa diam juga bukan urusak kamu kan." kata Gilang.


"Eh, kalo kamu gak bikin aku pusing dan hanya bicara sendiri kayak orang yang gak waras. Itu gak masalah buat aku, tapi masalah nya kamu bikin aku pusing dengan ocehan mu yang berisik itu." kata Angel.


"Serah aku dong, mau apa aku. Kan bukan urusan mu." kata Gilang gak mau kalah.


"Serah deh, kamu kan bukan manusia biasa. Gak akan ngerti bahasa manusia kan." kata Angel.


"Itu kamu tahu, aku kan bukan manusia biasa. Tapi aku manusia super, yang akan menyelamat kan hidup mu." kata Gilang.


"Yang ada kamu malah bikim hidup aku susah tahu gak. Mana ada kamu ingin menyelamat kan hidup ku. Coba aja kalo kamu itu gak pulang, aku gak akan repot-repot pindah kerumah yang baru kayak gini tahu gak. Mana harus nikah sama orang kayak kamu lagi." kata Angel.


"Harus nya kamu yang merasa bersalah pada ku, kenapa juga kamu malah mau nikah sama aku. Aku kan mau nikah nya sama Selena, bukan sama kamu." kata Gilang.


Mereka saling terdiam, tidak ada yang ingin mereka bicara kan lagi. Dalam hati, mereka sama-sama tahu. Mereka berdua adalah korban dari masa lalu yang tidak bisa di perbaiki.


Akhir nya, mobil pun berhenti di depan rumah yang bertelingkat dua. Rumah yang lumayan indah, halaman rumah terlihat lumayan luas. Ada taman di samping rumah, dan di samping lain ada sebuah kolam renang.


"Ayo turun, kita udah sampai." kata Gilang.


"Kamu yakin kita mau tinggal berdua di sini." kata Angel tak percaya.


"Habis, kamu mau tinggal sama keluarga kita masing-masing." kata Gilang.


"Maksud kamu?" kata Angel.


"Yah, jika kita hanya tinggal berdua di sini. Tanpa ada keluarga kita, mungkin kita akan bisa hidup bebas. Layak nya bukan sepasang suami istri." kata Gilang.

__ADS_1


"Aku yakin, kamu pasti tidak siap untuk tinggal sekamar sama aku kan." kata Gilang lagi.


"Ya jelas lah, mana mau aku tidur satu kamar sama orang kayak kamu." kata Angel.


"Kamu pikir aku mau apa tidur sekamar sama gadis kayak kamu." kata Gilang.


"Aku ajak kamu tinggal jauh dan tidak serumah dengan orang tua kita. Itu agar kita tidak perlu sandiwara, untuk tinggal sekamar. Kamu pikir, jika kita tinggal satu rumah sama orang tua. Mereka akan izinin kita tidur pisah kamar." kata Gilang.


"Ya jelas gak lah." kata Angel.


"Ya itu kamu tahu, maka nya punya fikiran di pakai ya cantik." kata Gilang.


"Lagian kita gak tinggal berdua kan, ada pembantu dan juga supir kok. Dan satu hal yang paling penting, aku gak akan tertarik sama gadis kayak kamu." kata Gilang.


"Itu lebih bagus, aku lebih suka kalo kamu gak jadi manusia normal." kata Angel.


"Maksud kamu?" kata Gilang.


"Dasar manusia aneh, bikin panas hati aku aja deh." kata Gilang.


Angel masuk kedalam rumah duluan. Rapi sekali di dalam rumah itu, sofa di ruang tamu tertata rapi. Ada ruang keluarga, meja makan dan lain sebagai nya.


"Yang di hias itu, jadi kan saja kamar kamu. Aku yang di sebelah lagi." kata Gilang sambil mengalah kan telunjuk nya pada kamar yang di hias bunga-bunga di lantai atas.


"Kamu yakin aku di situ, dan jarak kamar aku dan kamu kok dekat banget." kata Angel.


"Eh, apa salah nya. Yang penting kan gak sekamar. Kamu lihat kamar bawah cuma tiga, satu untuk bik Niah, satu untuk mas Agus dan yang satu lagi untuk kamar tamu. Dan kamar atas cuman dua, yang benar aja kamu ini." kata Gilang emosi.


"Ya sudah lah, gak perlu nain darah juga kali. Aku kan cuma bilang dekat aja, gak bilang gak mau kan." kata Angel.


"Serah kamu lah, gadis aneh." kata Gilang.

__ADS_1


Gilang naik keatas, meninggal kan Angel yang masih cenga-cengir dengan apa yang Gilang kata kan. Rasa nya asik juga saat dekat sama orang kayak Gilang. Mudah naik emosi dan cepat untuk tenang.


"Bik Niah, bibik udah susun barang-barang aku di kamar itu kan bik?" kata Angel saat bik Niah turun dari atas.


"Udah kok non, kamar nya bagus non. Sesuai sama kesukaan non deh. Bibik yakin, non Angel pasti sangat senang saat melihat kamar nya non nanti." kata bik Niah sambil senyum.


"Makasih ya bik, bibik juga bisa istirahat deh. Gak usah mulai pekerjaan dulu ya." kata Angel.


"Makan malam kita gimana kalo bibik gak langsung kerja non." kaya bik Niah.


"Gak perlu cemas masalah makan malam bik, aku bisa pesan makan di luar aja nanti. Bibik istirahat aja ya, bilang juga sama mas Agus untuk istirahat aja." kata Angel.


"Baik non, bibik akan ikuti apa yang non kata kan." kata bik Niah.


Angel naik keatas, sedang kan bik Niah menemui mas Agus yang sedang berada di luar.


Angel masuk kedalam kamar itu, benar apa yang bik Niah kata kan. Kamar itu terlihat sangat bagus dan tertata rapi. Kamar itu juga di dekor dengan warna hijau.


Angel merasa senang dengan apa yang telah ia lihat, pokok nya semua yang ada di kamar itu cocok sama selera Angel lah.


"Siapa yang mendekor kamar ini, cantik dan pas sekalia sama kesukaan ku." kata Angel.


"Aku yang mendekor nya." kata Gilang tiba-tiba berada di depan pintu kamar Angel.


"Eh, bisa sopan gak sih. Lain kali itu, jika mau masuk kamar orang ketuk dulu pintu nya. Jangan main masuk aja, gak soapn nama nya." kata Angel.


"Kamu lihat gak, aku gak masuk tahu gak. Aku hanya berada di depan pintu saja." kata Gilang.


Benar sana apa yang Gilang kata kan, ia memang tidak masuk, ia hanya berada di depan pintu kamar. Hanya saja, saat itu Angel merasa kaget karan Gilang tiba-tiba saja bersuara.


"Ah, pokok nya aku gak mau tahu. Yang jelas kamu tiba-tiba nonggol aja. Itu kan sama aja dengan tidak sopan." kata Angel.

__ADS_1


"Dasar kamu aja yang aneh, gak mau kalah." kata Gilang.


__ADS_2