
Sebenar nya, dua belah keluarga menyaran kan untuk Angel dan Gilang mengada kan bulan madu. Tapi mereka berdua menolak nya dengan halus.
Angel dan Gilang punya alasan yang membuat kedua keluarga tidak memaksa kan mereka untuk mengada kan bulan madu.
Memang sih, Gilang sudah banyak berubah. Sikap nya yang dulu yang tidak suka sama Angel, sudah berubah dengan sangat perhatian pada gadis yang menjadi istri nya ini.
Walau pun, mereka sama-sama tidak mau mencampuri urusan masing masing. Tapi tetap, Gilang bersikap sangat baik pada Angel.
Saat ini, mereka sedang berjalan di pasar malam. Tempat yang banyak mainan, dan banyak di kunjungi orang.
Besok adalah hari kuliah nya Angel, maka nya sebelum masuk kuliah. Gilang menagajak Angel untuk menikmati sisa libur Angel.
Di tengah ramai nya orang di pasar malam, Gilang meminta Angel untuk memegang tangan nya. Agar tidak hilang dalam lautan manusia, kata Gilang. Angel menuruti nya saja, karna dia juga takut jika sampai terpisah dari Gilang.
Sampai lah mereka di sebuah wahana rumah hantu. Angel berhenti di depan rumah hantu itu.
"Lang, kita coba masuk rumah hantu itu ya." kata Angel.
"Kamu yakin mau masuk kesana, gak takut kamu sama kegelapan." kata Gilang.
"Ya ngak lah, itu kan hanya bohongan. Mana ada yang benaran, nama nya juga mainan." kata Angel.
"Ya udah, kita coba kalo gitu." kata Gilang.
Dengan berat hati, Gilang membeli kan dua tiket untuk mereka berdua masuk kedalam rumah hantu itu.
"Kamu takut ya Lang?" kata Angel saat melihat Gilang memegang erat tangan nya.
"Gak kok, aku hanya merasa di sini sangat seram saja." kata Gilang.
Sebenar nya Gilang sangat takut sama rumah hantu dan hal yang berbau horor. Hanya saja, dia tidak ingin terlihat menyedih kan di mata Angel. Apa lagi nanti nya, Angel pasti akan mengejek nya. Jika Angel tahu Gilang takut sama kegelapan.
Semakin jauh masuk, semakin kuat pegangan tangan Gilang pada Angel. Sampai hantu bohongan itu muncul. Gilang memeluk erat tubuh Angel, sambil berterik.
"Tidaaaaak." kata Gilang dengan lantang nya.
__ADS_1
"Hey, itu manusia biasa lho ya. Bukan asli, lagian orang nya udah pergi juga sekarang. Kamu bisa membuka mata mu, dan melepas kan pelukan mu." kata Angel.
"Oh maaf, aku hanya kaget saja." kata Gilang sambil mengembali kan harga diri nya.
Akhir nya, mereka mencapai pintu keluar. Keringat bercucuran di tubuh Gilang. Dari tadi ia menahan rasa takut nya, ternyata tidak bisa. Bagai mana pun ia tetap merasa takut, walau berkali-kali Anger menertawa kan nya.
"Udah keluar kali, gak perlu di pegang lagi tangan ku." kata Angel sambil tersenyum.
Angel kemudian tertawa lepas, saat melihat ekspresi wajah Gilang yang masih menyimpas rasa takut dan cemas.
"Puas kamu tertawa nya." kata Gilang saat udah merasa tenang.
"Udah kok, udah puas banget malahan. Ini tisu nya, lap tu keringat." kata Angel.
"Dasar kamu bahagia di atas penderitaan orang." kata Gilang.
"Lagian kamu cowok apaan takut sama kegepalan, rumah hantu aja bikin kamu kayak ingin mati berdiri." kata Angel.
"Ah, serah kamu lah. Aku gak takut kok, hanya kaget saja sama apa yang ada di dalam rumah hantu itu." kata Gilang membela diri.
"Pulang aja ya, aku gak nyaman lagi soak nya." kata Gilang.
"Yakin kamu mau pulang sekarang, masih banyak tempat dan mainan yang belum kita coba lho Lang." kata Angel.
"Iya, lain kali aja kita jalan lagi. Tapi gak kerumah hantu lagi ya, aku gak nyaman ada di sana." kata Gilang sambil berjalan menuju mobil.
"Gak nyaman apa takut?" kata Angel.
"Gak takut kok, hanya gaj nyaman aja. Beda ya, gak nyaman ama takut." kata Gilang.
"Terserah kamu aja lah, tapi yang aku tahu kamu tetap saja taku." kata Angel.
"Itu urusan kamu, yang penting aku gak takut." kata Gilang.
Akhir nya mereka pulang, mobil berjalan melaju, jauh meninggal kan pasar malam yang masih penuh dengan umat manusia.
__ADS_1
"Lang, aku penasaran deh. Kenapa kamu kok bisa takut sama rumah hantu." kata Angel saat mereka masih dalam mobil.
"Aku gak takut sih sebenar nya, hanya saja aku merasa terauma sama rumah hantu." kata Gilang.
"Kok bisa terauma sih." kata Angel penasaran.
"Cerita nya panjang Ngel, tapi yang pasti nya. Aku dulu sangat suka sama rumah hantu. Sampai, setiap hari aku ajak mama papa untuk pergi kerumah hantu. Sampai pada suatu hari, ada penculikan anak. Mereka modusin nya dengan rumah hantu, itu awal aku merasa terauma. Karna aku di bawa masuk rumah hantu, dan jika mama papa telat sedikit saja. Mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini." kata Gilang.
"Kok bisa gitu, aku masih gak ngerti sama apa yang kamu cerita kan." kata Angel.
"Yah, aku kan udah bilang pada mu, cerita nya panjang jika aku mau cerita kan pada kamu. Maka nya, kamu gak perlu nanya apa yang terjadi lagi." kata Gilang.
"Dasar kamu gak jelas Lang, bikin kesal aja deh." kata Angel.
"Yah malah bilang aku gak jelas, udah aku kasih tahu juga apa yang terjadi sama aku. Masa kamu gak paham juga sih." kata Gilang.
"Serah kamu lah, yang penting kita saat ini udah sampai. Dan aku mau istirahat karna besok hari kulaih ku sudah di mulai." kata Angel.
Angel pun turun dari mobil di ikuti Gilang dari belakang. Saat perjalanan, Angel berhenti sebentar.
"Oh ya Lang, kamu kok gak kuliah sih?" kata Angel baru ingat.
"Gak, aku gak tertarik sama kuliah. Aku gak tertarik sama pelajaran di kampus." kata Gilang.
Angel diam dengan jawaban yang Gilang berikan. Yang aneh itu, aku atau kamu sih Lang. Kata Angel dalam hati nya, sambil melihat wajah Gilang.
"Udah lihat nya." kata Gilang di depan wajah Angel.
"Eh, gak perlu dekat-dekat juga dong. Aku gak lihat kamu kok, aku hany memikir kan sesuatu aja." kata Angel sambil menjauh.
"Aku tahu, kalo aku memang terlahir tampan. Kamu tidak perlu terlalu memuji ku ya, karna aku tidak mempan pujian." kata Gilang sembarangan.
"Sakit kamu ya, kapan aku ada bilang kamu tampan. Ogah banget rasa nya aku muji kamu, jangan narsis deh." kata Angel sambil berjalan masuk rumah.
Gilang tersenyum bahagia, ia sangat suka melihat wajah Angel memerah dan malu. Itu adalah hobi baru nya saat di rumah. Bikin wajah istri nya jadi bersemu malu.
__ADS_1