
Sidang pertama telah berlalu, seminggu lagi akan di lanjut kan dengan sidang kedua. Hakim ingin saksi sebagai penguat dari gugatan Angel pada suamia nya.
Gilang tidak ada yang mau membantu, mama dan papa sangat marah pada nya. Hidup nya sangat lengkap dengan penderitaan saat ini.
Tapi mau bagai mana lagi, Gilang tidak punya pilihan lain selain menjalani saja apa yang telah terjadi.
***
Besok adalah sidang penentu dari perceraian Angel dan Gilang. Tidak ada harapan lagi bagi Gilang. Sudah jelas sekali jika Gilang akan kehilangan Angel, karna Angel punya bukti yang kuat untuk berpisah.
Saat ini, mereka sedang makan malam bersama. Angel terlihat tidak sehat sejak seminggu belakangan ini.
"Kamu yakim ingin melanjut kan sidang nya besok Ngel. Apa kita minta tunda dulu saja, aku pihat kamu tidak sehat." kata Gilang oada Angel yang baru saja duduk di kursi.
"Tidak masalah, ini sidang terakhir kita. Bagai mana bisa aku tidak datang atau malah menunda nya." kata Angel.
"Non Angel, ini sup ayam yang non Angel mau." kata bik Niah sambil membawa semangkun sup ayam yang terlihat enak dengan asap yang mengepul.
Saat mencium bau dari sup ayam itu, bukan nya makan. Angel malah bangun dari duduk nya sambil menutup mulut nya. Ia segera berlari menuju tempat cuci piring.
"Uek... Uek... " Angel malah muntah-muntah di belakang.
"Kamu ngak papa?" kata Gilang kaget.
"Aku gak papa kok, mungkin masuk angin. Karna aku sering telat makan beberapa hari ini." kata Angel.
"Oh, apa kamu tidak mau aku antar kan kedokter dulu." kata Gilang.
Angel tidak menjawab, ia hanya memegang kepala nya. Seketika pandangan nya buram dan hitam. Dengan cepat Gilang menangkap tubuh Angel yang terkulai lemah.
"Bik Niah, bik Niah... " kata Gilang memanggil pembantu nya yang ntah keman.
"Ya den, ada apa." kata bik Niah.
"Kenapa dengan non Angel, apa yang terjadi." bik Niah terlihat panik.
"Bilang sama mas Agus, siap kan mobil. Kita akan bawa Angel kerumah sakit sekarang juga." kata Gilang.
__ADS_1
Dengan cepat, bik Niah memanggil Agus yang ada di kamar nya. Mendengar panggilan bik Niah yang terdengar sangat cemas. Agus tergesa-gesa keluar dari kamar. Bik Niah mengata kan apa yang terjadi.
Semua nya sibuk malam itu, Angel dengan cepat dibawa masuk kemobil dan dilari kan kerumah sakit. Karna tidak tahu, apa kah yang terjadi pada Angel tiba-tiba bisa pingsan begitu saja.
Sampai dirumah sakit, Gilang mengangkat tubuh istri dengan cepat. Membawa masuk kedalam rumah sakit itu. Dokter dan suster pun menyambut pasien nya dengan cepat.
"Kalian tunggu di sini saja, biar kami yang menangani pasien di dalam." kata suster berbadan ramping itu, sedang kan dokter sudah masuk duluan.
Gilang dan Agus mendengar saran dari suster, mereka pun menunggu di luar dengan perasaan cemas.
****
Beberapa saat kemudain, dokter itu pun keluar dari ruangan. Gilang dengan cepat bagun dari kursi tunggu yang ia duduki.
"Bagai mana keadaan istri saya dok, apa dia baik-baik saja." kata Gilang harap-harap cemas.
"Anda suami dari pasien ya, kalau begitu bisa ikut saya keruangan saya." kata dokter.
"Baik dok."
"Baik mas."
Gilang pun mengikuti dokter itu berjalan dari belakang. Dokter masuk kedalam ruangan nya. Dan mempersilakan Gilang duduk di kursi.
"Bagai mana keadaan istri saya dok, apa ada yang serius dengan nya." kata Gilang tak sabar lagi ingin mendengar apa yang dokter kata kan.
Dokter tersenyum dengan tingkah Gilang yang terlihat sangat cemas namun lucu itu.
"Sabar mas, saya akan jelas kan apa yang telah terjadi dengan istri anda." kata dokter.
"Sebelum nya selamat saya ucap kan pada mas, karna mas tak lama lagi akan jadi seorang ayah." kata dokter sambil mengulur kan tangan nya.
Gilang makin bingun, dokter itu tersenyum lagi. Dengan berat hati, Gilang pun menyambut uluran tangan dokter itu.
"Maksud dokter....?" kata Gilang.
"Iya, istri mas sedang hamil saat ini. Walau pun keadaan nya masih sangat lemah." kata dokter.
__ADS_1
"Apa?"
"Apa kah ini benar dok, ini benaran." kata Gilang seakan tak percaya sama apa yang dokter kata kan.
"Iya, istri mas hamil 6 minggu. Tapi kondisi ini masil lemah, mas harus menjaga nya secara ekstra." kata dokter itu.
"Baik dok, saya akan jaga istri saya dengan baik. Sangat baik malahan, terima kasih banyak dokter." kata Gilang dengan menjabat tangan dokter sekali lagi.
Gilang sangat bahagia dengan kabar yang dokter berikan. Dengan datang nya bayi di dalam kandungan Angel, maka otomatis perceraian antara Gilang dan Angel akan gagal total kan.
Terima kasih ya allah, engkau kirim kan malaikat kecil di rahim istri ku sebagai penyelamat pernikahan aku dan Angel. Kata Gilang dalam hati, ia terus saja tersenyum sampai di depan kamar Angel.
Agus merasa ada yang aneh dengan majikan nya ini. Bukan nya tadi itu wajah Gilang sangat amat cemas, eh sekarang datang-datang malah penuh bahagia.
"Mas Aguuuuus." kata Gilang sambil berjalan cepat dan memeluk Agus dengan erat.
"Ada apa sih mas, kenapa mas Gilang begitu bahagia. Apa yang terjadi pada non Angel, apa yang dokter kata kan." kata Agus bertanya bertubi-tubi.
"Pelan-pelan dong mas Agus, saya lagi senang ini. Jadi saya akan jawab semua yang mas Agus tanya kan." kata Gilang dengan senyum manis nya.
Tumben nih orang senyum manis banget, ada apa sebenar nya. Kata Agus dalam hati.
"Mas Agus, saat ini Angel sedang hamil. Walau pun masih 6 minggu dan dokter bilang masih lemah. Tapi aku sangat bahagai mas." kata Gilang.
"Apa?"
"Apa yang saya dengar ini benar-benar terjadi mas Gilang. Maksud saya, ini benar nih non Angel hamil." kata Agus.
Tapi bagai mana bisa non Angel hamil, padahal kan mas Gilang dan non Angel todur nya pisah kamar. Kata Agus dalam hati, ia tidak berani bicara langsung karna takut Gilang marah.
Gilang melihat Agus seperti orang yang sedang kebingungan. Ia pun tersenyum manis lagi.
"Jangan pikir kan bagai mana cara nya. Tapi, saat ini aku sangat bahagia mas. Dengan ada nya janin ini, aku harap jadi pembatal cerai nya aku dan Angel." kata Gilang.
"Iya mas Gilang, saya juga ikut senang." kata Agus.
"Maksih mas Agus, sekali lagi aku saran kan. Mas Agus jangan mikir yang tidak-tidak ya." kata Gilang sambil senyum.
__ADS_1