Kau adalah Hidupku

Kau adalah Hidupku
Episode 10


__ADS_3

John bersikeras ingin membahas dengan Delfina, jadi Delfina hanya bisa setuju. John membawanya ke sebuah restoran, ketika masuk, ada seorang pria yang sedang tertawa. "Wow, tadi pas pergi hanya satu orang, sekarang kembali menjadi dua orang. John, apa kamu nggak takut ginjalmu lemah?"


"Denny, kalau kamu nggak bisa melihat jelas, maka pergi periksa mata."


John bertanya, "Apa kamu tahu siapa dia?"


Pria yang dipanggil Denny melirik Delfina, lalu berkata dengan nada panjang. "Tampaknya sangat familier ...."


John menarik Delfina duduk, kemudian berkata, "Mantan istri Mark."


"Astaga!"


Denny hampir saja menyemburkan kopi yang diminumnya, tapi setelah ditahan, dia akhirnya menelan dengan susah dan melihat Delfina. "Nona Delfina?"


"Iya, aku."


Jawab Delfina dengan tenang dan nadanya terdengar sangat dingin, tapi momentumnya tetap ada.


"A ... apa kamu baik-baik saja?"


Sebenarnya mereka selaku teman baik Mark juga terkejut dengan kejadian lima tahun lalu, kenapa Delfina bisa dipenjarakan oleh Mark atas nama pembunuh, bahkan ... tidak ada pemberian ampun.

__ADS_1


Tapi, setelah lima tahun kemudian, ketika melihat Delfina yang duduk di depannya, Denny pun menyipitkan matanya.


Denny merasa Delfina sudah berubah, tapi juga tidak berubah.


Yang tidak berubah adalah temperamen anggunnya, meskipun dia sudah masuk penjara selama lima tahun, tapi dia tetap Nona Besar Keluarga Caresta yang menawan. Yang berubah adalah sepasang matanya.


Matanya seperti orang tua yang sekarat, tak bernyawa dan sunyi. Seperti tidak ada sedikit harapan terhadap dunia ini ....


Setelah dipikir, Denny juga mengerti, dia sudah dilukai begitu dalam, jadi bagaimana mungkin masih bisa mencintai dunia ini?


Denny terdiam sejenak untuk mencari kata pembuka, "Jadi ... ngapain kamu membawanya kemari, John?"


"Dawn?!"


Denny berkata dengan keras, "Dawn si desainer absurd itu ...? Delfina, itu kamu, ya?"


Delfina menggunakan tatapan waspada melihat mereka, lalu mengerutkan alisnya, "Maaf, aku bukan."


"Aku ...." John membelalak matanya dengan kaget, "Bagaimana mungkin? Hasil penyelidikanku adalah kamu ...."


"Mungkin penyelidikanmu salah." Delfina menunduk sehingga terlihat kulitnya yang putih. "Aku bukan Dawn, apa kalian perlu mencarinya?"

__ADS_1


Denny tidak mengatakan apa-apa, tak lama kemudian, dia berkata, "Perusahaan kami ada satu proyek yang ingin bekerja sama dengannya ...."


Delfina berkata, "Aku bisa memberikan kalian nomor teleponnya."


"Benarkah?" John tidak percaya, tapi kalau Delfina bilang bisa memberikan nomor teleponnya pada mereka, maka ini menyatakan dia bukan Dawn.


Apakah informasi yang dia dapat tidak benar?


Denny hanya bisa berkata, "Kalau begitu, repotkan kamu, kalau ada masalah, kamu bisa menelepon nomor yang di kartu ini."


Selesai berbicara, dia mengeluarkan kartu nama dan berikan ke Delfina. Delfina pun menerimanya, kemudian berdiri, "Apa masih ada masalah lain?"


"Nggak ada lagi, perlukah aku mengantarmu?"


"Nggak usah."


Delfina menunduk, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku, baru berjalan keluar dari restoran.


"Astaga!" John melihat kepergiannya sambil bergumam, "Angkuh sekali. Bisa-bisanya masih begitu arogan setelah masuk penjara."


Denny menyipitkan mata sambil meminum kopi di tangannya, lalu berkomentar dengan penuh makna, "Bella nggak sebaik dia."

__ADS_1


__ADS_2