
Lima tahun yang lalu, Delfina masih bisa merasa gugup ketika dia menghabiskan waktu sendirian bersama Mark dan selalu berpikir bahwa dia harus berhati-hati. Namun sekarang, lima tahun telah berlalu dan semuanya sudah berubah. Selain kehampaan, tidak ada lagi perasaan lain yang tersisa di dalam hatinya.
Mark memiliki wajah yang indah dan tampan bagaikan lukisan. Saat lift pelan-pelan bergerak naik, dia hanya bisa menatap profil Delfina. Delfina tentu saja bisa merasakan tatapan membaranya.
Jika ini adalah lima tahun yang lalu, Mark tidak akan mungkin menunjukkan ekspresi seperti ini. Dia bahkan berharap Delfina bisa menjauh darinya ataupun jangan pernah muncul di hadapannya lagi.
Namun sekarang, dia menatap Delfina dengan pandangan berapi-api, bagaikan seekor pemimpin serigala yang sedang menatap mangsanya. Delfina merasa tidak mempunyai tempat untuk bersembunyi.
Terdengar suara 'ding' dan pintu lift pun terbuka. Delfina melangkah keluar terlebih dahulu dan Mark menatap tubuhnya yang ramping dari belakang. Setelah terdiam lama, dia akhirnya ikut melangkah keluar. Delfina akhirnya menghentikan langkah kakinya setelah sampai di depan ruang VIP V2.
Mark tersenyum ke arahnya. "Kenapa nggak masuk?"
Delfina menggertakkan giginya, kemudian mengulurkan tangannya dan mendorong pintu ruang VIP itu.
Begitu dia berjalan masuk, dia mendengar ada salah satu orang di sana yang bersiul. Bau alkohol yang bercampur dengan bau rokok juga menyerbu hidungnya. Meskipun Delfina merasa tidak senang, dia tidak menunjukkannya dan hanya mengerutkan dahinya sedikit.
Kemudian, dia mendengar ada seseorang yang duduk di atas sofa berteriak, "Wanita ini cantik sekali! Siapa yang membawanya kemari?"
Mark tersenyum di belakang Delfina. "Kenapa, Valentino? Kamu menginginkannya?"
Saat Delfina mendongakkan kepalanya, dia juga melihat John dan sekumpulan orang lainnya sedang duduk di atas sofa. Mereka dikelilingi oleh wanita-wanita pendamping yang memakai rok mini dan atasan yang memperlihatkan bahu. Mereka semua terlihat sangat cantik.
Delfina merasa sangat canggung berdiri di sana.
Valentino menuangkan segelas anggur dan berkata pada Delfina. "Kamu yang membawamu ke sini, Mark? Halo, Nona, apakah kamu mau minum?"
"Hei, hei. Valentino, apakah kamu cari mati?"
John mengingatkan Valentino dari belakang, tapi siapa sangka Valentino sudah mabuk dan tidak menggubrisnya. Dia merangkul Delfina dan duduk di atas sofa, lalu tersenyum senang pada Mark. "Mark, kamu benar-benar sangat mengertiku! Bagaimana kamu bisa tahu aku suka tipe yang begini?"
Ekspresi mata Mark berubah menjadi gelap, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Valentino lanjut meneguk anggurnya dan bahkan menyodorkan sepotong semangka ke hadapan Delfina. Delfina mengerutkan alisnya dan setelah ragu untuk waktu yang lama, dia membuka mulutnya dan memakan semangka itu. Orang-orang yang berada di samping pun berseru.
"Hahaha! Valentino benar-benar tidak tahu malu! Beraninya dia mengambil kesempatan untuk menyuapi wanita itu!"
"Tetapi wanita itu memakannya juga! Valentino, sepertinya kamu akan beruntung malam ini!"
Valentino merangkul Delfina dan menyandarkan kepalanya di atas bahu Delfina, kemudian berkata, "Nona, apakah kamu mau bermain bersamaku?"
Mark memperhatikan dari samping. Dia tanpa sadar mengencangkan jarinya yang sedang menggenggam gelas anggur. John yang berada di sampingnya berbisik, "Mark, bagaimana kalau aku berbicara pada Valentino ...."
"Nggak perlu."
Suara Mark terdengar sangat dingin dan tenang.
Dia hanya seorang wanita biasa. Kenapa ... kenapa dia harus begitu peduli?
Delfina tersenyum pada Valentino, "Apakah kamu orang yang akan berbisnis dengan Mark?"
"Nona, kita datang untuk bersenang-senang, bukan untuk berbisnis."
Wajah tampan Valentino terlihat sedikit cemberut. Dia menoleh ke arah Mark dan berkata, "Mark, apa yang sudah kamu katakan padanya? Begitu buka mulut, dia malah ingin berbicara bisnis denganku, mengecewakan sekali!"
Sepertinya memang benar ini orangnya.
Delfina pun mengangkat gelasnya. Jika tujuan Mark membawanya datang adalah untuk menemani klien, dia akan melakukannya dengan baik. Karena itu, dia tersenyum kepada semua orang, "Maafkan aku yang datang terlambat, aku akan menghukum diriku dengan menghabiskan satu gelas ini. Aku harap kalian tidak akan membuat aku menjadi target saat bermain nanti."
Valentino langsung tersenyum saat melihatnya. Kemudian dia menarik Delfina untuk duduk dan merangkulnya, "Kenapa kamu imut sekali."
__ADS_1
Delfina menyusut dalam pelukannya dan tersenyum. Bibirnya yang merah terlihat mengkilap dibasahi oleh anggur, "Benarkah? Aku juga merasa Tuan Valentino sangat imut."
Delfina sama sekali tidak merasa asing akan nama Valentino. Lima tahun yang lalu, sebelum dia masuk penjara, Delfina juga merupakan wanita kaya yang terkenal di kalangan atas. Dia pernah mendengar beberapa nama pria yang kaya dan terkenal di kalangannya, salah satunya adalah Valentino.
Dengar-dengar, dia berasal dari kota tetangga, tetapi harta keluarganya sangat banyak. Jadi, ada banyak orang di kota ini yang ingin berteman dengannya.
Melihat Delfina yang tersenyum indah pada orang lain, Mark tiba-tiba merasa sangat murka.
Awalnya dia bermaksud untuk mempermalukan Delfina dengan menyuruhnya untuk mendampingi klien. Dia tidak menyangka bahwa dirinya sendiri yang akan terprovokasi.
John memperhatikan dengan hati-hati dari samping, "Mark .... kamu nggak apa-apa?"
Meskipun Delfina hanyalah mantan istrinya, tidak ada orang di dunia ini yang akan menyuruh mantan istrinya menemani pria lain untuk minum-minum. Jika dia berbuat begitu, maka tidak akan ada persahabatan yang tersisa di antara mereka lagi.
Namun, Mark tetap mengatupkan mulutnya. Matanya menatap tajam ke arah Delfina, tapi mulutnya malah berkata, "Nggak masalah. Jangan hiraukan dia."
Benar, asalkan Delfina dapat menaklukkan Valentino, memangnya kenapa kalau dia menemani Valentino minum-minum. Meskipun mereka tidur bersama ....
Mark tiba-tiba tersentak dari pikirannya yang kacau karena mendengar seruan dari orang-orang di sekelilingnya. Dia pun mendongakkan kepalanya dan melihat bibir Valentino yang baru saja melepaskan bibir Delfina. Di detik selanjutnya, wajah Mark terlihat sangat murka!
Ada seseorang yang bertepuk tangan di samping, "Nona ini menepati kata-katanya! Aku benar-benar kagum!"
"Dia berani bermain dan menerima kekalahan! Aku sangat suka dengan wanita pemberani sepertimu!"
"Apakah kamu mau main sekali lagi?"
Begitu John melihat wajah Mark yang dipenuhi aura membunuh, dia pun cepat-cepat berteriak pada orang yang berada di sana, "Kalian sedang main apa!"
"Kami sedang main jujur atau tantangan. Orang yang tidak dapat menjawab jujur atau tidak sanggup melakukan tantangannya harus menerima sebuah ciuman." Ada orang yang tertawa sambil menjawab, "Apakah kalian juga mau ikutan?"
Mark dengan cepat melihat ke arah Delfina. Bibir merahnya yang sedikit terbuka itu terlihat sangat seksi dan memesona. Dia sedang bersandar di dalam pelukan Valentino dengan dua tangan yang mengait di leher pria itu. Delfina terlihat bagaikan seorang wanita penggoda dan semua pria yang berada di sana pun tidak berhenti meliriknya.
Mark tidak dapat menahan amarah yang muncul di dalam hatinya. Dia bahkan tidak berpikir kenapa dirinya bereaksi seperti ini. Pada saat ini, yang ada di benaknya adalah berbagai cara gila untuk membawa Delfina pulang ke rumah dan menguncinya di sana agar tidak ada pria lain yang dapat menyentuhnya lagi.
Delfina adalah miliknya. Siapapun yang berani menyentuhnya harus dihukum!
Tepat di saat dia menatap Delfina dengan penuh amarah, Delfina malah tersenyum padanya. Senyumannya itu dapat membuat dunia kehilangan warnanya ....
Dari lima tahun yang lalu, Mark sudah mengetahui bahwa Delfina memiliki wajah yang sangat cantik. Akan tetapi, pada saat itu, dia sangat membenci dan bahkan tidak menaruh Delfina dalam hatinya. Dia hanya merasa wanita yang memesona seperti Delfina hanya akan menjadi seperti istri pajangan dan juga rewel. Dia tidak akan bisa dibandingkan dengan Bella.
Benar .... Dia tidak bisa dibandingkan dengan Bella. Kenapa ... kenapa ... wanita seperti ini ....
Mark merasa bahwa dia tidak dapat mengendalikan amarahnya. Pada saat dia melihat Delfina dan Valentino berciuman, dia bahkan berpikir untuk mencekik leher Delfina .... Dasar wanita jalang! Berani-beraninya dia membiarkan pria lain menciumnya!
Namun, Valentino sepertinya tidak melihat ekspresi wajah Mark dan tetap memeluk Delfina. Delfina mengangkat dagunya sedikit dan memperlihatkan garis lehernya yang indah. Ditambah dengan kalung yang menjuntai di antara tulang selangkanya, Delfina terlihat sangat menawan dan juga kasihan.
Dia sangat kurus sehingga pasti sangat ringan saat digendong.
Jadi, Valentino pun langsung menarik Delfina untuk duduk di atas pangkuannya. Delfina berseru terkejut dan menahan rasa malu di hatinya. Wajahnya yang cantik itu pun memerah.
Valentino memeluk pinggangnya dan bertanya dengan suara pelan, "Apakah kamu mau pulang ke rumahku?"
Delfina pura-pura tenang. Setelah menyelipkan rambutnya di belakang telinganya, dia berlagak bego. "Tuan Valentino, apakah kamu sedang mempermainkanku?"
Valentino membenamkan wajahnya ke dalam rambut Delfina dan menghirup napas dalam-dalam, "Bagaimana mungkin aku tega mempermainkanmu? Bagaimana kalau kamu memberitahuku namamu?"
Nama?
__ADS_1
Seluruh tubuh Delfina membeku. Dia tiba-tiba tertegun dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
"Ada apa?"
Melihat wajan Delfina yang tiba-tiba menjadi pucat, Valentino bercanda, "Jangan-jangan kamu orang yang menakutkan? Nona, jangan menakutiku!"
Delfina dengan cepat menyimpan keterkejutannya dan tersenyum. Dia berdiri dengan terhuyung-huyung dan berkata, "Aku merasa sedikit pusing, jadi aku permisi pergi ke toilet dulu. Aku akan memberitahumu saat aku kembali."
Valentino bersiul, "Apakah aku perlu menemanimu?"
"Aku nggak bisa menunggu lagi."
Delfina menunjukkan senyumnya yang menawan. "Tuan Valentino tunggu aku di sini saja."
"Haiya! Ckckck!"
"Pengertian sekali! Malam ini Tuan Valentino pasti akan sangat beruntung!"
"Dia memang sangat cantik, bahkan saat berbicara juga sangat cantik!"
Delfina berjalan masuk ke dalam toilet dan berdiri di samping wastafel. Setelah merasa dapat berdiri tegak, dia pun mengulurkan tangannya untuk menopang wajahnya dan menarik napas panjang.
Tadi dia sedikit terburu-buru saat mulai meneguk anggur itu, jadi sekarang dia merasa sedikit pusing. Wajahnya juga bersemu merah karena sedikit mabuk. Dia bersandar di wastafel dan tidak berhenti mengatur napasnya.
Valentino menanyakan namanya .... Bagaimana dia harus menjawab?
Namaku adalah Delfina.
Di kota ini, hanya ada satu orang yang bernama Delfina, yaitu wanita yang dikenal sebagai Nona Besar Caresta lima tahun yang lalu.
Bagaimana dia harus menghadapi semua orang yang ada di ruangan VIP? Bagaimana mereka akan memandang dirinya?
Lima tahun kemudian, Nona Besar Caresta malah menjadi seorang wanita pendamping yang harus menyenangkan hati pria. Ini sangatlah konyol! Semua usahanya untuk berpura-pura arogan dan kuat akan menjadi sebuah lelucon.
Delfina berdiri di sana dan memikirkan berbagai macam kemungkinan. Dia bahkan berpikir untuk langsung lari meninggalkan tempat ini dan meninggalkan mereka semua. Tetapi begitu dia berpikir tentang Alex, dia hanya bisa menahannya.
Delfina bahkan tidak sadar saat Mark mendekatinya. Dia hanya tahu bahwa ada seseorang yang menariknya masuk ke dalam bilik terakhir di dalam toilet wanita itu. Setelah pintu bilik itu dibanting tutup, dia pun jatuh ke dalam pelukan Mark.
Saat dia mengangkat wajahnya, dia melihat senyum sinis yang selalu menghiasi wajah Mark. Mark memelototinya dan berkata, "Kamu berani merayu Valentino, tapi tidak berani memberitahunya siapa dirimu?"
Delfina tersenyum dengan pucat, "Tuan Mark, ini adalah toilet wanita."
Mark hanya berdiri diam di sana dan tidak menanggapi kata-kata Delfina. Dia mengunci pintu toilet wanita itu dan menyudutkan Delfina. Dia lalu mengulurkan tangannya dan menyeka bibir merah Delfina dengan kasar.
Jarinya pun ternodai dengan warna merah dari lipstik, Kemudian, Mark berkata dengan dingin. "Kamu sudah berciuman dengan Valentino?"
Delfina menundukkan kepalanya. "Itu adalah peraturan permainan. Aku harus menurutinya."
"Hanya permainan? Apakah kamu begitu buru-buru untuk bisa intim dengannya?"
Mark tidak membiarkan Delfina menundukkan kepalanya. Dia mengangkat dagu Delfina dengan kasar, "Delfina, ternyata kamu sudah bertambah parah setelah lima tahun tidak bertemu!"
Delfina tertawa. Dia tertawa konyol hingga air matanya pun mengalir keluar, "Apa hakmu untuk menuduhku seperti ini! Mark, kamulah yang membawaku datang ke sini! Kamulah yang menyuruhku untuk mendampinginya! Lihatlah, aku sudah melakukannya!"
Mark mengulurkan tangannya dan menaruhnya di leher Delfina. "Bagaimana kalau aku menyuruhmu untuk tidur dengannya?"
"Aku akan melakukannya. Lagi pula, bukankah aku hanya sekedar mainan bagimu?" Delfina tertawa sampai matanya memerah. "Kalau kamu nggak peduli, kenapa aku harus peduli?"
__ADS_1